Baiklah. Mungkin aku
lebih ingin bercerita kepada bulan. Tetapi bulan sedang asyik menarik
selimutnya. Apakah bulan telah bosan mendengarkan aku? Ya, dia lebih memilih
ikut terlelap daripada bertemu denganku.
Aku ingin bercerita kepada bintang. Tetapi
bintang terlalu banyak. Aku tak sanggup menentukan dengan bintang yang mana aku
harus berbincang.
Dengan langit? Ya dengan langit
saja. Aku rasa dia cukup luas untuk menampung ceritaku. Tetapi... ia pasti tak
acuh karena sibuk dengan keluasannya.
Tidak dengan siapa-siapa kalau
begitu. Begini...
Aku datang dengan
sebuah kabar buruk. Maafkan aku nak, mungkin nanti kau belum bisa membeli buku
tulis yang sudah kujanjikan. Maaf. Untuk istriku, mungkin kau akan menahan malu
karena harus kembali menambah pundi-pundi hutang pada warung tetangga.
Aku belum bisa membayangkan jika
kabar ini sampai kepadamu. Mimik seperti apa yang akan kau hadirkan, karena kau
tidak bisa menipuku dengan senyum yang terkadang kau buat-buat hanya untuk
menghiburku.
Tahukah, aku berharap kita
dienyahkan dari dunia ini. Terkadang aku berharap seperti itu. Terkadang.
Tetapi bukan seperti itu penyelesaiannya. Karena seperti yang kau bilang bahwa
anak kita memegang masa depan dengan mata yang meyakinkan.
Nasib atau takdir yang membuat kita
terkekang oleh zaman seperti ini. Aku tidak tahu itu, yang jelas aku ingin
mengubahnya. Membuat kau dan anak kita selalu tersenyum di pagi hari. Sarapan
nasi dengan lauk yang lengkap, kemudian ditemani segelas susu putih atau teh
hangat. Indah bukan? Tertidur lelap tanpa harus risau jika hujan turun. Aku
ingin seperti itu.
Lagi-lagi
nasib atau takdir, yang mematahkan keinginanku. Kenyataan membawaku jungkir
balik.
Entah kenapa...
Seharusnya
malam ini hingga dini hari tadi aku bisa mendapatkan setoran lebih. Ini sabtu
malam. Semua supir angkot sepertiku
akan sangat beruntung jika kedapatan itu. Sisa setoran yang jumlahnya sama
dengan setoran bisa kugunakan untuk membayar hutang, mencukupkan uang
kontrakan, membeli sembako, dan juga membeli peralatan sekolah untuk anak kita.
Seharusnya.
Rokok
rasanya begitu hambar. Pikiranku mulai mencekam. Aku ringkih. Kenapa hanya
dengan satu kejadian kecil saja sudah bisa membelokkan hasil. Aku hanya berani
duduk bersandar pada pintu rumah. Aku takut mengganggu mimpimu yang mungkin
saja indah. Aku harap indah. Mungkin mimpi masih bisa mengindahkan hari-harimu.
Aku berharap itu.
Terkadang
aku merasa gagal. Kau dan anak kita pantas mendapatkan yang lebih dari ini.
Kenapa nasibku menyeretmu? Maaf. Untuk saat ini, hanya maaf.
Ah...
air mata. Sudah lama aku tak meneteskan air mata. Mungkin air mata ini bisa
mengajariku tentang kehidupan, karena aku sudah jauh terombang-ambing dengan
kenyataan. Aku ingin lari dari kenyataan. Dan itu mengingatkanku pada sesuatu.
Tadi
sewaktu aku pulang diantar temanku, aku melihat orang gila. Temanku bilang
bahwa kashian sekali dia. Aku terdiam. Lebih kasihan aku atau dia. Aku sibuk
memikirkan hal itu. Aku yakin jika aku bertanya kepadamu pasti kau menjawab
lebih kasihan dia, tetapi kenapa aku merasa bahwa dia beruntung karena bisa
pergi ke dunianya sendiri.
Gerimis
mulai turun. Aku jadi ingat dengan engkau. Kau sangat suka gerimis. Dan aku
senang karena kau lebih suka kepada gerimis daripada hujan. Meski terkadang kau
tidak bisa menutupi kalau kau juga suka hujan. Sama sepertiku. Dulu. Dulu saat
hujan belum pernah merusak mimpi kita.
Aku
tersenyum. Menangis membuat pikiranku kemana-mana. Aneh.
Gerimis
juga mendatangkan angin. Angin yang tajam. Aku kedinginan. Biarlah. Aku pantas
mendapatkan ini. Kau setuju kan sayang? Tentu tidak. Tetapi tak apa. Aku
mengingikan hal ini.
Isakku
terhenti.
Adzan
subuh berkumandang. Suara gemercik air dari dalam rumah mulai terdengar. Ingin
aku mengimami salatmu. Hanya saja aku masih ingin menjadi pengecut. Aku masih
belum bisa membayangkan apa yang terjadi nanti. Meskipun nantinya juga pasti
akan terjadi.
Orang-orang
mulai berlalu-lalang. Beberapa ada yang menyapaku. Aku hanya bisa membalas
dengan senyum kecut. Aku tak berani bersuara, karena kau sudah sadar. Aku bisa
mendengar kau membangunkan anak kita dan menyuruhnya mandi dan salat.
Beberapa
menit lagi mungkin kau akan tahu keadaanku. Memang, kita sudah pernah berada
pada keadaan ini. Tetapi entah, aku merasa ini makin memberatkan hari-hari kita
nanti.
Mohon
maaf untuk anakku karena aku tak pernah memperlihatkan rasa banggaku yang
begitu besar kepadamu meski sedikit saja. Maaf nak. Dan untuk istriku, aku juga
mohon maaf, mungkin mulutku terlalu kaku atau lidahku selalu kelu. Itu
membuatku lebih banyak tidak berkata-kata. Maaf.
Mataku
telah habis dimakan air mata dan malam. Sinar matahari yang baru datang hanya menghasilkan bias di pandanganku. Mungkin
saja ia bisa membantuku.
Sayang.
Akan aku hadiahkan gerimis untukmu. Suatu saat nanti, pada waktu yang tepat.
mnash
april 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar