Jika kebanyakan orang ingin
menghabiskan waktu sorenya dengan menatap matahari yang akan tenggelam, mungkin
mereka akan ke pantai. Sesekali melirik gulungan ombak. Mengajak pasangan.
Memanggang daging, atau paling tidak jagung. Live music. Indah bukan. Iya. Tapi itu mereka.
Aku
juga suka melihat detik-detik matahari hilang. Namun tidak di pantai. Tidak
bersama pasangan. Tidak juga dengan memanggang daging ataupun jagung. Live music? Ada.
Ya
memang pantai bukan tempat satu-satunya menghabiskan matahari. Aku memandang
matahari di atas sebuah jalan. Kau tentu tahu jalan layang? Ya aku biasa
menghabiskan soreku di atas sana. Tentu tidak di tengah jalan. Hanya di
pinggirnya. Sesekali melirik kemacetan. Terkadang pengamen suka asik
menyanyikan lagu untukku. Ini live music bukan?
Dan aku juga bisa memakan daging panggang atau jagung bakar, dari kemasan.
Meski hanya rasanya saja. Indah bukan? Paling tidak menurutku.
Aku
juga ingin menghabiskan matahari bersama pasangan. Sayangnya... syarat utama membawa
pasangan tidak kupunya. Tebakanmu benar. Aku masih belum mempunyai pasangan.
Tetapi ini bukan suatu ironi. matahari tetap berjalan. Dan aku masih bisa
menikmatinya.
Hari
ini orang-orang yang punya hobi sama sepertiku jarang terlihat. Jalan layang itu
begitu sepi. Jarang orang di pinggir jalan. Mugkin karena mendung. Tetapi aku
sudah lihat ramalan cuaca, di sini tidak akan turun hujan, atau bahkan gerimis
sekalipun. Dan matahari masih tetap terlihat sempurna. Dan mereka yang tidak ke
sini karena takut hujan telah tertipu.
Matahari
masih belum akan habis. Dari sini aku biasa melayangkan pikiranku. Kemana-mana.
Kasihan otakku jika pikiranku terus berkecamuk. Lebih baik aku terbangkan.
Meski nanti dengan sendirinya akan datang kembali. Untuk sesaat... tak apalah.
Terkadang
ingin juga aku membawa seseorang, tak usah pasangan tak apalah. Hanya seseorang
yang mau merasakan juga keindahan ini. Sambil berbincang tentang matahari yang
akan tenggelam dan bercabang-cabang entah kemana. Asyik bukan? Kau mau? Ayolah,
ini tidak aneh. Kau hanya perlu mengubah sedikit pandanganmu tentang indah. Ah
yasudah jika kau tidak mau. Aku sendiri saja.
Beberapa
meter di sampingku ada seseorang yang juga sedang menatap matahari. Aku
berharap dia juga suka menikmati matahari dari sini. Tetapi aku baru liat dia
kali ini di sini. Mungkin jalan layang yang biasa dia pakai sudah penuh,
sehingga pindah ke sini.
Kasihan
orang ini kalau aku perhatikan lebih lanjut. Rambutnya panjang tak beraturan.
Kusut. Pandangannya kosong. Ada warna kehitaman di bawah matanya. Bibirnya
pecah-pecah. Aku yakin dahulu bibirnya ranum. Pergelangan tangannya penuh lecet
dan tanda luka. Badannya kurus. Kurus yang mencirikan dia jarang makan. Atau
tak mau makan.
Dia
terus memandangi matahari. Hanya saja tatapan matanya tajam. Tidak damai
seperti yang biasa menikmati matahari. Mungkinkah dia marah kepada matahari?
Tapi kenapa matahari begitu bersalah padanya? Dia mulai meracau. Suaranya
lirih. Aku juga tidak tahu apa yang dikatakannya. Mungkin kalau aku bisa
membaca gerakan bibir. Apa yang diucapkannya akan kuceritakan padamu.
Aku
mulai tidak memedulikannya. Biarkanlah. Hak dia jika dia memang ingin menatap
tajam matahari dan memaki-makinya. Itu urusan dia. Aku ingin menikmati matahari
seperti biasanya. Dengan tatapan damai. Dengan menerbangkan pikiranku.
Menikmati sepenuhnya.
Senja
mulai datang. Beberapa orang yang ke sini untuk menikmati matahari sudah mulai
bergegas melanjutkan aktivitas lain. Aku? Aku juga sama. Aku ingin melanjutkan
pekerjaanku. Berbincang dengan bulan dari atas genting rumah. Ya rumah siapa
saja yang bisa kunaiki.
Tetapi
orang di sampingku tidak juga meninggalkan tempatnya. Dia tetap menatap tajam
langit. Dia tetap meracau. Kau benar juga. Dia tidak marah pada matahari. Tapi
pada siapa? Kepada langit? Ada baiknya jika aku dekati dia. Aku ingin
menanyakan dengan siapa dia marah. Kau setuju denganku? Baiklah. Aku dekati dia
dengan langkah pelan. Supaya tidak mengusik.
Aku
sudah di sampingnya. Dia tidak lagi meracau. Malu mungkin. Ya malu denganku.
Tetapi dia tak memedulikanku. Dia tetap menatap tajam langit. Ya aku tahu apa
yang kau inginkan. Aku tanyai dia kan? Baik, baik.
“Permisi.
Bolehkah saya tahu dengan siapa anda marah?”
Perlahan
dia menoleh padaku. Tatapan matanya seperti orang tidak peduli. Lama dia
menatapku. Matanya tidak tajam. Aku cari dia didalam matanya. Tetapi tidak ada.
Kosong.
“Apa
pedulimu?”
“Maaf
jika mengganggu. anda menatap tajam dan meracau kepada matahari dan juga
langit. Mungkinkah anda marah kepada keduanya?”
Lama
dia terdiam. Masih tetap menatapku. Aku pun menatapnya. Dia mulai memainkan
rambutnya yang kusut. Menjadi bertambah kusut.
“Maaf.
Apa anda tidak mau menjawab saya?”
“Kau
benar-benar ingin tahu?”
Aku
mengangguk. Tatapannya menjadi dalam kepadaku. Dalam sekali hingga mataku
seperti di tekan oleh sebuah tekanan yang luar biasa.
“Aku
marah kepada jagat raya.”
“Kenapa
anda memarahi matahari dan langit?”
“Ya
mereka hanya perwakilan saja.”
“Baik.
Hm... lalu kenapa dengan jagat raya?”
“Ya.
Dia membiarkan sebagian orang untuk tinggal. Dan kau mau tahu apa yang
dilakukan sebagian orang itu hingga aku marah?”
Aku
mengangguk lagi. Mengangguk pelan. Dengan wajah tercengang.
“Sebagian
orang itu adalah keluargaku. Selama empat tahun aku dikurung di dalam sebuah
gudang. Tak lupa pasung yang merampas kebebasan jasadku.
“Tadi
sore aku berhasil kabur. Ya selesai sudah kayu pasung itu aku gerogoti.”
Ternyata
giginya yang hancur karena itu. Iba aku melihat orang ini. Ini kota, dan
ternyata di kota ada yang seperti ini. Semakin mirip desa yang ada di dongeng.
“Hm..
dan kenapa anda bisa dikurung dan dipasung?”
Makin
tajam tatapannya.
“Entah,
aku disangka sesat, gila, dan sebagian bilang aku jelmaan setan.
“Kau tahu... aku hanya bilang
kepada keluargaku untuk tidak mementingkan menghafal kitab-kitab Tuhan.
Belum lagi selesai aku bicara. Aku sudah
di bungkam dan tidak dibiarkan bicara.
Wajahnya
menjadi sedih. Air mata mulai berjatuhan. Tatapannya tak lagi tajam.
“Tidakkah
mereka tahu bahwa aku belum selesai berbicara. Mereka terlalu kolot.
Ia
mulai meratapi tangisnya.
“Aku
hanya ingin menjelaskan bahwa lebih penting memahaminya sebagai panduan hidup.
“Sekarang mereka luntang-lantung.
Terpecah belah. Terbukti mereka hanya menghafal tanpa mengerti apa isi kitab
itu.”
Dia
menangis tersedu-sedu. Cukup lama aku menunggunya kembali tenang.
“Lalu
sekarang anda mau apa?”
Dia
belum menjawab. Isak masih sesekali menghampirinya.
“Akan
aku adukan mereka kepada Tuhan atas perbuatanya.”
“Dengan
menyalahkan jagat raya?”
“Apa
kau bodoh? Tentu tidak.
“Aku
akan menemui Tuhan.”
“Maaf
jika anda tidak setuju. Tetapi dengan kontruksi tubuh ini. Manusia seperti saya
dan anda belum mampu.”
“Iya
saya setuju akan hal itu. Untuk itu saya kesini.
“Kematian
adalah pintu menuju Tuhan.”
Kemudian
dia tersenyum padaku. Dia melompati pagar pembatas dan terjun bebas. Tubuhnya menghempas
aspal. Aku bisa lihat dari sini darah menyembur dari tubuhnya.
Sebuah bus dengan cepat
melindasnya. Aku lihat beberapa bagian tubuhnya terlepas dari bagian tubuh yang
lainnya. Dan beberapa bagian tubuh mengeluarkan isinya.
Oh
iya, aku lupa bilang kepadamu. Saat dia tersenyum kepadaku. aku pun membalas
senyumannya dengan senyumanku yang paling manis. Dan terus tersenyum saat
berkata lirih,
“Cara
anda yang ini salah.”
mnash
mei 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar