Aku beruntung. Bagaimana bisa
beruntung? Apakah aku tidak terkena hukuman dari istriku karena tempo hari aku
kepergok menyetubuhi istri tetanggaku sendiri? Tidak, tapi pernyataan di atas
perlu dicatat juga sebenarnya. Aku tidak sepenuhnya bersalah karena telah
menyetubuhi dia. Dialah yang datang padaku dengan pakaian yang membuat semuanya
berdiri. Dan wajarlah jika kejadian selanjutnya dapat diprediksi dengan
sempurna. Kembali lagi ke kalimat pertama dan kedua. Aku beruntung karena Anwar
menceritakan padaku cerita yang menurutku sangat asing. Seasing Anwar yang
datang pada waktu itu dengan pakaian compang-camping; baju koko, celana
komprang. Tapi itu tidak menjadi masalah besar. Yang menjadi masalahnya adalah
Anwar menceritakan padaku cerita ini. Dan kesepakatan baru, kawan, aku
menggunakan tokoh di dalam cerita ini menggunakan kata ganti “aku”, yang dimana
itu adalah Anwar sendiri yang mengalaminya. Aku hanya mendengar dan mengulang
kembali ceritanya.
Terkadang, butuh waktu barang setahun
atau bahkan lebih untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di
sekitarmu. Aku yang pada saat itu baru pindah dari Cipulir, harus dihadapkan
pada pemandangan yang sangat asing, tetapi tidak aneh, hanya asing. Aku pindah
dari Cipulir ke Tangerang, Ciputat, tepatnya. Aku pindah karena rumahku selalu
menjadi langganan banjir dan akan tetap selalu begitu. Kau mungkin akan
berkata, banjir sudah menjadi kawan buat warga ibukota, tapi tidak buatku.
Banjir selalu menjadi musuh nomor wahid walaupun aku sudah tinggal di sana
sejak umurku menginjak dua puluh tahun. Dokumen-dokumen kantor yang penting
selalu hanyut, puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang sudah kukerjakan selama masa
mudaku dulu juga ikut terbawa arus, serta banyak barang-barang yang lain yang
tak bisa kuceritakan semuanya di sini. Maka pada hari Minggu bulan April
kemarin, aku memutuskan pindah ke Tangerang. Di sana ada rumah yang di sewa
oleh seseorang dengan kumis dan jenggot. Lantas, aku tidak menyewa rumah itu,
langsung aku beli kemudian hari.
Sebenarnya tidak susah untuk
menyesuaikan diri di habitat yang baru. Kau hanya perlu beramah tamah, ikut
gotong royong, salat berjamaah di musala atau masjid, ikut siskamling, atau
sekadar main samgong sambil minum
kopi hitam. Cara-cara tersebut bisa saja membuatmu langsung bisa beradaptasi
dengan lingkungan yang baru dan asing. Itu semua sudah kulakukan dan akan
berhasil jika saja bapak dan ibuku tidak ikut pindah ke rumahku yang sekarang
ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerima mereka sebagai bagian
dari penghuni rumah, walaupun aku sangat tidak ingin mereka tinggal lebih lama
lagi.
“Cuma sebentar, nak, Bapak dan Ibu
kepingin lihat rumah barumu ini, lho,
wong uang yang dipakai kamu juga ada
sebagian punya bapak, kan?” kata ibu.
Ibu memang pandai merayu dan aku
menyukai itu. Tapi bapakku, dia orang yang kaku, sangat kaku, dalam artian, semua yang keluar
dari mulutnya pasti selalu kalimat yang mempunyai makna memerintah atau
mengomeli. Maklum, dulu bapak bekerja di militer pada zaman orde baru. Dan
bapak sering pergi ke daerah-daerah terpencil, katanya untuk menciduk atau
menangkap pemberontak dan pengkhianat negara. Tapi itu dulu sekali, jauh ketika
umurku masih enam atau tujuh tahun. Bapak pensiun dari pekerjaan yang katanya
membanggakan itu pada umur 55 tahun. Ia dipensiunkan dengan catatan; sebagai
informan atau agen intelegensi yang setiap harinya selalu menyebut nama lima
orang dan besoknya lima orang itu hilang entah kemana. Ia juga berperan pada
penumpasan preman-preman atau penjahat-penjahat kelas teri sampai ke sarang-sarangnya.
“Mau kuciduk kau kalau tidak ingin
tinggal dengan kami!? Apa yang kau lakukan sendirian di rumah ini? Mau
mengadakan rapat untuk meng-kudeta pemerintah? Atau mau bikin agama baru? Awas
kau!”
Ia bilang begitu ketika pertama kali
mereka datang dan aku mengeluh. Aku mengeluh bukan karena tidak ingin tinggal
dengan mereka. Aku hanya ingin mendapatkan waktu sendiri karena pada saat itu
aku sedang dilanda musibah; motor kantorku hilang, mana tidak diasuransikan,
belum lagi utang kepada teman-teman kantor karena kalah dalam judi bola. Siapa
yang tidak ingin mengeluh ketika ada permasalahan datang dan tiba-tiba muncul
lagi permasalahan baru? Barangkali kau mungkin akan berpikir begini, mengeluh
bukanlah solusi yang baik. Itu memang benar. Tapi, mengeluh itu juga bisa
menjadi ajang pelampiasan karena itulah yang bapakku ajarkan. Ia selalu
mengeluh ketika ada yang sepemikiran atau yang tidak sepemikiran dengannya. Ia
pernah mengeluh hanya karena bakso yang dibelinya tidak diberi tetelan.
“Kalau seperti ini, mana mantap,
dasar amatir!”
“Kalau seperti ini, mana bisa sembuh,
dasar amatir!” katanya.
Bapak memang pandai dalam
keluh-mengeluh. Dan kepandaiannya itu tertular langsung kepadaku. Itulah sebab
mengapa aku selalu melampiaskan semuanya dalam keluhan dan keluhan. Bapak
memang selalu menjadi tonggak dimana aku mengemukakan alasan.
Sudah dua bulan orang tuaku menginap
di rumahku yang baru. Semua memang berjalan seperti biasa. Bapak setiap pagi
selalu mengawali harinya dengan minum kopi lalu berlari-lari, joging
istilahnya. Padahal aku tahu, yang ia lakukan adalah mencuci matanya ketika
melewati pedagang sayur yang banyak ibu-ibu mangkal di situ. Ibu sudah pulang
ke Yogyakarta tiga hari yang lalu. Ia pulang karena ada urusan keluarga. Maaf,
aku lupa memberitahu itu pada awal kalimat. Tapi yang pasti, sekarang aku
seperti terkungkung di dalam kandang bersama gorila. Dan gorila itu adalah
bapakku sendiri. Setiap hari aku diharuskan bangun pagi, menyiapkan sarapan
untukku dan dia. Sedangkan dia hanya melakukan aktivitas pribadinya.
“Jadi kau merasa rumah barumu itu
seperti kandang.” tanyaku kepada Anwar.
“Ya, seperti itulah, Mud. Coba kau
bayangkan, kau membeli rumah baru untuk menghindari berbagai macam
permasalahan, tapi yang kau temukan di rumah itu justru permasalahan yang baru
dan lebih muskil?” kata Anwar.
“Ya sudah, coba kau lanjutkan.”
Rumah baruku tak ubah-ubahnya seperti
rumah yang dulu ada di Cipulir. Hanya saja bukan banjir yang datang, tetapi
bapakku itu. Pernah suatu hari aku dibikin kesal bapak hanya karena aku membaca
buku Karl Marx. Padahal buku itu adalah buku teman yang sengaja kubaca dan akan
kubedah beberapa hari kedepan.
“Kau mau jadi komunis, mau jadi
pengikut bedebah Jerman itu?” kata bapak dengan nada dikeras-keraskan.
Aku tidak menjawab, sebab kata bapak,
menjawab pertanyaan itu justru akan merumitkan dan meperpanjang permasalahan.
Dan aku tidak ingin masalah yang sepele ini menjadi lebih panjang hanya karena
buku itu. Aku lebih baik diam. Dengan napas berat karena sudah terbiasa
dibilang komunis atau segala macam apa, aku langsung menutup buku itu dan pergi
keluar. Mungkin di luar sana terdapat banyak obat penenang yang bisa
menenangkanku dari masalah baru ini.
“Mau kemana kau? Sudah malam ini! Mau
bikin rapat untuk demo besok ya? Awas kau!!!” suara bapak terdengar dari dalam.
Mungkin ada yang salah dengan bapak.
Mungkin pekerjaannya dulu masih melekat di badan, jiwa, dan hatinya. Dan bahkan
sampai mati, ia akan terus menghantuiku kalau aku keluar malam-malam dan
membaca buku Karl Marx kalau sedang tidak ada kerjaan . Jangan sampai seperti
itulah! Aku tidak jadi keluar bukan karena bapak berteriak begitu. Aku bisa
saja keluar dan membuka rapat besar-besaran untuk meng-kudeta orang yang
sekarang menetap di rumahku ini: bapak. Dan aku bisa saja menyewa penembak jitu
jika bapak sedang sendirian di tempat yang sepi atau ramai dan mayatnya akan didiamkan
begitu saja. Sama seperti yang ia lakukan ketika ia masih muda dulu,
barangkali. Aku pergi menuju kamar dan aku masih mendengar teriakan dari bapak.
“Kalau begitu, apa yang akan kau
lakukan? Kau tidak mungkin diam terus kan?” tanyaku kepada Anwar.
“Aku tidak berbuat apa-apa memang.
Tapi lama kelamaan, aku benar-benar dibikin kesal. Dan kau akan mendengarnya
sebentar lagi.” kata Anwar.
Sudah hampir setengah tahun bapak
tinggal. Sekarang ia sudah menjadi penguasa di rumah baruku. Ia selalu membuat
undang-undang tersirat yang mengharuskan semua yang ada di dalam kendalinya,
harus mematuhi undang-undang itu. Bulan pertama dan bulan kedua sampai bulan
ketiga, aku masih bisa menerima dan memaklumi bapak dengan tingkah dan polanya.
Tapi sekarang, lebih baik bertindak daripada mampus. Ini lebih dari sekadar
bencana banjir ketika aku tinggal di rumahku yang lama. Ini seperti zaman orde
baru dimana kau tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pihak atas.
Dan pihak teratas di rumahku sekarang adalah bapak.
Malam hari ketika aku hendak memasak
mie instan, bapak berteriak meminta agar aku memasakinya mie pula. Dengan
jengkel dan dongkol, aku melakukan itu semua. Sekelibat, aku mempunyai ide yang
jenius (mungkin sangat jenius); aku mencampurkan lendir ingus, ludah dan air
kencing ke dalam panci yang sedang mendidih dan siap untuk dimasukkan mie.
Bapak mungkin akan mual-mual dan masuk rumah sakit. Lalu ia akan dirawat inap
dan rumahku akan bebas darinya selama
beberapa hari ke depan. Ya, ide yang bagus. Tapi mengapa ide itu baru muncul
selama ini? Terserah!
“Mana punyaku, lama sekali kau!”
teriak bapak dari ruang keluarga. Ia sedang menonton acara kesukaannya: Debat
calon gubernur pra pilkada.
Dua atau tiga langkah aku berjalan
dari dapur menuju tempat bapak. Ia memasang muka persis seperti pembawa acara
yang ada di televisi itu; sangat serius. Aku membawa dua mangkok berukuran sama
yang keduanya dihidangkan mie dan kuahnya. Anjing, mata bapak menyalang sangat
terang. Ia seperti sudah dilanda rasa lapar bertahun-tahun. Seperti prajurit
perang yang menang dan minta dihidangkan sebotol anggur karena sudah kelelahan.
Tapi, bapak bukanlah prajurit perang. Ia dulu hanya agen intel dari instansi
pemerintah yang kerjanya hanya itu-itu saja. Dan aku juga tidak peduli dengan
masa lalunya. Mau dulu jadi intel, pengusaha pelacuran, pedagang asongan, atau
bahkan pengemis yang sering mangkal di tempat yang sama. Itu semua tidak
penting. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar bapak bisa keluar
dari rumahku ini tanpa harus mengusirnya. Dan itu akan terjadi sebentar lagi.
“Mana punyaku?” tanya bapak.
Aku menunjuk mangkok berwarna merah
yang didalamnya terdapat mie dan kuah campuran ludah, lendir ingus, keringat
beserta air kencingku. Bapak terlihat santai. Aku juga terlihat santai. Temanku
bilang, jangan tertawa terlebih dahulu jika ingin mengerjai orang. Apalagi
kalau parah jebakannya. Jangan tertawa atau jebakanmu bakal ketahuan. Dan aku
melakukan itu dengan benar. Tampaknya bapak akan memakan mie kuah itu sebentar
lagi.
“Kau tahu, aku meminta mie yang tanpa
kuah di dalamnya. Seperti yang ibumu dulu buat.” kata bapak.
“Maksud bapak mie goreng?”
“Iya, dasar amatir!!!”
“Tapi bapak tidak bilang seperti itu.
Bapak hanya bilang minta dimasaki mie dan mie yang tersisa hanya mie kuah. Mie
gorengnya sudah kumasak buatku sendiri.” kataku mencoba untuk meyakinkan
argumen. Argumen yang akan menjadi jebakan untuk bapak jika ia akan memakan mie
kuah itu.
Bapak terdiam cukup lama. Ia
memandang kedua mangkok yang ada di depannya. Mangkok yang berwarna merah
punyanya, berisi mie kuah. Dan mangkok yang satunya, yang berwarna putih berisi
mie tanpa kuah atau mie goreng istilah lainnya. Yang berwarna putih itu
punyaku.
Bapak menyambar mangkok yang berwarna
putih dan anjing, aku tak sempat mencegahnya. Aku tidak bisa memakan mie kuah
itu. Kuahnya sudah kucampurkan dengan lendir ingus, keringat, ludah dan air
kencing. Walaupun warna kuahnya sama seperti warna layaknya kuah mie biasa,
tapi aku tahu, mie kuah itu adalah jebakan dan tak mungkin aku memakannya
bersama bapak. Bapak sangat lahap dan aku belum berani bicara jujur. Jujur?
Goblok! Buat apa bicara jujur tentang jebakan yang aku buat itu?
“Mau kau makan tidak itu mienya?”
tanya bapak. Mie goreng yang ada di dalam mangkoknya akan segera tandas.
Tinggal dua atau tiga suap lagi kurasa akan habis.
“Kalau bapak masih lapar benar, yang
itu bapak makan saja, nanti aku gampang.” kataku.
Secercah harapan kembali muncul.
Bapak sepertinya belum kenyang benar. Memang, mie instan tidaklah seperti nasi
dan lauk pauk. Kau tidak akan kenyang jika hanya memakannya satu kali saja. Mie
dan nasi sama-sama mengandung karbohidrat. Dan kau tidak akan merasa cukup jika
hanya mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang sangat terbatas. Apalagi jika
perutmu sedang dalam keroncongan teramat parah. Dan itulah yang sedang terjadi
dan dialami oleh bapakku. Aku tahu, ia akan langsung menyambar mie kuah itu
tanpa memedulikan apa yang ada di dalamnya. Aku rela mengorbankan mie goreng
sebagai makan malamku. Yang penting
bapakku memakan mie kuah itu.
“Ya sudah, aku makan ya! Kau tidak
menyesal kan?” tanya bapak.
Aku tidak menjawab karena tak tahan
dengan apa yang akan segera terjadi. Apakah ia akan mampus dengan cara
overdosis? Atau ia akan mual-mual dan muntah-muntah ketika akan menyeruput
kuahnya? Hueek!!! Aku langsung
memalingkan muka ke layar televisi yang sedang menyala. Orang-orang di
dalamnya seperti sedang berdebat masalah
pencalonan kepala daerah. Aku sempat menggerakan bola mataku ke arah bapak yang
tengah mengaduk mie kuahnya. Mangkok yang pertama benar-benar tandas. Dan ia
masih sangat lapar.
Segera, ia mulai melilitkan mie itu
ke garpunya lalu memasukan ke dalam mulutnya. Ya, ia akan keluar dari rumah ini
sebentar lagi. Aku menyeringai dalam diam.
“Jadi bapakmu benar-benar
melakukannya?” tanyaku setelah Anwar selesai dengan ceritanya.
“Iya.” Anwar menjawab singkat.
“Sekarang bapakmu sedang berada di
rumah sakit, kalau begitu?”
“Tidak. Ia sedang berada di rumahku
sekarang. Ia tidak mampus ketika ia memakan dan menghabiskan mie kuahnya waktu
itu. Aku juga heran benar, mengapa ia begitu kuat. Yang jelas, sekarang ia
malah bertambah sehat pasca menyantap mie kuah jebakan itu.” kata Anwar.
“Lalu apa yang akan kau lakukan
sekarang?”
Anwar langsung pergi menuju pintu
keluar tanpa pamit, tanpa menghabiskan secangkir kopi yang sudah kusiapkan dan
semangkok mie kuah yang istriku telah hidangkan. Ia berjalan dengan pakaiannya
yang asing. Tapi cerita ini tidak akan menjadi asing lagi. Aku akan menemuinya
segera setelah aku menyantap mie kuah buatan istriku yang sebelumnya diperuntukkan
Anwar. Tapi ia sudah pergi dan aku merasa sangat lapar setelah mendengar cerita
dari Anwar itu. Mie kuah yang ada di depanku sungguh menggoda. Tidak seperti
mie kuah buatan Anwar yang dicampuri jebakan yang macam-macam. Istriku memang
tidak pandai memasak. Tapi aku yakin, kalau urusan perut sedang mengamuk, istri
yang tak pandai memasak pun, masakannya akan selalu dibilang mantap, walaupun
hanya sekadar mie kuah. (###)
Reza Deni Saputra
Tidak ada komentar:
Posting Komentar