Aku
datang ke ranah pemakaman yang disemayami beribu jasad. Tuan matahari memantau
tepat di atas kepala. Pakaianku hitam. Mungkin sebagian orang akan berkata aku
sedang berziarah. Nyatanya tidak. Aku ke tempat ini untuk sesuatu yang lain.
Langkah demi langkahku, melewati
nisan-nisan yang bisu. Begitu bisu hingga aku bisa melihat sebuah kesunyian
abadi. Kesunyian yang akan aku rasakan juga nanti atau sekarang.
Beberapa
orang sedang sibuk menaburkan bunga dan menuangkan air mawar. Sesekali mata mereka
melihatku, dan selebihnya tidak memedulikan. Aku pun tidak peduli.
Telah
sampai aku kepada dua makam berdampingan. Tanahnya masih basah. Bunga dan
wewangiannya masih kental kurasakan. Beberapa meter di antara kedua nisan,
pohon kamboja begitu lirih menemani makam ini. Tak sanggup menjadi sebuah
peneduh. Kemudian, di sekitar pohon kamboja, beberapa bunga-bunga dan
daun-daunnya gugur menghiasi.
Aku
berdiri mematung. Melipat tangan dan terus menatap makam itu. Mataku sayu terus
dijejali ruang-ruang masa depan yang begitu dilema. Lidahku membeku.
Kemasygulan tak henti-henti mengisi sukmaku. Kupandang kedua nisan itu
dalam-dalam. Kakiku lemah hingga akhirnya lututku menyentuh tanah. Mataku
semakin sayu. Aku terus pandangi kedua makam itu dengan wajah lemah. Aku menyangsikan
kemarin dan hari ini.
Pohon
kamboja begitu setia berdiri di depanku. Kerut di batangnya nampak jelas
terlihat. Aku tanya dia,
“Tuan,
apakah ini nyata?”
Pohon
kamboja itu diam. Tak pedulikah dia? Aku sungguh butuh jawaban. Aku tanyai dia
lagi,
“Tuan
Pohon Kamboja, apakah ini nyata?”
Pohon
kamboja itu tetap membisu. Aku bertanya sekali lagi.
“Tuan
Pohon Kamboja, tolong jawab aku, apakah ini nyata?”
Pohon
kamboja hanya diam. Dia tetap tak menjawab pertanyaanku. Dia hanya peduli pada
angin yang sesekali menggugurkan bunga dan daunnya. Denganku, dia tak peduli.
“Baiklah
tuan, terima kasih atas bisumu.”
Kemudian
aku lihat bunga kamboja putih pasi baru saja gugur dari pohonnya. Aku hampiri
dia. Mungkin saja pohon itu menjawab melalui bunga yang gugur ini. Aku tanya
dia,
“Tuan,
apakah ini nyata?”
Bunga
kamboja itu diam. Kenapa dia juga tak mau menjawab. Mungkin bunga itu hanya
akan menemani makam ini sampai kering menelannya. Aku coba bertanya lagi,
“Tuan,
apakah ini nyata?”
Bunga
itu tetap tak menjawab. Aku urungkan niatku untuk bertanya lagi.
Aku
kembali menatap kedua makam ini. Aku ambil satu bunga mawar dari kedua makam.
Aku lihat mawar itu sudah mulai layu dan wanginya sudah ditelan suasana. Aku
tatap dalam-dalam kedua mawar itu. Cukup lama, kemudian aku tanyai dia,
“Tuan-tuan,
apakah ini nyata?”
Kedua
mawar itu tidak menjawab. Mereka lebih memilih pergi bersama angin ketimbang
berada di telapak tanganku. Mereka tak menjawab dan meninggalkanku.
Pada
siapa aku harus bertanya. Bahkan semalam bulan yang kutanyai juga lebih memilih
menarik mendungnya. Bertanya pada tuan matahari lebih seperti memanggang mata.
pada akhirnya aku terdiam.
Aku
lihat nisan yang berada di sisi kiriku. Sepertinya sepi. Aku tatap, masa lalu
muncul begitu saja. Mataku berkaca. Aku tanyai dia,
“Istriku,
apakah ini nyata?”
Nisan
itu terdiam. Tak apa kalau tidak mau menjawab.
Aku
beralih ke nisan yang berada di sisi kananku. Kaca di mataku meleleh. Aku
tanyai dia,
“Nak,
apakah ini nyata?”
Aku
terisak-isak. Tak apa, tak apa kalau tidak mau menjawab. Kalian berdua tak apa
kalau tidak mau menjawab. Silahkan tidur dengan nyenyak. Aku harap posisinya
nyaman untuk kalian.
Aku
tahu dengan siapa aku akan bertanya. Aku mengadahkan kepalaku ke langit. Dengan
wajah mengiba dan suara lirih aku bertanya,
“Tuhan,
apakah ini nyata?
“Jawab
aku, apakah ini nyata?
“Tidakkah
kau tahu bahwa Kau juga mengubur aku bersama dengan makam ini. Tidakkah kau
tahu?
“Jika
Kau tak menjawabku, maka aku berdoa pada-Mu,
“Tolong
juga kuburkan jasadku.”
Dan
aku terbaring di antara makan ini menunggu Tuhan.
mnash
mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar