Selasa, 11 Juni 2013

BAPAK DI RUMAH BARU DAN SEMANGKOK MIE KUAH


Aku beruntung. Bagaimana bisa beruntung? Apakah aku tidak terkena hukuman dari istriku karena tempo hari aku kepergok menyetubuhi istri tetanggaku sendiri? Tidak, tapi pernyataan di atas perlu dicatat juga sebenarnya. Aku tidak sepenuhnya bersalah karena telah menyetubuhi dia. Dialah yang datang padaku dengan pakaian yang membuat semuanya berdiri. Dan wajarlah jika kejadian selanjutnya dapat diprediksi dengan sempurna. Kembali lagi ke kalimat pertama dan kedua. Aku beruntung karena Anwar menceritakan padaku cerita yang menurutku sangat asing. Seasing Anwar yang datang pada waktu itu dengan pakaian compang-camping; baju koko, celana komprang. Tapi itu tidak menjadi masalah besar. Yang menjadi masalahnya adalah Anwar menceritakan padaku cerita ini. Dan kesepakatan baru, kawan, aku menggunakan tokoh di dalam cerita ini menggunakan kata ganti “aku”, yang dimana itu adalah Anwar sendiri yang mengalaminya. Aku hanya mendengar dan mengulang kembali ceritanya.

Terkadang, butuh waktu barang setahun atau bahkan lebih untuk bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada di sekitarmu. Aku yang pada saat itu baru pindah dari Cipulir, harus dihadapkan pada pemandangan yang sangat asing, tetapi tidak aneh, hanya asing. Aku pindah dari Cipulir ke Tangerang, Ciputat, tepatnya. Aku pindah karena rumahku selalu menjadi langganan banjir dan akan tetap selalu begitu. Kau mungkin akan berkata, banjir sudah menjadi kawan buat warga ibukota, tapi tidak buatku. Banjir selalu menjadi musuh nomor wahid walaupun aku sudah tinggal di sana sejak umurku menginjak dua puluh tahun. Dokumen-dokumen kantor yang penting selalu hanyut, puisi-puisi dan cerpen-cerpen yang sudah kukerjakan selama masa mudaku dulu juga ikut terbawa arus, serta banyak barang-barang yang lain yang tak bisa kuceritakan semuanya di sini. Maka pada hari Minggu bulan April kemarin, aku memutuskan pindah ke Tangerang. Di sana ada rumah yang di sewa oleh seseorang dengan kumis dan jenggot. Lantas, aku tidak menyewa rumah itu, langsung aku beli kemudian hari.
Sebenarnya tidak susah untuk menyesuaikan diri di habitat yang baru. Kau hanya perlu beramah tamah, ikut gotong royong, salat berjamaah di musala atau masjid, ikut siskamling, atau sekadar main samgong sambil minum kopi hitam. Cara-cara tersebut bisa saja membuatmu langsung bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan asing. Itu semua sudah kulakukan dan akan berhasil jika saja bapak dan ibuku tidak ikut pindah ke rumahku yang sekarang ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, aku harus menerima mereka sebagai bagian dari penghuni rumah, walaupun aku sangat tidak ingin mereka tinggal lebih lama lagi.
“Cuma sebentar, nak, Bapak dan Ibu kepingin lihat rumah barumu ini, lho, wong uang yang dipakai kamu juga ada sebagian punya bapak, kan?” kata ibu.
Ibu memang pandai merayu dan aku menyukai itu. Tapi bapakku, dia orang yang kaku,  sangat kaku, dalam artian, semua yang keluar dari mulutnya pasti selalu kalimat yang mempunyai makna memerintah atau mengomeli. Maklum, dulu bapak bekerja di militer pada zaman orde baru. Dan bapak sering pergi ke daerah-daerah terpencil, katanya untuk menciduk atau menangkap pemberontak dan pengkhianat negara. Tapi itu dulu sekali, jauh ketika umurku masih enam atau tujuh tahun. Bapak pensiun dari pekerjaan yang katanya membanggakan itu pada umur 55 tahun. Ia dipensiunkan dengan catatan; sebagai informan atau agen intelegensi yang setiap harinya selalu menyebut nama lima orang dan besoknya lima orang itu hilang entah kemana. Ia juga berperan pada penumpasan preman-preman atau penjahat-penjahat kelas teri sampai ke sarang-sarangnya.
“Mau kuciduk kau kalau tidak ingin tinggal dengan kami!? Apa yang kau lakukan sendirian di rumah ini? Mau mengadakan rapat untuk meng-kudeta pemerintah? Atau mau bikin agama baru? Awas kau!”
Ia bilang begitu ketika pertama kali mereka datang dan aku mengeluh. Aku mengeluh bukan karena tidak ingin tinggal dengan mereka. Aku hanya ingin mendapatkan waktu sendiri karena pada saat itu aku sedang dilanda musibah; motor kantorku hilang, mana tidak diasuransikan, belum lagi utang kepada teman-teman kantor karena kalah dalam judi bola. Siapa yang tidak ingin mengeluh ketika ada permasalahan datang dan tiba-tiba muncul lagi permasalahan baru? Barangkali kau mungkin akan berpikir begini, mengeluh bukanlah solusi yang baik. Itu memang benar. Tapi, mengeluh itu juga bisa menjadi ajang pelampiasan karena itulah yang bapakku ajarkan. Ia selalu mengeluh ketika ada yang sepemikiran atau yang tidak sepemikiran dengannya. Ia pernah mengeluh hanya karena bakso yang dibelinya tidak diberi tetelan.
“Kalau seperti ini, mana mantap, dasar amatir!”
Keluhan       atau lebih tepatnya makian       itu membuat pedagang bakso langsung menetapkan harga selangit karena tidak senang dan memang, bapak selalu membeli bakso pada jumlah porsi yang sangat besar. Bapak juga sering mengeluh ketika dipijat oleh tukang pijat keliling dan tidak ada bunyi-bunyian ketika pemijat itu melakukan tugasnya.
“Kalau seperti ini, mana bisa sembuh, dasar amatir!” katanya.
Bapak memang pandai dalam keluh-mengeluh. Dan kepandaiannya itu tertular langsung kepadaku. Itulah sebab mengapa aku selalu melampiaskan semuanya dalam keluhan dan keluhan. Bapak memang selalu menjadi tonggak dimana aku mengemukakan alasan.

Sudah dua bulan orang tuaku menginap di rumahku yang baru. Semua memang berjalan seperti biasa. Bapak setiap pagi selalu mengawali harinya dengan minum kopi lalu berlari-lari, joging istilahnya. Padahal aku tahu, yang ia lakukan adalah mencuci matanya ketika melewati pedagang sayur yang banyak ibu-ibu mangkal di situ. Ibu sudah pulang ke Yogyakarta tiga hari yang lalu. Ia pulang karena ada urusan keluarga. Maaf, aku lupa memberitahu itu pada awal kalimat. Tapi yang pasti, sekarang aku seperti terkungkung di dalam kandang bersama gorila. Dan gorila itu adalah bapakku sendiri. Setiap hari aku diharuskan bangun pagi, menyiapkan sarapan untukku dan dia. Sedangkan dia hanya melakukan aktivitas pribadinya.

“Jadi kau merasa rumah barumu itu seperti kandang.” tanyaku kepada Anwar.
“Ya, seperti itulah, Mud. Coba kau bayangkan, kau membeli rumah baru untuk menghindari berbagai macam permasalahan, tapi yang kau temukan di rumah itu justru permasalahan yang baru dan lebih muskil?” kata Anwar.
“Ya sudah, coba kau lanjutkan.”

Rumah baruku tak ubah-ubahnya seperti rumah yang dulu ada di Cipulir. Hanya saja bukan banjir yang datang, tetapi bapakku itu. Pernah suatu hari aku dibikin kesal bapak hanya karena aku membaca buku Karl Marx. Padahal buku itu adalah buku teman yang sengaja kubaca dan akan kubedah beberapa hari kedepan.
“Kau mau jadi komunis, mau jadi pengikut bedebah Jerman itu?” kata bapak dengan nada dikeras-keraskan.
Aku tidak menjawab, sebab kata bapak, menjawab pertanyaan itu justru akan merumitkan dan meperpanjang permasalahan. Dan aku tidak ingin masalah yang sepele ini menjadi lebih panjang hanya karena buku itu. Aku lebih baik diam. Dengan napas berat karena sudah terbiasa dibilang komunis atau segala macam apa, aku langsung menutup buku itu dan pergi keluar. Mungkin di luar sana terdapat banyak obat penenang yang bisa menenangkanku dari masalah baru ini.
“Mau kemana kau? Sudah malam ini! Mau bikin rapat untuk demo besok ya? Awas kau!!!” suara bapak terdengar dari dalam.
Mungkin ada yang salah dengan bapak. Mungkin pekerjaannya dulu masih melekat di badan, jiwa, dan hatinya. Dan bahkan sampai mati, ia akan terus menghantuiku kalau aku keluar malam-malam dan membaca buku Karl Marx kalau sedang tidak ada kerjaan . Jangan sampai seperti itulah! Aku tidak jadi keluar bukan karena bapak berteriak begitu. Aku bisa saja keluar dan membuka rapat besar-besaran untuk meng-kudeta orang yang sekarang menetap di rumahku ini: bapak. Dan aku bisa saja menyewa penembak jitu jika bapak sedang sendirian di tempat yang sepi atau ramai dan mayatnya akan didiamkan begitu saja. Sama seperti yang ia lakukan ketika ia masih muda dulu, barangkali. Aku pergi menuju kamar dan aku masih mendengar teriakan dari bapak.

“Kalau begitu, apa yang akan kau lakukan? Kau tidak mungkin diam terus kan?” tanyaku kepada Anwar.
“Aku tidak berbuat apa-apa memang. Tapi lama kelamaan, aku benar-benar dibikin kesal. Dan kau akan mendengarnya sebentar lagi.” kata Anwar.

Sudah hampir setengah tahun bapak tinggal. Sekarang ia sudah menjadi penguasa di rumah baruku. Ia selalu membuat undang-undang tersirat yang mengharuskan semua yang ada di dalam kendalinya, harus mematuhi undang-undang itu. Bulan pertama dan bulan kedua sampai bulan ketiga, aku masih bisa menerima dan memaklumi bapak dengan tingkah dan polanya. Tapi sekarang, lebih baik bertindak daripada mampus. Ini lebih dari sekadar bencana banjir ketika aku tinggal di rumahku yang lama. Ini seperti zaman orde baru dimana kau tidak bisa melakukan apa-apa tanpa persetujuan dari pihak atas. Dan pihak teratas di rumahku sekarang adalah bapak.
Malam hari ketika aku hendak memasak mie instan, bapak berteriak meminta agar aku memasakinya mie pula. Dengan jengkel dan dongkol, aku melakukan itu semua. Sekelibat, aku mempunyai ide yang jenius (mungkin sangat jenius); aku mencampurkan lendir ingus, ludah dan air kencing ke dalam panci yang sedang mendidih dan siap untuk dimasukkan mie. Bapak mungkin akan mual-mual dan masuk rumah sakit. Lalu ia akan dirawat inap dan rumahku akan  bebas darinya selama beberapa hari ke depan. Ya, ide yang bagus. Tapi mengapa ide itu baru muncul selama ini? Terserah!
“Mana punyaku, lama sekali kau!” teriak bapak dari ruang keluarga. Ia sedang menonton acara kesukaannya: Debat calon gubernur pra pilkada.
Dua atau tiga langkah aku berjalan dari dapur menuju tempat bapak. Ia memasang muka persis seperti pembawa acara yang ada di televisi itu; sangat serius. Aku membawa dua mangkok berukuran sama yang keduanya dihidangkan mie dan kuahnya. Anjing, mata bapak menyalang sangat terang. Ia seperti sudah dilanda rasa lapar bertahun-tahun. Seperti prajurit perang yang menang dan minta dihidangkan sebotol anggur karena sudah kelelahan. Tapi, bapak bukanlah prajurit perang. Ia dulu hanya agen intel dari instansi pemerintah yang kerjanya hanya itu-itu saja. Dan aku juga tidak peduli dengan masa lalunya. Mau dulu jadi intel, pengusaha pelacuran, pedagang asongan, atau bahkan pengemis yang sering mangkal di tempat yang sama. Itu semua tidak penting. Yang penting sekarang adalah bagaimana caranya agar bapak bisa keluar dari rumahku ini tanpa harus mengusirnya. Dan itu akan terjadi sebentar lagi.
“Mana punyaku?” tanya bapak.
Aku menunjuk mangkok berwarna merah yang didalamnya terdapat mie dan kuah campuran ludah, lendir ingus, keringat beserta air kencingku. Bapak terlihat santai. Aku juga terlihat santai. Temanku bilang, jangan tertawa terlebih dahulu jika ingin mengerjai orang. Apalagi kalau parah jebakannya. Jangan tertawa atau jebakanmu bakal ketahuan. Dan aku melakukan itu dengan benar. Tampaknya bapak akan memakan mie kuah itu sebentar lagi.
“Kau tahu, aku meminta mie yang tanpa kuah di dalamnya. Seperti yang ibumu dulu buat.” kata bapak.
“Maksud bapak mie goreng?”
“Iya, dasar amatir!!!”
“Tapi bapak tidak bilang seperti itu. Bapak hanya bilang minta dimasaki mie dan mie yang tersisa hanya mie kuah. Mie gorengnya sudah kumasak buatku sendiri.” kataku mencoba untuk meyakinkan argumen. Argumen yang akan menjadi jebakan untuk bapak jika ia akan memakan mie kuah itu.
Bapak terdiam cukup lama. Ia memandang kedua mangkok yang ada di depannya. Mangkok yang berwarna merah punyanya, berisi mie kuah. Dan mangkok yang satunya, yang berwarna putih berisi mie tanpa kuah atau mie goreng istilah lainnya. Yang berwarna putih itu punyaku.
Bapak menyambar mangkok yang berwarna putih dan anjing, aku tak sempat mencegahnya. Aku tidak bisa memakan mie kuah itu. Kuahnya sudah kucampurkan dengan lendir ingus, keringat, ludah dan air kencing. Walaupun warna kuahnya sama seperti warna layaknya kuah mie biasa, tapi aku tahu, mie kuah itu adalah jebakan dan tak mungkin aku memakannya bersama bapak. Bapak sangat lahap dan aku belum berani bicara jujur. Jujur? Goblok! Buat apa bicara jujur tentang jebakan yang aku buat itu?
“Mau kau makan tidak itu mienya?” tanya bapak. Mie goreng yang ada di dalam mangkoknya akan segera tandas. Tinggal dua atau tiga suap lagi kurasa akan habis.
“Kalau bapak masih lapar benar, yang itu bapak makan saja, nanti aku gampang.” kataku.
Secercah harapan kembali muncul. Bapak sepertinya belum kenyang benar. Memang, mie instan tidaklah seperti nasi dan lauk pauk. Kau tidak akan kenyang jika hanya memakannya satu kali saja. Mie dan nasi sama-sama mengandung karbohidrat. Dan kau tidak akan merasa cukup jika hanya mengonsumsi karbohidrat dalam jumlah yang sangat terbatas. Apalagi jika perutmu sedang dalam keroncongan teramat parah. Dan itulah yang sedang terjadi dan dialami oleh bapakku. Aku tahu, ia akan langsung menyambar mie kuah itu tanpa memedulikan apa yang ada di dalamnya. Aku rela mengorbankan mie goreng sebagai makan malamku.  Yang penting bapakku memakan mie kuah itu.
“Ya sudah, aku makan ya! Kau tidak menyesal kan?” tanya bapak.
Aku tidak menjawab karena tak tahan dengan apa yang akan segera terjadi. Apakah ia akan mampus dengan cara overdosis? Atau ia akan mual-mual dan muntah-muntah ketika akan menyeruput kuahnya? Hueek!!! Aku langsung memalingkan muka ke layar televisi yang sedang menyala. Orang-orang di dalamnya  seperti sedang berdebat masalah pencalonan kepala daerah. Aku sempat menggerakan bola mataku ke arah bapak yang tengah mengaduk mie kuahnya. Mangkok yang pertama benar-benar tandas. Dan ia masih sangat lapar.
Segera, ia mulai melilitkan mie itu ke garpunya lalu memasukan ke dalam mulutnya. Ya, ia akan keluar dari rumah ini sebentar lagi. Aku menyeringai dalam diam.

“Jadi bapakmu benar-benar melakukannya?” tanyaku setelah Anwar selesai dengan ceritanya.
“Iya.” Anwar menjawab singkat.
“Sekarang bapakmu sedang berada di rumah sakit, kalau begitu?”
“Tidak. Ia sedang berada di rumahku sekarang. Ia tidak mampus ketika ia memakan dan menghabiskan mie kuahnya waktu itu. Aku juga heran benar, mengapa ia begitu kuat. Yang jelas, sekarang ia malah bertambah sehat pasca menyantap mie kuah jebakan itu.” kata Anwar.
“Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?”
Anwar langsung pergi menuju pintu keluar tanpa pamit, tanpa menghabiskan secangkir kopi yang sudah kusiapkan dan semangkok mie kuah yang istriku telah hidangkan. Ia berjalan dengan pakaiannya yang asing. Tapi cerita ini tidak akan menjadi asing lagi. Aku akan menemuinya segera setelah aku menyantap mie kuah buatan istriku yang sebelumnya diperuntukkan Anwar. Tapi ia sudah pergi dan aku merasa sangat lapar setelah mendengar cerita dari Anwar itu. Mie kuah yang ada di depanku sungguh menggoda. Tidak seperti mie kuah buatan Anwar yang dicampuri jebakan yang macam-macam. Istriku memang tidak pandai memasak. Tapi aku yakin, kalau urusan perut sedang mengamuk, istri yang tak pandai memasak pun, masakannya akan selalu dibilang mantap, walaupun hanya sekadar mie kuah. (###)

Reza Deni Saputra



Tidak ada komentar:

Posting Komentar