1
Begitu kecil perbandingan kita temukan
pecinta sastra di kalangan masyarakat saat ini, ketidakberpengaruhan angkatan
sastrawan baru yang tidak begitu besar pengaruhnya seperti angkatan-angkatan
sebelumnya dalam aspek kemasyarakatan menunjang apabila masyarakat kini lebih
condong untuk lebih memilih mengetahui dan membaca satra populer maupun
bacaan-bacaan yang erat hubungannya dengan bacaan remaja dan komedi-komedi
dibandingkan dengan sastra-sastra yang dapat kita nilai sebagai sastra agung.
Perbandingan kecil tersebut sejalan lurus pada kalangan mahasiswa khususnya
jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, kecilnya minat-minat dan kecintaan pada
kalangan mahasiswa terhadap sastra. Sebagian besar yang benar-benar berminat
dan mencintai sastra dapat kita hitung dan orang-orang tersebut sebagian besar
terkumpul pada organisasi-organisasi maupun komunitas-komunitas sastra di
kampus dan kecil lainnya sebagai perseorangan yang tidak masuk ke dalam
organsasi atau komunitas, dapat dihitung dengan jari.
Pada
permulaan mahasiswa tahun pertama bergiat sastra, kita dapat menyebut mereka
sebagai ‘si anak baru’ karena pada tahap inilah langkah pertama mereka di
kesusastraan dijejakkan. Berbagai perkenalan seiring kegiatan bersastra mereka
pastilah begitu erat dengan peranan senior mereka di tempat mereka bergiat,
tanpa seorang yang dituakan pastilah jalan mereka dalam bergiat sastra akan
terbentur kesana kemari tanpa arahan yang jelas. Namun kadang arahan yang
diberikan kepada mereka inilah bagai pisau bermata dua. Di satu sisi membantu
mereka dalam mengembangkan tingkat keilmuan mereka tapi di sisi lain mereka
seakan terikat oleh pola gaya pikir senior-senior mereka.
Kesalahan
inilah yang sebenarnya sangat berbahaya bagi mereka yang masih belum memiliki
jalan sendiri. Arahan-arahan yang diberikan, mereka lakukan tanpa memiliki
kesadaran yang begitu jernih dari pemikiran mereka sendiri, akibatnya mereka
hanya menjadi sebuah replika dari pola pikir senior-seniornya dan bahkan
organisasi atau komunitasnya.Dapat dikatakan, sebenarnya hanya dihasilkan satu
pemikir dan yang lainnya hanyalah orang-orang pengekor saja. walaupun pemikiran
pemikir tersebut begitu cemerlang, namun dari segi kualitas pencetak para
pemikir terlihat begitu monoton dan bahkan hampir tanpa inovasi-inovasi pola
pikir lainnya. Padahal dengan banyaknya ragam pola pemikiran dapat memperkaya
persepsi-persepsi segi keilmuan.
2
Dalam
berkarya sudah barang pasti ‘si anak baru’ seakan ditunjukkan bagaimana mereka
semestinya membuat sebuah karya. Pada tahap awal mereka akan dikenalkan pada
tokoh-tokoh sastrawan terkemuka atau bahkan penokohan sastrawan pembimbing
organisasi tersebut, lalu mereka pun diperkenalkan pada karya-karya para
sastrawan tersebut. Sayangnya ketika ‘si anak baru’ untuk pertama kalinya
menghasilkan sebuah karya sastra baik puisi, prosa, dan lainnya, si senior yang
tingkat keilmuannya berada di atas ‘si anak baru’ langsung mengernyitkan
keningnya begitu saja sembari melontarkan kritikan-kritikan yang seharusnya
kritikan tersebut hanya cocok untuk orang-orang setingkatnya. Akibatnya sebuah
palu godam terpelanting jatuh dan langsung menghantam mental ‘si anak baru’.
Di
sinilah sebuah rambu merah semestinya kita hidupkan. Terlalu besar harapan yang
diberikan si senior pada ‘si anak baru’, mereka mengenalkan sastra sebagaimana
para sastrawan dalam karya-karyanya yang begitu agung dan berharap bahwa ‘si
anak baru’ dalam karya pertamanya sederajat ataupun hanya memiliki tingkat di
bawah sedikit dibandingkan karya para sastrawan tapi yang mereka temukan justru
keadaan sebaliknya. Seharusnya mereka sadar akan adanya bentangan sebuah
jembatan besi besar yang bernama ‘proses’, proses yang pula dilalui para
sastrawan besar yang membuat karya-karya mereka dapat dinilai begitu agung dan
proses inilah yang membesarkan nama mereka karena keagungan karya-karyanya.
Begitupula yang dibutuhkan oleh ‘si anak baru’, mereka begitu memerlukan proses
keilmuan atau pun jam terbang dalam berkarya, meresapi ‘sepinya’ masing-masing,
dan perenungan hingga sampai pada tahap pemuasan harapan si senior. Keinstanan
adalah hal yang sangat mutlak untuk dihindari.
Namun jangan pula ketika proses
itu sedang berjalan si senior melepaskan pantauannya terhadap ‘si anak baru’
begitu saja, akibat jika mereka melalaikan pantauannya akan timbul berbagai
macam alasan yang pada akhirnya membuat mandek proses kreatifitas ‘si anak
baru’. salah satu alasan yang begitu bagus dan sering didengar adalah bahwa
untuk menghasilkan karya tidak bisa dilakukan dengan cara pemaksaan. Alasan ini
begitu berbahaya dampaknya, ‘si anak baru’ karya-karya mereka merunut dari jam
terbang hanya akan memperseret proses kreatif dan tidak pula akan menjamin mutu
karya-karya mereka yang tanpa dilandasi pengalaman-pengalaman proses kreatif
berkarya.
3
Sadar maupun tidak sadar
kadangkala si senior menancapkan sebuah pakem pada ‘si anak baru’ yang
mengekang mereka. Pakem bahwa di organisasi atau komunitas itulah hanya
satu-satunya tempat untuk belajar tentang kesusastraan dan di tempat itulah
sebenarnya guru bagi mereka yang benar.
Sudah selayaknya si senior pula
memberikan tentang apa itu sebenarnya sastra, bagaimana setiap lengkung dalam
kesusastraan merupakan setiap detil lenggok segi kehidupan yang dekat dengan
masyarakat luas. Bukankah dalam berkegiatan sastra, segala tempat baik yang
dapat dirasakan oleh fisik maupun psikis adalah tempat belajar dan segala
makhluk, baik makhluk hidup maupun benda mati adalah guru dalam bergiat sastra
yang sebenarnya. Sebagaimana cakrawala mesti dibuka agar kebutaan tidak
meliputi.
4
Sebuah
pemikiran yang pasti akan muncul dalam benak ‘si anak baru’ ketika bergiat
dalam sastra adalah timbulnya hasrat yang begitu kuat untuk bereksperimen dalam
kesusastraan. Bagaimana mereka ingin mendobrak dengan suatu hal yang baru,
dalam bentuk-bentuk puisi, prosa, dan lainnya. Di sinilah peran si senior
sangat dibutuhkan peranannya, bagaimana mereka meluruskan tapi tidak mengekang
kebebasan berekspresi. Memberikan landasan-landasan dan pengetahuan-pengetahuan
keilmuan sastra agar kecerobohan ‘si anak baru’ tidak merusak keagungan sastra
yang sesungguh-sungguhnya. Karena biasanya landasan dalam setiap eksperimen ‘si
anak baru’ tak pernah memiliki pondasi-pondasi tunuh yang begitu kuat dan tidak
dipikirkan secara jauh lebih matang.
Kegiatan
eksperimen ini pula kadang terjadi karena kesalah tafsiran ‘si anak baru’
terhadap pengetahuan-pengetahuan kesusastraan yang diberikan oleh si senior
serta dosen-dosen pembimbing organisasi atau komunitasnya, dan yang kadang pula
terjadi akibat ‘si anak baru’ tersebut menyukai seorang sastrawan dan mencoba
untuk mengikuti gaya-gaya kreatif si sastrawan tanpa terlebih dahulu tahu akan
landasan-landasan karya si sastrawan tersebut. Permisalkan, ‘si anak baru’
menyukai Sutardji Calzhoum Bachri. Dia membuat puisi-puisi mantera tanpa tahu
akan kredo Sutardji sendiri, akibatnya karya-karya ‘si anak baru’ hanya menjadi
pepesan karya yang ‘kering’. Sama pula halnya dengan akrobat kata pada puisi
yang kini merambah prosa.
5
Efek
hasil karya dari eksperimen ‘si anak baru’ ketika dikritik oleh si senior yang
mengernyitkan dahinya, pada akhirnya si senior dengan sebuah nada keras
mengecam tindak pembuatan karya ‘si anak baru’ dengan pola pemikiran mereka
yang sudah semestinya berbeda dengan ‘si anak baru’. mereka akhirnya
menancapkan pakem, permisalkan: berhenti untuk menulis dan mulai untuk membaca.
Padahal pada tahap awal perangsangan agar ‘si anak baru’ rajin untuk berkarya,
mereka lebih suka berkutat pada imaji-imaji yang dituangkan dalam karya yang
membebaskan ekspresi-ekspresi mereka sendiri.
Ketika mereka sudah kehabisan
ide itulah mereka akan mulai membuka buku dan mulai membaca untuk mencari
referensi-referensi baru dalam karya mereka sekaligus meningkatkan keilmuan
mereka. Dan apabila pakem di atas langsung ditancapkan pada diri ‘si anak baru’
kegiatan mereka dalam berkarya seperti terkungkung dalam lingkaran bagaimana
hasil bacaan mereka, karya-karya mereka terkekang tanpa ekspresi-ekspresi yang
begitu saja keluar secara spontanitas.
Ada
baiknya pemantauan proses berkarya mereka, selain untuk meredam eksperimen tapi
tidak pula mengikat kebebasan berekspresi mereka. Biarkan mereka tumbuh
sebagaimana mereka dalam menuangkan ide-ide yang ekspresionis.
Membiarkan mereka
berkarya tanpa harus terikat dan disandingkan dengan karya-karya sastra yang
agung para sastrawan ternama merupakan tahapan proses sebelum mereka
benar-benar memiliki karya sastra yang agung.
6
Sebenarnya
tulisan ini tidak pula untuk menjatuhkan atau mencemooh serta tidak pula
bermaksud untuk menggurui antara dua subyek terkait dan tidak pula membawa
organisasi atau komunitas tertentu, hanya untuk memberitahukan akan pengalaman
yang terjadi. Meski tidak pula semua subyek-subyek pada umumnya organisasi atau
komunitas mengalami, baik secara sadar maupun tidak sadar. Tapi ada baiknya
jika pengkoreksian antar dua subyek yang tertera mengkoreksi pribadinya
masing-masing, sehingga apa yang dipaparkan di atas tidak terjadi.
Oleh: Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar