Selasa, 11 Juni 2013

Suara


“Sudah bertahun-tahun seperti ada suara yang entah datang dari mana, selalu menggangguku”.
“Benarkah? Seperti apa suara itu?”.
“Suara itu terdengar seperti suara perempuan yang selalu datang setiap hari dan pada jam yang sama? Dia memanggil-manggil namaku, dan selalu menyuruhku membuka mulut. Lantas ketika membuka mulut, seperti ada yang ia jejalkan”.
“Apa yang ia jejalkan?”.
“Aku tidak tahu, tapi aku dapat merasakannya. Teksturnya sedikit berair dan terasa asin di lidah?”.
“Mungkinkah itu racun?”.
“Aku tidak tahu”.
“Bagaimana dengan kondisi tubuhmu? Apakah setelah ia menjejalkan sesuatu ke dalam mulutmu, kau merasa.....”.
“Tidak, tidak aku bahkan tidak merasakan sakit. Karena setelah ia selesai menjejalkan dan pergi, aku segera memuntahkannya kembali”.
“Ahhh syukurlah, berarti kau akan baik-baik saja”.
“Ya, aku rasa. Tapi kali ini aku harus melawannya. Aku sudah muak untuk terus menuruti perintahnya”.
“Memangnya bagaimana jika kau tak mau menuruti perintahnya?”.
“Dia akan meledak memarahiku tanpa ampun, dan terus memerintahku untuk tetap membuka mulut”.
“Kejam sekali dia?”.
“Memang. Dan sekarang aku harus melawannya meski dia akan memarahiku, tapi akan tetap kulawan. Aku tak ingin mati diracun olehnya!”.
Terdengar suara pintu diketuk lantas terdengar sebuah suara yang begitu halus dari balik sana, “Ed, ayo makan dulu”.
“Sssttt apakah kau mendengarnya?!”.
“Mendengar apa? Aku tak mendengar apa pun?”.
“Diamlah, suara itu datang lagi! Aku tahu kau pasti dapat mendengarnya!”.
“Buka mulutmu Ed” suara bunyi sendok yang menyendok isi dalam mangkuk plastik terdengar.
“Aku tak akan membuka mulutku!”.
“Apa maksudmu Ed?! Bukalah mulutmu, aku akan menyuapimu”.
“Tak akan!”.
“Ed?!”.
“Aku tak akan bisa kau racuni semudah itu!”.
“Racun?! Apa maksudmu dengan racun?! Ini bubur Ed, bukan racun!”.
“Hey penyihir! Aku tak sudi kau bohongi!”.
“Edi! Kenapa kau menyebutku penyihir?! Sudah, sudah tak usah berbicara hal-hal aneh, ayo makan buburmu nak”.
“Nak?! Dasar penyihir, berani betul kau memanggiku nak?! Pergi kau!”.
“Astaga Edi!”.
“Pergi kau! Aku tahu kau penyihir! Penyihir yang hanya berani muncul melalui suara saja! Pergi kau Bedebah!”.
“Edi apa-apaan kau?! Berani kurang ajar pada ibumu sendiri!”.
“Ibu?! Hah?! Berani sekali kau mengaku menjadi ibuku, jika berani muncullah di hadapanku. Jangan hanya bersembunyi di balik suara!”.
“Astaga Edi... “ terdengar suara tangisan dari suara itu.
“Jangan menangis kau! Kau kira dengan menangis dapat meluluhkan hatiku! Sungguh licik, kau penyihir!”.
“Sungguh Ed, aku tak tahu apa yang kau mau hiks.... Mngkin saat ayahmu pulang, kau akan sadar hiks....”  suara sendok yang memantul karena mangkuk plastik terbentur sebuah benda terdengar, diiringi dengan bunyi pintu tertutup yang begitu kencang.
“Apakah kau dengar suara tadi?”.
“Ya, aku mendengarnya”.
“Kau tahu apa yang ia coba lakukan padaku?”.
“Ya, aku mengetahuinya”.
“Aku sudah muak dengan Penyihir itu, dan sekarang ia telah pergi. Aku sudah terbebas hahahaha..... Aku tak akan mudah kau tipu! Dasar penyihir! Hahahaha......”.
“Aku kasihan pada dirimu”.
“Hah? Kasihan padaku? Kenapaq kau kasihan padaku kawan?”.
“Tadi ia menangis”.
“Itu hanya trik untuk mengelabuiku saja kawan hahahahaha. Dan aku tak akan tertipu!”.
“Tadi ia mengatakan ia ibumu bukan?”.
“Itu juga hanya trik”.
“Pernahkah kau melihat wujudnya? Bagaimana wajahnya?”.
“Sudah kubilang dia itu hanya berani menemuiku dalam bentuk suara saja”.
“Pernahkah kau merasakan kulit tangannya ketika ia menyuapimu?”.
“Hei apa-apaan kau?! Kenapa kau membelanya? apakah kau telah bersekongkol dengan penyihir itu?!”.
“Bodoh”.
“Apa maksudmu mengatakan aku bodoh?! Hah?!”.
“Apakah kau tahu aku ini apa?”.
“Heh? Kau manusia sama sepertiku. Ada-ada saja kau ini”.
“Pernahkah kau melihat wujudku?”.
“Aa apa maksudmu?”.
“Pernahkah kau tahu benda apa yang tengah kau duduki? Benda apa saja yang ada di sampingmu? Benda di belakangmu? Di hadapanmu?”.
“aaa.....”.
“Aku ini bukan manusia. Pun aku sudah yakin kau tak akan tahu benda apa saja itu”.
“Brengsek!”.
“Jujurlah!”.
“.........”.
“Kau pasti tak akan bisa menjawabnya. Aku hanya sebuah konsep imajiner pikiranmu. Aku kau ciptakan untuk menemanimu dalam kesepianmu. Dalam kegelapanmu”.
“Apa yang kau bicarakan?!”.
“Bukankah kau telah buta, apa kau lupa?”.



Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar