Selasa, 11 Juni 2013

Di Laut Selatan.

            
Malam hari. Pantai itu begitu sepi. Pantai selatan lebih tepatnya. Ada desas-desus mengatakan bahwa penguasa laut selatan mengamuk. Ia menghadirkan gelombang besar yang menyapu daerah sekitar pantai. Masyarakat menjadi heboh dan ketir-ketir dengan keadaan ini. Mereka tercengang. Dari mitos berubah menjadi sebuah petaka yang harus dipercaya.
            Pantai selatan ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
            Beberapa pengunjung tetap nekat datang di malam hari. Maklum, malam hari penjagaan pantai kurang ketat, sehingga pengunjung gelap bisa leluasa memasuki pantai tersebut. Dan ketika pagi harinya mereka yang gelap akan ditemukan. Hanya saja berupa jasad. Ruhnya sudah tidak melekat lagi. Begitu murkanya ia. Dan setiap malam selalu ada gelombang besar. Hingga akhirnya tidak ada lagi pengunjung gelap.
            Masyarakat setempat yang biasa datang untuk mencari nafkah tidak kena murka. Sehingga para nelayan tidak ambil pusing. Bahkan mereka lebih bisa menikmati sebatang rokok saat pantai selatan menjadi sepi. Dan yang biasa mendapatkan keuntungan dari pengunjung, kini kembali menjadi nelayan. Hasil tangkapan sudah bisa memenuhi kebutuhan dan menjadi salah satu barang komoditas ekspor.
            Para pengusaha gelisah. Mereka tidak ingin menggulung brangkasnya cepat-cepat. Sebagian dari mereka ada yang belum balik modal katanya. Bisa dicekik para penagih. Sebagian dari yang lain ada yang belum melunasi cicilan ini-itunya. Juga bisa dicekik para penagih. Akhirnya mereka semua berkumpul untuk mencari solusi. Mereka memintah petuah kepada orang paling pintar. Setelah mendapatkannya, sesajen mulai terlihat.
Dan gelombang tetap ganas jika  ada pengunjung.
Malam itu. Pantai yang sepi. Penguasa laut selatan. Roro Kidul. Sedang berkeliling pantai menggunakan kereta kudanya yang gagah berjalan di atas gulungan ombak. Kuda yang menarik keretanya ada dua. Yang satu berwarna putih, dan yang satu lagi berwarna hitam. Ia berkeliling bukan untuk patroli. Laut sudah diberikan titah. Sehingga mereka akan bergerak secara otomatis. Kini ia lebih suka merenung. Berjalan-jalan di sekitar pantai selatan adalah cara ia merenung.
Tentang dendam. Ia tak pernah punya dendam. Bahkan saat ia ditulah karena kedengkian yang bersumber dari orang lain. Ia tak dendam. Ia bahkan berdoa untuk keselamatan orang yang memberinya penderitaan sekaligus jalan menuju keabadian. Ia tak merenungi sebuah dendam.
Terkadang ia sedih melihat banyak sesajen berserakan di pantainya. Ia sedih karena mereka yang membuat sesajen, tidak tahu tujuannya apa. Hanya ikut-ikutan. Takut sial. Betapa bodoh, pikirnya. Ia tak membutuhkan itu untuk keabadiannya.
Keabadian membuatnya pilu. Sudah berapa generasi yang ia saksikan jatuh bangun. Dan kini hadir generasi yang kian jatuh. Tidak bangkit-bangkit. Tidak bangun-bangun. Begitu lama. Keburukan adalah konsumsi utama.
Dan kini, pantai kesayangannya dibuat perbudakan. Perbudakan yang halus. Pantainya dibuat menjadi tempat melakukan kesalahan oleh pemuda-pemudi. Pantai yang ia cintai menjadi tempat kemusyrikan.
Dan ia hanya murka dengan penyimpangan.
Ia berhenti di sebuah pantai yang indah. Pasir putih dan beberapa batu besar yang muncul dari permukaan. Pada malam hari bulan begitu bulat menemaninya. Ia tersenyum kepada para nelayan yang mulai memainkan perannya. Dan ia juga tersenyum kepada manusia yang datang ke pantai itu untuk merasakan Tuhannya. Ia tersenyum. Cantik. Dan tidak kasatmata.
Pantai berusaha diamankan dari kesalahan.
Ia turun dari kereta kudanya. Berjalan ke arah laut. Permukaan laut menjadi begitu tenang. Ia merasakan kembali laut yang dulu dicintainya. Kemudian ikan-ikan menghampirinya. Mengajaknya menari. Tarian yang elok begitu basah dengan riak gelombak kecil. Ia tersenyum. ikan-ikan sudah mau menemaninya lagi. Kini perenungannya juga akan diisi tarian dan senyuman. Dan laut melindunginya.
Dari kejauhan. Terlihat sepasang mata terus memperhatikan tarian indah Roro Kidul. Ia begitu tertarik. Ia membawa tombak bermata tiga. Berkendaraan kereta perang yang ditarik 4 mahluk berbadan setengah kuda dan setengah ikan, biasa ia panggil hippokampos. Ia bertelanjang dada.
Ia begitu terpana melihat Roro Kidul yang menari begitu gemulai. Ia ingin memilikinya. Begitu ingin. Ia ingin menghampiri, namun niatnya diurungkan. Kini di depannya hadir sesosok yang juga membawa tombak bermata tiga. Ditemani dua ekor lumba-lumba. Ia menggunakan hiasan kepala. Ia menghadang sambil tersenyum licik.
“Apa para wanitamu sudah tidak memuaskan, Poseidon?”
 “Hahaha. Pertanyaan bodoh macam apa itu?”
Ketawanya memecah langit.
“Aku yakin kau ingin memilikinya.”
“Neptunus... tahu apa kau tentang aku?”
“Siapa yang tidak tahu bahwa kau ini mempunyai reputasi buruk terhadap wanita. Tak cukupkah Medusa menjadi tumbal dari buah kekacauanmu dalam mengendalikan hawa nafsu?”
Poseidon terdiam. Ia jadi teringat masa lalunya. Ironis jika pada akhirnya Medusa pun harus mati di tangan Perseus. Untuk kepentingan Zeus yang gampang dibodohi.
“Cukup Neptunus. Kau tidak usah ikut campur.
“Kita serupa tetapi tidak sama. Kau hanya lahir di bawah bayang-bayangku.”
“Angkuh sekali kau. Dan aku kesini untuk menjadi satu-satunya dewa yang menguasai air di bumi ini. Sudah siap enyah?”
“Jangan kau lupakan Nethuns. Ingatlah kita bertiga masih bersaing untuk mendapatkan peran tunggal.”
Lalu Neptunus melempar kepala Nethuns ke hadapan Poseidon. Ia tersenyum.
“Pantas keberadaannya tak bisa lagi kurasakan.
“Jadi hanya tinggal kita berdua ya.”
Mereka bertatap mata. Harus ada yang tunggal. Kemudian mereka bertarung. Hippokampos dilepas oleh Poseidon untuk membantunya, tapi kedua lumba-lumba bawaan Neptunus tidak tinggal diam dan menghadang hippokampos yang mencoba menyerang Neptunus. Berhadapanlah mereka berdua.
Roro Kidul tetap menari bersama ikan-ikan. Ia menyadari kedatangan Poseidon dan Neptunus. Laut selatan adalah dirinya. Apa saja yang ada di dalamnya bisa dirasakannya. Ia tidak peduli. Ia baru saja menumpas penyimpangan. Ia ingin menari-nari terus. Sampai waktu yang tidak ditentukan.
Dan Poseidon sudah berada di hadapannya.
Bersama dengan badan yang mengucur darah di berbagai lekukan. Kereta perang yang hancur di beberapa bagian, ditarik oleh satu hippokampos. Tangan kirinya memegang tombak yang kini tinggal bermata satu... setengah. Dan di tangan kanannya, ia memegang kepala Neptunus dan Nethuns.
Roro Kidul menatap dengan ramah. Ia kagum terhadap Poseidon yang bisa mengalahkan Neptunus. Tapi ia juga sempat berpikir bahwa Neptunus sedang dalam kondisi kelelahan sehabis mengalahkan Nethuns. Karena pertarungan antar dewa pasti akan menghasilkan banyak tsunami, seperti yang baru saja terjadi di tempatnya.
“Tuan mau apa?”
“Aku menginginkanmu.”
“Aku abadi, apakah Tuan bisa mengimbangi keabadianku?”
“Aku juga abadi.”
“Oh begitu. Maaf aku tidak tahu.
“Dan... bagaimana Tuan mendapatkan keabadian?”
“Begini nona.
“Manusia menyembahku. Itulah yang kubutuhkan untuk keabadian dan kekuatanku.”
“Tuan, kalau memang begitu. Aku akan membunuhmu dengan mudah.”
Poseidon tercengang. Itulah air muka Poseidon yang sekarang kepalanya dipegang oleh Roro Kidul. Ia begitu merasakan siksaan yang amat terasa, saat kepalanya dicabut dari badannya oleh Roro Kidul hanya dengan tangan. Begitu memedihkan.
Lalu Roro Kidul memandangi ketiga kepala yang sekarang ada di hadapannya. Lalu ia pandangin lama wajah Poseidon yang tak lagi bisa angkuh.
“Bodoh, sekarang hanya debu yang menyembahmu.
“Debu yang menempel di sisa kejayaanmu.
“Dan itu bukan Manusia.”
Lalu Roro Kidul melihat hippkampos yang ketakutan. Hippokampos itu tidak kuat lagi bergerak.
“Tenang, kau akan menjadi bagian keluarga di sini.
“Dan aku tertarik dengan warna sisikmu.”
Kemudian ia meminta laut selatan untuk menguburkan apa yang terjadi setelah peperangan. Roro Kidul kembali menaiki kereta kudanya. Mengambil sesajen yang berserakan di pantai. Sesajen itu ia gunakan untuk melaksanakan hobinya. Memberi makan ikan dari tangannya.
Dan Zeus yang memerhatikan dari tadi di olimpus sedang sibuk meracik manusia baru, untuk kepentingan keabadiannya.





mnash mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar