Selasa, 11 Juni 2013

Bandit


                Udara hutan yang lembab di musim penghujan tak sejengkalpun membiarkan tanah bahkan dedaunan ingin mengering. Kabut yang turun di kaki gunung, rintiknya terus jatuh menggantikan hujan ketika ia tak datang. Dingin di ujung kulit tak pernah melepaskan rasanya dari sekujur tubuh.
                Di balik pepohonan dan tumbuhan-tumbuhan liar, seseorang berlari tergesa. Seluruh tubuh yang basah akibat kabut yang turun dan tanah yang becek, tak membuatnya sejenak berpikir untuk berhenti berlari. Meski nafasnya sudah tersenggal-senggal tak karuan keluar bersama uap dingin dari mulutnya.
                Dua orang penjaga di depan sebuah rumah bilik tepat di tengah hutan, dilewatinya begitu saja. Ia membuka pintu rumah yang terbuat dari kayu dengan keras. Seisi rumah yang penuh dengan orang-orang sekejap menjadi senyap, mereka berpatung dari kegiatannya semula. Menatap ke arah pintu rumah.
                “Hei, Pandit! Apa yang kau lakukan?!” ucap seseorang yang tengah duduk di tengah ruangan. Badannya begitu kekar dan besar, di bawah hidungnya menggantung kumis tebal yang menyambung hingga jenggot tepat di dagunya.
                “Ma maaf Bos hah....hah...hah” Ucap orang itu masih berdiri di pintu dengan nafas yang tak teratur.
                “Ada apa?” tangan kanan orang yang duduk di tengah ruangan itu menggenggam satu gelas bambu besar berisi tuak yang lantas diminumnya.
                “Aku melihat ada orang sedang berjalan menuju ke sini Bos” nafasnya kembali teratur setelah mengambil nafas panjang dari hidungnya.
                “Ha?! Siapa dia?”.
                “Tidak tahu Bos, tapi tidak salah lagi apabila dia seorang pendekar”.
                “Hei hei hei, masuklah dahulu Pandit. Duduklah kau di sampingku”.
                “Baik Bos” Pandit berjalan perlahan menuju kursi tepat di sebelah bosnya yang dari tadi sedang duduk, lantas ia pun duduk.
                “Ceritakan padaku, siapa pendekar itu?”.
                “Tidak tahu Bos”.
                “Hah?! Kau tidak tahu?” keningnya mengkerut tepat di hadapan wajah Pandit, “hai teman-teman, dengarlah cerita si Pandit. Dia bilang ada seorang pendekar berjalan sendirian menuju ke sini hahahaha....”.
                “Mau cari mampus dia Bos!” celetuk seseorang di balik meja sudut ruangan.
                “Hahahahaha.....” terdengar seluruh ruangan dipenuhi gelak tawa.
                “Ta tapi ciri-cirinya aku tahu Bos”.
                “Tunggu!” teriak Bos yang segera menghentikan gelak tawa seisi ruangan, “seperti apa ciri-cirinya, hei Pandit?”.
                “Dia memakai topeng, Bos”.
                “Hah topeng?! Huahahahaha seorang pendekar pemalu rupanya” kembali gelak tawa terdengar di setiap sudut rumah.
                “Dia memang betul-betul memakai topeng Bos!”.
                “Lantas kenapa dia memakai topeng? Burukkah wajahnya? Hingga malu lantas memakai topeng? Hahahaha....” sungguh seisi rumah itu penuh dengan tawa yang menderai, hingga dua orang yang tadi bertugas berjaga di depan pintu depan ikut masuk dan tertawa bersama.
                “Seperti apa topeng yang ia pakai, Dit?” kembali Bos bertanya kepada Pandit.
                “Dia memakai topeng tengkorak”.
                “Hah?! Topeng tengkorak?!”.
                “Ya betul Bos”.
                “Hmmmm...” dielus-elus jenggot panjangnya, “apakah dia menyeret peti mati di belakang tubuhnya?”.
                “Tepat Bos”.
                Terlihat wajah Bos tiba-tiba dihinggapi suasana pucat, “bagaimana dengan pakaian yang ia kenakana?”.
                “Compang... camping dan basah Bos”.
                “Astaga!” tiba-tiba tubuh kekar dan besarnya berdiri dari kursi. Suasana ruangan yang tadi diwarnai oleh gelak tawa kini berganti menjadi hening.
                “Kau melihat dia di mana?”.
                “Tak jauh dari pos pengawasanku Bos”.
                Setiap orang yang berjumlah enampuluhlima itu matanya terus memandang tubuh Bosnya, mengikuti setiap gerak tubuhnya yang sembari tadi terus berjalan bolak-balik. Resah. Dia pun masuk ke dalam ruangan miliknya dan tak lama keluar kembali dengan membawa sebilah parang di tangannya.
                “Ada apa Bos? Kenapa kau mengambil parang?” tanya seorang anak buahnya.
                “Tak tahukah kalian, siapa pendekar yang dimaksud oleh si Pandit?”.
                “Tak tahu Bos”.
                “Goblok! Dia pendekar ketua raja pengemis!”.
                “Lantas apa yang Bos takutkan? Kita ini bandit yang paling ditakuti seantero daratan. Menghadapi seorang pendekar pengemis saja pastilah hal yang mudah untuk kita!”.
                “Goblok! Dia adalah orang tersakti dalam dunia persilatan saat ini. apakah kalian tidak tahu?! Kita beramai-ramai di sini pun pasti tak akan mampu untuk menghadapinya walau dia hanya sendiri”.
                “Apa maksudmu Bos?! Kau merasa lemah di hadapannya?!”.
                “Bangsat! Berani-beraninya kau meremehkanku?!” parang di tanagn Bos bandit meluncur dengan deras merobek leher anak buahnya yang dengan lancang meremehkannya.
                Seluruh anak buahnya tiba-tiba terdiam tak mampu untuk berkata apapun jua.
                “Persiapkanlah persenjataan kalian. Beberapa orang ambil barang-baranng dan harta rampasan kita. Secepatnya kita pergi dari tempat ini!”.
                “Bos! Kenapa kita harus melarikan diri, padahal belum tentu dia dapat membunuh kita semua?! Aku tak rela bila harus menjadi pengecut!” sebuah lecutan muncul dari mulut salah seorang di antara meraka.
                “Ya betul, betul! Kami bandit tak rela apabila harus membuang harga diri kami, hanya karena satu pendekar tidak jelas!” tambah yang lainnya”.
                “Bangsat kalian! Berani betul kalian membantah perintahku!” Bos bandit itu mengacungkan parangnya ke arah anak buahnya.
                Suasanan di dalam rumah mendadak begitu panas. Anak buah Bos bandit yang tidak sependapat dengan keputusan pemimpin mereka, mencabut parang dari sarungnya masing-masing dan membalas acungan parang Bos mereka.
                “Bedebah kalian!” dengan tatapan yang begitu tajam, Bos bandit itu melompat ke arah anak buahnya menyerang.
                Pertempuran yang begitu sengit terjadi di dalam rumah itu. Darah-darah dari luka tebasan bermuncratan kesana-kemari membasahi lantai rumah yang terbuat dari kayu. Perabotan-perabotan seperti meja dan kursi serta lemari berhamburan kemana-mana, luluh lantah. Banyak anak buahnya yang telah ia bunuh namun, tak sedikit pula luka tebasan yang ia terima dalam pertarungan ini. hingga akhirnya Bos bandit berdiri sendiri di tengah mayat-mayat seluruh anak buahnya. Darah terus menetes dari luka-lukanya.

Samar-samar penglihatannya, ia melihat sesosok tubuh berdiri di pintu rumah. Orang itu mengenakan topeng tengkorak, di genggaman tangan tali tambang terikat pada sebuah peti mati tak jauh berada, dan pakaian yang dikenakan begitu compang-camping dan basah. Sebelum tubuhnya jatuh menghempas lantai.

Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar