Sabtu, 23 Februari 2013

SETELAH PESTA AKHIR KALENDER



Pesta kembang api akhir tahun yang baru saja usai ternyata tidak cepat usang oleh waktu yang bersamaan berjalan. Di sekitar lalu lalangnya ibukota ternyata masih saja kutemukan pesta-pesta yang mengenai akhir tahun kemarin—ada yang memanggang segumpal daging binatang unggas, ada yang memanggang jagung, dan masih ada juga yang bersahabat dengan api-api yang membuatnya begitu indah. Aku pun menjadi sedikit tertarik untuk melakukannya jua seperti mereka dan berniat mengajak teman-temanku menjelma sepertiku. Sedikit demi sedikit senja mulai pudar dari tempat singgahsananya. Aku pun sampai di depan teras rumah temanku dan langsung memberi salam.

“Assalamualaikum, Aris” salamku.
“walaikumsalam, eh kamu Rul, ada apa?” balas aris dengan penuh riang.
“Ris, kita bakar-bakar ayam lagi yuk? Rasanya aku tak puas dengan hari kemarin”.
“Sepertinya tidak bisa Rul masalahnya aku diberi perintah oleh ibuku untuk menjaga rumah” menolak Aris.
“Tinggalkan saja nah kuncinya kamu titipkan ke tetangga kamu” bujuk Arul.
“Bukannya begitu Ris, tapi aku ingin mengerjakan amanahku”.
“Ayolah, malam ini saja, pestanya”.
“Tidak bisa Rul, kau ingin membuatku dimarahi oleh ibuku?”.
“Ya sudahlah kalau kau tetap menolak Ris, aku pergi sendiri saja”.
“Maaf ya Rul tidak bisa menemanimu malam ini”.
“Iya tidak apa-apa”

Aku pun berpergian seorang diri tanpa ditemani raga yang lain walaupun aku tahu teman-temanku yang lain sedang sibuk seperti halnya Aris, temanku. Dan sekarang aku pun hanya ditemani oleh dua malaikat yang tugasnya mencatat amal baik dan buruk yang selalu memperhatikanku dengan seksama dari dunia lain. Sekali pun aku melihat arlojiku yang di pergelangan tangan dan tidak terasa waktu menunjukkan pukul 21.30, waktu yang membuatku sangat kesal. Entah kemana lagi aku harus berjalan sesekali tubuhku mulai pegal dan perutku sudah keroncongan. Sebuah rumah makan merayuku untuk menjamahi makanan yang ada di rumah itu. Aku pun berhenti pas di depan rumah makan yang sepertinya makanannya lezat-lezat. Aku masuki rumah makan itu dan memesan makanan. Setelah aku menyelesaikan makanku tadi aku mengeluarkan sebungkus rokok yang biasa aku hisap. Rokok pun makin lama makin pendek dan aku tidak lupa membayar makanan yang aku makan tadi. Aku keluar dari rumah makan itu dan melanjutkan untuk pulang kerumah orang tuaku. Aku berjalan ke tempat menaruh kendaraanku yang di depan rumah makan. Kebingungan langsung melekat di otakku, kepanikanku naik cepat di aliran darahku, jantungku berdegup kencang, dan berjuta-juta pertanyaan muncul dipikiranku, kemana motorku yang tadi kutaruh di depan rumah makan?. Seorang pemuda-pemuda yang sedang meyanyi layaknya hidup itu bebas sedang duduk tidak jauh dari tempat yang aku makan tadi. Aku pun menghampiri mereka dan langsung bertanya.

“Bang, lihat motorku yang diparkir di rumah makan itu tidak?” tanyaku dengan panik.
“Wah, tidak lihat tuh, emang abang taruh dimana motornya?” balas pemuda itu.
“tadi saya taruh di depan rumah makan itu”.
“Kami semua tidak melihat Bang soalnya jarak rumah makan itu ke sini lumayan jauh”
“Ya sudah terima kasih ya Bang”

Aku pun pergi dan mencari-cari sendiri kemana motorku yang kutaruh di depan rumah makan tadi. Kebingungan dan kepanikan mengganggu konsentrasiku, rasanya kepalaku akan meledak seperti bom atom yang sudah disiapkan. Tak lama aku temukan motorku sedang dinaiki seseorang yang tak kukenal. Mengejar adalah kata pertama yang muncul di pikiranku. Aku mengejar-ngejar orang yang menaiki motorku. kelelahan mulai terlihat dan keringat mengucur deras di sekitar tubuhku, pakaianku basah kuyup. Motorku semakin jauh dibawanya. Ojek telah menyelamatkanku dan kupakai jasanya itu. Aku semakin dekat dengan motorku yang dibawa orang itu bahkan hampir bersampingan dengannya. Aku menyuruh tukang ojek itu untuk berhenti di depannya. Orang itu pun serasa tak mau berhenti meskipun tukang ojek itu sudah berhenti. Aku langsung turun dan menghujam pukulan ke orang yang menaiki motorku tadi. Tubuh pemuda itu terbanting dan aku langsung menghujam pukulanku yang kedua kalinya sembari aku membangunkan pemuda itu tukang ojek itu berusaha membantuku. Lalu aku bertanya dengan bentak.

“Bangsat! Apa maksudmu mencuri motorku?” tanyaku dengan bentak. Pemuda itu pun tak bisa berkata apa-apa yang wajah penuh pukulan.
“Jawab! Apa maksudmu?”.
Tetap bungkam pemuda itu mungkin karena niat aksi busuknya dia sudah ketauan olehku dan tukang ojek itu.
“Ya sudah kalau begitu kita kekantor polisi untuk menyelesaikan masalah ini” ujar tukang ojek yang sempat membantuku.

Sesampainya di kantor polisi terdekat, aku langsung melaporkan atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Pak, saya ingin melaporkan pencurian terhadap motor saya dan saya sudah membawa pelakunya” laporku kepada Bapak polisi.
“Oke Pak tenang dulu saya akan urusi” jawab Pak polisi.
“Terima kasih pak”.

Tak lama polisi tadi membawa selembar kertas putih yang di dalamnya mungkin tentang laporanku tadi.

“Sekarang mana pelakunya Pak?” tanya Pak polisi.
“Ini Pak” jawabku sambil mendorong pemuda yang mencuri motorku tadi.
“Sekarang saya akan memintai keterangan ke Bapak atas usaha pencurian motor bapak”.
“Saya bersedia dimintai keterangan Pak”.

Setelah dimintai keterangan oleh Bapak polisi aku disuruh kembali pulang kerumahku. Urusan pemuda yang berusaha mencuri motorku sekarang jadi urusan polisi itu. Semoga saja pemuda yang berusaha mencuri motorku tadi dihukum sesuai dengan peraturan dan perundang-undangan. Dan kuberharap pemuda itu setelah mendapat imbasnya dia semakin jera. kebingungan, kepanikan, dan berjuta-juta pertanyaan yang menjelmaku tadi lenyap sudah atas bantuan tukang ojek tadi dan Bapak polisi. Kini aku tenang, damai, dan tentram seperti akhir kalender kemarin bersama teman-temanku yang mungkin tak akan pernah terlupakan.

Aji S

Tidak ada komentar:

Posting Komentar