“Sudah bertahun-tahun
seperti ada suara yang entah datang dari mana, selalu menggangguku”.
“Benarkah? Seperti
apa suara itu?”.
“Suara itu terdengar
seperti suara perempuan yang selalu datang setiap hari dan pada jam yang sama?
Dia memanggil-manggil namaku, dan selalu menyuruhku membuka mulut. Lantas
ketika membuka mulut, seperti ada yang ia jejalkan”.
“Apa yang ia
jejalkan?”.
“Aku tidak tahu, tapi
aku dapat merasakannya. Teksturnya sedikit berair dan terasa asin di lidah?”.
“Mungkinkah itu
racun?”.
“Aku tidak tahu”.
“Bagaimana dengan
kondisi tubuhmu? Apakah setelah ia menjejalkan sesuatu ke dalam mulutmu, kau
merasa.....”.
“Tidak, tidak aku
bahkan tidak merasakan sakit. Karena setelah ia selesai menjejalkan dan pergi,
aku segera memuntahkannya kembali”.
“Ahhh syukurlah,
berarti kau akan baik-baik saja”.
“Ya, aku rasa. Tapi
kali ini aku harus melawannya. Aku sudah muak untuk terus menuruti
perintahnya”.
“Memangnya bagaimana
jika kau tak mau menuruti perintahnya?”.
“Dia akan meledak memarahiku
tanpa ampun, dan terus memerintahku untuk tetap membuka mulut”.
“Kejam sekali dia?”.
“Memang. Dan sekarang
aku harus melawannya meski dia akan memarahiku, tapi akan tetap kulawan. Aku tak
ingin mati diracun olehnya!”.
Terdengar suara pintu
diketuk lantas terdengar sebuah suara yang begitu halus dari balik sana, “Ed,
ayo makan dulu”.
“Sssttt apakah kau
mendengarnya?!”.
“Mendengar apa? Aku
tak mendengar apa pun?”.
“Diamlah, suara itu
datang lagi! Aku tahu kau pasti dapat mendengarnya!”.
“Buka mulutmu Ed”
suara bunyi sendok yang menyendok isi dalam mangkuk plastik terdengar.
“Aku tak akan membuka
mulutku!”.
“Apa maksudmu Ed?!
Bukalah mulutmu, aku akan menyuapimu”.
“Tak akan!”.
“Ed?!”.
“Aku tak akan bisa
kau racuni semudah itu!”.
“Racun?! Apa maksudmu
dengan racun?! Ini bubur Ed, bukan racun!”.
“Hey penyihir! Aku
tak sudi kau bohongi!”.
“Edi! Kenapa kau
menyebutku penyihir?! Sudah, sudah tak usah berbicara hal-hal aneh, ayo makan
buburmu nak”.
“Nak?! Dasar
penyihir, berani betul kau memanggiku nak?! Pergi kau!”.
“Astaga Edi!”.
“Pergi kau! Aku tahu
kau penyihir! Penyihir yang hanya berani muncul melalui suara saja! Pergi kau
Bedebah!”.
“Edi apa-apaan kau?!
Berani kurang ajar pada ibumu sendiri!”.
“Ibu?! Hah?! Berani
sekali kau mengaku menjadi ibuku, jika berani muncullah di hadapanku. Jangan
hanya bersembunyi di balik suara!”.
“Astaga Edi... “
terdengar suara tangisan dari suara itu.
“Jangan menangis kau!
Kau kira dengan menangis dapat meluluhkan hatiku! Sungguh licik, kau
penyihir!”.
“Sungguh Ed, aku tak tahu
apa yang kau mau hiks.... Mngkin saat ayahmu pulang, kau akan sadar
hiks....” suara sendok yang memantul
karena mangkuk plastik terbentur sebuah benda terdengar, diiringi dengan bunyi
pintu tertutup yang begitu kencang.
“Apakah kau dengar
suara tadi?”.
“Ya, aku
mendengarnya”.
“Kau tahu apa yang ia
coba lakukan padaku?”.
“Ya, aku
mengetahuinya”.
“Aku sudah muak
dengan Penyihir itu, dan sekarang ia telah pergi. Aku sudah terbebas hahahaha.....
Aku tak akan mudah kau tipu! Dasar penyihir! Hahahaha......”.
“Aku kasihan pada
dirimu”.
“Hah? Kasihan padaku?
Kenapaq kau kasihan padaku kawan?”.
“Tadi ia menangis”.
“Itu hanya trik untuk
mengelabuiku saja kawan hahahahaha. Dan aku tak akan tertipu!”.
“Tadi ia mengatakan
ia ibumu bukan?”.
“Itu juga hanya
trik”.
“Pernahkah kau
melihat wujudnya? Bagaimana wajahnya?”.
“Sudah kubilang dia
itu hanya berani menemuiku dalam bentuk suara saja”.
“Pernahkah kau
merasakan kulit tangannya ketika ia menyuapimu?”.
“Hei apa-apaan kau?!
Kenapa kau membelanya? apakah kau telah bersekongkol dengan penyihir itu?!”.
“Bodoh”.
“Apa maksudmu
mengatakan aku bodoh?! Hah?!”.
“Apakah kau tahu aku
ini apa?”.
“Heh? Kau manusia
sama sepertiku. Ada-ada saja kau ini”.
“Pernahkah kau
melihat wujudku?”.
“Aa apa maksudmu?”.
“Pernahkah kau tahu
benda apa yang tengah kau duduki? Benda apa saja yang ada di sampingmu? Benda
di belakangmu? Di hadapanmu?”.
“aaa.....”.
“Aku ini bukan
manusia. Pun aku sudah yakin kau tak akan tahu benda apa saja itu”.
“Brengsek!”.
“Jujurlah!”.
“.........”.
“Kau pasti tak akan
bisa menjawabnya. Aku hanya sebuah konsep imajiner pikiranmu. Aku kau ciptakan
untuk menemanimu dalam kesepianmu. Dalam kegelapanmu”.
“Apa yang kau
bicarakan?!”.
“Bukankah kau telah
buta, apa kau lupa?”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar