Senin, 25 Februari 2013

Bendera



Anak kecil itu berdiri di balik sebuah pagar tinggi yang pada pertengahannya terdapat celah-celah dari pipa-pipa besi yang dibuat pada bagian atas pagar. Dilihatnya ke dalam, ratusan anak-anak berseragam putih-putih sedang berbaris mengikuti alunan lagu Indonesia Raya yang menyeruak di udara bersama tangan-tangan kanan kecil mereka yang terlipat manis di pelipis menghormati bendera merah-putih yang terus ditarik menuju tiang teratas. Anak itu melihatnya dengan mata yang begitu sendu, terlintas bagaimana sebuah ingatan beberapa hari silam membayang di pikirannya.
                Walaupun biaya sekolah telah gratis namun Ibu tidak dapat membelikankan kamu seragam untuk bersekolah…., itulah ucapan sang Ibu yang terus terbayang ketika ia melihat teman-teman sebayanya bersekolah. Satu kotak donat telah habis di pangkuannya, kini tinggal satu kotak kurang lagi donat yang harus ia jajakan mengitari perkampungan dan juga di halaman luar sekolah ini.
                Matahari di atas seakan membuat kita tahu bahwa waktu seakan telah beranjak menuju siang. Anak kecil itu tidak berjalan menjajakkan donatnya mengelilingi perkampungan, ia hanya berdiri di luar pagar sekolahan  memperhatikan bendera merah-putih yang terus berkibar di atas tiang sana karena tiupan angin yang begitu kencang tanpa diterhalang apapun.
                Setiap hembusan angin yang begitu kencang menyerbu setiap penjuru bendera si atas tiang sana seakan memberikan sesuatu ke dalam benak anak itu. Setiap detiknya sesuatu itu semakin deras menabrak benaknya sehingga dengan seketika wajah anak itu tiba-tiba saja menengok ke kanan dan kiri memperhatikan suasana sekolah yang begitu sepi aktivitasnya, kecuali yang berada di dalam kelas dan beberapa penjual mainan di samping kanan dan kirinya yang tengah sibuk tanpa melakukan apapun.
 Mencuri bendera yang berkibar megah di atas tiang bendera sana itulah yang terbesit dari keinginan anak itu. Ia memanjat pagar sekolahan ketika penjaga sekolah tengah pergi dari pos tempatnya berjaga. Dan diam-diam menurunkan bendera dari atas tiangnya dan kembali pergi sebelum orang-orang menyadari bahwa ada yang mencuri bendera.

“Assalamulaikum…” ucap anak itu sembari membuka pintu rumah.
“Waalaikum salam…” jawab sebuah suara hangat Ibunya sembari mengusap-usap tangannya yang penuh tepung karena sedang menggoreng beberapa donat yang akan dijual untuk besok, “sudah habis semua nak?”.
“Sudah Bu, ini uangnya” anak itu memberikan uang hasil berjualan donat pada Ibunya dan meletakkan kotak donat di atas meja.
“Alhamdulillah, itu apa nak?” Ibunya menunjuk pada sebuah plastic hitam di tangan anak itu.
“Ohh i.. ini Bu, Yandi dapat kain dari tetangga. Katanya ini bisa dibuat seragam sekolah buat Yandi” agak kikuk jawab anak itu.
“Mana coba Ibu lihat?” anak yang bernama Yandi itu memberikan sebuah plastic hitam pada Ibunya, “lho inikan bendera nak?”.
“I.. iya Bu”.
“Memang siapa yang memberikannya?”.
“Tadi pas Yandi berjualan donat, ada orang yang memberikannya Bu, Buat Yandi”.
“Lho katanya dari tetangga?” agak mengernyitkan dahinya Ibu Yandi.
“Iya Bu, soalnya orang itu baik jadi Yandi bilang dia tetangga Bu”.
                “Alhamdulillah, nanti Ibu bawa ke pejahit ya biar Yandi besok bisa sekolah”.
                “Iya Bu” sebuah senyum senang keluar dari wajah anak itu.

                Beberapa suara pintu diketuk berbunyi dari sebuah pintu ruangan Kepala sekolah.“Ya silahkan masuk” ucap Kepala sekolah. Ibu dan anak masuk ke dalam ruangan itu. “Silahkan duduk Bu” ucap Kepala sekolah dengan ramah, “Ada yang bisa saya bantu Bu?”.
                “Ini Pak, anak saya Yandi ingin mendafar masuk ke sekolah ini”.
                “Ohh iya Bu, silahkan isi beberapa formulir ini dulu” Kepala sekolah menyodorkan beberapa lembar kertas beserta dengan pulpen, “Namanya Yandi ya Bu?.
                “Iya Pak” jawab singkat dari Ibu Yandi.
                “Baru sekolah tahun ini ya?”.
                “Iya”.
                “Tapi bagus juga, padahal belum menginjak sekolah tapi sudah bisa baca dan tulis. Jadi tidak perlu ikut pendaftran siswa baru tahun depan, sekarang pun langsung dapat diterima”.
                “Ini Pak, sudah selesai diisi”.
                “O iya terima kasih Bu. Silahkan nanti saya antar Yandi ke kelasnya” Kepala sekolah membimbing anak dan Ibu itu keluar dari ruangannya, membawanya ke kelas nanti tempat Yandi belajar, “o iya Bu. Ibu sudah dengar berita buruk yang terjadi di sekolah ini?”.
                “Belum Pak, memang berita buruk seperti apa?”.
                “Ya beberapa hari yang lalu ada pencurian bendera di sekolah ini”.
                “Astaga, bendera merah-putih Pak” sejurus sebuah pikiran tidak menyenangkan melintas dibenak sang Ibu terhadap anaknya, Yandi.
                “Iya Bu. Nah mari ini sudah sampai kelasnya. Mulai dari sini Ibu sudah bisa percaya kepada kami untuk membimbing anak Ibu”.
                “Ya Pak, terima kasih. Yandi Ibu pulang dulu ya”.
                “Iya Bu”.
                “Kamu belajar yang benar ya nak”.
                “Ya Bu” sebelum Ibunya pergi Yandi mencium tangan Ibunya dan ikut bersama Kepala sekolah masuk ke dalam kelas.
                “Perkenalkan anak-anak ini ada teman baru yang baru masuk sekolah hari ini. Namanya Yandi” ucap Kepala Sekolah di depan kelas, “Silahkan duduk di sana” sembari menunjuk kea rah bangku kosong di sebelah anak di sudut kelas. “Mohon maaf Bu. Silahkan dilanjutkan pelajarannya”.
                “Baik Pak”.
                Kepala Sekolah meninggalkan ruangan pelajaran.
                “Nah naik anak-anak tidak usah ribut. Nanti saja perkenalannya setelah pelajaran usai”.
                “Baik Bu”.
                Pelajaran pun kembali dimulai dengan Ibu Guru menjelaskan beberapa lembar dari buku LKS.
                “Eh nama aku Dani” seorang anak di samping Yandi agak berbisik.
                “Namaku Yandi”.
                Tangan Dani menyentuh baju Yandi dengan sengaja, “kok baju kamu bahannya beda ya dengan baju aku. Punya kamu seperti bahan bendera ya?”.ber
                “Ahh bukan kok!’ agak panik wajah Yandi mendengar ucapan Dani.
                “Iya aku tahu kok. Soalnya kemarin aku yang jadi pengibar bendera”.
                “Ah bukan kok!”.
                “Kamu bohong ya?” agak keras tangan Dani menarik baju Yandi.
                “Nggak kok!” dengan sekuat tenaga Yandi mencoba melepaskan tangan Dani dari bajunya.
                “Bohong kamu! Jangan-jangan bendera kemarin yang hilang kamu yang mencurinya?!”.

                “Bukan!”.
                “Ayo mengaku saja kamu!” Dani tetap tidak mau melepaskan tangannya dari baju Yandi. Tiba-tiba Yandi yang merasa marah, mendorong tubuh Dani hingga terjatuh ke lantai. Terdengar pula baju Yandi yang sobek.
                “Ada apa ini?” teriak Bu Guru.
                “Itu Bu, Yandi ternyata yang mencuri bendera kemarin yang hilang!”.
                Yandi yang begitu kaget seakan-akan terlihat begitu pucat wajahnya. Segera ia berdiri dari bangkunya dan langsung berlari keluar ruangan.
                “Yandi mau ke mana kamu?!” ucap Bu Guru, “Dani apa-apaan kamu ini?!”.
                “Benar Bu, Yandi yang mencuri bendera sekolah kemarin! Ini buktinya” Dani berjalan perlahan mendekati Bu Guru sembari menyerahkan sobekan baju Yandi.
                “MasyaAllah” Bu Guru melihat sobekan baju Yandi, “cepat kalian cari Yandi. Ibu akan pergi menemui Pak Kepala Sekolah.
                Percakapan di ruang kepala sekolah terjadi begitu hebat. Di sana hampir semua guru meninggalkan ruangannya dan beradu argumen.
                “Sudah Bapak-bapak dan Ibu-ibu, tidak perlu diributkan seperti ini. Mungkin Yandi mendapatkannya dari tempat lain” Kepala Sekolah menenangkan suasana.
                “Tidak mungkin Pak. Sekolah satu-satunya yang ada di daerah ini hanya satu dan sekolah lainnya jaraknya begitu jauh”.
                “Baiklah kalau begitu, kita buktikan saja pendapat kita masing-masing” keringat dingin keluar dari dahi Kepala Sekolah, “Pak Rustam, bapak sebagai Pembina osis di sekolah ini pasti mengenali cirri-ciri bendera kita yang hilang bukan?”.
                “Tentu saja Pak. Di ujung sebelah kiri bendera sekolah kita terdapat tanda melintang bergaris hijau yang begitu tipis. Bila mata kita tidak teliti melihatnya mungkin garis itu tidak akan terlihat”.
                “Baiklah kita tunggu orangtua dari anak tersebut yang sedang dipanggil Pak penjaga sekolah”.
                Pintu ruangan kepala sekolah dibuka oleh Yandi yang masuk dengan wajah tertunduk. Tak berapa lama Ibu Yandi memasuki ruangan.
                “Pak apa yang terjadi dengan anak saya?!” begitu khawatir wajah Ibu Yandi.
                “Mohon Ibu untuk duduk sejenak” Ibu Yandi duduk di hadapan Kepala Sekolah.
                “Silahkan Pak Rustam untuk mengecek baju Yandi”.
                “Lho memangnya ada apa ini Pak?!”.
                “Tenanglah sejenak Bu. Ibu sudah tahu bukan kasus tentang pencurian bendera di sekolah kami”.
                “Ya?!”.
                Kepala Sekolah mengangguk dan segera mengalihkan perhatiannya pada Pak Rustam yang sedang meneliti baju Yandi. Ibu Yandi hanya menlihat Yandi dengan tatapan tajam. Yandi tertunduk lesu.
                “Benar Pak. Ini tandanya” Pak Rustam menunjukkan sebuah garis tipis di balik baju Yandi.
                “MasyaAllah!” sebuah tatapan tiba-tiba saja di arahkan kepada Ibu Yandi.
                “Itu apa Pak?!” tanya Ibu Yandi penasaran.
                “Ini tanda bahwa bahan kain yang dipakai Yandi adalah bendera sekolah yang hilang kemarin”.
                “Astaga Yandi” air mata Ibu Yandi keluar tak tertahankan. Yandi yang dari tadi telah tertunduk meneteskan air mata yang membasahi lantai ruangan.
                “Kami dengan berat hati memohon maaf untuk Ibu dan Yandi. Kami tidak bisa menerima seorang siswa yang memiliki perilaku buruk di sekolah ini. Kami sekali lagi memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu dan Yandi” agak berat terasa suara Kepala Seolah,”kami berjanji tidak akan memanggil pihak kepolisian”.



Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar