Selasa, 11 Juni 2013

Wajah Dalam Kanvas


Pelukis itu masih saja duduk di terminal menunggu bus, sudah setengah jam ia menunggu. Agaknya dia akan melakukan perjalanan jauh kali ini, meski hanya membawa sebuah kanvas tertutup koran beberapa kuas dan satu kotak cat minyak. Tapi ia tak peduli dengan apapun karena sudah mantap betul tujuan dia untuk pergi menggunjungi berbagai tempat untuk melukis. Melukis sebuah wajah. Bus yang ia tunggu tiba. Ia hampiri kondektur bus tersebut.
                “Bang, ke Puncak?” tanyanya.
                “Iya Mas”.
                Pelukis itu berjalan beberapa langkah tak jauh dari pintu belakang bus. Dinyalakannya sebatang rokok, mengisi waktu luang menunggu Bus tersebut selesai menaikkan penumpang lantas pergi. Agak lama ia menunggu sembari memperhatikan wajah orang-orang yang lalu lalang, naik dan turun dari bus.
                “Ayo mas, busnya mau berangkat!” ajak Kondektur bus padanya.
                Selama perjalanan ia hanya terus menatap ke luar jendela memperhatikkan awan dan puncak-puncak gunung yang terlihat di kejauhan. Angin yang deras membabat rambutnya yang panjang dan keriting, mengibar ke belakang.
                “Mau ke mana, Mas?” ucap ramah seorang penumpang di samping si Pelukis.
                “Ohh mau ke Puncak, Mas”.
                “Hmmmm mau melukis ya?.
                “Iya, Mas”.
                “Mau melukis apa, Mas?”.
                Tatapan kosong di mata si Pelukis menatap wajah ramah seorang penumpang yang bertanyanya, “entahlah, Mas. Saya pun bingung mau melukis apa”.
                “Lho kok bingung, Mas. Kan Mas bisa pelukis. Otomatis bisa melukis apapun dong”.
                “Tidak semuanya dapat saya lukis, Mas. Ada seseorang yang tak dapat saya lukis”.
                “Siapa, Mas? Pacarnya ya?”.
                “Bukan”.
                “Lantas siapa?”.
                “Seseorang”.
                Setibanya di terminal penurunan, ia berjalan menaiki angkot biru yang terparkir menunggu penumpang. Ia duduk di samping supir. Angkot itu meluncur deras, menaiki kelokkan-kelokkan jalanan puncak, sesekali jalanan itu macet karena beberapa warga pengguna sepeda motor mencoba untuk menyebrang jalan.
                “Rokok, Bang?” Sopir angkot menawarkan rokok dari bungkusnya kepada si Pelukis.
                “Oh iya, terima kasih Pak” Pelukis itu menolak dengan halus.
                “Mau menjual lukisan ya, Bang?”.
                “Ooh, saya mau melukis, Pak”.
                “Mau melukis apa, Bang?”.
                “Entahlah, Bang” tetap sorot mata si Pelukis masih kosong menatap aspal jalanan yang basah karena gerimis yang membasuh.
                 Ia turun di sebuah terminal satelit dekat perumahan warga dan sebuah kebun teh. Ia berjalan menyebrang perkampungan hingga sampai di kebun teh. Terus berjalan menuju atas melewati kabut tipis yang sesekali turun dan ia mesti menutup kanvas yang terbungkus koran dengan plastik hitam besar, agar tak basah.
                Turunan dan tanjakkan terjal ia lewati, meski harus melewati beberapa aliran mata air yang membasahi sepatunya. Udara yang dingin ia lewati dengan jaket tebal yang lengket bersama tubuhnya, walau celana jeans yang ia kenakan sobek pada lutut sebelah kirinya. Ia tetap berjalan, hingga sampai pada sebuah tempat tepat di mulut jurang. Di sana ia melihat dari kejauhan pohon-pohon liar tumbuh serampangan dan gunung tinggi yang akhirnya mengakhiri pandangannya.
                Kabut sudah tak turun lagi. Ia keluarkan kanvas dari plastik dan korang yang membungkusnya. Kuas-kuas dan sekotak cat minyak yang ia bawa dipersiapkan. Di buatnya sandaran kanvas dengan tiga batang pohon yang telah jatuh, ia tancapkan pada tanah yang basah hingga berdiri tegak.
                Cat warna hitam ia buka tutupnya lantas ia usapkan bulu kuas di atasnya, rupanya ia tak menuangkan cat itu di atas valet biasa ia gunakan untuk melukis. Usapan pertama bulu kuas ia tuangkan pada kanvas hingga menyerupai bentuk setengah lingkaran dan di usap terus hingga penuh setengah lingkaran di luarnya. Ia berganti dengan berbagai cat mulai dari cat putih, hingga ia campurkan dengan berbagai warna yang ditindihkan sampai membentuk warna lainnya. Begitu seterusnya.
                Telah selesai ia melukis bagian kepala dan setengah badan pada kanvas menyerupai tubuh seorang wanita dengan kerudung hitam yang menutup hingga tubuhnya. Namun kuas yang diapit jari telunjuk dan jempol kanannya tiba-tiba terjatuh lemah ke atas tanah.
                Ia menarik rambutnya yang basah dengan tangan kanan, “bahkan untuk wajahmu pun aku tak mampu! Apakah aku lupa akan wajahmu? Matamu, hidungmu, bibirmu? Bahkan aku lupa tempias cahaya yang jatuh membias di kening dan pipimu?”.
                Diambil kembali kuas lainnya, dicolekkan cat warna kembali mengulang dari semula. Menindih lukisannya yang semula. Kini ia melukis seseorang tanpa wajah dan tak mengenakan kerudung, meski sama hanya setengah badan yang ia gambar. Wajahnya pun belum ia lukis.
                “Aku harus melukis wajah kali ini. Meski wajah dan orang yang berbeda!”.
                Ia usapkan bulu-bulu kuas dan catnya membentuk sesosok wajah yang begitu jelas kali ini. Tapi alangkah terkejutnya kembali ia, ketika selesai melukiskan lukisannya. Ternyata yang ia lukis adalah wajahnya sendiri dengan rambut panjang yang sama seperti dia, mata, hidung dan mulut.
                Ia tertegun, matanya terus menatap ke dalam mata dalam lukisannya begitu dalam. Begitu dalam hingga ke dalam cat-cat yang mennghiasnya.
                Diambilnya sebungkus rokok dari kantong jaketnya, sebatang rokok ia nyalakan. Asap yang berhembus berwarna kuning gelap. Setelah sekali isapan dia hanya tetap terdiam, terus memandang lukisannya sendiri. Ia begitu bingung dengan apa yang ia lukis. Kenapa menjadi seperti ini? Rokoknya tidak ia hisap kembali, biar ia terbakar sendiri. Biar ia mati karena tak ada lagi yang dapat terbakar. Biar asap-asap itu bebas dari wujudnya yang lama kewujudnya yang baru.

                Kabut seketika datang dan turun membasahi lukisannya. Cat-cat yang tadi ia torehkan perlahan dibasahi oleh kabut yang turun. Kainnya kini telah basah. Bulir-bulir cat minyak yang terbasahi mulai muncul dari setiap pori kanvas, lantas semakin lama lukisan itu hancur gambarnya. Pudar. Pelukis itu tetap terdiam sembari samar air matanya menyatu dengan gerimis yang turun dari kabut. Tak ada suara. Ia tak menangis. Hanya air matanyalah yang menangis.  


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar