Sabtu, 23 Februari 2013

LANGIT PAGI MENUJU PANDEGLANG




Sekali lagi aku memandanginya. Dekat. Lebih dekat. Makin dekat. Oh, wajahnya aduhai, tinggi badannya semampai. Ia memakai jilbab berwarna cerah. Ia kugambarkan seperti langit pagi dibandingkan burung cawai. Jika memang ia langit pagi, akan kuhirup semua oksigen yang tersedia. Kunikmati setiap tarikan dan hembusan napas. Tak akan kubagi dengan mahkluk lainnya, karena ia langit pagiku.
Mungkin seperti itulah angan-anganku tentang perempuan itu. Angan-angan gila yang tak akan tercapai kenyataannya. Dia tak asing. Dia juga tak  popular. Dia biasa saja. Sumpah! Jika engkau bertemu dengannya, bulu romamu pasti akan berdiri. Malaikat dan setan yang ada di kanan dan di kirirmu, pasti akan melirik iri. Ia kugambarkan seperti langit pagi. Memandanginya tak cukup sekali tatap. Engkau harus benar-benar jeli ketika melihat dia    sengaja atau tidak sengaja    berjalan menuju arahmu, meski tujuannya bukan dirimu.
Sama seperti sekarang. Kali ini dia berjalan ke arahku. Aku terus memandanginya. Dekat. Lebih dekat. Makin dekat. Oh, tapi sayang, ia hanya melewatiku dan kemudian masuk ke sebuah tempat yang tak kuketahui. Langit pagiku menghilang.
***
Sudah kuceritakan tentang langit pagi yang menjelma menjadi sesosok mahkluk yang langka itu. Tak akan kuberitahu namanya. Sebut saja dia I! Pertama aku melihat I, ketika aku berjalan menuju sebuah masjid. Ketika itu malam hari. Sekitar pukul tujuh lebih sepuluh. Suara azan yang menuntunku menuju tempat itu. Kira-kira baru sampai pintu gerbang, suara yang tak kukenal tiba-tiba saja memanggilku dengan sebutan “om”. Aku menoleh. Sial, ternyata itu suara bocah yang ingin menjaga sandalku agar tak hilang dibawa maling. Konon, masjid ini sering didatangi maling sandal ketika orang sedang khusyuk-khusyuknya beribadah.
Setelah selesai beribadah, aku langsung keluar masjid sesudah membayar bocah itu dengan uang seribu atas jasanya. Malam itu cukup sepi, bulu kudukku berdiri ketika melewati pohon beringin yang usianya sudah berabad-abad lebih. Tepat pada persimpangan, aku berpapasan dengan seorang perempuan. Itu dia. Langit pagiku muncul selepas bakda isya. Entah kenapa, aku terus memandanginya. Ia hanya menatapku sekali. Mungkin ia jijik dengan pakaianku? Atau mungkin ia sudah mempunyai suami? Tak mungkin! Bisa kugambarkan dari wajahnya, usianya baru tujuh belas tahun, sama sepertiku. Tapi pada saat itu, ia melemparkan senyum pertamanya kepadaku. Tapi sayang, aku hanya fokus menatapi keindahannya, sampai-sampai tak membalas senyumannya.
***
Sejak peristiwa bakda isya itu, kini aku menguatkan diri untuk lebih jauh mengenalnya. Dan benar belaka, aku sempat berbicara dengannya. Bus metromini jurusan Rempoa-Blok M menjadi saksi pertamaku.
“Eh, kamu kok kelihatan familiar ya?” Suara itu tiba-tiba saja terdengar ketika aku duduk disebelahnya. Sungguh, aku tidak mengetahui kalau itu dia, langit pagiku.
“Ee, ah, iya, iya. Saya tahu kakak. Kakak yang pas tempo hari lewat depan masjid kan?” Aku bertanya seadaanya. Aku tak suka jika harus menggombal, apalagi menggombal di depan wanita yang baru saja kukenal.
“Jangan panggil kakak dong, kita kan seumuran.”
“Oh iya, iya, kenalin saya Marno.” Tanpa sengaja, tangan itu kusodorkan. Bodoh! Mengapa harus cepat-cepat? Aku mengutuki diriku sendiri. Dan benar. Ia tak mau meraih tanganku. Tanda sebuah perkenalan pertamaku.
“Saya…..”
Sudah kubilang tak akan kuberitahu namanya disini. Sebut saja dia I! Perkenalan pertamaku dengan I cukup sukses, meskipun ia tak mau meraih tanganku untuk memberitahu siapa namanya, cukup dengan kedua telapak tangannya dirapatkan dan menyentuh sedikit tanganku yang sudah terlanjur kusodorkan. Bus yang kunaiki, seolah berubah menjadi sebuah kendaraan dengan penyejuk yang ekstra dingin di dalamnya. Udara yang kuhirup dan kuhembuskan terasa sangat berbeda. Terus kutatap dia ketika asyik bercerita tentang dirinya dan kehidupannya. Oh, wajahnya aduhai, tinggi badannya semampai. Tak salah lagi, ia yang menyebabkan metromini jurusan Rempoa-Blok M ini berubah menjadi kendaraan dengan penyejuk yang luar biasa.
Banyak yang dibicarakan saat itu. Dia bercerita tentang segala hal. Sekolah, keluarga, teman, dan pertemuannya denganku bakda salat isya tempo hari. Tapi yang paling menarik perhatian adalah ketika ia bercerita perihal ayahnya yang akan segera mengawinkannya dengan seseorang.
“Jadi kamu disini gak lama?” Aku bertanya ingin tahu. Suara kondektur bus makin mengencang. Sama kencangnya dengan deru mesin yang dikemudikan supir.
“Ya begitu. Saya juga bingung, padahal saya mau lanjut kuliah dulu sebelum nikah. Saya kan gak mau jadi istri dengan pendidikan sebatas SMA. Malu sama anak-anak saya nanti.” Ia berbicara dengan penuh iba. Andai saja aku yang dijodohkan oleh ayahmu. Aku akan rela menunggu hingga engkau mendapat gelar professor sekalipun.
“Kalo boleh tau, eh…kamu dijodohin ama siapa?”
“Namanya Guntur. Dia dari Pandeglang. Kata bapak, dia pengusaha properti yang sukses. Tapi…”
“Tapi kamu gak setuju sama keputusan bapakmu?” Kata-kata itu keluar tanpa sengaja. Aku kembali mengutuki diriku. Tangan kanan kukepal dalam-dalam. Entah rasanya, kali ini aku ingin menggigit kepalaku yang botak ini. Bodoh!
“ Mungkin bisa dikatakan seperti itu. Tapi apa boleh buat, kini saya benar-benar tak bisa apa-apa. Saya udah gak dibolehin kuliah.” Ia merenung. Langit pagiku berubah. Sinarnya hilang entah kemana. Diganti dengan mendung yang datang merayapi wajah indahnya.
“Lho, kenapa begitu? Menurut saya, sebagai anak, kamu juga berhak untuk berpendapat. Ini negara berlandasan hukum. Demokrasi dijunjung tinggi-tinggi di sini. Kalau emang kamu bener-bener gak mau, tinggal ngomong aja, tapi dengan nada yang rendah.” Begitu kira-kira aku mempropagandakan dia. Sebenarnya, aku juga tak setuju I kawin dengan si Guntur itu. Kalau ia kawin, ia pasti akan dibawa Guntur ke Pandeglang. Dan langit pagiku akan menghilang.
“Tapi hukum yang berlaku di keluarga saya berbeda dengan ada yang di negara ini.” Perkataan itu tiba-tiba saja menghentakkan batinku. Ternyata masih ada hukum adat dalam sebuah perkawinan. Maksudnya, hukum dalam memilih jodoh. Disini, I tidak berperan dalam memilih jodohnya, melainkan orang tuanya yang aktif. Ia hanya diam ketika ayahnya akan mengawinkannya dengan Guntur, pemuda Pandeglang dengan usahanya dibidang properti.
Memang aku belum mengenal betul sosok Guntur sebelumnya. Tapi dari dalam metromini itu, aku bisa mengetahui Guntur dari cerita yang dituturkan I. I diberitahu ayahnya, kalau Guntur itu tipe yang pas buat dia. Wajahnya oriental, penampilan cool seperti anak zaman sekarang. Kata ayahnya, dia pengusaha properti yang cukup sukses di Pandeglang. Dan kini, ia sudah membuka empat cabang. Dua di Pandeglang, satu di Serang, satu lagi di Malang. Memang, kalau dari cerita yang dituturkan I kepadaku      pertama kali dituturkan oleh ayahnya, Guntur bisa dibilang pemuda dengan karir yang luar biasa. Umurnya hanya terpaut dua tahun dari I dan aku. Aku saja tak tahu bagaimana masa depanku dua tahun kedepan
Dari penceritaannya tadi, sebenarnya aku tak yakin kalau I kawin dengan Guntur, ia akan bahagia. Ah, jangan berburuk sangka dahulu! Belum tentu juga ia kawin. Barangkali, I mau mematuhi propagandaku tadi. Atau yang lebih parahnya, Guntur tiba-tiba saja mengalami kecelakaan ketika hendak berangkat ke tempat kerjanya, lalu meninggal di tempat. Sungguh peluang besar buatku. Tapi aku segera mengesampingkan itu semua. Aku jadi tak enak ketika melihat raut wajah I yang makin lama makin mendung. Oh, langit pagiku, tunjukan kembali sinarmu, cukup satu atau dua menit saja engkau bermendung durja.
***
Sudah hampir setengah jam lamanya kami bertukar kata di Metromini itu. Tapi tak satu pun kata yang kukeluarkan. Aku lebih asyik mendengarkan cerita sambil memandangi keindahannya. Tapi ketika ia menceritakan perihal bakal perkawinannya dengan Guntur, raut wajahnya tiba-tiba berubah, aku jadi tak sampai hati untuk melanjutkan percakapan kami. Dari situ, pikiranku mulai berpetualang kemana-mana, termasuk ketika aku bersanding dengannya dalam sebuah pelaminan. Entah kapan, entah dimana, entah dengan adat apa aku menikahinya. Aku kembali menatapnya. Oh, ia benar-benar seperti langit pagi, walau sekarang matahari sudah berada 180 derajat di atas metromini kami, rasanya cuaca sejuk disini seperti tak akan pernah pergi. 
“Ngomong-ngomong mau kemana?” Tanyaku selang beberapa menit, ketika tadi  kami berdua terdiam.
“Oh, saya mau ke Rempoa, abis itu lanjut ke Terminal Lebak Bulus.” Ia menjawab singkat. Wajah aduhai itu mulai menunjukkan kembali sinarnya.
“Oh gitu. Masih lama kok Rempoa. Ini aja masih di sekitar Mayestik. Di sini sering banget macet emang, jadi wajar lah!” Aku menambahkan. Sebenarnya aku mulai kikuk ketika berbicara empat mata dengannya. Ketika aku berbicara, ia pasti selalu memandangi mukaku. Entah apa yang dilihatnya. Mungkin ada kelabang di hidungku? Ada laron di kelopak mataku? Atau ada belatung di pori-pori pipiku? Entahlah.
***
Suara parau kondektur metromini menggelegar seisi ruangan. Sang supir terus memutar stir sambil mengelap lehernya yang mulai dilanda dahaga. Sesekali ia bernyanyi dengan Bahasa Batak untuk mendinginkan suasana. Satu per satu penumpang turun. Pertama, perempuan tua yang turun di depan pintu TPU Tanah Kusir. Nampaknya ia ingin segera memesan tanah untuknya kelak jika ia tak ada lagi di dunia ini, sebelum tanah di Jakarta digunakan untuk pembangunan sana-sini. Kedua, empat anak SMA yang turun di depan gerbang Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Veteran sambil tertawa cekikikan. Dan yang terakhir, karyawan dengan tas yang dijinjingnya. Ia turun di Jalan Veteran, perempatan Bintaro. Mungkin karena sedang terburu-buru, ia berlari menyeberangi lautan kendaraan ketika lampu merah sedang menyala.
“Nih dikit lagi udah mau sampai Rempoa.” Aku membuka perbincangan kami selanjutnya.
“Iya saya tahu.” Ia menjawab seadanya. Wajah mendungnya mulai terlihat kembali. Gawat! Apa yang telah aku lakukan, sehingga ia tidak menampilkan sinar paginya kembali?
“Kalo boleh saya tahu, kamu abis dari Rempoa kan ke Lebak Bulus, abis itu mau kemana?” Aku mencoba memperbaiki kesalahanku yang tadi.
“Saya mau ke Pandeglang.”
Aku tertegun ketika mendengar jawaban itu. Ingin rasanya aku bertanya lebih jauh lagi. Apa tujuannya ke Pandeglang? Mau apa dia disana? Siapa yang akan ditemuinya? Tapi tak kulakukan. Walau aku bukan suaminya, bahkan bukan kekasihnya, tapi jawaban tadi sangat mengganggu telingaku. Aku tidak bertanya lagi kemudian. Aku meluruskan pandanganku ke depan, pandangan ke arah jalan yang dilapisi aspal. Sesekali aku memandang ke arah luar jendela metromini, mencoba mencari oksigen untukku karena sekarang aku susah bernapas di dalam metromini ini. Dia sudah tidak menampilkan lagi sinar paginya. Hanya mendung yang kini menguasai wajahnya.
Setelah ia menjawab pertanyaanku terakhirku tadi, kami berdua berdiam diri. Seperti ada yang menghantamkan cangkul ke telingaku, jawaban ia mau ke Pandeglang itu, benar-benar keluar tak terduga. Aku tak habis sangka, ternyata sejauh ini, I benar-benar menyetujui kalau ia akan dikawinkan dengan Guntur. Tapi itu masih prasangka saja, karena tadi aku tak sempat bertanya kepadanya tentang apa yang akan dilakukannya di sana, siapa yang akan ditemuinya. Tidak! Tidak! Ia tidak mungkin kawin dengan Guntur. Mungkin ia hanya plesiran di sana. Tapi apa yang menjadi objek ia berplesiran itu?
Lama kami berdua membisu akibat sebuah kota bernama Pandeglang, kami akhirnya turun dari metromini itu ketika sudah mencapai pemberhentian terakhirnya. Kami tak mengeluarkan barang sepatah atau dua patah kata lagi. Perbincangan kami selesai ketika ia hendak memutuskan pergi ke Pandeglang seorang diri. Rasanya kota itu mulai membengkakkan telingaku.
Sekali lagi aku memandanginya. Jauh. Lebih jauh. Makin jauh. Oh, wajahnya masih aduhai, tinggi badannya tetap semampai. Ia kugambarkan seperti langit pagi dibandingkan burung cawai. Tapi kini, langit pagi itu menjauh ke seberang sana. Langit pagi itu pergi ke Terminal Lebak Bulus dan pergi lagi jauh menuju sebuah kota bernama Pandeglang. Entah apa yang dilakukannya di sana. Mulai sekarang, atau besok, atau bahkan lusa, Kota Pandeglang akan menyambut langit pagi itu. Langit pagiku.

Balkan Alwi


  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar