Selasa, 11 Juni 2013

Antrokan.1

            
Matahari tepat berada di atas kepala. Sinarnya terik. Ragam pepohonan. Hamparan sawah tumpah ruah dengan keelokan sengkedan dan tarian padi yang mulai merendah. Sungai dan anak-anaknya tak luput. Puncak gunung yang terlihat begitu megah. Beberapa hewan dan tumbuhan sesekali menyapaku dengan senyum.
            “Sejuk...”
            Kira-kira beberapa hari yang lalu. Aku lupa tepatnya. Kakiku menginjak kota pahlawan. Matahari berkuasa disana, mungkin juga karena dibantu pesisir dan racun yang mengisi kadar udara. Begitu pekat. Sebuah potret kezaliman.
            Pada akhirnya aku sampai dengan sebuah keputusan untuk mencukupkan perbekalan dan berjalan. Meninggalkan sebuah tempat ramai. Jika kau mau tahu, aku lebih suka sepi. Aku berjalan. Terkadang menumpang truk-truk yang hilir laju, masuk dan keluar.
            Dan sampai ke tempat ini.
            Aku terus melangkah. Desa, ya tempat ini adalah sebuah desa. Hal ini bisa kuketahui dari sebuah gapura. Aspal dan lampu jalan sudah berkenalan dengan desa ini. Tubuhku ditemani irama hewan dan barisan tumbuhan yang jarang kutemukan. Kau tahu? Rasanya aku ingin berlama-lama disini.
            “Awas!!”
            Teriakanku dihiraukan.
            Seorang anak kecil di tengah jalan, terlalu sibuk dengan bola di kakinya, tidak menyadari truk yang melintas tidak jauh di belakangnya. Dia masih belum sadar akan hal itu. Aku lepaskan tas dan berlari, kemudian menariknya ke pinggir jalan. Tak lama berselang. Truk itu lewat membawa batangan pohon sengon dengan kecepatan tinggi. Aku rasa ngantuk si pengemudi.
 Terlambat empat sampai lima langkah. Mungkin hari ini akan ada sebuah pemakaman.
            “Makasih ya nak.”
            Wanita paruh baya menghampiriku. Wajahnya pucat. Habis menahan panik sepertinya.
            “Sudah ibu bilang, jangan bermain di jalanan. Kau tahu kan, di sini truk sering lewat!”
            Anak itu hanya diam sambil menggaruk-garuk kepalanya. Aku tak tahu apa kepalanya benar-benar gatal. Pandangannya iba menatap bolanya yang hancur terlindas. Mungkin dipikirannya ia bertanya, bagaimana kalau kepalanya yang ada di posisi bola itu. Mungkin.
            Setelah kujelaskan tujuanku ke desa ini. Sri, wanita paruh baya itu, mempersilahkanku untuk beristirahat dirumahnya. Sepuluh menit kira-kira jarak antara rumah Sri dengan tempat aku bertemu dengannya. Aku berbincang sambil jalan, terkadang dengan Sri, terkadang dengan anaknya, atau terkadang dengan alam yang masih asri.
            Rumah Sri. Ramah dan luas. Pekarangannya dihiasi kolam ikan dipadukan dengan bunga-bunga padma. Beberapa bilik masih terpasang. Sederhana namun bernuansa kearifan lokal. 
Kami makan siang bersama. Setelah itu Sri pergi mengunjungi suaminya sambil membawa rantang. Aku duduk di pekarangan. Belum bosan menikmati apa yang ada di sini. Setiap orang yang melintas saling menegur sapa. Begitupun aku juga disapa, terkadang dengan suara, terkadang hanya dengan wajah.
Beberapa kulihat mata mereka menanti. Mata seorang istri yang sedang menanti kepulangan suaminya. Mata seorang suami yang sedang menanti kepulangan istrinya. Atau mata seorang ibu yang sudah rentan menanti kepulangan anak-anaknya, dari negeri antah berantah.
“Banyak dari warga sini yang ke Malaysia, mas.”
Bocah yang tadi kuselamatkan sudah berada di sampingku. Surdi namanya. Tiba-tiba berkata demikian. Bocah dua belas tahunan yang mempunyai logat khas.
Mungkin sebagian besar banyak yang menjadi tenaga kerja di luar. Tanah ini sudah tidak lagi menjanjikan.
“Di sini ada antrokan mas.”
“Oh ya. Apa itu antrokan?”
“Air terjun, mas. Besar.”
Matanya begitu semangat membayangkannya.
“Jadi.. antrokan itu artinya air terjun?”
Surdi mengangguk sambil mengunyah cemilan yang juga menjadi orang ketiga di pekarangan ini.
“Bisa kau antarkan aku kesana? Hm... kalau perlu ajak beberapa temanmu.”
Wajah surdi berubah. Ada garis-garis ketakutan yang terkuak.
“Yah mas. teman-temanku ndak boleh sama orang tuanya.”
“Kenapa?”
“Katanya, di sana ada ular besar, monyet gila, dan banyak setannya.”
Dengan mitos dan desas-desus rupanya, para orang tua melarang anaknya. Menakut-nakuti.
“Kalau kamu boleh?”
“Ndak tau mas, coba tanya bapak ibukku.”
Senja mengisi langit. Sri dan suaminya telah sampai rumah. Aku berkenalan dengan suaminya setelah ia mandi. Aku heran. Mereka begitu memercayaiku. Terimakasih masih bisa mengenal niatku yang memang tidak ingin merugikan siapapun.
Sehabis isya aku meminta kepada Sri dan suaminya, Parjo namanya. Aku meminta Surdi untuk menjadi pemanduku mengunjungi antrokan besok pagi. Aku ingat betul, ada dua pesan yang harus aku pegang erat.
“Jaga baik-baik keselamatanmu dan anakku.”
Ini dari Sri.
“Jika sudah sampai, jangan kau berdiri tepat dibawah air terjunnya.
“Cukup kau berdiri di batu terakhir, aku yakin itu sudah memuaskanmu.”
Ini dari Parjo.
Aku dan Surdi berangkat di iringi kicau dan doa dari Sri dan Parjo.
“Kira-kira satu jam, mas. Kita sampai di sana.”
Aku hanya mengangguk. Setelah kulewati habis jalan aspal, kini tiba jalan setapak bebatuan yang menemani kami. Suasana alam makin kental. Suara-suara hewan dan rerimbun pepohonan yang mengapit jalan menjadi penyemangat.
“Surdi mau kemana kamu?!”
Tiba-tiba ia berlari ke arah pepohonan. Ya, aku panik. Kesurupan kah? Bisa saja aku kejar dia, tapi resikonya aku akan nyasar. Aku masih mematung. Kakiku bimbang untuk bertahan atau melangkah.
Dikebingungan ini, datanglah Surdi dengan sebuah durian di tangannya. Wajahnya begitu ceria. Kemudian dia ambil batu dan menghantam durian itu.
“Makan mas, legit.”
“Kamu mencuri?”
“Loh ndak, mas. Saya nemu di tanah. Ndak memetiknya.”
Aku tersenyum. durian ini menambah senyumku.
Kami melanjutkan perjalanan. Makin melangkah, makin sejuk.
“Itu mas, antrokan!!”
Surdi antusias dan berlari kecil menuju batu untuk lebih jelas melihat antrokan. Aku menghampirinya. Belum sampai aku padanya.
“Surdi!!”
Batu yang dipijakkan Surdi longsor. Aku masih ingat bahwa suara aliran sungai menyatakan arus mereka kuat. Dan tujuan longsoran batu itu adalah ke arah sungai. Ke arah sungai. Surdi ikut menghilang bersama runtuhnya batu itu. Aku berlari.
“Perlu bantuan?”
Tangan Surdi memegang akar pohon yang kuat mencuat dari tanah. Wajahnya tidak panik. Wajahku panik. Naiklah dia, tanpa bantuanku. Bocah ini seringkali membuatku deg-degan.
“Ayo mas, sebentar lagi sampai.”
Proses menuju titik air terjun memang tidak mudah. Keindahannya mengandung resiko. Susah payah aku dan Surdi, melewati deras, licin, atau lumpur yang menjerembab. Kadang aku lemah. Namun kau tentu tahu, aku tak gampang terpuaskan.
Air terjun ini. Baru kali ini aku melihat yang jarang terjamah tangan manusia. Itu bisa dibuktikan tak adanya plastik-plastik kemasan atau tulisan-tulisan di batu-batu besar yang tertanam di dasar sungai dan muncul di permukaan.
Dan akhirnya aku berada di batu terakhir. Tepat di depanku air berterjunan. Jarakku amat dekat. Pertemuan itu menghasilkan hempasan yang indah. Bias warna,  angin, dan air terbang dengan kuat ke arahku. Aku rentangkan tanganku. Aku resapi tiap-tiap butirannya.
Aku ingin tepat berada di pertemuannya. Surdi memegang celanaku.
“Cukup, mas. Kau ingat pesan bapak kan?
“Coba ambil bambu yang panjang itu dan ukur kedalamannya dari sini.”
Ya... ya, aku ingat. Aku ambil dan aku ukur. Dasarnya tidak kutemukan. Bambu ini panjangnya tiga kali tubuhku.
Aku tersenyum kepadanya.
“Iya, cukup.”




mnash desember 2012(diketik : mei 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar