Sajak Dari
Suara Kecil
Dari
suara yang tak terdengar
bagi mereka yang menganggap mereka besar
sehingga sebelah telinga saja tak mau terbuka
Aku memang kecil
namun aku memiliki suara
Bukankan kita sedang melewati jalan yang sama?
tetapi mengapa kalian membuat batas untuk koloni kalian sendiri?
Bukankah telah jelas di bawah cakar sang Garuda
apakah virus telah menggerogoti sebagian otak kalian
Bukankan kita sama-sama terbuat dari tanah
lantas apa yang membuat kita seolah seperti manusia dan dewa?
Jika kalian merasa seperti dewa
apakah seorang dewa tak mampu mendengar suara manusia
dan tak menganggap mereka yang tidak menyembahnya ?
bagi mereka yang menganggap mereka besar
sehingga sebelah telinga saja tak mau terbuka
Aku memang kecil
namun aku memiliki suara
Bukankan kita sedang melewati jalan yang sama?
tetapi mengapa kalian membuat batas untuk koloni kalian sendiri?
Bukankah telah jelas di bawah cakar sang Garuda
apakah virus telah menggerogoti sebagian otak kalian
Bukankan kita sama-sama terbuat dari tanah
lantas apa yang membuat kita seolah seperti manusia dan dewa?
Jika kalian merasa seperti dewa
apakah seorang dewa tak mampu mendengar suara manusia
dan tak menganggap mereka yang tidak menyembahnya ?
Boim Dos Santos
Rawamangun, 24.12.2012
Rawamangun, 24.12.2012
Kepada Hari Ini(19 Maret, petang)
untuk S.S , F.S , dan T.H
hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat orang bocah bermain tanpa batas
mereka bermain dengan sebuah cita-cita
bersuara dengan lantang
dan berharap bukan hanya angin yang mendengar
hari terlewat tanpa bisa tertebak
empat bocah itu pun harus terpisah
ketika arah memanggil salah satu dari mereka
tanpa putus asa
mereka kembali bermain bersama cita-cita
hari terlewat tanpa bisa tertebak
tiga bocah itu telah termakan banyak waktu
hingga pada suatu saat
arah kembali memisahkan mereka
cita-cita yang selama ini setia
tak tampak mengiringi perpisahan mereka
hari terlewat tanpa bisa tertebak
seorang bocah kembali tampak bersama cita-cita
bermain seorang diri
sambil menunggu arah
yang tak tahu kapan kan mengembalikannya
kepada tiga kawannya
dan kembali bercerita
tentang cita-cita
Jakarta, 19.03.13
Boim Dos Santos
Suatu Kali
Aku Bermimpi
Suatu kali aku bermimpi
agar hidup disebuah kerajaan
dimana aku tidak perlu menjadi Brahmana ataupun Sudra
dimana setiap pandang terlihat sama
dimana tuan dan dan para hamba sayaha mengenakan destar
tempat yang manusianya berpandang pada sekian Senja
namun tetap tenang tanpa membahas sedikit corak jingga
tiba tiba seorang bocah masuk dan bertanya
: bagaimana tuan dapat bermimpi sekian jauh ?
tenyanta mimpi hanyalah mimpi
aku tenggelam dalam pembisuan tanpa kata
lalu bocah itu tertawa seraya berkata
: dunia mimpi tuan adalah surge
namun duniaku ini adalah sandiwara
dimana aku mampu menjadi Brahmana tanpa teori
dan bisa juga menjadi Sudra walaupun dengan naskah naskah suci
sungguh aneh bila aku sempat memikirkan untuk menjadi Ksatria
tetapi sungguh impianku adalah menjadi Ksatria
tapi ternyata ia tak menjanjikanku sebuah istana di panggung ini
sekiranya tuan telah kembali radi mimpi indah tuan
jadilah Ksatria walau untuk diri tuan sendiri
dan lupakanlah kata kataku
yang mungkin adalah ucapan sang pencundang
yang telah tenggelam dalam dunia sandiwara ini
Boim Dos Santos
Jakarta, 08.02.13
Ruangan
Dongeng
Aku
hadiri sebuah ruangan
di mana terdapat dua kepala yang tertunduk
barangkali sudah bersiap untuk terlepas
di mana terdapat dua kepala yang tertunduk
barangkali sudah bersiap untuk terlepas
Aku
lihat sebuah pemimpin disana
ia berkicau dengan indah mengenai asas asas
menjunjung tinggi tuntutan sebuah kitab
Namun kicauan hanya sebatas kicauan itu saja
aku melihat ada sesuatu yang hilang
entah kesadaran atau sengaja tidak mereka sadarkan
Dua kepala itu hanya bisa tertunduk
mendengar juru selamat bayarannya
Juru selamat itu berpidato lantang
demi sebuah kepala yang memberi mereka asupan untuk hidup
Mereka memulai dengan rayuan untuk memikat sang pemimpin
mereka keluarkan intrik dan muslihat untuk merebut satu hati yang tersedia
mereka merong-rong dengan mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas terlihat
bercerita dengan dongeng dongen yang mereka baru karang tadi malam
Sang pemimpin pun hanya bisa mendengar
padahal kedua bola mata masih terpasang dengan sempurna
Apakah ruangan ini pantas untuk hal seperti ini?
apakah dengan dongeng kepala siapapun dapat terlepas dari badannya
seandainya sang pemimpin membuka lebar lebar matanya dengan jeli
apakah dongeng itu masih bisa terucap sampai akhir
Aku tinggalkan ruangan penuh kebutaan itu
dan berharap jika kepalaku kelak yang dipertaruhnkan
Tuhanlah yang menjadi pemimpin di dalamnya
ia berkicau dengan indah mengenai asas asas
menjunjung tinggi tuntutan sebuah kitab
Namun kicauan hanya sebatas kicauan itu saja
aku melihat ada sesuatu yang hilang
entah kesadaran atau sengaja tidak mereka sadarkan
Dua kepala itu hanya bisa tertunduk
mendengar juru selamat bayarannya
Juru selamat itu berpidato lantang
demi sebuah kepala yang memberi mereka asupan untuk hidup
Mereka memulai dengan rayuan untuk memikat sang pemimpin
mereka keluarkan intrik dan muslihat untuk merebut satu hati yang tersedia
mereka merong-rong dengan mengabaikan sesuatu yang jelas-jelas terlihat
bercerita dengan dongeng dongen yang mereka baru karang tadi malam
Sang pemimpin pun hanya bisa mendengar
padahal kedua bola mata masih terpasang dengan sempurna
Apakah ruangan ini pantas untuk hal seperti ini?
apakah dengan dongeng kepala siapapun dapat terlepas dari badannya
seandainya sang pemimpin membuka lebar lebar matanya dengan jeli
apakah dongeng itu masih bisa terucap sampai akhir
Aku tinggalkan ruangan penuh kebutaan itu
dan berharap jika kepalaku kelak yang dipertaruhnkan
Tuhanlah yang menjadi pemimpin di dalamnya
Boim Dos Santos
Jonggol, 10.02.13
Jonggol, 10.02.13
Tersesat di
sebuah Kota
Pernah
aku pergi menuju sebuah kota
kota yang menjadi impian bagi orang-orang desa
mereka bilang di sanalah tempat apa yang ku cari
Kubuka sepasang mata yang masih agak terkantuk ini
ternyata benar apa yang meraka katakan tentang kota
tempat yang ada dalam dongeng para penyair
tempat yang dahulu hanya sebatas hayalan
tempat yang indah untuk menuai sebuah cerita dikala terlelap
Kumulai ceritaku pada saat matahari mengintip dari timur
benar, tampak sekelilingku seperti surga pada dongeng-dongeng itu
namun lama-kelamaan aku separti memasuki rimba
yang perlahan semakin menyesatkanku
Akupun dapat keluar, tapi selanjutnya lautan terhampar di depanku
lalu ombak seakan menyeretku semakin ke dalam semakin menenggelamkankan
namun aku masih dapat tetap keluar dari kedalaman
Mengapa menjadi seperti ini?
ini bukanlah yang hendak ku cari
ini adalah kota yang membuat banyak pasang mata terkecoh
terdaya oleh hamparan latarbelakang surge
Sekiranya aku ada di dalam sebuah toko berpelayan Tuhan
mungkin kembali adalah satu-satunya pesanan
sebelum tiba pada akhir
yang akan menjadikan aku seperti kayu
yang terjilat oleh kobaran api.
kota yang menjadi impian bagi orang-orang desa
mereka bilang di sanalah tempat apa yang ku cari
Kubuka sepasang mata yang masih agak terkantuk ini
ternyata benar apa yang meraka katakan tentang kota
tempat yang ada dalam dongeng para penyair
tempat yang dahulu hanya sebatas hayalan
tempat yang indah untuk menuai sebuah cerita dikala terlelap
Kumulai ceritaku pada saat matahari mengintip dari timur
benar, tampak sekelilingku seperti surga pada dongeng-dongeng itu
namun lama-kelamaan aku separti memasuki rimba
yang perlahan semakin menyesatkanku
Akupun dapat keluar, tapi selanjutnya lautan terhampar di depanku
lalu ombak seakan menyeretku semakin ke dalam semakin menenggelamkankan
namun aku masih dapat tetap keluar dari kedalaman
Mengapa menjadi seperti ini?
ini bukanlah yang hendak ku cari
ini adalah kota yang membuat banyak pasang mata terkecoh
terdaya oleh hamparan latarbelakang surge
Sekiranya aku ada di dalam sebuah toko berpelayan Tuhan
mungkin kembali adalah satu-satunya pesanan
sebelum tiba pada akhir
yang akan menjadikan aku seperti kayu
yang terjilat oleh kobaran api.
Boim Dos Santos
Jakarta, 29.01.2013
Jakarta, 29.01.2013
Amanat Bayi akan Takdir
Seorang bayi bicara tentang cita-cita
ia bersuara lantang agar sekeliling mereka tahu
hingga beberapa langkah dibuatnya abai dalam waktu
Tiap malam bayi itu
merengek
mencoba mengoyak takdir dan peta nasib
hingga malam meyelumutinya
larut dan tenggelam dalam temaram
mencoba mengoyak takdir dan peta nasib
hingga malam meyelumutinya
larut dan tenggelam dalam temaram
Namun bayi itu pun
sadar.
ia hanya seorang bayi, yang tak mampu berbuat apa-apa
isak tangisnya tak mampu memadamkan api pada lilin
jeritanya tak mampu membangunkan sang ayah yang tengah terlelap
serta hentakan kakinya
tak mampu menghilangkan tetesan embun yang terciprat pada lututnya
ia hanya seorang bayi, yang tak mampu berbuat apa-apa
isak tangisnya tak mampu memadamkan api pada lilin
jeritanya tak mampu membangunkan sang ayah yang tengah terlelap
serta hentakan kakinya
tak mampu menghilangkan tetesan embun yang terciprat pada lututnya
Bayi itu pun berteriak
keras,
dan berhenti
hingga kematiannya datang
dari kelahiranya yang tidak sempurna.
dan berhenti
hingga kematiannya datang
dari kelahiranya yang tidak sempurna.
Boim Dos Santos
Jakarta, 23.04.13
Jakarta, 23.04.13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar