Aku masih
menikmati kopi pertamaku di pagi ini. Rasanya masih saja pahit sama seperti
ingatanku yang sedang melanglang buana ke sana ke mari lalu tertuju pada masa
kelam 1 tahun lalu, masa di mana di Negara ini masih hitam, kelam, dan pahit
tentunya seperti kopi ini. Andai saja aku tidak mengalami tragedi itu, tentulah
hidupku sekarang teramat bangga dan tidak sering meminum kopi pahit, melainkan
anggur prancis mungkin. Tragedi naas
yang menimpaku di Februari 1997 itu.
Aku
masih ingat malam itu. malam yang sangat gelap di Sarajevo. Kami semua masih
berjalan mengendap-ngendap agar bisa keluar dari kota ini menuju bandara,
karena kami ingin terbang ke Negara tetangga kami Kroasia. Agar bisa keluar
dari kota ini pula kami harus melewati penjagaan ketat tentara Serbia dan
tentunya tentara PBB yang tidak menginginkan siapapun keluar dan masuk dari
atau ke Sarajevo ini. Sial memang bagi kami di tengah keadaan perang yang
seharusnya sudah berakhir ini kami harus mengemban misi negara. Di tengah
perang ini pula kami di haruskan berlatih keras, walaupun hanya di dalam sebuah
hall basket yang tidak terlalu jauh dari tempat hujannya peluru. Ironis memang,
tapi kami memang harus melakukan itu agar bisa mempromosikan Negara kami yang
sangat baru saja merdeka tapi masih sedikit dilanda perang ini.
Dalam
perjalanan mengendap-ngendap ini kami diharuskan membawa ransel berat berisi logistik
dan perlengkapan untuk menyukseskan misi kami yang banyak sekali. Dalam
pengendapan itu aku berada di urutan agak belakang dari 28 anggota kami ini,
naas sekali nasibku. Ketika pengendapan akan sampai, sialnya kami diharuskan
melewati lapangan yang dijaga ketat oleh tentara Serbia. Jadilah kami merangkak
untuk dapat berhasil melewati lapangan itu.Ketika kami sudah berhasil melewati
lapangan itu, kami harus melewati pagar yang di jaga oleh para tentara PBB.
Tapi ternyata untuk melewati penjagaan mereka sangat tidak mudah, mereka
mempunyai tank yang lampu sorotnya beradius ratusan meter. Sehingga ada
beberapa orang dari kami yang ada di bagian depan tertangkap oleh mereka. Dan
langsung dibawa ke dalam pengungsian sipil di dalam kota. Berkuranglah anggota
tim kami ini, semakin membuat kami takut saja. Tapi untungnya tak sia-sia kami
mempunyai pelatih yang cukup pintar. Dia memberikan kami sebuah cara mengelabui para tentara PBB
ini.
“Hey coba ketika
lampu sorot dari tank itu mengarah ke sini, kalian coba berlagak seperti akan
masuk ke Sarajevo. Cepat!” Ujar pelatihku saat itu
Lalu
kami melakukan perintahnya, dan ternyata benar, kami berhasil mengelabui
tentara PBB . ternyata tentara PBB mengira kami adalah orang asing yang akan
masuk ke Sarajevo, makanya dengan tegas mereka langsung menyuruh kami keluar.
Dengan senang hati kami pun berhasil keluar dan melanjutkan pengendapan ini
menuju ke Bandara. Tapi hati sudah sedikit lega berada di zona bebas di luar
area Sarajevo, ternyata kami harus kembali bertemu dengan tentara Serbia yang
menjaga satu-satunya jalan menuju bandara ini. Karna tentara Serbia juga tidak mau
ada rakyat yang keluar Sarajevo sembarangan karena mereka masih menguasai area
di sekitarnya. Tapi disatu sisi juga kami harus memaksakan diri melewati mereka
karena pesawat yang sudah di sewa pemerintah untuk kami pergi ke Zagreb harus
berangkat malam ini juga, karena jika esok pagi akan banyak tentara PBB yang
keluar masuk bandara.
Lalu akhirnya kami memutuskan
untuk melewati rawa-rawa di samping jalan itu sambil kembali lagi merangkak
dengan jarak yg untungnya lebih dekat. Daripada mati pikir kami lebih baik kami
merangkak saja. Tapi ternyata tentara Serbia yang kali ini menjaga jalan itu
tidak sebodh yang menjaga lapangan. Ternyata mereka berhasil menemukan sebagian
dari kami. Dan sial bagiku karena yang mereka lihat adalah para pria di bagian
belakangtermasuk aku. Dan kebetulan jarak yang ditinggalkan oleh bagian depan
cukup jauh. Keteka mereka berhasil melihat kami mereka langsung menyenter dan
mencoba menembaki kami. Kami pun langsung saja mencoba berlari seepat mungkin
di tengah sawah yang licin sambil membawa beban yang sangat berat. Ternyata
para anggota kami yang berada di depan mengetahui hal ini dan sesegera mereka
langsung berlari dan melompat pagar untuk masuk ke dalam area belakang bandara.
Dengan berlari ditengah rawa sambil memikul beban yang berat kami yang berada
di bagian belakang ini kewalahan menghindar agar tak tertembak.
Sudah hampir
berhasil kami melarikan diri, tapi sial menimpaku dan satu orang temanku.
Temanku punggungnya mengenai tembakan yang membuatnya jatuh sehingga aku yang
berada di belakangnya ikut pula terjatuh. Sial bagiku etika aku mencoba bangun
dan berdiri kembali, tembakan makin banyak menghujam. Beberapa langkah aku
berlari, betis kananku terkena peluru tentara Serbia. Tak dapat aku berlari
lagi, terperosok lah aku ke dalam rawa itu.
“Ravic cepat
bangun, ayo kita susul mereka. Mereka sudah cukup jauh, ayo aku yakin kau kuat”
“Tidak, kau saja
sendirian yang menyusul mereka. Aku yakin kau masih kuat, aku sudah tidak
sanggup berjalan lagi dan pasti tidak akan ikut misi ini. Jadi aku harap kau
tetap melanjutkan dan member kabar ini kepada mereka.”
Lalu dengan
cepat temanku yang tertembak punggungnya tadi lansung berlari menuju rombongan
untuk masuk ke dalam bandara. Dan untungnya tentara Serbia tidak berhasil
mengejar dan lebih tertarik denganku yang sudah jatuh tertembak. Tapi saat
tentara Serbia mulai mendekat aku langsung tak sadarkan diri. Sepertinya aku
kehabisan banyak darah dan sangat kelelahan.
Setelah malam
itu, beberapa hari aku tak sadarkan diri akhirnya aku terbangun di rumah sakit
dengan luka di kakiku. Ketika itu aku bertanya tentang bagaimana timku kepada
seseorang yang mengaku orang pemerintahan yang menungguku. Dia mengatakan bahwa
tim kami cukup berhasil memperkenalkan
Negara Bosnia ke beberapa Negara dan berhasil meraih kemenangan di
beberapa laga yang dilakukan. Dan timku akan masih berkeliling dunia untuk
memperkenalkan Negara kami yang baru merdeka ini lewat sepakbola. Tetapi
sialnya, akibat tembakan ini aku tidak lagi dapat meneruskan karirku sebagai
pemain dan gagal menjadi duta Negara tercintaku ini untuk diperkenalkan kepada
dunia. Tapi tidak apalah, aku juga cukup merasa bangga pernah jadi anggota tim
itu. tim yang semangat berjuang demi Bosnia.
Tapi beberapa
lama setelah aku sudah sembuh, aku dimasukkan ke dalam penjara akrena aku
dianggap sebagai pemberontak dalam perang ini. Padahal aku hanya ingin member
sesuatu untuk negaraku. Tapi memang tentara Serbia begitu kejam dan pemerintah
tidak bisa berbuat banyak. Sampai akhirnya 1 bulan yang lalu aku berhasil
keluar setelah beberapa tahun di dalam penjara. Kisah timku waktu itu pun
berakhir cukup manis karena mereka sampai ke benua asia, afrika untuk berhasil
memperkenalkan Bosnia. Dan kisahku tetap pahit seperti kopi yang aku minum pagi
ini. Bosan dengan kepahitan, aku bangun dari dudukku mengambil beberapa sendok
gula untuk kopikku. Seperti yang aku harapkan di akhir hidupku agar dapat
merasakan hidup manis di Sarajevo, Bosnia tercinta ini.
B.A.B
2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar