Jalan setapak di tengah hutan, di kanan terdapat bukit yang menjulang dengan banyak
pohon berdiri tegak di miringnya konstruksi tanah. Sementara di sisi kiri pepohonan dan semak
tumbuh tak beraturan hingga menutupi jarak pandang untuk melihat lebih jauh lagi.
Di kanan jalan tepat di atas bukit, tersembunyi di balik pepohonan yang berdiri miring,
dua orang dengan wajah sangar sedang sibuk mempersiapkan sebongkah batu raksasa
seukuran sebuah rumah dengan pengungkit kayu yang terjepit di bawahnya.
“Hmmm seberapa jauh lagi rombongan pengawal pembawa upeti yang kau lihat?” ucap
salah satu orang dengan ukuran tubuh yang lebih besar dari satunya.
“Kira-kira tepat matahari menyentuh ujung daun pohon itu” pria itu menunjuk ke arah
belakang, sebuah pohon tepat di seberang jalan di atas bukit, tempat mereka mempersiapkan
jebakan untuk menghadang rombongan pengawal pembawa upeti kerajaan.
“Bagus, kuda-kuda besar yang kucuri dari peternakan kerajaan pun dalam kondisi sehat
untuk mengangkut pundi-pundi emas yang sebentar lagi akan menjadi milik kita hahahaha”.
“Tapi apakah kau yakin, batu raksasa ini akan membunuh semua prajurit pengawal upeti
itu?”.
“Haah, dasar bodoh! Tidak mungkin akan membunuh semuanya. Itulah sebabnya kau
kusuruh membawa pedang!”.
“Ta tapi apakah kita mampu berhadapan melawan mereka yang jumlahnya jauh lebih
banyak”.
“Heyy Adik bodohku. Jumlah kita memang kalah banyak, tapi dengan batu ini sebagian
besar dari merak pasti akan terlindas mati”.
“Aah, kau memang pintar Kak!”.
“Tentu saja, aku! Dan jangan lupa, siapakah bandit terkuat seantero dunia persilatan
saat ini”.
“Iya Kak, yak au betul. Aku hampir lupa”.Bila dilihat secara seksama tanpa mmepedulukan ukuran tubuh mereka, wajah di antara
mereka berdua sangatlah mirip, dari bentuk wajah, hidung, mata, bibir serta tahi lalat di pipi
kanan pun begitu sama. Mereka berdua sebetulnya kembar, namun akibat perbedaan ilmu
silat. Meski dari perguruan yang sama membuat ukuran tubuh mereka berbeda. Si kakak begitu
besar dan tinggi badannya karena ia begitu kuat, sedangkan si adik tubuhnya kecil karena ia
lebih lincah dan cepat dalam bertarung. Mereka berdua saling melengkapi satu sama lain dalma
pertarungan, tapi meskipun begitu tiada manusia yang sempurna begitupula mereka tetap
memiliki kelemahan.
“Heyy kalian berdua! Apa yang sedang kalian lakukan?” tiba-tiba terdengar suara
mengagetkan mereka berdua dari belakang.
“Hah!” begitu terkejutnya mereka melihat seorang berbadan tegap serta berpakaian
prajurit lengkap dengan senjata perang tengah duduk di atas kudanya, tiba-tiba muncul di
belakang mereka.
“Cepat jawab pertanyaanku!”.
Dilihat oleh mereka tepat di belakang prajurit berkuda itu, rombongan pengawal
pemabawa upeti kerajaan tengah berbaris diam menunggu aba-aba dari prajurit di atas kuda
itu.
“Eee aa anu…”.
“Apa yang akan kalian lakukan dengan batu raksasa itu?”.
Siku tangan si kakak mendorong tubuh adiknya, “bodoh kau!”.
“Maaf Tuan, kami hanya sedang memindahkan batu ini”.
“Oohh apakah batu itu tadinya menghalangi jalan ini?”.
“Betul, Tuan” agak kikuk si kakak menjawab.
“Hmm sungguh mulia perbuatan kalian berdua. Tapi….” Prajurit berkuda itu mematut
wajah kakak beradik itu baik-baik, sambil mengelus-elus dagunya. Berpikir, “sepertinya aku
pernah melihat wajah kalian, tapi dimana? Sungguh tak asing”.
“Kami hanya penduduk di sini, Tuan. Yang kebetulan sedang melintas, lantas melihat
batu ini menghalangi jalan maka kami singkirkan”.
“Ya, tapi…. Apa pekerjaan kalian?”. Prajurit itu bertanya sambil erus berpikir.
“Pe pekerjaan kami hanya pengumpul kayu bakar saja, Tuan. Untuk dijual ke pasar”.Prajurit itu melihat sekeliling, ditemukannya dua ekor kuda yang bgeitu sehat terikat
pada sebuah pohon, “lantas kuda-kuda siapakah itu?”.
“Kuda itu, Tuan?”.
“Ya kuda itu. Tidak mungkin kuda yang terikat itu kuda liar bukan?”.
“Tentu bukan kuda liar, kuda-kuda itu milik kami”.
“Hmmm ada dua orang pencari kayu bakar dengan dua ekor kuda yang sehat. Tunggu
dulu! Kenapa kalian membawa pedang?”.
“I ii ini…”.
“Pedang perang?! Jangan-jangan kalian?!”.
Begitu cepat tubuh si adik melontar ke udara hingga tak disadari oleh si prajurit. Dengan
pedangnya si adik menebas leher si prajurit hingga kepalanya memisah dari lehernya.
Melihat hal itu para prajurit pengawal lainnya segera bersiap dengan senjatanya masingmasing.
“Bandit!!”.
“Kita ketahuan Kak!”.
“Ya, Adik. Terpaksa kita mesti berhadapan dengan mereka semua!”.
“Jaga upeti!” teriak seorang prajurit pada prajurit lainnya.
Seringan bula angsa tertiup oleh angin, tubuh si adik melontar kembali ke udara menuju
rombongan pengawal upeti, menyerang. Sementara si kakak berlari, mencondongkan bahunya
ke dapan, menyeruduk seperti badak kalap.
“Arahkan tombak ke udara! Jangan sampai dia mendarat!”.
“Astaga!” begitu tepat di atas para prajurit pengawal upeti, tubuh si adik tertusuk
beberapa tombak di tubuhnya lantas melaynaglah nyawanya seperti tubuhnya yang begitu
ringan melayang di udara, di hadapan tombak-tombak tajam para prajurit pengwala upeti.
“Adikk!!”suara teriakkan si kaka terdengar membahana seisi hutan. Beberapa prajurit
pengawal upeti yang diserang oleh si kakak rupa-rupanya roboh dengan tubuh remuk setelah
terhempas tubrukkan si kakak. Ia kembali berlari menyeruduk ke arah prajurit pengawal upeti
yang menombak tubuh adiknya, “bangsat kalian!”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar