Selasa, 11 Juni 2013

Jalan Layang.


Jika kebanyakan orang ingin menghabiskan waktu sorenya dengan menatap matahari yang akan tenggelam, mungkin mereka akan ke pantai. Sesekali melirik gulungan ombak. Mengajak pasangan. Memanggang daging, atau paling tidak jagung. Live music. Indah bukan. Iya. Tapi itu mereka.
            Aku juga suka melihat detik-detik matahari hilang. Namun tidak di pantai. Tidak bersama pasangan. Tidak juga dengan memanggang daging ataupun jagung. Live music? Ada.
            Ya memang pantai bukan tempat satu-satunya menghabiskan matahari. Aku memandang matahari di atas sebuah jalan. Kau tentu tahu jalan layang? Ya aku biasa menghabiskan soreku di atas sana. Tentu tidak di tengah jalan. Hanya di pinggirnya. Sesekali melirik kemacetan. Terkadang pengamen suka asik menyanyikan lagu untukku. Ini live music bukan? Dan aku juga bisa memakan daging panggang atau jagung bakar, dari kemasan. Meski hanya rasanya saja. Indah bukan? Paling tidak menurutku.
            Aku juga ingin menghabiskan matahari bersama pasangan. Sayangnya... syarat utama membawa pasangan tidak kupunya. Tebakanmu benar. Aku masih belum mempunyai pasangan. Tetapi ini bukan suatu ironi. matahari tetap berjalan. Dan aku masih bisa menikmatinya.
            Hari ini orang-orang yang punya hobi sama sepertiku jarang terlihat. Jalan layang itu begitu sepi. Jarang orang di pinggir jalan. Mugkin karena mendung. Tetapi aku sudah lihat ramalan cuaca, di sini tidak akan turun hujan, atau bahkan gerimis sekalipun. Dan matahari masih tetap terlihat sempurna. Dan mereka yang tidak ke sini karena takut hujan telah tertipu.
            Matahari masih belum akan habis. Dari sini aku biasa melayangkan pikiranku. Kemana-mana. Kasihan otakku jika pikiranku terus berkecamuk. Lebih baik aku terbangkan. Meski nanti dengan sendirinya akan datang kembali. Untuk sesaat... tak apalah.
            Terkadang ingin juga aku membawa seseorang, tak usah pasangan tak apalah. Hanya seseorang yang mau merasakan juga keindahan ini. Sambil berbincang tentang matahari yang akan tenggelam dan bercabang-cabang entah kemana. Asyik bukan? Kau mau? Ayolah, ini tidak aneh. Kau hanya perlu mengubah sedikit pandanganmu tentang indah. Ah yasudah jika kau tidak mau. Aku sendiri saja.
            Beberapa meter di sampingku ada seseorang yang juga sedang menatap matahari. Aku berharap dia juga suka menikmati matahari dari sini. Tetapi aku baru liat dia kali ini di sini. Mungkin jalan layang yang biasa dia pakai sudah penuh, sehingga pindah ke sini.
            Kasihan orang ini kalau aku perhatikan lebih lanjut. Rambutnya panjang tak beraturan. Kusut. Pandangannya kosong. Ada warna kehitaman di bawah matanya. Bibirnya pecah-pecah. Aku yakin dahulu bibirnya ranum. Pergelangan tangannya penuh lecet dan tanda luka. Badannya kurus. Kurus yang mencirikan dia jarang makan. Atau tak mau makan.
            Dia terus memandangi matahari. Hanya saja tatapan matanya tajam. Tidak damai seperti yang biasa menikmati matahari. Mungkinkah dia marah kepada matahari? Tapi kenapa matahari begitu bersalah padanya? Dia mulai meracau. Suaranya lirih. Aku juga tidak tahu apa yang dikatakannya. Mungkin kalau aku bisa membaca gerakan bibir. Apa yang diucapkannya akan kuceritakan padamu.
            Aku mulai tidak memedulikannya. Biarkanlah. Hak dia jika dia memang ingin menatap tajam matahari dan memaki-makinya. Itu urusan dia. Aku ingin menikmati matahari seperti biasanya. Dengan tatapan damai. Dengan menerbangkan pikiranku. Menikmati sepenuhnya.
            Senja mulai datang. Beberapa orang yang ke sini untuk menikmati matahari sudah mulai bergegas melanjutkan aktivitas lain. Aku? Aku juga sama. Aku ingin melanjutkan pekerjaanku. Berbincang dengan bulan dari atas genting rumah. Ya rumah siapa saja yang bisa kunaiki.
            Tetapi orang di sampingku tidak juga meninggalkan tempatnya. Dia tetap menatap tajam langit. Dia tetap meracau. Kau benar juga. Dia tidak marah pada matahari. Tapi pada siapa? Kepada langit? Ada baiknya jika aku dekati dia. Aku ingin menanyakan dengan siapa dia marah. Kau setuju denganku? Baiklah. Aku dekati dia dengan langkah pelan. Supaya tidak mengusik.
            Aku sudah di sampingnya. Dia tidak lagi meracau. Malu mungkin. Ya malu denganku. Tetapi dia tak memedulikanku. Dia tetap menatap tajam langit. Ya aku tahu apa yang kau inginkan. Aku tanyai dia kan? Baik, baik.
            “Permisi. Bolehkah saya tahu dengan siapa anda marah?”
            Perlahan dia menoleh padaku. Tatapan matanya seperti orang tidak peduli. Lama dia menatapku. Matanya tidak tajam. Aku cari dia didalam matanya. Tetapi tidak ada. Kosong.
            “Apa pedulimu?”
            “Maaf jika mengganggu. anda menatap tajam dan meracau kepada matahari dan juga langit. Mungkinkah anda marah kepada keduanya?”
            Lama dia terdiam. Masih tetap menatapku. Aku pun menatapnya. Dia mulai memainkan rambutnya yang kusut. Menjadi bertambah kusut.
            “Maaf. Apa anda tidak mau menjawab saya?”
            “Kau benar-benar ingin tahu?”
            Aku mengangguk. Tatapannya menjadi dalam kepadaku. Dalam sekali hingga mataku seperti di tekan oleh sebuah tekanan yang luar biasa.
            “Aku marah kepada jagat raya.”
            “Kenapa anda memarahi matahari dan langit?”
            “Ya mereka hanya perwakilan saja.”
            “Baik. Hm... lalu kenapa dengan jagat raya?”
            “Ya. Dia membiarkan sebagian orang untuk tinggal. Dan kau mau tahu apa yang dilakukan sebagian orang itu hingga aku marah?”
            Aku mengangguk lagi. Mengangguk pelan. Dengan wajah tercengang.
            “Sebagian orang itu adalah keluargaku. Selama empat tahun aku dikurung di dalam sebuah gudang. Tak lupa pasung yang merampas kebebasan jasadku.
            “Tadi sore aku berhasil kabur. Ya selesai sudah kayu pasung itu aku gerogoti.”
            Ternyata giginya yang hancur karena itu. Iba aku melihat orang ini. Ini kota, dan ternyata di kota ada yang seperti ini. Semakin mirip desa yang ada di dongeng.
            “Hm.. dan kenapa anda bisa dikurung dan dipasung?”
            Makin tajam tatapannya.
            “Entah, aku disangka sesat, gila, dan sebagian bilang aku jelmaan setan.
“Kau tahu... aku hanya bilang kepada keluargaku untuk tidak mementingkan menghafal kitab-kitab Tuhan. Belum  lagi selesai aku bicara. Aku sudah di bungkam dan tidak dibiarkan bicara.
            Wajahnya menjadi sedih. Air mata mulai berjatuhan. Tatapannya tak lagi tajam.
            “Tidakkah mereka tahu bahwa aku belum selesai berbicara. Mereka terlalu kolot.
            Ia mulai meratapi tangisnya.
            “Aku hanya ingin menjelaskan bahwa lebih penting memahaminya sebagai panduan hidup.
“Sekarang mereka luntang-lantung. Terpecah belah. Terbukti mereka hanya menghafal tanpa mengerti apa isi kitab itu.”
            Dia menangis tersedu-sedu. Cukup lama aku menunggunya kembali tenang.
            “Lalu sekarang anda mau apa?”
            Dia belum menjawab. Isak masih sesekali menghampirinya.
            “Akan aku adukan mereka kepada Tuhan atas perbuatanya.”
            “Dengan menyalahkan jagat raya?”
            “Apa kau bodoh? Tentu tidak.
            “Aku akan menemui Tuhan.”
            “Maaf jika anda tidak setuju. Tetapi dengan kontruksi tubuh ini. Manusia seperti saya dan anda belum mampu.”
            “Iya saya setuju akan hal itu. Untuk itu saya kesini.
            “Kematian adalah pintu menuju Tuhan.”
            Kemudian dia tersenyum padaku. Dia melompati pagar pembatas dan terjun bebas. Tubuhnya menghempas aspal. Aku bisa lihat dari sini darah menyembur dari tubuhnya.
Sebuah bus dengan cepat melindasnya. Aku lihat beberapa bagian tubuhnya terlepas dari bagian tubuh yang lainnya. Dan beberapa bagian tubuh mengeluarkan isinya.
            Oh iya, aku lupa bilang kepadamu. Saat dia tersenyum kepadaku. aku pun membalas senyumannya dengan senyumanku yang paling manis. Dan terus tersenyum saat berkata lirih,

            “Cara anda yang ini salah.”


mnash mei 2013 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar