Sabtu, 23 Februari 2013

Kisah Pahit dari Sarajevo


               
Aku masih menikmati kopi pertamaku di pagi ini. Rasanya masih saja pahit sama seperti ingatanku yang sedang melanglang buana ke sana ke mari lalu tertuju pada masa kelam 1 tahun lalu, masa di mana di Negara ini masih hitam, kelam, dan pahit tentunya seperti kopi ini. Andai saja aku tidak mengalami tragedi itu, tentulah hidupku sekarang teramat bangga dan tidak sering meminum kopi pahit, melainkan anggur prancis mungkin.  Tragedi naas yang menimpaku di Februari 1997 itu.
                Aku masih ingat malam itu. malam yang sangat gelap di Sarajevo. Kami semua masih berjalan mengendap-ngendap agar bisa keluar dari kota ini menuju bandara, karena kami ingin terbang ke Negara tetangga kami Kroasia. Agar bisa keluar dari kota ini pula kami harus melewati penjagaan ketat tentara Serbia dan tentunya tentara PBB yang tidak menginginkan siapapun keluar dan masuk dari atau ke Sarajevo ini. Sial memang bagi kami di tengah keadaan perang yang seharusnya sudah berakhir ini kami harus mengemban misi negara. Di tengah perang ini pula kami di haruskan berlatih keras, walaupun hanya di dalam sebuah hall basket yang tidak terlalu jauh dari tempat hujannya peluru. Ironis memang, tapi kami memang harus melakukan itu agar bisa mempromosikan Negara kami yang sangat baru saja merdeka tapi masih sedikit dilanda perang ini.
                Dalam perjalanan mengendap-ngendap ini kami diharuskan membawa ransel berat berisi logistik dan perlengkapan untuk menyukseskan misi kami yang banyak sekali. Dalam pengendapan itu aku berada di urutan agak belakang dari 28 anggota kami ini, naas sekali nasibku. Ketika pengendapan akan sampai, sialnya kami diharuskan melewati lapangan yang dijaga ketat oleh tentara Serbia. Jadilah kami merangkak untuk dapat berhasil melewati lapangan itu.Ketika kami sudah berhasil melewati lapangan itu, kami harus melewati pagar yang di jaga oleh para tentara PBB. Tapi ternyata untuk melewati penjagaan mereka sangat tidak mudah, mereka mempunyai tank yang lampu sorotnya beradius ratusan meter. Sehingga ada beberapa orang dari kami yang ada di bagian depan tertangkap oleh mereka. Dan langsung dibawa ke dalam pengungsian sipil di dalam kota. Berkuranglah anggota tim kami ini, semakin membuat kami takut saja. Tapi untungnya tak sia-sia kami mempunyai pelatih yang cukup pintar. Dia memberikan  kami sebuah cara mengelabui para tentara PBB ini.
“Hey coba ketika lampu sorot dari tank itu mengarah ke sini, kalian coba berlagak seperti akan masuk ke Sarajevo. Cepat!” Ujar pelatihku saat itu
                Lalu kami melakukan perintahnya, dan ternyata benar, kami berhasil mengelabui tentara PBB . ternyata tentara PBB mengira kami adalah orang asing yang akan masuk ke Sarajevo, makanya dengan tegas mereka langsung menyuruh kami keluar. Dengan senang hati kami pun berhasil keluar dan melanjutkan pengendapan ini menuju ke Bandara. Tapi hati sudah sedikit lega berada di zona bebas di luar area Sarajevo, ternyata kami harus kembali bertemu dengan tentara Serbia yang menjaga satu-satunya jalan menuju bandara ini. Karna tentara Serbia juga tidak mau ada rakyat yang keluar Sarajevo sembarangan karena mereka masih menguasai area di sekitarnya. Tapi disatu sisi juga kami harus memaksakan diri melewati mereka karena pesawat yang sudah di sewa pemerintah untuk kami pergi ke Zagreb harus berangkat malam ini juga, karena jika esok pagi akan banyak tentara PBB yang keluar masuk bandara.
Lalu akhirnya kami memutuskan untuk melewati rawa-rawa di samping jalan itu sambil kembali lagi merangkak dengan jarak yg untungnya lebih dekat. Daripada mati pikir kami lebih baik kami merangkak saja. Tapi ternyata tentara Serbia yang kali ini menjaga jalan itu tidak sebodh yang menjaga lapangan. Ternyata mereka berhasil menemukan sebagian dari kami. Dan sial bagiku karena yang mereka lihat adalah para pria di bagian belakangtermasuk aku. Dan kebetulan jarak yang ditinggalkan oleh bagian depan cukup jauh. Keteka mereka berhasil melihat kami mereka langsung menyenter dan mencoba menembaki kami. Kami pun langsung saja mencoba berlari seepat mungkin di tengah sawah yang licin sambil membawa beban yang sangat berat. Ternyata para anggota kami yang berada di depan mengetahui hal ini dan sesegera mereka langsung berlari dan melompat pagar untuk masuk ke dalam area belakang bandara. Dengan berlari ditengah rawa sambil memikul beban yang berat kami yang berada di bagian belakang ini kewalahan menghindar agar tak tertembak.
Sudah hampir berhasil kami melarikan diri, tapi sial menimpaku dan satu orang temanku. Temanku punggungnya mengenai tembakan yang membuatnya jatuh sehingga aku yang berada di belakangnya ikut pula terjatuh. Sial bagiku etika aku mencoba bangun dan berdiri kembali, tembakan makin banyak menghujam. Beberapa langkah aku berlari, betis kananku terkena peluru tentara Serbia. Tak dapat aku berlari lagi, terperosok lah aku ke dalam rawa itu.
“Ravic cepat bangun, ayo kita susul mereka. Mereka sudah cukup jauh, ayo aku yakin kau kuat”
“Tidak, kau saja sendirian yang menyusul mereka. Aku yakin kau masih kuat, aku sudah tidak sanggup berjalan lagi dan pasti tidak akan ikut misi ini. Jadi aku harap kau tetap melanjutkan dan member kabar ini kepada mereka.”
Lalu dengan cepat temanku yang tertembak punggungnya tadi lansung berlari menuju rombongan untuk masuk ke dalam bandara. Dan untungnya tentara Serbia tidak berhasil mengejar dan lebih tertarik denganku yang sudah jatuh tertembak. Tapi saat tentara Serbia mulai mendekat aku langsung tak sadarkan diri. Sepertinya aku kehabisan banyak darah dan sangat kelelahan.
Setelah malam itu, beberapa hari aku tak sadarkan diri akhirnya aku terbangun di rumah sakit dengan luka di kakiku. Ketika itu aku bertanya tentang bagaimana timku kepada seseorang yang mengaku orang pemerintahan yang menungguku. Dia mengatakan bahwa tim kami cukup berhasil memperkenalkan  Negara Bosnia ke beberapa Negara dan berhasil meraih kemenangan di beberapa laga yang dilakukan. Dan timku akan masih berkeliling dunia untuk memperkenalkan Negara kami yang baru merdeka ini lewat sepakbola. Tetapi sialnya, akibat tembakan ini aku tidak lagi dapat meneruskan karirku sebagai pemain dan gagal menjadi duta Negara tercintaku ini untuk diperkenalkan kepada dunia. Tapi tidak apalah, aku juga cukup merasa bangga pernah jadi anggota tim itu. tim yang semangat berjuang demi Bosnia.

Tapi beberapa lama setelah aku sudah sembuh, aku dimasukkan ke dalam penjara akrena aku dianggap sebagai pemberontak dalam perang ini. Padahal aku hanya ingin member sesuatu untuk negaraku. Tapi memang tentara Serbia begitu kejam dan pemerintah tidak bisa berbuat banyak. Sampai akhirnya 1 bulan yang lalu aku berhasil keluar setelah beberapa tahun di dalam penjara. Kisah timku waktu itu pun berakhir cukup manis karena mereka sampai ke benua asia, afrika untuk berhasil memperkenalkan Bosnia. Dan kisahku tetap pahit seperti kopi yang aku minum pagi ini. Bosan dengan kepahitan, aku bangun dari dudukku mengambil beberapa sendok gula untuk kopikku. Seperti yang aku harapkan di akhir hidupku agar dapat merasakan hidup manis di Sarajevo, Bosnia tercinta ini.

B.A.B
2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar