Anak kecil itu berdiri di balik
sebuah pagar tinggi yang pada pertengahannya terdapat celah-celah dari
pipa-pipa besi yang dibuat pada bagian atas pagar. Dilihatnya ke dalam, ratusan
anak-anak berseragam putih-putih sedang berbaris mengikuti alunan lagu
Indonesia Raya yang menyeruak di udara bersama tangan-tangan kanan kecil mereka
yang terlipat manis di pelipis menghormati bendera merah-putih yang terus ditarik
menuju tiang teratas. Anak itu melihatnya dengan mata yang begitu sendu,
terlintas bagaimana sebuah ingatan beberapa hari silam membayang di pikirannya.
Walaupun
biaya sekolah telah gratis namun Ibu tidak dapat membelikankan kamu seragam
untuk bersekolah…., itulah ucapan sang Ibu yang terus terbayang ketika ia
melihat teman-teman sebayanya bersekolah. Satu kotak donat telah habis di
pangkuannya, kini tinggal satu kotak kurang lagi donat yang harus ia jajakan
mengitari perkampungan dan juga di halaman luar sekolah ini.
Matahari
di atas seakan membuat kita tahu bahwa waktu seakan telah beranjak menuju
siang. Anak kecil itu tidak berjalan menjajakkan donatnya mengelilingi
perkampungan, ia hanya berdiri di luar pagar sekolahan memperhatikan bendera merah-putih yang terus
berkibar di atas tiang sana karena tiupan angin yang begitu kencang tanpa
diterhalang apapun.
Setiap
hembusan angin yang begitu kencang menyerbu setiap penjuru bendera si atas
tiang sana seakan memberikan sesuatu ke dalam benak anak itu. Setiap detiknya
sesuatu itu semakin deras menabrak benaknya sehingga dengan seketika wajah anak
itu tiba-tiba saja menengok ke kanan dan kiri memperhatikan suasana sekolah
yang begitu sepi aktivitasnya, kecuali yang berada di dalam kelas dan beberapa penjual
mainan di samping kanan dan kirinya yang tengah sibuk tanpa melakukan apapun.
Mencuri bendera yang berkibar megah di atas
tiang bendera sana itulah yang terbesit dari keinginan anak itu. Ia memanjat
pagar sekolahan ketika penjaga sekolah tengah pergi dari pos tempatnya berjaga.
Dan diam-diam menurunkan bendera dari atas tiangnya dan kembali pergi sebelum
orang-orang menyadari bahwa ada yang mencuri bendera.
“Assalamulaikum…” ucap anak itu
sembari membuka pintu rumah.
“Waalaikum salam…” jawab sebuah suara
hangat Ibunya sembari mengusap-usap tangannya yang penuh tepung karena sedang
menggoreng beberapa donat yang akan dijual untuk besok, “sudah habis semua
nak?”.
“Sudah Bu, ini uangnya” anak itu
memberikan uang hasil berjualan donat pada Ibunya dan meletakkan kotak donat di
atas meja.
“Alhamdulillah, itu apa nak?”
Ibunya menunjuk pada sebuah plastic hitam di tangan anak itu.
“Ohh i.. ini Bu, Yandi dapat kain
dari tetangga. Katanya ini bisa dibuat seragam sekolah buat Yandi” agak kikuk
jawab anak itu.
“Mana coba Ibu lihat?” anak yang
bernama Yandi itu memberikan sebuah plastic hitam pada Ibunya, “lho inikan
bendera nak?”.
“I.. iya Bu”.
“Memang siapa yang memberikannya?”.
“Tadi pas Yandi berjualan donat,
ada orang yang memberikannya Bu, Buat Yandi”.
“Lho katanya dari tetangga?” agak
mengernyitkan dahinya Ibu Yandi.
“Iya Bu, soalnya orang itu baik
jadi Yandi bilang dia tetangga Bu”.
“Alhamdulillah,
nanti Ibu bawa ke pejahit ya biar Yandi besok bisa sekolah”.
“Iya
Bu” sebuah senyum senang keluar dari wajah anak itu.
Beberapa
suara pintu diketuk berbunyi dari sebuah pintu ruangan Kepala sekolah.“Ya
silahkan masuk” ucap Kepala sekolah. Ibu dan anak masuk ke dalam ruangan itu.
“Silahkan duduk Bu” ucap Kepala sekolah dengan ramah, “Ada yang bisa saya bantu
Bu?”.
“Ini
Pak, anak saya Yandi ingin mendafar masuk ke sekolah ini”.
“Ohh
iya Bu, silahkan isi beberapa formulir ini dulu” Kepala sekolah menyodorkan
beberapa lembar kertas beserta dengan pulpen, “Namanya Yandi ya Bu?.
“Iya
Pak” jawab singkat dari Ibu Yandi.
“Baru
sekolah tahun ini ya?”.
“Iya”.
“Tapi
bagus juga, padahal belum menginjak sekolah tapi sudah bisa baca dan tulis.
Jadi tidak perlu ikut pendaftran siswa baru tahun depan, sekarang pun langsung
dapat diterima”.
“Ini
Pak, sudah selesai diisi”.
“O iya
terima kasih Bu. Silahkan nanti saya antar Yandi ke kelasnya” Kepala sekolah
membimbing anak dan Ibu itu keluar dari ruangannya, membawanya ke kelas nanti
tempat Yandi belajar, “o iya Bu. Ibu sudah dengar berita buruk yang terjadi di
sekolah ini?”.
“Belum
Pak, memang berita buruk seperti apa?”.
“Ya
beberapa hari yang lalu ada pencurian bendera di sekolah ini”.
“Astaga,
bendera merah-putih Pak” sejurus sebuah pikiran tidak menyenangkan melintas
dibenak sang Ibu terhadap anaknya, Yandi.
“Iya
Bu. Nah mari ini sudah sampai kelasnya. Mulai dari sini Ibu sudah bisa percaya
kepada kami untuk membimbing anak Ibu”.
“Ya
Pak, terima kasih. Yandi Ibu pulang dulu ya”.
“Iya
Bu”.
“Kamu
belajar yang benar ya nak”.
“Ya Bu”
sebelum Ibunya pergi Yandi mencium tangan Ibunya dan ikut bersama Kepala
sekolah masuk ke dalam kelas.
“Perkenalkan
anak-anak ini ada teman baru yang baru masuk sekolah hari ini. Namanya Yandi”
ucap Kepala Sekolah di depan kelas, “Silahkan duduk di sana” sembari menunjuk
kea rah bangku kosong di sebelah anak di sudut kelas. “Mohon maaf Bu. Silahkan
dilanjutkan pelajarannya”.
“Baik
Pak”.
Kepala
Sekolah meninggalkan ruangan pelajaran.
“Nah
naik anak-anak tidak usah ribut. Nanti saja perkenalannya setelah pelajaran
usai”.
“Baik
Bu”.
Pelajaran
pun kembali dimulai dengan Ibu Guru menjelaskan beberapa lembar dari buku LKS.
“Eh
nama aku Dani” seorang anak di samping Yandi agak berbisik.
“Namaku
Yandi”.
Tangan
Dani menyentuh baju Yandi dengan sengaja, “kok baju kamu bahannya beda ya
dengan baju aku. Punya kamu seperti bahan bendera ya?”.ber
“Ahh
bukan kok!’ agak panik wajah Yandi mendengar ucapan Dani.
“Iya
aku tahu kok. Soalnya kemarin aku yang jadi pengibar bendera”.
“Ah
bukan kok!”.
“Kamu
bohong ya?” agak keras tangan Dani menarik baju Yandi.
“Nggak kok!” dengan sekuat tenaga Yandi
mencoba melepaskan tangan Dani dari bajunya.
“Bohong
kamu! Jangan-jangan bendera kemarin yang hilang kamu yang mencurinya?!”.
“Bukan!”.
“Ayo
mengaku saja kamu!” Dani tetap tidak mau melepaskan tangannya dari baju Yandi.
Tiba-tiba Yandi yang merasa marah, mendorong tubuh Dani hingga terjatuh ke
lantai. Terdengar pula baju Yandi yang sobek.
“Ada
apa ini?” teriak Bu Guru.
“Itu
Bu, Yandi ternyata yang mencuri bendera kemarin yang hilang!”.
Yandi
yang begitu kaget seakan-akan terlihat begitu pucat wajahnya. Segera ia berdiri
dari bangkunya dan langsung berlari keluar ruangan.
“Yandi
mau ke mana kamu?!” ucap Bu Guru, “Dani apa-apaan kamu ini?!”.
“Benar
Bu, Yandi yang mencuri bendera sekolah kemarin! Ini buktinya” Dani berjalan
perlahan mendekati Bu Guru sembari menyerahkan sobekan baju Yandi.
“MasyaAllah”
Bu Guru melihat sobekan baju Yandi, “cepat kalian cari Yandi. Ibu akan pergi
menemui Pak Kepala Sekolah.
Percakapan
di ruang kepala sekolah terjadi begitu hebat. Di sana hampir semua guru
meninggalkan ruangannya dan beradu argumen.
“Sudah
Bapak-bapak dan Ibu-ibu, tidak perlu diributkan seperti ini. Mungkin Yandi
mendapatkannya dari tempat lain” Kepala Sekolah menenangkan suasana.
“Tidak
mungkin Pak. Sekolah satu-satunya yang ada di daerah ini hanya satu dan sekolah
lainnya jaraknya begitu jauh”.
“Baiklah
kalau begitu, kita buktikan saja pendapat kita masing-masing” keringat dingin
keluar dari dahi Kepala Sekolah, “Pak Rustam, bapak sebagai Pembina osis di
sekolah ini pasti mengenali cirri-ciri bendera kita yang hilang bukan?”.
“Tentu
saja Pak. Di ujung sebelah kiri bendera sekolah kita terdapat tanda melintang
bergaris hijau yang begitu tipis. Bila mata kita tidak teliti melihatnya
mungkin garis itu tidak akan terlihat”.
“Baiklah
kita tunggu orangtua dari anak tersebut yang sedang dipanggil Pak penjaga
sekolah”.
Pintu
ruangan kepala sekolah dibuka oleh Yandi yang masuk dengan wajah tertunduk. Tak
berapa lama Ibu Yandi memasuki ruangan.
“Pak
apa yang terjadi dengan anak saya?!” begitu khawatir wajah Ibu Yandi.
“Mohon
Ibu untuk duduk sejenak” Ibu Yandi duduk di hadapan Kepala Sekolah.
“Silahkan
Pak Rustam untuk mengecek baju Yandi”.
“Lho
memangnya ada apa ini Pak?!”.
“Tenanglah
sejenak Bu. Ibu sudah tahu bukan kasus tentang pencurian bendera di sekolah
kami”.
“Ya?!”.
Kepala
Sekolah mengangguk dan segera mengalihkan perhatiannya pada Pak Rustam yang
sedang meneliti baju Yandi. Ibu Yandi hanya menlihat Yandi dengan tatapan
tajam. Yandi tertunduk lesu.
“Benar
Pak. Ini tandanya” Pak Rustam menunjukkan sebuah garis tipis di balik baju
Yandi.
“MasyaAllah!”
sebuah tatapan tiba-tiba saja di arahkan kepada Ibu Yandi.
“Itu
apa Pak?!” tanya Ibu Yandi penasaran.
“Ini
tanda bahwa bahan kain yang dipakai Yandi adalah bendera sekolah yang hilang
kemarin”.
“Astaga
Yandi” air mata Ibu Yandi keluar tak tertahankan. Yandi yang dari tadi telah
tertunduk meneteskan air mata yang membasahi lantai ruangan.
“Kami
dengan berat hati memohon maaf untuk Ibu dan Yandi. Kami tidak bisa menerima
seorang siswa yang memiliki perilaku buruk di sekolah ini. Kami sekali lagi
memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Ibu dan Yandi” agak berat terasa
suara Kepala Seolah,”kami berjanji tidak akan memanggil pihak kepolisian”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar