Selasa, 11 Juni 2013

Tarian Rumi


Tuan Asmara namanya, tinggal di kota tempat Tuhan menciptakan dan dianggap diciptakan. Orang-orang mengemasnya agar bisa dibagikan dan dijual kepada yang lain, dan agar nilai-Nya terasa. Harganya mahal sekali. tak sembarang bisa membelinya. Sekali ini ia butuh Tuhan. Penisnya mengkeret, rupanya buruk sekali. ia percaya Tuhan mampu menguatkan hati dan penisnya, lalu membaguskan rupanya. Tapi Tuhan mahal sekali. perempuan juga mahal sekali. seharga rupa dan penisnya.
Ia melihat Tuhan dijual di toples-toples kaca, di toples-toples plastik, dan di botol-botol air mineral. Ia ingin membelinya tapi takut harganya mahal sekali. ia lalu mencari cara; lalu ia pergi ke masjid-masjid dan gereja. Ia cari keran yang memancarkan Tuhan dengan gratisnya setiap hari. Ia menadahnya dengan botol bekas air mineral sebanyak-banyaknya. Ia bawa pulang dan disimpan di tempat yang terjaga.
Setiap hari ia menjadi pengunjung masjid dan gereja. Keperkasaannya bertambah, sebab minum air keran yang memancarkan Tuhan. Ia begitu menikmati proses ketika: ia membuka keran. Ia menadahkan botol. Tuhan mengalir deras. Botol berguncang, lalu terpenuhi Tuhan. Ia menutup keran. Ia menimang-nimang botol. Ia mengocoknya sedikit. Mencium bau segar-Nya. Ia membawanya pulang. Diambilnya sebuah gelas kaca. Ia menuangkannya hati-hati. Tersenyum licik dan ngeri. Gelas penuh. Didekatkannya gelas itu ke mulut, dibauinya sejenak. Ia minum-Nya dengan hati-hati.
“Aku haus, aku haus
Haus sekali
Tuhan basahi aku basahi aku”
Begitu setiap hari, sampai ia merasa sangat perkasa dan jantan. Sangat-sangat perkasa. Satu perempuan tertarik padanya. Kuning bening kulitnya. Mungil manja bibirnya. Matanya menyala dan liar. Tangannya kecil dan lincah menemukan kegelian laki-laki. Buah keperempuanannya lembut, tapi ranum. Tak cukup tinggi tapi juga tak pendek sekali. kedua kakinya seperti ingin berlari-lari mesra dan mengapit kelelakian dengan sempurna.
Dua perempuan tertarik padanya. Rupanya hampir sama, tetapi hatinya lebih manja. Siap berbagi penis dan memegangnya berdua. Di kanan dan kiri, seperti dua malaikat yang memanen buah-buahan yang tumbuh dari laki-laki kedalam keranjang kewanitaannya. Semakin hari semakin Tuhan adanya, semakin Tuhan adanya, dan keran-keran air di rumahnya juga memancarkan Tuhan.
Kebiasaannya menadah air di gereja dan masjid membuatnya dikenal sebagai si penadah air. Ia lalu air Tuhan itu kepada siapapun yang lewat, karena ia sendiri merasa harus membagi-bagikan itu. Pun tubuhnya semakin Tuhan saja, meminum Tuhan setiap hari membuatnya makin seperti Tuhan. Air itu mempengaruhi perawakannya.
Lonceng gereja berdentang setiap kali Jesus turun dan membagikan kelelakiannya ke seluruh dunia, ke seluruh dunia termasuk tempat tuan Asmara berada. Tuhan mengalir sampai jauh, mencampuri darah dan air benih-benih dimana manusia diciptakan darinya. Perempuan dan laki-laki mengalir sampai jauh, sampai Tuhan berhenti alirannya.
Semakin hari, semakin Tuhanlah ia. Semakin bercahaya. Janggut dan matanya tegas. Laki-laki sekali. dadanya bidang berambut. Tangan kekar. Yang lebih Tuhan, penisnya yang menirdayakan perempuan-perempuannya. Ia berlari-lari kecil dalam kamar dan telanjang, kanak-kanak yang polos tanpa busana. Penisnya menggantung-gantung dan memanggil perempuannya. Perempuan-perempuannya datang dan telanjang juga, buah dadanya mengayun-ayun. Belahan panggulnya yang sintal berguncang, dan pintu keperempuanan mereka memancarkan aroma mawar yang meruah dan mengalir kedalam penis Tuan Asmara. Mereka terus berlarian sampai berkeringat. Tertawa-tawa kecil. Sekali-sekali menyentuh, sekali-sekali mencolek.
Suatu ketika, Tuan Asmara merebahkan dirinya di dipan putih tua. Penisnya terbuka, perutnya terbuka, dadanya terbuka. Ia siap menerima hutan-hutan pinus yang manja. Perempuan-perempuannya mengerti, mereka menindih Tuan Ahmad. Yang satu menanti di sisi, sambil mengurut-urut kedua sayap perempuannya. Yang satu membukakan pintunya, kunjungan penis ia terima dengan perlahan. Jari-jemari saling meremas dan menghangatkan. Maju-mundur malu-malu dan tersipu. Buah dada perempuan itu mengusap-usap dada Tuan Asmara yang berdentang seperti tinju. Perutnya yang halus, membimbing pintu dan tamunya terus bercengkrama. Panas membuncah, sebuah kesepakatan dibuat. Penis menjatuhkan diri di pelukan manja liang perempuannya.
Pada perempuan kedua tangannya lebih lincah, ia membelai-belai sayap perempuan itu agar bisa terbang dan mengajaknya serta. Tangan perempuannya lebih leluasa, jemarinya yang lentik dan halus kuning langsat memijit-mijit manja penis Tuan Asmara. Lalu ketiganya tertawa sepanjang malam itu, sampai pagi terbit dan matahari baru mandi yang muncul juga tertawa-tawa. Masih tanpa busana, mereka mandi bersama.
Dari busa-busa sabun beterbangan cinta. Putih warnanya. Harum aroma bunga. Bergemericik air dipermainkan Tuan Asmara dan kedua wanitanya. Saling membersihkan dari kotoran-kotoran. Terus-menerus digosok sampai bening dan tersisa Tuhan saja tanpa noda. sampai badan ketiganya harum sekali dan bening sekali.
Tuan Asmara terus meminum Tuhan yang memancar-mancar mengalir dari keran masjid dan gereja. Ia merasa tak akan pernah cukup hausnya, tak akan pernah sampai puasnya. Ia lantas tak lagi menggunakan gelas, ia langsung minum dari botolnya. Ia tuangkan sampai basah janggut dan dadanya. Ia lakukan itu setiap hari dan setiap malam bersetubuh kembali ia dengan kedua perempuannya.
Ia benar-benar menghayati ketika teguk demi teguk Tuhan membasahi lehernya, memasuki lambungnya, dan memasuki metabolisme darahnya. Darahnya lebih jernih, dan tubuhnya serasa tak akan tua. Botol demi botol Tuhan dari keran air masjid dan gereja ia teguk, tak juga memuaskan dahaganya. Ya. Suatu waktu ia mulai merasakan hausnya tidak wajar. Hausnya tak bisa dipuaskan. Hausnya haus sekali.
“Basahi aku Tuhan basahi aku
Haus sekali Tuhan aku haus sekali”
Ia mulai lupa pada wanitanya. Ia kini memusatkan perhatian pada botol-botol Tuhannya. Yang bisa ia reguk setiap hari, memuaskan hausnya. Pada satu pagi, kehausan menjalari mulutnya. Panas dan kering sekali. ia minum satu reguk Tuhan dari gelas kaca. Hausnya malah merambat sampai bibir dan lehernya. Ia reguk sepuasnya Tuhan di botol-botol air mineral, hausnya menjalar sampai paru-parunya. Nafasnya haus sekali. panas sekali. kering sekali. sesak sekali. ia siramkan air ke lehernya langsung, agar segarnya lebih kuat lagi. Kini hausnya ia rasakan mengelupaskan kulit tangannya. Panas. Tangannya kehausan dan seperti terbakar, mengerut dan mengerut seperti diasapi dan dikeringkan. Ia berlari, ia lepas bajunya. Ia kepanasan sekali. ia lari, ia lepas celananya. Ia lari, ia kepanasan sekali. ia lepas celana dalamnya, hingga penisnya yang kehausan juga nampak. Seluruh tubuhnya seperti diperas, ia menggigil kehausan dan gemetar. Ia berlari, ia mencari keran Tuhan tempat Tuhan dipancarkan dan bisa diminum sepuasnya. Ia lari, ia lari, panasnya semakin mengejarnya dan mengeringkan kulitnya. Matanya merah. Kulitnya kisut. Nafasnya sesak sekali. telanjang tanpa busana dan perlindungan.
Sampai di keran Tuhan di masjid ia buka kerannya, ia putar sampai lubang yang paling menganga. Tuhan memancar mengalir deras sekali dan Tuan Asmara mandi tapi makin kering juga tubuhnya, ia balurkan Tuhan pada sekujur kulitnya, tapi makin mengering saja. ia gemetar, ia melompat-lompat sementara Tuhan makin mengaliri tubuhnya.
Sambil berteriak-teriak “Aku haus, aku haus!” katanya.
“Aku haus, aku haus!”
“Aku haus, aku haus!”
“Basahi aku Tuhan basahi aku, biarkan aku dibanjiri alir-Mu!”
“Aku kering, aku kering, basahi aku Tuhan basahi aku!”
“Aku haus minumi aku Tuhan minumi aku!”
“Aliri aku aliri aku!”
Sementara di rumah, perempuannya kebingungan, laki-lakinya hilang dan ditemukan sedang menari-nari Rumi di keran masjid. Tuhan, Tuhan, katanya. Tuhan, Tuhan, basahi aku, katanya. Seperti ketika malam persetubuhan dengan mereka berdua: basahi aku, basahi aku, basahi kami!
Perempuan-perempuan itu berlari sambil menari mengejar Tuan Asmara yang menari-nari kehausan, dan menyerukan nyanyian kehausan. Sampai di tengah kota, perempuan-perempuan itu melihat banyak laki-laki, dan mengejarnya. Mereka mengoyak-ngoyak setiap celana dan menari-nari di depan penis laki-laki di seluruh kota. Mereka terus mengejar dan tidak menyisakan sedikitpun penis di kota itu.
Satu demi satu laki-laki di kota itu dikoyak celananya dan ditarik-tarik lembut penisnya. Diajaknya menari seperti orang-orang kehausan yang gemetaran dan berputar-putar. Penis-penis yang menegang digenggam itu berlari, berlari, berlari mengejar-ngejar perempuan yang mengoyak-ngoyak celananya. Terlanjur ikut merasa haus dan ingin menari juga. Sementara Tuan Asmara masih terus dialiri di keran Tuhan namun tak juga hilang kering dan hausnya.
Sampai pada senja hari, tepat ketika Tuan Asmara larut dalam kehausan dan tersapu aliran air dari keran masjid menuju gorong-gorong dan kanal irigasi yang dialiri Tuhan, semua laki-laki di kota itu tanpa busana menari-nari, penisnya terbuka. Celananya terbuka, dibuka. Kedua perempuan Tuan Asmara yang mencari juga menari, lalu membentuk formasi tarian roda gigi, dan kedua perempuan sebagai porosnya. Saling menggenggam penisnyadan mereka menari-nari seperti roda gigi yang terus berputar seperti galaksi, lalu menyanyikan kehausan mereka. Terus menerus menggoyang-goyangkan penis mereka.
Perempuan di tengahnya meronta-ronta dan menyanyikan kehausannya seperti sangat dahaganya. keduanya mengusap-usapkan dara kemaluannya seperti sedang berdoa, seperti sedang berdoa. keduanya memeras-meras payudaranya seperti Maria menyusui Jesus pertama kalinya. Tanpa busana , tanpa busana! Pantatnya yang sintal dan kepalanya yang indah di ayun-ayunkannya dan bernyanyilah keduanya karena hausnya!
Mata rantai itu teguh dan tak tergoyahkan, sampai satu ketika sakral tarian itu sampai dan api cinta di pusat roda gigi membuncah, sperma bersemburan dari para lelaki dan membasahi kedua perempuan di tengah putaran. Semuanya berseru, semuanya berseru: Aaaaah! Aaaah! Semakin haus, semakin keras semburan. Semakin dahaga si perempuan. Semakin basah keduanya. Semakin basah keduanya! Semua lelaki itu orgasme, dan melenguhkan nyanyian-nyanyian kehausannya. Semuanya orgasme! Sambil terus mengeratkan genggaman dan menguatkan rantai roda giginya, terus memuncratkan sperma ke tengah, kepada kedua perempuan yang sedang menari karena kehausan dan dibasahi sperma dari laki-laki di kotanya. Iramanya semakin orgasme, semakin orgasme! Dan dara kemaluan kedua perempuan demikian pula adanya! Aaah! Aaah!
Terus menggenggam, terus mengecilkan roda sehingga makin lekat pada kemaluan kedua perempuan itu dan semakin muncrat mereka seperti keran Tuhan yang melarutkan Tuan Asmara! Semakin basah mereka!
Tarian Rumi yang sempurna!
Semuanya berseru dalam orgasme dan tercipta paduan suara yang indah dan bergelora!
Semuanya muncrat!
Semuanya muncrat!
Semuanya menguatkan genggaman!
Semuanya menguatkan genggaman!
Aah! Aaaah! Aaaah! Omm Parararraaraa! Omm Parararrraaaa!
Ommm paraaararararaaaaaaaaaaa!
Semakin lama tarian mereka makin cepat, dan semuanya tanpa busana. Sambil menyanyikan lagu haus mereka terus menari, dan nyanyian mereka begini bunyinya:
“Aliri kami Tuhan aliri kami
Yang haus sekali Tuhan haus sekali
Kering sekali Tuhan basahi kami
Yang haus dan Tuhan basahi kami...”



Ar-Risalah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar