Tuan Asmara namanya, tinggal di
kota tempat Tuhan menciptakan dan dianggap diciptakan. Orang-orang mengemasnya
agar bisa dibagikan dan dijual kepada yang lain, dan agar nilai-Nya terasa.
Harganya mahal sekali. tak sembarang bisa membelinya. Sekali ini ia butuh
Tuhan. Penisnya mengkeret, rupanya buruk sekali. ia percaya Tuhan mampu
menguatkan hati dan penisnya, lalu membaguskan rupanya. Tapi Tuhan mahal
sekali. perempuan juga mahal sekali. seharga rupa dan penisnya.
Ia melihat Tuhan dijual di toples-toples
kaca, di toples-toples plastik, dan di botol-botol air mineral. Ia ingin
membelinya tapi takut harganya mahal sekali. ia lalu mencari cara; lalu ia
pergi ke masjid-masjid dan gereja. Ia cari keran yang memancarkan Tuhan dengan
gratisnya setiap hari. Ia menadahnya dengan botol bekas air mineral
sebanyak-banyaknya. Ia bawa pulang dan disimpan di tempat yang terjaga.
Setiap hari ia menjadi pengunjung
masjid dan gereja. Keperkasaannya bertambah, sebab minum air keran yang
memancarkan Tuhan. Ia begitu menikmati proses ketika: ia membuka keran. Ia
menadahkan botol. Tuhan mengalir deras. Botol berguncang, lalu terpenuhi Tuhan.
Ia menutup keran. Ia menimang-nimang botol. Ia mengocoknya sedikit. Mencium bau
segar-Nya. Ia membawanya pulang. Diambilnya sebuah gelas kaca. Ia menuangkannya
hati-hati. Tersenyum licik dan ngeri. Gelas penuh. Didekatkannya gelas itu ke
mulut, dibauinya sejenak. Ia minum-Nya dengan hati-hati.
“Aku haus, aku haus
Haus sekali
Tuhan basahi aku basahi aku”
Begitu setiap hari, sampai ia
merasa sangat perkasa dan jantan. Sangat-sangat perkasa. Satu perempuan tertarik
padanya. Kuning bening kulitnya. Mungil manja bibirnya. Matanya menyala dan
liar. Tangannya kecil dan lincah menemukan kegelian laki-laki. Buah
keperempuanannya lembut, tapi ranum. Tak cukup tinggi tapi juga tak pendek
sekali. kedua kakinya seperti ingin berlari-lari mesra dan mengapit kelelakian
dengan sempurna.
Dua perempuan tertarik padanya.
Rupanya hampir sama, tetapi hatinya lebih manja. Siap berbagi penis dan memegangnya
berdua. Di kanan dan kiri, seperti dua malaikat yang memanen buah-buahan yang
tumbuh dari laki-laki kedalam keranjang kewanitaannya. Semakin hari semakin
Tuhan adanya, semakin Tuhan adanya, dan keran-keran air di rumahnya juga
memancarkan Tuhan.
Kebiasaannya menadah air di
gereja dan masjid membuatnya dikenal sebagai si penadah air. Ia lalu air Tuhan
itu kepada siapapun yang lewat, karena ia sendiri merasa harus membagi-bagikan
itu. Pun tubuhnya semakin Tuhan saja, meminum Tuhan setiap hari membuatnya
makin seperti Tuhan. Air itu mempengaruhi perawakannya.
Lonceng gereja berdentang setiap
kali Jesus turun dan membagikan kelelakiannya ke seluruh dunia, ke seluruh
dunia termasuk tempat tuan Asmara berada. Tuhan mengalir sampai jauh,
mencampuri darah dan air benih-benih dimana manusia diciptakan darinya.
Perempuan dan laki-laki mengalir sampai jauh, sampai Tuhan berhenti alirannya.
Semakin hari, semakin Tuhanlah
ia. Semakin bercahaya. Janggut dan matanya tegas. Laki-laki sekali. dadanya
bidang berambut. Tangan kekar. Yang lebih Tuhan, penisnya yang menirdayakan
perempuan-perempuannya. Ia berlari-lari kecil dalam kamar dan telanjang,
kanak-kanak yang polos tanpa busana. Penisnya menggantung-gantung dan memanggil
perempuannya. Perempuan-perempuannya datang dan telanjang juga, buah dadanya
mengayun-ayun. Belahan panggulnya yang sintal berguncang, dan pintu
keperempuanan mereka memancarkan aroma mawar yang meruah dan mengalir kedalam
penis Tuan Asmara. Mereka terus berlarian sampai berkeringat. Tertawa-tawa kecil.
Sekali-sekali menyentuh, sekali-sekali mencolek.
Suatu ketika, Tuan Asmara
merebahkan dirinya di dipan putih tua. Penisnya terbuka, perutnya terbuka,
dadanya terbuka. Ia siap menerima hutan-hutan pinus yang manja.
Perempuan-perempuannya mengerti, mereka menindih Tuan Ahmad. Yang satu menanti
di sisi, sambil mengurut-urut kedua sayap perempuannya. Yang satu membukakan
pintunya, kunjungan penis ia terima dengan perlahan. Jari-jemari saling meremas
dan menghangatkan. Maju-mundur malu-malu dan tersipu. Buah dada perempuan itu
mengusap-usap dada Tuan Asmara yang berdentang seperti tinju. Perutnya yang
halus, membimbing pintu dan tamunya terus bercengkrama. Panas membuncah, sebuah
kesepakatan dibuat. Penis menjatuhkan diri di pelukan manja liang perempuannya.
Pada perempuan kedua tangannya
lebih lincah, ia membelai-belai sayap perempuan itu agar bisa terbang dan
mengajaknya serta. Tangan perempuannya lebih leluasa, jemarinya yang lentik dan
halus kuning langsat memijit-mijit manja penis Tuan Asmara. Lalu ketiganya
tertawa sepanjang malam itu, sampai pagi terbit dan matahari baru mandi yang muncul
juga tertawa-tawa. Masih tanpa busana, mereka mandi bersama.
Dari busa-busa sabun beterbangan
cinta. Putih warnanya. Harum aroma bunga. Bergemericik air dipermainkan Tuan
Asmara dan kedua wanitanya. Saling membersihkan dari kotoran-kotoran.
Terus-menerus digosok sampai bening dan tersisa Tuhan saja tanpa noda. sampai
badan ketiganya harum sekali dan bening sekali.
Tuan Asmara terus meminum Tuhan
yang memancar-mancar mengalir dari keran masjid dan gereja. Ia merasa tak akan
pernah cukup hausnya, tak akan pernah sampai puasnya. Ia lantas tak lagi
menggunakan gelas, ia langsung minum dari botolnya. Ia tuangkan sampai basah
janggut dan dadanya. Ia lakukan itu setiap hari dan setiap malam bersetubuh
kembali ia dengan kedua perempuannya.
Ia benar-benar menghayati ketika
teguk demi teguk Tuhan membasahi lehernya, memasuki lambungnya, dan memasuki
metabolisme darahnya. Darahnya lebih jernih, dan tubuhnya serasa tak akan tua.
Botol demi botol Tuhan dari keran air masjid dan gereja ia teguk, tak juga
memuaskan dahaganya. Ya. Suatu waktu ia mulai merasakan hausnya tidak wajar.
Hausnya tak bisa dipuaskan. Hausnya haus sekali.
“Basahi aku Tuhan basahi aku
Haus sekali Tuhan aku haus sekali”
Ia mulai lupa pada wanitanya. Ia
kini memusatkan perhatian pada botol-botol Tuhannya. Yang bisa ia reguk setiap
hari, memuaskan hausnya. Pada satu pagi, kehausan menjalari mulutnya. Panas dan
kering sekali. ia minum satu reguk Tuhan dari gelas kaca. Hausnya malah
merambat sampai bibir dan lehernya. Ia reguk sepuasnya Tuhan di botol-botol air
mineral, hausnya menjalar sampai paru-parunya. Nafasnya haus sekali. panas
sekali. kering sekali. sesak sekali. ia siramkan air ke lehernya langsung, agar
segarnya lebih kuat lagi. Kini hausnya ia rasakan mengelupaskan kulit
tangannya. Panas. Tangannya kehausan dan seperti terbakar, mengerut dan
mengerut seperti diasapi dan dikeringkan. Ia berlari, ia lepas bajunya. Ia
kepanasan sekali. ia lari, ia lepas celananya. Ia lari, ia kepanasan sekali. ia
lepas celana dalamnya, hingga penisnya yang kehausan juga nampak. Seluruh
tubuhnya seperti diperas, ia menggigil kehausan dan gemetar. Ia berlari, ia
mencari keran Tuhan tempat Tuhan dipancarkan dan bisa diminum sepuasnya. Ia
lari, ia lari, panasnya semakin mengejarnya dan mengeringkan kulitnya. Matanya
merah. Kulitnya kisut. Nafasnya sesak sekali. telanjang tanpa busana dan
perlindungan.
Sampai di keran Tuhan di masjid
ia buka kerannya, ia putar sampai lubang yang paling menganga. Tuhan memancar
mengalir deras sekali dan Tuan Asmara mandi tapi makin kering juga tubuhnya, ia
balurkan Tuhan pada sekujur kulitnya, tapi makin mengering saja. ia gemetar, ia
melompat-lompat sementara Tuhan makin mengaliri tubuhnya.
Sambil berteriak-teriak “Aku
haus, aku haus!” katanya.
“Aku haus, aku haus!”
“Aku haus, aku haus!”
“Basahi aku Tuhan basahi aku,
biarkan aku dibanjiri alir-Mu!”
“Aku kering, aku kering, basahi
aku Tuhan basahi aku!”
“Aku haus minumi aku Tuhan minumi
aku!”
“Aliri aku aliri aku!”
Sementara di rumah, perempuannya
kebingungan, laki-lakinya hilang dan ditemukan sedang menari-nari Rumi di keran
masjid. Tuhan, Tuhan, katanya. Tuhan, Tuhan, basahi aku, katanya. Seperti
ketika malam persetubuhan dengan mereka berdua: basahi aku, basahi aku, basahi
kami!
Perempuan-perempuan itu berlari
sambil menari mengejar Tuan Asmara yang menari-nari kehausan, dan menyerukan
nyanyian kehausan. Sampai di tengah kota, perempuan-perempuan itu melihat
banyak laki-laki, dan mengejarnya. Mereka mengoyak-ngoyak setiap celana dan
menari-nari di depan penis laki-laki di seluruh kota. Mereka terus mengejar dan
tidak menyisakan sedikitpun penis di kota itu.
Satu demi satu laki-laki di kota
itu dikoyak celananya dan ditarik-tarik lembut penisnya. Diajaknya menari
seperti orang-orang kehausan yang gemetaran dan berputar-putar. Penis-penis
yang menegang digenggam itu berlari, berlari, berlari mengejar-ngejar perempuan
yang mengoyak-ngoyak celananya. Terlanjur ikut merasa haus dan ingin menari
juga. Sementara Tuan Asmara masih terus dialiri di keran Tuhan namun tak juga
hilang kering dan hausnya.
Sampai pada senja hari, tepat
ketika Tuan Asmara larut dalam kehausan dan tersapu aliran air dari keran
masjid menuju gorong-gorong dan kanal irigasi yang dialiri Tuhan, semua
laki-laki di kota itu tanpa busana menari-nari, penisnya terbuka. Celananya
terbuka, dibuka. Kedua perempuan Tuan Asmara yang mencari juga menari, lalu
membentuk formasi tarian roda gigi, dan kedua perempuan sebagai porosnya.
Saling menggenggam penisnyadan mereka menari-nari seperti roda gigi yang terus
berputar seperti galaksi, lalu menyanyikan kehausan mereka. Terus menerus
menggoyang-goyangkan penis mereka.
Perempuan di tengahnya
meronta-ronta dan menyanyikan kehausannya seperti sangat dahaganya. keduanya
mengusap-usapkan dara kemaluannya seperti sedang berdoa, seperti sedang berdoa.
keduanya memeras-meras payudaranya seperti Maria menyusui Jesus pertama
kalinya. Tanpa busana , tanpa busana! Pantatnya yang sintal dan kepalanya yang
indah di ayun-ayunkannya dan bernyanyilah keduanya karena hausnya!
Mata rantai itu teguh dan tak
tergoyahkan, sampai satu ketika sakral tarian itu sampai dan api cinta di pusat
roda gigi membuncah, sperma bersemburan dari para lelaki dan membasahi kedua
perempuan di tengah putaran. Semuanya berseru, semuanya berseru: Aaaaah! Aaaah!
Semakin haus, semakin keras semburan. Semakin dahaga si perempuan. Semakin
basah keduanya. Semakin basah keduanya! Semua lelaki itu orgasme, dan
melenguhkan nyanyian-nyanyian kehausannya. Semuanya orgasme! Sambil terus
mengeratkan genggaman dan menguatkan rantai roda giginya, terus memuncratkan
sperma ke tengah, kepada kedua perempuan yang sedang menari karena kehausan dan
dibasahi sperma dari laki-laki di kotanya. Iramanya semakin orgasme, semakin
orgasme! Dan dara kemaluan kedua perempuan demikian pula adanya! Aaah! Aaah!
Terus menggenggam, terus
mengecilkan roda sehingga makin lekat pada kemaluan kedua perempuan itu dan
semakin muncrat mereka seperti keran Tuhan yang melarutkan Tuan Asmara! Semakin
basah mereka!
Tarian Rumi yang sempurna!
Semuanya berseru dalam orgasme
dan tercipta paduan suara yang indah dan bergelora!
Semuanya muncrat!
Semuanya muncrat!
Semuanya menguatkan genggaman!
Semuanya menguatkan genggaman!
Aah! Aaaah! Aaaah! Omm
Parararraaraa! Omm Parararrraaaa!
Ommm paraaararararaaaaaaaaaaa!
Semakin lama tarian mereka makin
cepat, dan semuanya tanpa busana. Sambil menyanyikan lagu haus mereka terus
menari, dan nyanyian mereka begini bunyinya:
“Aliri kami Tuhan aliri kami
Yang haus sekali Tuhan haus
sekali
Kering sekali Tuhan basahi kami
Yang haus dan Tuhan basahi
kami...”
Ar-Risalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar