Matahari
tepat berada di atas kepala. Sinarnya terik. Ragam pepohonan. Hamparan sawah
tumpah ruah dengan keelokan sengkedan dan tarian padi yang mulai merendah.
Sungai dan anak-anaknya tak luput. Puncak gunung yang terlihat begitu megah.
Beberapa hewan dan tumbuhan sesekali menyapaku dengan senyum.
“Sejuk...”
Kira-kira beberapa hari yang lalu.
Aku lupa tepatnya. Kakiku menginjak kota pahlawan. Matahari berkuasa disana,
mungkin juga karena dibantu pesisir dan racun yang mengisi kadar udara. Begitu
pekat. Sebuah potret kezaliman.
Pada akhirnya aku sampai dengan
sebuah keputusan untuk mencukupkan perbekalan dan berjalan. Meninggalkan sebuah
tempat ramai. Jika kau mau tahu, aku lebih suka sepi. Aku berjalan. Terkadang
menumpang truk-truk yang hilir laju, masuk dan keluar.
Dan sampai ke tempat ini.
Aku terus melangkah. Desa, ya tempat
ini adalah sebuah desa. Hal ini bisa kuketahui dari sebuah gapura. Aspal dan
lampu jalan sudah berkenalan dengan desa ini. Tubuhku ditemani irama hewan dan
barisan tumbuhan yang jarang kutemukan. Kau tahu? Rasanya aku ingin
berlama-lama disini.
“Awas!!”
Teriakanku dihiraukan.
Seorang anak kecil di tengah jalan,
terlalu sibuk dengan bola di kakinya, tidak menyadari truk yang melintas tidak
jauh di belakangnya. Dia masih belum sadar akan hal itu. Aku lepaskan tas dan
berlari, kemudian menariknya ke pinggir jalan. Tak lama berselang. Truk itu
lewat membawa batangan pohon sengon dengan kecepatan tinggi. Aku rasa ngantuk
si pengemudi.
Terlambat empat sampai lima langkah. Mungkin
hari ini akan ada sebuah pemakaman.
“Makasih ya nak.”
Wanita paruh baya menghampiriku.
Wajahnya pucat. Habis menahan panik sepertinya.
“Sudah ibu bilang, jangan bermain di
jalanan. Kau tahu kan, di sini truk sering lewat!”
Anak itu hanya diam sambil
menggaruk-garuk kepalanya. Aku tak tahu apa kepalanya benar-benar gatal.
Pandangannya iba menatap bolanya yang hancur terlindas. Mungkin dipikirannya ia
bertanya, bagaimana kalau kepalanya yang ada di posisi bola itu. Mungkin.
Setelah kujelaskan tujuanku ke desa
ini. Sri, wanita paruh baya itu, mempersilahkanku untuk beristirahat
dirumahnya. Sepuluh menit kira-kira jarak antara rumah Sri dengan tempat aku
bertemu dengannya. Aku berbincang sambil jalan, terkadang dengan Sri, terkadang
dengan anaknya, atau terkadang dengan alam yang masih asri.
Rumah Sri. Ramah dan luas.
Pekarangannya dihiasi kolam ikan dipadukan dengan bunga-bunga padma. Beberapa
bilik masih terpasang. Sederhana namun bernuansa kearifan lokal.
Kami
makan siang bersama. Setelah itu Sri pergi mengunjungi suaminya sambil membawa
rantang. Aku duduk di pekarangan. Belum bosan menikmati apa yang ada di sini.
Setiap orang yang melintas saling menegur sapa. Begitupun aku juga disapa,
terkadang dengan suara, terkadang hanya dengan wajah.
Beberapa
kulihat mata mereka menanti. Mata seorang istri yang sedang menanti kepulangan
suaminya. Mata seorang suami yang sedang menanti kepulangan istrinya. Atau mata
seorang ibu yang sudah rentan menanti kepulangan anak-anaknya, dari negeri
antah berantah.
“Banyak
dari warga sini yang ke Malaysia, mas.”
Bocah
yang tadi kuselamatkan sudah berada di sampingku. Surdi namanya. Tiba-tiba
berkata demikian. Bocah dua belas tahunan yang mempunyai logat khas.
Mungkin
sebagian besar banyak yang menjadi tenaga kerja di luar. Tanah ini sudah tidak
lagi menjanjikan.
“Di
sini ada antrokan mas.”
“Oh
ya. Apa itu antrokan?”
“Air
terjun, mas. Besar.”
Matanya
begitu semangat membayangkannya.
“Jadi..
antrokan itu artinya air terjun?”
Surdi
mengangguk sambil mengunyah cemilan yang juga menjadi orang ketiga di
pekarangan ini.
“Bisa
kau antarkan aku kesana? Hm... kalau perlu ajak beberapa temanmu.”
Wajah
surdi berubah. Ada garis-garis ketakutan yang terkuak.
“Yah
mas. teman-temanku ndak boleh sama orang tuanya.”
“Kenapa?”
“Katanya,
di sana ada ular besar, monyet gila, dan banyak setannya.”
Dengan
mitos dan desas-desus rupanya, para orang tua melarang anaknya. Menakut-nakuti.
“Kalau
kamu boleh?”
“Ndak
tau mas, coba tanya bapak ibukku.”
Senja
mengisi langit. Sri dan suaminya telah sampai rumah. Aku berkenalan dengan
suaminya setelah ia mandi. Aku heran. Mereka begitu memercayaiku. Terimakasih
masih bisa mengenal niatku yang memang tidak ingin merugikan siapapun.
Sehabis
isya aku meminta kepada Sri dan suaminya, Parjo namanya. Aku meminta Surdi
untuk menjadi pemanduku mengunjungi antrokan besok pagi. Aku ingat betul, ada
dua pesan yang harus aku pegang erat.
“Jaga
baik-baik keselamatanmu dan anakku.”
Ini
dari Sri.
“Jika
sudah sampai, jangan kau berdiri tepat dibawah air terjunnya.
“Cukup
kau berdiri di batu terakhir, aku yakin itu sudah memuaskanmu.”
Ini
dari Parjo.
Aku
dan Surdi berangkat di iringi kicau dan doa dari Sri dan Parjo.
“Kira-kira
satu jam, mas. Kita sampai di sana.”
Aku
hanya mengangguk. Setelah kulewati habis jalan aspal, kini tiba jalan setapak
bebatuan yang menemani kami. Suasana alam makin kental. Suara-suara hewan dan
rerimbun pepohonan yang mengapit jalan menjadi penyemangat.
“Surdi
mau kemana kamu?!”
Tiba-tiba
ia berlari ke arah pepohonan. Ya, aku panik. Kesurupan kah? Bisa saja aku kejar
dia, tapi resikonya aku akan nyasar. Aku masih mematung. Kakiku bimbang untuk
bertahan atau melangkah.
Dikebingungan
ini, datanglah Surdi dengan sebuah durian di tangannya. Wajahnya begitu ceria.
Kemudian dia ambil batu dan menghantam durian itu.
“Makan
mas, legit.”
“Kamu
mencuri?”
“Loh
ndak, mas. Saya nemu di tanah. Ndak memetiknya.”
Aku
tersenyum. durian ini menambah senyumku.
Kami
melanjutkan perjalanan. Makin melangkah, makin sejuk.
“Itu
mas, antrokan!!”
Surdi
antusias dan berlari kecil menuju batu untuk lebih jelas melihat antrokan. Aku
menghampirinya. Belum sampai aku padanya.
“Surdi!!”
Batu
yang dipijakkan Surdi longsor. Aku masih ingat bahwa suara aliran sungai
menyatakan arus mereka kuat. Dan tujuan longsoran batu itu adalah ke arah
sungai. Ke arah sungai. Surdi ikut menghilang bersama runtuhnya batu itu. Aku
berlari.
“Perlu
bantuan?”
Tangan
Surdi memegang akar pohon yang kuat mencuat dari tanah. Wajahnya tidak panik.
Wajahku panik. Naiklah dia, tanpa bantuanku. Bocah ini seringkali membuatku
deg-degan.
“Ayo
mas, sebentar lagi sampai.”
Proses
menuju titik air terjun memang tidak mudah. Keindahannya mengandung resiko.
Susah payah aku dan Surdi, melewati deras, licin, atau lumpur yang menjerembab.
Kadang aku lemah. Namun kau tentu tahu, aku tak gampang terpuaskan.
Air
terjun ini. Baru kali ini aku melihat yang jarang terjamah tangan manusia. Itu
bisa dibuktikan tak adanya plastik-plastik kemasan atau tulisan-tulisan di
batu-batu besar yang tertanam di dasar sungai dan muncul di permukaan.
Dan
akhirnya aku berada di batu terakhir. Tepat di depanku air berterjunan. Jarakku
amat dekat. Pertemuan itu menghasilkan hempasan yang indah. Bias warna, angin, dan air terbang dengan kuat ke arahku.
Aku rentangkan tanganku. Aku resapi tiap-tiap butirannya.
Aku
ingin tepat berada di pertemuannya. Surdi memegang celanaku.
“Cukup,
mas. Kau ingat pesan bapak kan?
“Coba
ambil bambu yang panjang itu dan ukur kedalamannya dari sini.”
Ya...
ya, aku ingat. Aku ambil dan aku ukur. Dasarnya tidak kutemukan. Bambu ini
panjangnya tiga kali tubuhku.
Aku
tersenyum kepadanya.
“Iya,
cukup.”
mnash
desember 2012(diketik : mei 2013)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar