Selasa, 11 Juni 2013

Bisu.

            
Aku datang ke ranah pemakaman yang disemayami beribu jasad. Tuan matahari memantau tepat di atas kepala. Pakaianku hitam. Mungkin sebagian orang akan berkata aku sedang berziarah. Nyatanya tidak. Aku ke tempat ini untuk sesuatu yang lain.
            Langkah demi langkahku, melewati nisan-nisan yang bisu. Begitu bisu hingga aku bisa melihat sebuah kesunyian abadi. Kesunyian yang akan aku rasakan juga nanti atau sekarang.
Beberapa orang sedang sibuk menaburkan bunga dan menuangkan air mawar. Sesekali mata mereka melihatku, dan selebihnya tidak memedulikan. Aku pun tidak peduli.
Telah sampai aku kepada dua makam berdampingan. Tanahnya masih basah. Bunga dan wewangiannya masih kental kurasakan. Beberapa meter di antara kedua nisan, pohon kamboja begitu lirih menemani makam ini. Tak sanggup menjadi sebuah peneduh. Kemudian, di sekitar pohon kamboja, beberapa bunga-bunga dan daun-daunnya gugur menghiasi.
Aku berdiri mematung. Melipat tangan dan terus menatap makam itu. Mataku sayu terus dijejali ruang-ruang masa depan yang begitu dilema. Lidahku membeku. Kemasygulan tak henti-henti mengisi sukmaku. Kupandang kedua nisan itu dalam-dalam. Kakiku lemah hingga akhirnya lututku menyentuh tanah. Mataku semakin sayu. Aku terus pandangi kedua makam itu dengan wajah lemah. Aku menyangsikan kemarin dan hari ini.
Pohon kamboja begitu setia berdiri di depanku. Kerut di batangnya nampak jelas terlihat. Aku tanya dia,
“Tuan, apakah ini nyata?”
Pohon kamboja itu diam. Tak pedulikah dia? Aku sungguh butuh jawaban. Aku tanyai dia lagi,
“Tuan Pohon Kamboja, apakah ini nyata?”
Pohon kamboja itu tetap membisu. Aku bertanya sekali lagi.
“Tuan Pohon Kamboja, tolong jawab aku, apakah ini nyata?”
Pohon kamboja hanya diam. Dia tetap tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya peduli pada angin yang sesekali menggugurkan bunga dan daunnya. Denganku, dia tak peduli.
“Baiklah tuan, terima kasih atas bisumu.”
Kemudian aku lihat bunga kamboja putih pasi baru saja gugur dari pohonnya. Aku hampiri dia. Mungkin saja pohon itu menjawab melalui bunga yang gugur ini. Aku tanya dia,
“Tuan, apakah ini nyata?”
Bunga kamboja itu diam. Kenapa dia juga tak mau menjawab. Mungkin bunga itu hanya akan menemani makam ini sampai kering menelannya. Aku coba bertanya lagi,
“Tuan, apakah ini nyata?”
Bunga itu tetap tak menjawab. Aku urungkan niatku untuk bertanya lagi.
Aku kembali menatap kedua makam ini. Aku ambil satu bunga mawar dari kedua makam. Aku lihat mawar itu sudah mulai layu dan wanginya sudah ditelan suasana. Aku tatap dalam-dalam kedua mawar itu. Cukup lama, kemudian aku tanyai dia,
“Tuan-tuan, apakah ini nyata?”
Kedua mawar itu tidak menjawab. Mereka lebih memilih pergi bersama angin ketimbang berada di telapak tanganku. Mereka tak menjawab dan meninggalkanku.
Pada siapa aku harus bertanya. Bahkan semalam bulan yang kutanyai juga lebih memilih menarik mendungnya. Bertanya pada tuan matahari lebih seperti memanggang mata. pada akhirnya aku terdiam.
Aku lihat nisan yang berada di sisi kiriku. Sepertinya sepi. Aku tatap, masa lalu muncul begitu saja. Mataku berkaca. Aku tanyai dia,
“Istriku, apakah ini nyata?”
Nisan itu terdiam. Tak apa kalau tidak mau menjawab.
Aku beralih ke nisan yang berada di sisi kananku. Kaca di mataku meleleh. Aku tanyai dia,
“Nak, apakah ini nyata?”
Aku terisak-isak. Tak apa, tak apa kalau tidak mau menjawab. Kalian berdua tak apa kalau tidak mau menjawab. Silahkan tidur dengan nyenyak. Aku harap posisinya nyaman untuk kalian.
Aku tahu dengan siapa aku akan bertanya. Aku mengadahkan kepalaku ke langit. Dengan wajah mengiba dan suara lirih aku bertanya,
“Tuhan, apakah ini nyata?
“Jawab aku, apakah ini nyata?
“Tidakkah kau tahu bahwa Kau juga mengubur aku bersama dengan makam ini. Tidakkah kau tahu?
“Jika Kau tak menjawabku, maka aku berdoa pada-Mu,
“Tolong juga kuburkan jasadku.”
Dan aku terbaring di antara makan ini menunggu Tuhan.



mnash mei 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar