Sekali lagi aku
memandanginya. Dekat. Lebih dekat. Makin dekat. Oh, wajahnya aduhai, tinggi badannya semampai. Ia memakai jilbab
berwarna cerah. Ia kugambarkan seperti langit pagi dibandingkan burung cawai.
Jika memang ia langit pagi, akan kuhirup semua oksigen yang tersedia. Kunikmati
setiap tarikan dan hembusan napas. Tak akan kubagi dengan mahkluk lainnya,
karena ia langit pagiku.
Sama seperti sekarang.
Kali ini dia berjalan ke arahku. Aku terus memandanginya. Dekat. Lebih dekat.
Makin dekat. Oh, tapi sayang, ia
hanya melewatiku dan kemudian masuk ke sebuah tempat yang tak kuketahui. Langit
pagiku menghilang.
***
Sudah kuceritakan
tentang langit pagi yang menjelma menjadi sesosok mahkluk yang langka itu. Tak
akan kuberitahu namanya. Sebut saja dia I! Pertama aku melihat I, ketika aku
berjalan menuju sebuah masjid. Ketika itu malam hari. Sekitar pukul tujuh lebih
sepuluh. Suara azan yang menuntunku menuju tempat itu. Kira-kira baru sampai
pintu gerbang, suara yang tak kukenal tiba-tiba saja memanggilku dengan sebutan
“om”. Aku menoleh. Sial, ternyata itu suara bocah yang ingin menjaga sandalku
agar tak hilang dibawa maling. Konon, masjid ini sering didatangi maling sandal
ketika orang sedang khusyuk-khusyuknya beribadah.
Setelah selesai
beribadah, aku langsung keluar masjid sesudah membayar bocah itu dengan uang
seribu atas jasanya. Malam itu cukup sepi, bulu kudukku berdiri ketika melewati
pohon beringin yang usianya sudah berabad-abad lebih. Tepat pada persimpangan,
aku berpapasan dengan seorang perempuan. Itu dia. Langit pagiku muncul selepas
bakda isya. Entah kenapa, aku terus memandanginya. Ia hanya menatapku sekali. Mungkin
ia jijik dengan pakaianku? Atau mungkin ia sudah mempunyai suami? Tak mungkin!
Bisa kugambarkan dari wajahnya, usianya baru tujuh belas tahun, sama sepertiku.
Tapi pada saat itu, ia melemparkan senyum pertamanya kepadaku. Tapi sayang, aku
hanya fokus menatapi keindahannya, sampai-sampai tak membalas senyumannya.
***
Sejak peristiwa bakda
isya itu, kini aku menguatkan diri untuk lebih jauh mengenalnya. Dan benar
belaka, aku sempat berbicara dengannya. Bus metromini jurusan Rempoa-Blok M
menjadi saksi pertamaku.
“Eh, kamu kok kelihatan
familiar ya?” Suara itu tiba-tiba
saja terdengar ketika aku duduk disebelahnya. Sungguh, aku tidak mengetahui
kalau itu dia, langit pagiku.
“Ee, ah, iya, iya. Saya
tahu kakak. Kakak yang pas tempo hari lewat depan masjid kan?” Aku bertanya
seadaanya. Aku tak suka jika harus menggombal, apalagi menggombal di depan
wanita yang baru saja kukenal.
“Jangan panggil kakak
dong, kita kan seumuran.”
“Oh iya, iya, kenalin
saya Marno.” Tanpa sengaja, tangan itu kusodorkan. Bodoh! Mengapa harus
cepat-cepat? Aku mengutuki diriku sendiri. Dan benar. Ia tak mau meraih tanganku.
Tanda sebuah perkenalan pertamaku.
“Saya…..”
Sudah kubilang tak akan
kuberitahu namanya disini. Sebut saja dia I! Perkenalan pertamaku dengan I
cukup sukses, meskipun ia tak mau meraih tanganku untuk memberitahu siapa
namanya, cukup dengan kedua telapak tangannya dirapatkan dan menyentuh sedikit
tanganku yang sudah terlanjur kusodorkan. Bus yang kunaiki, seolah berubah
menjadi sebuah kendaraan dengan penyejuk yang ekstra dingin di dalamnya. Udara
yang kuhirup dan kuhembuskan terasa sangat berbeda. Terus kutatap dia ketika
asyik bercerita tentang dirinya dan kehidupannya. Oh, wajahnya aduhai, tinggi badannya semampai. Tak salah lagi, ia
yang menyebabkan metromini jurusan Rempoa-Blok M ini berubah menjadi kendaraan
dengan penyejuk yang luar biasa.
Banyak yang dibicarakan
saat itu. Dia bercerita tentang segala hal. Sekolah, keluarga, teman, dan
pertemuannya denganku bakda salat isya tempo hari. Tapi yang paling menarik
perhatian adalah ketika ia bercerita perihal ayahnya yang akan segera
mengawinkannya dengan seseorang.
“Jadi kamu disini gak
lama?” Aku bertanya ingin tahu. Suara kondektur bus makin mengencang. Sama
kencangnya dengan deru mesin yang dikemudikan supir.
“Ya begitu. Saya juga
bingung, padahal saya mau lanjut kuliah dulu sebelum nikah. Saya kan gak mau
jadi istri dengan pendidikan sebatas SMA. Malu sama anak-anak saya nanti.” Ia
berbicara dengan penuh iba. Andai saja
aku yang dijodohkan oleh ayahmu. Aku akan rela menunggu hingga engkau mendapat
gelar professor sekalipun.
“Kalo boleh tau, eh…kamu
dijodohin ama siapa?”
“Namanya Guntur. Dia
dari Pandeglang. Kata bapak, dia pengusaha properti yang sukses. Tapi…”
“Tapi kamu gak setuju
sama keputusan bapakmu?” Kata-kata itu keluar tanpa sengaja. Aku kembali
mengutuki diriku. Tangan kanan kukepal dalam-dalam. Entah rasanya, kali ini aku
ingin menggigit kepalaku yang botak ini. Bodoh!
“ Mungkin bisa
dikatakan seperti itu. Tapi apa boleh buat, kini saya benar-benar tak bisa
apa-apa. Saya udah gak dibolehin kuliah.” Ia merenung. Langit pagiku berubah.
Sinarnya hilang entah kemana. Diganti dengan mendung yang datang merayapi wajah
indahnya.
“Lho, kenapa begitu?
Menurut saya, sebagai anak, kamu juga berhak untuk berpendapat. Ini negara
berlandasan hukum. Demokrasi dijunjung tinggi-tinggi di sini. Kalau emang kamu
bener-bener gak mau, tinggal ngomong aja, tapi dengan nada yang rendah.” Begitu
kira-kira aku mempropagandakan dia. Sebenarnya, aku juga tak setuju I kawin
dengan si Guntur itu. Kalau ia kawin, ia pasti akan dibawa Guntur ke
Pandeglang. Dan langit pagiku akan menghilang.
“Tapi hukum yang
berlaku di keluarga saya berbeda dengan ada yang di negara ini.” Perkataan itu
tiba-tiba saja menghentakkan batinku. Ternyata masih ada hukum adat dalam
sebuah perkawinan. Maksudnya, hukum dalam memilih jodoh. Disini, I tidak
berperan dalam memilih jodohnya, melainkan orang tuanya yang aktif. Ia hanya
diam ketika ayahnya akan mengawinkannya dengan Guntur, pemuda Pandeglang dengan
usahanya dibidang properti.
Memang aku belum mengenal
betul sosok Guntur sebelumnya. Tapi dari dalam metromini itu, aku bisa mengetahui
Guntur dari cerita yang dituturkan I. I diberitahu ayahnya, kalau Guntur itu
tipe yang pas buat dia. Wajahnya oriental, penampilan cool seperti anak zaman sekarang. Kata ayahnya, dia pengusaha properti
yang cukup sukses di Pandeglang. Dan kini, ia sudah membuka empat cabang. Dua
di Pandeglang, satu di Serang, satu lagi di Malang. Memang, kalau dari cerita
yang dituturkan I kepadaku pertama
kali dituturkan oleh ayahnya, Guntur bisa dibilang pemuda dengan karir yang
luar biasa. Umurnya hanya terpaut dua tahun dari I dan aku. Aku saja tak tahu
bagaimana masa depanku dua tahun kedepan
***
Sudah hampir setengah
jam lamanya kami bertukar kata di Metromini itu. Tapi tak satu pun kata yang
kukeluarkan. Aku lebih asyik mendengarkan cerita sambil memandangi
keindahannya. Tapi ketika ia menceritakan perihal bakal perkawinannya dengan
Guntur, raut wajahnya tiba-tiba berubah, aku jadi tak sampai hati untuk
melanjutkan percakapan kami. Dari situ, pikiranku mulai berpetualang
kemana-mana, termasuk ketika aku bersanding dengannya dalam sebuah pelaminan.
Entah kapan, entah dimana, entah dengan adat apa aku menikahinya. Aku kembali
menatapnya. Oh, ia benar-benar
seperti langit pagi, walau sekarang matahari sudah berada 180 derajat di atas
metromini kami, rasanya cuaca sejuk disini seperti tak akan pernah pergi.
“Ngomong-ngomong mau
kemana?” Tanyaku selang beberapa menit, ketika tadi kami berdua terdiam.
“Oh, saya mau ke
Rempoa, abis itu lanjut ke Terminal Lebak Bulus.” Ia menjawab singkat. Wajah
aduhai itu mulai menunjukkan kembali sinarnya.
“Oh gitu. Masih lama
kok Rempoa. Ini aja masih di sekitar Mayestik. Di sini sering banget macet
emang, jadi wajar lah!” Aku menambahkan. Sebenarnya aku mulai kikuk ketika berbicara
empat mata dengannya. Ketika aku berbicara, ia pasti selalu memandangi mukaku.
Entah apa yang dilihatnya. Mungkin ada kelabang di hidungku? Ada laron di
kelopak mataku? Atau ada belatung di pori-pori pipiku? Entahlah.
***
Suara parau kondektur
metromini menggelegar seisi ruangan. Sang supir terus memutar stir sambil mengelap
lehernya yang mulai dilanda dahaga. Sesekali ia bernyanyi dengan Bahasa Batak
untuk mendinginkan suasana. Satu per satu penumpang turun. Pertama, perempuan
tua yang turun di depan pintu TPU Tanah Kusir. Nampaknya ia ingin segera
memesan tanah untuknya kelak jika ia tak ada lagi di dunia ini, sebelum tanah
di Jakarta digunakan untuk pembangunan sana-sini. Kedua, empat anak SMA yang
turun di depan gerbang Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti Veteran sambil
tertawa cekikikan. Dan yang terakhir, karyawan dengan tas yang dijinjingnya. Ia
turun di Jalan Veteran, perempatan Bintaro. Mungkin karena sedang terburu-buru,
ia berlari menyeberangi lautan kendaraan ketika lampu merah sedang menyala.
“Nih dikit lagi udah
mau sampai Rempoa.” Aku membuka perbincangan kami selanjutnya.
“Iya saya tahu.” Ia
menjawab seadanya. Wajah mendungnya mulai terlihat kembali. Gawat! Apa yang
telah aku lakukan, sehingga ia tidak menampilkan sinar paginya kembali?
“Kalo boleh saya tahu,
kamu abis dari Rempoa kan ke Lebak Bulus, abis itu mau kemana?” Aku mencoba
memperbaiki kesalahanku yang tadi.
“Saya mau ke Pandeglang.”
Aku tertegun ketika
mendengar jawaban itu. Ingin rasanya aku bertanya lebih jauh lagi. Apa
tujuannya ke Pandeglang? Mau apa dia disana? Siapa yang akan ditemuinya? Tapi
tak kulakukan. Walau aku bukan suaminya, bahkan bukan kekasihnya, tapi jawaban
tadi sangat mengganggu telingaku. Aku tidak bertanya lagi kemudian. Aku meluruskan
pandanganku ke depan, pandangan ke arah jalan yang dilapisi aspal. Sesekali aku
memandang ke arah luar jendela metromini, mencoba mencari oksigen untukku
karena sekarang aku susah bernapas di dalam metromini ini. Dia sudah tidak
menampilkan lagi sinar paginya. Hanya mendung yang kini menguasai wajahnya.
Setelah ia menjawab
pertanyaanku terakhirku tadi, kami berdua berdiam diri. Seperti ada yang
menghantamkan cangkul ke telingaku, jawaban ia mau ke Pandeglang itu,
benar-benar keluar tak terduga. Aku tak habis sangka, ternyata sejauh ini, I
benar-benar menyetujui kalau ia akan dikawinkan dengan Guntur. Tapi itu masih
prasangka saja, karena tadi aku tak sempat bertanya kepadanya tentang apa yang
akan dilakukannya di sana, siapa yang akan ditemuinya. Tidak! Tidak! Ia tidak
mungkin kawin dengan Guntur. Mungkin ia hanya plesiran di sana. Tapi apa yang
menjadi objek ia berplesiran itu?
Lama kami berdua
membisu akibat sebuah kota bernama Pandeglang, kami akhirnya turun dari
metromini itu ketika sudah mencapai pemberhentian terakhirnya. Kami tak
mengeluarkan barang sepatah atau dua patah kata lagi. Perbincangan kami selesai
ketika ia hendak memutuskan pergi ke Pandeglang seorang diri. Rasanya kota itu
mulai membengkakkan telingaku.
Sekali lagi aku
memandanginya. Jauh. Lebih jauh. Makin jauh. Oh, wajahnya masih aduhai, tinggi badannya tetap semampai. Ia kugambarkan
seperti langit pagi dibandingkan burung cawai. Tapi kini, langit pagi itu
menjauh ke seberang sana. Langit pagi itu pergi ke Terminal Lebak Bulus dan pergi
lagi jauh menuju sebuah kota bernama Pandeglang. Entah apa yang dilakukannya di
sana. Mulai sekarang, atau besok, atau bahkan lusa, Kota Pandeglang akan
menyambut langit pagi itu. Langit pagiku.
Balkan
Alwi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar