Malam hari.
Pantai itu begitu sepi. Pantai selatan lebih tepatnya. Ada desas-desus
mengatakan bahwa penguasa laut selatan mengamuk. Ia menghadirkan gelombang
besar yang menyapu daerah sekitar pantai. Masyarakat menjadi heboh dan
ketir-ketir dengan keadaan ini. Mereka tercengang. Dari mitos berubah menjadi
sebuah petaka yang harus dipercaya.
Pantai
selatan ditutup sampai batas waktu yang tidak ditentukan.
Beberapa
pengunjung tetap nekat datang di malam hari. Maklum, malam hari penjagaan pantai
kurang ketat, sehingga pengunjung gelap bisa leluasa memasuki pantai tersebut.
Dan ketika pagi harinya mereka yang gelap akan ditemukan. Hanya saja berupa
jasad. Ruhnya sudah tidak melekat lagi. Begitu murkanya ia. Dan setiap malam
selalu ada gelombang besar. Hingga akhirnya tidak ada lagi pengunjung gelap.
Masyarakat
setempat yang biasa datang untuk mencari nafkah tidak kena murka. Sehingga para
nelayan tidak ambil pusing. Bahkan mereka lebih bisa menikmati sebatang rokok
saat pantai selatan menjadi sepi. Dan yang biasa mendapatkan keuntungan dari
pengunjung, kini kembali menjadi nelayan. Hasil tangkapan sudah bisa memenuhi
kebutuhan dan menjadi salah satu barang komoditas ekspor.
Para
pengusaha gelisah. Mereka tidak ingin menggulung brangkasnya cepat-cepat.
Sebagian dari mereka ada yang belum balik modal katanya. Bisa dicekik para
penagih. Sebagian dari yang lain ada yang belum melunasi cicilan ini-itunya.
Juga bisa dicekik para penagih. Akhirnya mereka semua berkumpul untuk mencari
solusi. Mereka memintah petuah kepada orang paling pintar. Setelah
mendapatkannya, sesajen mulai terlihat.
Dan gelombang
tetap ganas jika ada pengunjung.
Malam itu.
Pantai yang sepi. Penguasa laut selatan. Roro Kidul. Sedang berkeliling pantai
menggunakan kereta kudanya yang gagah berjalan di atas gulungan ombak. Kuda
yang menarik keretanya ada dua. Yang satu berwarna putih, dan yang satu lagi
berwarna hitam. Ia berkeliling bukan untuk patroli. Laut sudah diberikan titah.
Sehingga mereka akan bergerak secara otomatis. Kini ia lebih suka merenung.
Berjalan-jalan di sekitar pantai selatan adalah cara ia merenung.
Tentang dendam.
Ia tak pernah punya dendam. Bahkan saat ia ditulah karena kedengkian yang
bersumber dari orang lain. Ia tak dendam. Ia bahkan berdoa untuk keselamatan
orang yang memberinya penderitaan sekaligus jalan menuju keabadian. Ia tak
merenungi sebuah dendam.
Terkadang ia
sedih melihat banyak sesajen berserakan di pantainya. Ia sedih karena mereka
yang membuat sesajen, tidak tahu tujuannya apa. Hanya ikut-ikutan. Takut sial. Betapa
bodoh, pikirnya. Ia tak membutuhkan itu untuk keabadiannya.
Keabadian
membuatnya pilu. Sudah berapa generasi yang ia saksikan jatuh bangun. Dan kini
hadir generasi yang kian jatuh. Tidak bangkit-bangkit. Tidak bangun-bangun.
Begitu lama. Keburukan adalah konsumsi utama.
Dan kini, pantai
kesayangannya dibuat perbudakan. Perbudakan yang halus. Pantainya dibuat
menjadi tempat melakukan kesalahan oleh pemuda-pemudi. Pantai yang ia cintai
menjadi tempat kemusyrikan.
Dan ia hanya murka
dengan penyimpangan.
Ia berhenti di
sebuah pantai yang indah. Pasir putih dan beberapa batu besar yang muncul dari
permukaan. Pada malam hari bulan begitu bulat menemaninya. Ia tersenyum kepada
para nelayan yang mulai memainkan perannya. Dan ia juga tersenyum kepada
manusia yang datang ke pantai itu untuk merasakan Tuhannya. Ia tersenyum.
Cantik. Dan tidak kasatmata.
Pantai berusaha
diamankan dari kesalahan.
Ia turun dari
kereta kudanya. Berjalan ke arah laut. Permukaan laut menjadi begitu tenang. Ia
merasakan kembali laut yang dulu dicintainya. Kemudian ikan-ikan
menghampirinya. Mengajaknya menari. Tarian yang elok begitu basah dengan riak
gelombak kecil. Ia tersenyum. ikan-ikan sudah mau menemaninya lagi. Kini
perenungannya juga akan diisi tarian dan senyuman. Dan laut melindunginya.
Dari kejauhan.
Terlihat sepasang mata terus memperhatikan tarian indah Roro Kidul. Ia begitu
tertarik. Ia membawa tombak bermata tiga. Berkendaraan kereta perang yang
ditarik 4 mahluk berbadan setengah kuda dan setengah ikan, biasa ia panggil
hippokampos. Ia bertelanjang dada.
Ia begitu
terpana melihat Roro Kidul yang menari begitu gemulai. Ia ingin memilikinya. Begitu
ingin. Ia ingin menghampiri, namun niatnya diurungkan. Kini di depannya hadir
sesosok yang juga membawa tombak bermata tiga. Ditemani dua ekor lumba-lumba.
Ia menggunakan hiasan kepala. Ia menghadang sambil tersenyum licik.
“Apa para
wanitamu sudah tidak memuaskan, Poseidon?”
“Hahaha. Pertanyaan bodoh macam apa itu?”
Ketawanya
memecah langit.
“Aku yakin kau
ingin memilikinya.”
“Neptunus...
tahu apa kau tentang aku?”
“Siapa yang
tidak tahu bahwa kau ini mempunyai reputasi buruk terhadap wanita. Tak cukupkah
Medusa menjadi tumbal dari buah kekacauanmu dalam mengendalikan hawa nafsu?”
Poseidon
terdiam. Ia jadi teringat masa lalunya. Ironis jika pada akhirnya Medusa pun
harus mati di tangan Perseus. Untuk kepentingan Zeus yang gampang dibodohi.
“Cukup Neptunus.
Kau tidak usah ikut campur.
“Kita serupa
tetapi tidak sama. Kau hanya lahir di bawah bayang-bayangku.”
“Angkuh sekali
kau. Dan aku kesini untuk menjadi satu-satunya dewa yang menguasai air di bumi
ini. Sudah siap enyah?”
“Jangan kau
lupakan Nethuns. Ingatlah kita bertiga masih bersaing untuk mendapatkan peran
tunggal.”
Lalu Neptunus
melempar kepala Nethuns ke hadapan Poseidon. Ia tersenyum.
“Pantas
keberadaannya tak bisa lagi kurasakan.
“Jadi hanya
tinggal kita berdua ya.”
Mereka bertatap
mata. Harus ada yang tunggal. Kemudian mereka bertarung. Hippokampos dilepas
oleh Poseidon untuk membantunya, tapi kedua lumba-lumba bawaan Neptunus tidak
tinggal diam dan menghadang hippokampos yang mencoba menyerang Neptunus.
Berhadapanlah mereka berdua.
Roro Kidul tetap
menari bersama ikan-ikan. Ia menyadari kedatangan Poseidon dan Neptunus. Laut
selatan adalah dirinya. Apa saja yang ada di dalamnya bisa dirasakannya. Ia
tidak peduli. Ia baru saja menumpas penyimpangan. Ia ingin menari-nari terus.
Sampai waktu yang tidak ditentukan.
Dan Poseidon
sudah berada di hadapannya.
Bersama dengan
badan yang mengucur darah di berbagai lekukan. Kereta perang yang hancur di
beberapa bagian, ditarik oleh satu hippokampos. Tangan kirinya memegang tombak
yang kini tinggal bermata satu... setengah. Dan di tangan kanannya, ia memegang
kepala Neptunus dan Nethuns.
Roro Kidul
menatap dengan ramah. Ia kagum terhadap Poseidon yang bisa mengalahkan
Neptunus. Tapi ia juga sempat berpikir bahwa Neptunus sedang dalam kondisi
kelelahan sehabis mengalahkan Nethuns. Karena pertarungan antar dewa pasti akan
menghasilkan banyak tsunami, seperti yang baru saja terjadi di tempatnya.
“Tuan mau apa?”
“Aku
menginginkanmu.”
“Aku abadi,
apakah Tuan bisa mengimbangi keabadianku?”
“Aku juga
abadi.”
“Oh begitu. Maaf
aku tidak tahu.
“Dan...
bagaimana Tuan mendapatkan keabadian?”
“Begini nona.
“Manusia
menyembahku. Itulah yang kubutuhkan untuk keabadian dan kekuatanku.”
“Tuan, kalau
memang begitu. Aku akan membunuhmu dengan mudah.”
Poseidon
tercengang. Itulah air muka Poseidon yang sekarang kepalanya dipegang oleh Roro
Kidul. Ia begitu merasakan siksaan yang amat terasa, saat kepalanya dicabut
dari badannya oleh Roro Kidul hanya dengan tangan. Begitu memedihkan.
Lalu Roro Kidul
memandangi ketiga kepala yang sekarang ada di hadapannya. Lalu ia pandangin
lama wajah Poseidon yang tak lagi bisa angkuh.
“Bodoh, sekarang
hanya debu yang menyembahmu.
“Debu yang
menempel di sisa kejayaanmu.
“Dan itu bukan
Manusia.”
Lalu Roro Kidul
melihat hippkampos yang ketakutan. Hippokampos itu tidak kuat lagi bergerak.
“Tenang, kau akan
menjadi bagian keluarga di sini.
“Dan aku
tertarik dengan warna sisikmu.”
Kemudian ia
meminta laut selatan untuk menguburkan apa yang terjadi setelah peperangan.
Roro Kidul kembali menaiki kereta kudanya. Mengambil sesajen yang berserakan di
pantai. Sesajen itu ia gunakan untuk melaksanakan hobinya. Memberi makan ikan
dari tangannya.
Dan Zeus yang
memerhatikan dari tadi di olimpus sedang sibuk meracik manusia baru, untuk
kepentingan keabadiannya.
mnash
mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar