Selasa, 11 Juni 2013

Si Anak Baru Dalam Sastra


1
                Begitu kecil perbandingan kita temukan pecinta sastra di kalangan masyarakat saat ini, ketidakberpengaruhan angkatan sastrawan baru yang tidak begitu besar pengaruhnya seperti angkatan-angkatan sebelumnya dalam aspek kemasyarakatan menunjang apabila masyarakat kini lebih condong untuk lebih memilih mengetahui dan membaca satra populer maupun bacaan-bacaan yang erat hubungannya dengan bacaan remaja dan komedi-komedi dibandingkan dengan sastra-sastra yang dapat kita nilai sebagai sastra agung. Perbandingan kecil tersebut sejalan lurus pada kalangan mahasiswa khususnya jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kecilnya minat-minat dan kecintaan pada kalangan mahasiswa terhadap sastra. Sebagian besar yang benar-benar berminat dan mencintai sastra dapat kita hitung dan orang-orang tersebut sebagian besar terkumpul pada organisasi-organisasi maupun komunitas-komunitas sastra di kampus dan kecil lainnya sebagai perseorangan yang tidak masuk ke dalam organsasi atau komunitas, dapat dihitung dengan jari.
                Pada permulaan mahasiswa tahun pertama bergiat sastra, kita dapat menyebut mereka sebagai ‘si anak baru’ karena pada tahap inilah langkah pertama mereka di kesusastraan dijejakkan. Berbagai perkenalan seiring kegiatan bersastra mereka pastilah begitu erat dengan peranan senior mereka di tempat mereka bergiat, tanpa seorang yang dituakan pastilah jalan mereka dalam bergiat sastra akan terbentur kesana kemari tanpa arahan yang jelas. Namun kadang arahan yang diberikan kepada mereka inilah bagai pisau bermata dua. Di satu sisi membantu mereka dalam mengembangkan tingkat keilmuan mereka tapi di sisi lain mereka seakan terikat oleh pola gaya pikir senior-senior mereka.
                Kesalahan inilah yang sebenarnya sangat berbahaya bagi mereka yang masih belum memiliki jalan sendiri. Arahan-arahan yang diberikan, mereka lakukan tanpa memiliki kesadaran yang begitu jernih dari pemikiran mereka sendiri, akibatnya mereka hanya menjadi sebuah replika dari pola pikir senior-seniornya dan bahkan organisasi atau komunitasnya.Dapat dikatakan, sebenarnya hanya dihasilkan satu pemikir dan yang lainnya hanyalah orang-orang pengekor saja. walaupun pemikiran pemikir tersebut begitu cemerlang, namun dari segi kualitas pencetak para pemikir terlihat begitu monoton dan bahkan hampir tanpa inovasi-inovasi pola pikir lainnya. Padahal dengan banyaknya ragam pola pemikiran dapat memperkaya persepsi-persepsi segi keilmuan.
2
                Dalam berkarya sudah barang pasti ‘si anak baru’ seakan ditunjukkan bagaimana mereka semestinya membuat sebuah karya. Pada tahap awal mereka akan dikenalkan pada tokoh-tokoh sastrawan terkemuka atau bahkan penokohan sastrawan pembimbing organisasi tersebut, lalu mereka pun diperkenalkan pada karya-karya para sastrawan tersebut. Sayangnya ketika ‘si anak baru’ untuk pertama kalinya menghasilkan sebuah karya sastra baik puisi, prosa, dan lainnya, si senior yang tingkat keilmuannya berada di atas ‘si anak baru’ langsung mengernyitkan keningnya begitu saja sembari melontarkan kritikan-kritikan yang seharusnya kritikan tersebut hanya cocok untuk orang-orang setingkatnya. Akibatnya sebuah palu godam terpelanting jatuh dan langsung menghantam mental ‘si anak baru’.
                Di sinilah sebuah rambu merah semestinya kita hidupkan. Terlalu besar harapan yang diberikan si senior pada ‘si anak baru’, mereka mengenalkan sastra sebagaimana para sastrawan dalam karya-karyanya yang begitu agung dan berharap bahwa ‘si anak baru’ dalam karya pertamanya sederajat ataupun hanya memiliki tingkat di bawah sedikit dibandingkan karya para sastrawan tapi yang mereka temukan justru keadaan sebaliknya. Seharusnya mereka sadar akan adanya bentangan sebuah jembatan besi besar yang bernama ‘proses’, proses yang pula dilalui para sastrawan besar yang membuat karya-karya mereka dapat dinilai begitu agung dan proses inilah yang membesarkan nama mereka karena keagungan karya-karyanya. Begitupula yang dibutuhkan oleh ‘si anak baru’, mereka begitu memerlukan proses keilmuan atau pun jam terbang dalam berkarya, meresapi ‘sepinya’ masing-masing, dan perenungan hingga sampai pada tahap pemuasan harapan si senior. Keinstanan adalah hal yang sangat mutlak untuk dihindari.
                Namun jangan pula ketika proses itu sedang berjalan si senior melepaskan pantauannya terhadap ‘si anak baru’ begitu saja, akibat jika mereka melalaikan pantauannya akan timbul berbagai macam alasan yang pada akhirnya membuat mandek proses kreatifitas ‘si anak baru’. salah satu alasan yang begitu bagus dan sering didengar adalah bahwa untuk menghasilkan karya tidak bisa dilakukan dengan cara pemaksaan. Alasan ini begitu berbahaya dampaknya, ‘si anak baru’ karya-karya mereka merunut dari jam terbang hanya akan memperseret proses kreatif dan tidak pula akan menjamin mutu karya-karya mereka yang tanpa dilandasi pengalaman-pengalaman proses kreatif berkarya.
3
                Sadar maupun tidak sadar kadangkala si senior menancapkan sebuah pakem pada ‘si anak baru’ yang mengekang mereka. Pakem bahwa di organisasi atau komunitas itulah hanya satu-satunya tempat untuk belajar tentang kesusastraan dan di tempat itulah sebenarnya guru bagi mereka yang benar.
                Sudah selayaknya si senior pula memberikan tentang apa itu sebenarnya sastra, bagaimana setiap lengkung dalam kesusastraan merupakan setiap detil lenggok segi kehidupan yang dekat dengan masyarakat luas. Bukankah dalam berkegiatan sastra, segala tempat baik yang dapat dirasakan oleh fisik maupun psikis adalah tempat belajar dan segala makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati adalah guru dalam bergiat sastra yang sebenarnya. Sebagaimana cakrawala mesti dibuka agar kebutaan tidak meliputi.
4
                Sebuah pemikiran yang pasti akan muncul dalam benak ‘si anak baru’ ketika bergiat dalam sastra adalah timbulnya hasrat yang begitu kuat untuk bereksperimen dalam kesusastraan. Bagaimana mereka ingin mendobrak dengan suatu hal yang baru, dalam bentuk-bentuk puisi, prosa, dan lainnya. Di sinilah peran si senior sangat dibutuhkan peranannya, bagaimana mereka meluruskan tapi tidak mengekang kebebasan berekspresi. Memberikan landasan-landasan dan pengetahuan-pengetahuan keilmuan sastra agar kecerobohan ‘si anak baru’ tidak merusak keagungan sastra yang sesungguh-sungguhnya. Karena biasanya landasan dalam setiap eksperimen ‘si anak baru’ tak pernah memiliki pondasi-pondasi tunuh yang begitu kuat dan tidak dipikirkan secara jauh lebih matang.
                Kegiatan eksperimen ini pula kadang terjadi karena kesalah tafsiran ‘si anak baru’ terhadap pengetahuan-pengetahuan kesusastraan yang diberikan oleh si senior serta dosen-dosen pembimbing organisasi atau komunitasnya, dan yang kadang pula terjadi akibat ‘si anak baru’ tersebut menyukai seorang sastrawan dan mencoba untuk mengikuti gaya-gaya kreatif si sastrawan tanpa terlebih dahulu tahu akan landasan-landasan karya si sastrawan tersebut. Permisalkan, ‘si anak baru’ menyukai Sutardji Calzhoum Bachri. Dia membuat puisi-puisi mantera tanpa tahu akan kredo Sutardji sendiri, akibatnya karya-karya ‘si anak baru’ hanya menjadi pepesan karya yang ‘kering’. Sama pula halnya dengan akrobat kata pada puisi yang kini merambah prosa.
5
                Efek hasil karya dari eksperimen ‘si anak baru’ ketika dikritik oleh si senior yang mengernyitkan dahinya, pada akhirnya si senior dengan sebuah nada keras mengecam tindak pembuatan karya ‘si anak baru’ dengan pola pemikiran mereka yang sudah semestinya berbeda dengan ‘si anak baru’. mereka akhirnya menancapkan pakem, permisalkan: berhenti untuk menulis dan mulai untuk membaca. Padahal pada tahap awal perangsangan agar ‘si anak baru’ rajin untuk berkarya, mereka lebih suka berkutat pada imaji-imaji yang dituangkan dalam karya yang membebaskan ekspresi-ekspresi mereka sendiri.
                                Ketika mereka sudah kehabisan ide itulah mereka akan mulai membuka buku dan mulai membaca untuk mencari referensi-referensi baru dalam karya mereka sekaligus meningkatkan keilmuan mereka. Dan apabila pakem di atas langsung ditancapkan pada diri ‘si anak baru’ kegiatan mereka dalam berkarya seperti terkungkung dalam lingkaran bagaimana hasil bacaan mereka, karya-karya mereka terkekang tanpa ekspresi-ekspresi yang begitu saja keluar secara spontanitas.
                Ada baiknya pemantauan proses berkarya mereka, selain untuk meredam eksperimen tapi tidak pula mengikat kebebasan berekspresi mereka. Biarkan mereka tumbuh sebagaimana mereka dalam menuangkan ide-ide yang ekspresionis.
Membiarkan mereka berkarya tanpa harus terikat dan disandingkan dengan karya-karya sastra yang agung para sastrawan ternama merupakan tahapan proses sebelum mereka benar-benar memiliki karya sastra yang agung.
6
                Sebenarnya tulisan ini tidak pula untuk menjatuhkan atau mencemooh serta tidak pula bermaksud untuk menggurui antara dua subyek terkait dan tidak pula membawa organisasi atau komunitas tertentu, hanya untuk memberitahukan akan pengalaman yang terjadi. Meski tidak pula semua subyek-subyek pada umumnya organisasi atau komunitas mengalami, baik secara sadar maupun tidak sadar. Tapi ada baiknya jika pengkoreksian antar dua subyek yang tertera mengkoreksi pribadinya masing-masing, sehingga apa yang dipaparkan di atas tidak terjadi.


Oleh: Ridwan

                

Tidak ada komentar:

Posting Komentar