Senin, 25 Februari 2013

Kegenitan Berfilsafat Dengan Ajaran Pemikiran Agama Islam "esai"



            Bila kita cermati hubungan filsafat dengan pemikiran agama Islam dapat kita temukan adanya ketidakcocokkan antar keduanya. Bilamana lebih codong pada salah satu, permisalkan filsafat maka pemikiran kita terhadap agama Islam tidaklah begitu kuat. Sedangkan apabila pemikiran kita begitu kuat diwarnai oleh pemikiran agama maka pemikiran tentang filsafat sudah tentu tidak mungkin terjadi. Dalam agama Islam tentunya mesti kita ketahui bahwasanya berfilsafat dilarang, oleh sebab karena filsafat lebih mengedepankan akal dibandingkan dalil, maka jelas hal ini bertentangan dengan prinsip agama Islam yang segala sesuatu harus mengedepankan Al-Quran dan Al-Hadist. Dalam pemahaman Islam akal yang harus menyesuaikan dengan Al-Quran dan Al-Hadist bukan malah Al Quran dan Al-Hadist yang menyesuaikan dengan akal karena Al-Quran dan Al-Hadist tidak akan bertentangan dengan akal.
            Dalam sastra sering kita temukan ada beberapa karya yang mengangkat tema cerita yang jauh membuat pembacanya berpikir tentang apa yang disajikan oleh sang penulis. Tema cerita ini biasanya begitu banyak membawa hasil berpikir sang penulis ke dalam tulisannya, tak ayal pembacanya sering menyebut karya itu begitu berfilsafat. Berfilsafat dalam suatu karya bagi yang memegang kepercayaan Islam sudah barang tentu bertabrakan dengan pemikiran agama yang melarang berfilsafat. Kita pun tentu dibuatnya begitu bingung antara pemikiran berfilsafat dan pemikiran ajaran agama.
            Bilamana kita mempelajari ilmu-ilmu dasar tentang filsafat, sebagai contoh adalah kasus saya. Sering saya temui pengajar filsafat terlalu membawa kita pada teori-teori pembahasan yang bila diaplikasikan pada contoh-contoh kegiatan berfilsafat pada akhirnya sampailah kita pada Tuhan sebagai akar dari kegiatan berfilsafat yang tidak dapat dibahas lebih lanjut.        
            Dalam pemikiran filsafat di sastra sering kita temui bahwa pengangkatan tema dalam tulisan oleh pengarang lebih condong pada tema-tema kehidupan yang banyak bergejolak di samping kita. Jarang sekali kita menemui adanya pemikiran filsafat di sastra mencapai pada Tuhan─ walau pun ada tetapi sedikit jumlahnya. Tema-tema sufisme yang banyak mengangkat agama jarang ada pengarangnya berfilsafat di karyanya.
“Langit Makin Mendung” Ki Panji Kusmin mungkin adalah salah satu karya yang begitu dalam pemikiran filsafatnya begitu ekstrim menurut saya, sehingga dalam tokoh-tokohnya banyak mengambil nama-nama yang begitu suci nilainya dalam agama. Lain halnya dengan Seno Gumira Ajidarma, karya-karya banyak dinilai pembaca sebagai komikal filsuf. Karya Seno begitu banyak membuat pembacanya menilai bahwa di setiap karya-karyanya merupakan hasil pemikiran filsafatnya.
            Bila kita bandingkan antara “langit Makin Mendung” Ki Panji Kusmin dan karya-karya Seno Gumora Ajidarma yang dua-duanya menggunakan pemikiran filsafat, begitu terlihat jauh perbedaan kadar-kadar filsafatnya. Terlepas dari salah satunya pernah memasuki meja hijau, tema cerita dan pemikiran karyalah yang mestinya diperhitungkan dengan lebih cermat antar keduanya.
            Kegiatan berfilsafat dalam karya-karya sastra dalam mata agama Islam pula memasuki kawasan yang sama dengan hanya berkegiatan filsafat biasa. Hanya saja berfilsafat dalam karya-karya sastra, kegiatan itu telah dimasukkan ke dalam sebuah karya. Baik dalam mau pun di luar karya, pemikiran agama tetaplah berlainan dengan pemikiran filsafat. Agak disayangkan jika kita terlanjur mengetahuinya, kebimbangan tiba-tiba saja muncul antara menumpahkan pemikiran filsafat dalam setiap karya-karya kita dengan pemikiran agama yang melarang kegiatan filsafat.
            Ada pula sebaiknya menurut pemikiran saya, kita kembali berkaca kepada tujuan kita dalam menulis atau menghasilkan karya sastra, demi apakah sebenarnya kita berkegiatan sastra? Bila dalam karya-karya kita terdapat pemikiran filsafat tetapi tujuan dari pesan yang ingin kita sampaikan memiliki nilai yang positif, saya kira dalam pemikiran agama Islam pun yang mengajarkan nilai-nilai positif tidak akan bertabrakan sedemikian jauh. Dan sekiranya kesadaran tentang agama pun semestinya kita bawa dalam kegiatan bersastra kita agar terbangun pemikiran yang begitu sehat.


            Ridwan

2 komentar:

  1. Bila kita cermati hubungan filsafat dengan pemikiran agama Islam dapat kita temukan adanya ketidakcocokkan antar keduanya. Bilamana lebih codong pada salah satu, permisalkan filsafat maka pemikiran kita terhadap agama Islam tidaklah begitu kuat. Sedangkan apabila pemikiran kita begitu kuat diwarnai oleh pemikiran agama maka pemikiran tentang filsafat sudah tentu tidak mungkin terjadi. Dalam agama Islam tentunya mesti kita ketahui bahwasanya berfilsafat dilarang, oleh sebab karena filsafat lebih mengedepankan akal dibandingkan dalil, maka jelas hal ini bertentangan dengan prinsip agama Islam yang segala sesuatu harus mengedepankan Al-Quran dan Al-Hadist. Dalam pemahaman Islam akal yang harus menyesuaikan dengan Al-Quran dan Al-Hadist bukan malah Al Quran dan Al-Hadist yang menyesuaikan dengan akal karena Al-Quran dan Al-Hadist tidak akan bertentangan dengan akal.

    Dari keterangan diatas sudah dapat disimpulkan bahwa si penulis mengkopi paste tulisan dari orang-orang non muslim, dengan tujuan untuk menghancurkan agama islam.
    alasannya :
    1. agama islam tidak pernah melarang berfilsafat.
    2. filsafat dan ajaran agama islam itu saling membutuhkan, karena nabi muhammad saw berkata agamaku adalah akal.
    3. setiap permasalahan dan setiap peristiwa di dunia ini yang telah dan akan terjadi sudah ada di dalam al Qur'an.

    sekedar contoh :
    komputer yang begitu pintarnya masih ada yang membuatnya, mobil dan kendaraan-kendaraan lain pasti ada yang membuatnya, apalagi dunia yang sebesar ini.

    BalasHapus
  2. bagi saya, justru agama islam tdak membutuhkan filsafat dengan jenis apapun. Sayyid Quthb, telah menjelaskan bahwa Ilmu Filsafat yang dibbangkitkan kemudian setelah zaman Abbasiyah menaklukan semenanjung yunani, nyatanya malah melahirkan banyak aqidah ilmu kalam yang menyimpang. Rasulullah, memang berulangkali memahamkan kita bahwa akal adalah alat untuk memahami Agama. akan tetapi, akal dsini ada batasnya, sebagaimaa keterbatasan ilmu pengetahuan manusia yang hanya berdasarkan pengalamannya saja.

    apakah agama islam melarang filsafat? pertanyaan ini menjadi fitnah di banyak tempat. ada banyak pendapat, tetapi para salafus shalih cenderung menghindari, dengan catatan, yang dihindari adalah olah filsafat yang mengabaikan wahyu, revelations, sebagai sumber utama pengambilan premis-premis logika.

    menarik juga artikel ini :)

    selanjutnya, karena ini blog nyastra, ada baiknya saya sampaikan pendapat dari Kuntowijoyo, budayawan-sastrawan profetik, bahwa segala kepelikan logika, hendaknya dikembalikan pada kaidah-kaidah wahyu, mengigat keterbatasan akal manusia.

    BalasHapus