Udara hutan yang lembab di musim
penghujan tak sejengkalpun membiarkan tanah bahkan dedaunan ingin mengering.
Kabut yang turun di kaki gunung, rintiknya terus jatuh menggantikan hujan
ketika ia tak datang. Dingin di ujung kulit tak pernah melepaskan rasanya dari
sekujur tubuh.
Di balik pepohonan dan
tumbuhan-tumbuhan liar, seseorang berlari tergesa. Seluruh tubuh yang basah
akibat kabut yang turun dan tanah yang becek, tak membuatnya sejenak berpikir
untuk berhenti berlari. Meski nafasnya sudah tersenggal-senggal tak karuan
keluar bersama uap dingin dari mulutnya.
Dua orang penjaga di depan
sebuah rumah bilik tepat di tengah hutan, dilewatinya begitu saja. Ia membuka
pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan keras. Seisi rumah yang penuh dengan
orang-orang sekejap menjadi senyap, mereka berpatung dari kegiatannya semula.
Menatap ke arah pintu rumah.
“Hei, Pandit! Apa yang kau
lakukan?!” ucap seseorang yang tengah duduk di tengah ruangan. Badannya begitu
kekar dan besar, di bawah hidungnya menggantung kumis tebal yang menyambung
hingga jenggot tepat di dagunya.
“Ma maaf Bos hah....hah...hah”
Ucap orang itu masih berdiri di pintu dengan nafas yang tak teratur.
“Ada apa?” tangan kanan orang
yang duduk di tengah ruangan itu menggenggam satu gelas bambu besar berisi tuak
yang lantas diminumnya.
“Aku melihat ada orang sedang
berjalan menuju ke sini Bos” nafasnya kembali teratur setelah mengambil nafas
panjang dari hidungnya.
“Ha?! Siapa dia?”.
“Tidak tahu Bos, tapi tidak
salah lagi apabila dia seorang pendekar”.
“Hei hei hei, masuklah dahulu
Pandit. Duduklah kau di sampingku”.
“Baik Bos” Pandit berjalan
perlahan menuju kursi tepat di sebelah bosnya yang dari tadi sedang duduk,
lantas ia pun duduk.
“Ceritakan padaku, siapa
pendekar itu?”.
“Tidak tahu Bos”.
“Hah?! Kau tidak tahu?”
keningnya mengkerut tepat di hadapan wajah Pandit, “hai teman-teman, dengarlah
cerita si Pandit. Dia bilang ada seorang pendekar berjalan sendirian menuju ke
sini hahahaha....”.
“Mau cari mampus dia Bos!”
celetuk seseorang di balik meja sudut ruangan.
“Hahahahaha.....” terdengar
seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa.
“Ta tapi ciri-cirinya aku tahu
Bos”.
“Tunggu!” teriak Bos yang segera
menghentikan gelak tawa seisi ruangan, “seperti apa ciri-cirinya, hei Pandit?”.
“Dia memakai topeng, Bos”.
“Hah topeng?! Huahahahaha
seorang pendekar pemalu rupanya” kembali gelak tawa terdengar di setiap sudut
rumah.
“Dia memang betul-betul memakai
topeng Bos!”.
“Lantas kenapa dia memakai
topeng? Burukkah wajahnya? Hingga malu lantas memakai topeng? Hahahaha....”
sungguh seisi rumah itu penuh dengan tawa yang menderai, hingga dua orang yang
tadi bertugas berjaga di depan pintu depan ikut masuk dan tertawa bersama.
“Seperti apa topeng yang ia
pakai, Dit?” kembali Bos bertanya kepada Pandit.
“Dia memakai topeng tengkorak”.
“Hah?! Topeng tengkorak?!”.
“Ya betul Bos”.
“Hmmmm...” dielus-elus jenggot
panjangnya, “apakah dia menyeret peti mati di belakang tubuhnya?”.
“Tepat Bos”.
Terlihat wajah Bos tiba-tiba
dihinggapi suasana pucat, “bagaimana dengan pakaian yang ia kenakana?”.
“Compang... camping dan basah
Bos”.
“Astaga!” tiba-tiba tubuh kekar
dan besarnya berdiri dari kursi. Suasana ruangan yang tadi diwarnai oleh gelak
tawa kini berganti menjadi hening.
“Kau melihat dia di mana?”.
“Tak jauh dari pos pengawasanku
Bos”.
Setiap orang yang berjumlah
enampuluhlima itu matanya terus memandang tubuh Bosnya, mengikuti setiap gerak
tubuhnya yang sembari tadi terus berjalan bolak-balik. Resah. Dia pun masuk ke
dalam ruangan miliknya dan tak lama keluar kembali dengan membawa sebilah
parang di tangannya.
“Ada apa Bos? Kenapa kau
mengambil parang?” tanya seorang anak buahnya.
“Tak tahukah kalian, siapa
pendekar yang dimaksud oleh si Pandit?”.
“Tak tahu Bos”.
“Goblok! Dia pendekar ketua raja
pengemis!”.
“Lantas apa yang Bos takutkan?
Kita ini bandit yang paling ditakuti seantero daratan. Menghadapi seorang
pendekar pengemis saja pastilah hal yang mudah untuk kita!”.
“Goblok!
Dia adalah orang tersakti dalam dunia persilatan saat ini. apakah kalian tidak
tahu?! Kita beramai-ramai di sini pun pasti tak akan mampu untuk menghadapinya
walau dia hanya sendiri”.
“Apa maksudmu Bos?! Kau merasa
lemah di hadapannya?!”.
“Bangsat! Berani-beraninya kau
meremehkanku?!” parang di tanagn Bos bandit meluncur dengan deras merobek leher
anak buahnya yang dengan lancang meremehkannya.
Seluruh anak buahnya tiba-tiba
terdiam tak mampu untuk berkata apapun jua.
“Persiapkanlah persenjataan
kalian. Beberapa orang ambil barang-baranng dan harta rampasan kita. Secepatnya
kita pergi dari tempat ini!”.
“Bos! Kenapa kita harus
melarikan diri, padahal belum tentu dia dapat membunuh kita semua?! Aku tak
rela bila harus menjadi pengecut!” sebuah lecutan muncul dari mulut salah
seorang di antara meraka.
“Ya betul, betul! Kami bandit
tak rela apabila harus membuang harga diri kami, hanya karena satu pendekar
tidak jelas!” tambah yang lainnya”.
“Bangsat kalian! Berani betul
kalian membantah perintahku!” Bos bandit itu mengacungkan parangnya ke arah
anak buahnya.
Suasanan di dalam rumah mendadak
begitu panas. Anak buah Bos bandit yang tidak sependapat dengan keputusan
pemimpin mereka, mencabut parang dari sarungnya masing-masing dan membalas
acungan parang Bos mereka.
“Bedebah kalian!” dengan tatapan
yang begitu tajam, Bos bandit itu melompat ke arah anak buahnya menyerang.
Pertempuran yang begitu sengit
terjadi di dalam rumah itu. Darah-darah dari luka tebasan bermuncratan
kesana-kemari membasahi lantai rumah yang terbuat dari kayu.
Perabotan-perabotan seperti meja dan kursi serta lemari berhamburan
kemana-mana, luluh lantah. Banyak anak buahnya yang telah ia bunuh namun, tak
sedikit pula luka tebasan yang ia terima dalam pertarungan ini. hingga akhirnya
Bos bandit berdiri sendiri di tengah mayat-mayat seluruh anak buahnya. Darah
terus menetes dari luka-lukanya.
Samar-samar
penglihatannya, ia melihat sesosok tubuh berdiri di pintu rumah. Orang itu
mengenakan topeng tengkorak, di genggaman tangan tali tambang terikat pada
sebuah peti mati tak jauh berada, dan pakaian yang dikenakan begitu
compang-camping dan basah. Sebelum tubuhnya jatuh menghempas lantai.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar