Selasa, 11 Juni 2013

Teras


            Baiklah. Mungkin aku lebih ingin bercerita kepada bulan. Tetapi bulan sedang asyik menarik selimutnya. Apakah bulan telah bosan mendengarkan aku? Ya, dia lebih memilih ikut terlelap daripada bertemu denganku.
            Aku ingin bercerita kepada bintang. Tetapi bintang terlalu banyak. Aku tak sanggup menentukan dengan bintang yang mana aku harus berbincang.
            Dengan langit? Ya dengan langit saja. Aku rasa dia cukup luas untuk menampung ceritaku. Tetapi... ia pasti tak acuh karena sibuk dengan keluasannya.
            Tidak dengan siapa-siapa kalau begitu. Begini...
            Aku datang dengan sebuah kabar buruk. Maafkan aku nak, mungkin nanti kau belum bisa membeli buku tulis yang sudah kujanjikan. Maaf. Untuk istriku, mungkin kau akan menahan malu karena harus kembali menambah pundi-pundi hutang pada warung tetangga.
            Aku belum bisa membayangkan jika kabar ini sampai kepadamu. Mimik seperti apa yang akan kau hadirkan, karena kau tidak bisa menipuku dengan senyum yang terkadang kau buat-buat hanya untuk menghiburku.
            Tahukah, aku berharap kita dienyahkan dari dunia ini. Terkadang aku berharap seperti itu. Terkadang. Tetapi bukan seperti itu penyelesaiannya. Karena seperti yang kau bilang bahwa anak kita memegang masa depan dengan mata yang meyakinkan.
            Nasib atau takdir yang membuat kita terkekang oleh zaman seperti ini. Aku tidak tahu itu, yang jelas aku ingin mengubahnya. Membuat kau dan anak kita selalu tersenyum di pagi hari. Sarapan nasi dengan lauk yang lengkap, kemudian ditemani segelas susu putih atau teh hangat. Indah bukan? Tertidur lelap tanpa harus risau jika hujan turun. Aku ingin seperti itu.
Lagi-lagi nasib atau takdir, yang mematahkan keinginanku. Kenyataan membawaku jungkir balik.
            Entah kenapa...
Seharusnya malam ini hingga dini hari tadi aku bisa mendapatkan setoran lebih. Ini sabtu malam. Semua supir angkot sepertiku akan sangat beruntung jika kedapatan itu. Sisa setoran yang jumlahnya sama dengan setoran bisa kugunakan untuk membayar hutang, mencukupkan uang kontrakan, membeli sembako, dan juga membeli peralatan sekolah untuk anak kita. Seharusnya.
Rokok rasanya begitu hambar. Pikiranku mulai mencekam. Aku ringkih. Kenapa hanya dengan satu kejadian kecil saja sudah bisa membelokkan hasil. Aku hanya berani duduk bersandar pada pintu rumah. Aku takut mengganggu mimpimu yang mungkin saja indah. Aku harap indah. Mungkin mimpi masih bisa mengindahkan hari-harimu. Aku berharap itu.
Terkadang aku merasa gagal. Kau dan anak kita pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Kenapa nasibku menyeretmu? Maaf. Untuk saat ini, hanya maaf.
Ah... air mata. Sudah lama aku tak meneteskan air mata. Mungkin air mata ini bisa mengajariku tentang kehidupan, karena aku sudah jauh terombang-ambing dengan kenyataan. Aku ingin lari dari kenyataan. Dan itu mengingatkanku pada sesuatu.
Tadi sewaktu aku pulang diantar temanku, aku melihat orang gila. Temanku bilang bahwa kashian sekali dia. Aku terdiam. Lebih kasihan aku atau dia. Aku sibuk memikirkan hal itu. Aku yakin jika aku bertanya kepadamu pasti kau menjawab lebih kasihan dia, tetapi kenapa aku merasa bahwa dia beruntung karena bisa pergi ke dunianya sendiri.
Gerimis mulai turun. Aku jadi ingat dengan engkau. Kau sangat suka gerimis. Dan aku senang karena kau lebih suka kepada gerimis daripada hujan. Meski terkadang kau tidak bisa menutupi kalau kau juga suka hujan. Sama sepertiku. Dulu. Dulu saat hujan belum pernah merusak mimpi kita.
Aku tersenyum. Menangis membuat pikiranku kemana-mana. Aneh.
Gerimis juga mendatangkan angin. Angin yang tajam. Aku kedinginan. Biarlah. Aku pantas mendapatkan ini. Kau setuju kan sayang? Tentu tidak. Tetapi tak apa. Aku mengingikan hal ini.
Isakku terhenti.
Adzan subuh berkumandang. Suara gemercik air dari dalam rumah mulai terdengar. Ingin aku mengimami salatmu. Hanya saja aku masih ingin menjadi pengecut. Aku masih belum bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Meskipun nantinya juga pasti akan terjadi.
Orang-orang mulai berlalu-lalang. Beberapa ada yang menyapaku. Aku hanya bisa membalas dengan senyum kecut. Aku tak berani bersuara, karena kau sudah sadar. Aku bisa mendengar kau membangunkan anak kita dan menyuruhnya mandi dan salat.
Beberapa menit lagi mungkin kau akan tahu keadaanku. Memang, kita sudah pernah berada pada keadaan ini. Tetapi entah, aku merasa ini makin memberatkan hari-hari kita nanti.
Mohon maaf untuk anakku karena aku tak pernah memperlihatkan rasa banggaku yang begitu besar kepadamu meski sedikit saja. Maaf nak. Dan untuk istriku, aku juga mohon maaf, mungkin mulutku terlalu kaku atau lidahku selalu kelu. Itu membuatku lebih banyak tidak berkata-kata. Maaf.
Mataku telah habis dimakan air mata dan malam. Sinar matahari yang baru datang  hanya menghasilkan bias di pandanganku. Mungkin saja ia bisa membantuku.
Sayang. Akan aku hadiahkan gerimis untukmu. Suatu saat nanti, pada waktu yang tepat. 




mnash april 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar