Pesta
kembang api akhir tahun yang baru saja usai ternyata tidak cepat usang oleh
waktu yang bersamaan berjalan. Di sekitar lalu lalangnya ibukota ternyata masih
saja kutemukan pesta-pesta yang mengenai akhir tahun kemarin—ada yang
memanggang segumpal daging binatang unggas, ada yang memanggang jagung, dan
masih ada juga yang bersahabat dengan api-api yang membuatnya begitu indah. Aku
pun menjadi sedikit tertarik untuk melakukannya jua seperti mereka dan berniat
mengajak teman-temanku menjelma sepertiku. Sedikit demi sedikit senja mulai
pudar dari tempat singgahsananya. Aku pun sampai di depan teras rumah temanku
dan langsung memberi salam.
“Assalamualaikum,
Aris” salamku.
“walaikumsalam,
eh kamu Rul, ada apa?” balas aris dengan penuh riang.
“Ris, kita
bakar-bakar ayam lagi yuk? Rasanya aku tak puas dengan hari kemarin”.
“Sepertinya
tidak bisa Rul masalahnya aku diberi perintah oleh ibuku untuk menjaga rumah”
menolak Aris.
“Tinggalkan
saja nah kuncinya kamu titipkan ke tetangga kamu” bujuk Arul.
“Bukannya
begitu Ris, tapi aku ingin mengerjakan amanahku”.
“Ayolah,
malam ini saja, pestanya”.
“Tidak bisa
Rul, kau ingin membuatku dimarahi oleh ibuku?”.
“Ya sudahlah
kalau kau tetap menolak Ris, aku pergi sendiri saja”.
“Maaf ya Rul
tidak bisa menemanimu malam ini”.
“Iya tidak
apa-apa”
Aku pun
berpergian seorang diri tanpa ditemani raga yang lain walaupun aku tahu
teman-temanku yang lain sedang sibuk seperti halnya Aris, temanku. Dan sekarang
aku pun hanya ditemani oleh dua malaikat yang tugasnya mencatat amal baik dan
buruk yang selalu memperhatikanku dengan seksama dari dunia lain. Sekali pun
aku melihat arlojiku yang di pergelangan tangan dan tidak terasa waktu
menunjukkan pukul 21.30, waktu yang membuatku sangat kesal. Entah kemana lagi
aku harus berjalan sesekali tubuhku mulai pegal dan perutku sudah keroncongan.
Sebuah rumah makan merayuku untuk menjamahi makanan yang ada di rumah itu. Aku
pun berhenti pas di depan rumah makan yang sepertinya makanannya lezat-lezat. Aku
masuki rumah makan itu dan memesan makanan. Setelah aku menyelesaikan makanku
tadi aku mengeluarkan sebungkus rokok yang biasa aku hisap. Rokok pun makin
lama makin pendek dan aku tidak lupa membayar makanan yang aku makan tadi. Aku
keluar dari rumah makan itu dan melanjutkan untuk pulang kerumah orang tuaku. Aku
berjalan ke tempat menaruh kendaraanku yang di depan rumah makan. Kebingungan
langsung melekat di otakku, kepanikanku naik cepat di aliran darahku, jantungku
berdegup kencang, dan berjuta-juta pertanyaan muncul dipikiranku, kemana
motorku yang tadi kutaruh di depan rumah makan?. Seorang pemuda-pemuda yang
sedang meyanyi layaknya hidup itu bebas sedang duduk tidak jauh dari tempat
yang aku makan tadi. Aku pun menghampiri mereka dan langsung bertanya.
“Bang, lihat
motorku yang diparkir di rumah makan itu tidak?” tanyaku dengan panik.
“Wah, tidak
lihat tuh, emang abang taruh dimana motornya?” balas pemuda itu.
“tadi saya
taruh di depan rumah makan itu”.
“Kami semua
tidak melihat Bang soalnya jarak rumah makan itu ke sini lumayan jauh”
“Ya sudah
terima kasih ya Bang”
Aku pun
pergi dan mencari-cari sendiri kemana motorku yang kutaruh di depan rumah makan
tadi. Kebingungan dan kepanikan mengganggu konsentrasiku, rasanya kepalaku akan
meledak seperti bom atom yang sudah disiapkan. Tak lama aku temukan motorku
sedang dinaiki seseorang yang tak kukenal. Mengejar adalah kata pertama yang
muncul di pikiranku. Aku mengejar-ngejar orang yang menaiki motorku. kelelahan
mulai terlihat dan keringat mengucur deras di sekitar tubuhku, pakaianku basah
kuyup. Motorku semakin jauh dibawanya. Ojek
telah menyelamatkanku dan kupakai jasanya itu. Aku semakin dekat dengan motorku
yang dibawa orang itu bahkan hampir bersampingan dengannya. Aku menyuruh tukang
ojek itu untuk berhenti di depannya.
Orang itu pun serasa tak mau berhenti meskipun tukang ojek itu sudah berhenti. Aku langsung turun dan menghujam pukulan
ke orang yang menaiki motorku tadi. Tubuh pemuda itu terbanting dan aku
langsung menghujam pukulanku yang kedua kalinya sembari aku membangunkan pemuda
itu tukang ojek itu berusaha
membantuku. Lalu aku bertanya dengan bentak.
“Bangsat!
Apa maksudmu mencuri motorku?” tanyaku dengan bentak. Pemuda itu pun tak bisa
berkata apa-apa yang wajah penuh pukulan.
“Jawab! Apa
maksudmu?”.
Tetap bungkam
pemuda itu mungkin karena niat aksi busuknya dia sudah ketauan olehku dan
tukang ojek itu.
“Ya sudah
kalau begitu kita kekantor polisi untuk menyelesaikan masalah ini” ujar tukang ojek yang sempat membantuku.
Sesampainya
di kantor polisi terdekat, aku langsung melaporkan atas kejadian yang baru saja
terjadi.
“Pak, saya
ingin melaporkan pencurian terhadap motor saya dan saya sudah membawa
pelakunya” laporku kepada Bapak polisi.
“Oke Pak
tenang dulu saya akan urusi” jawab Pak polisi.
“Terima kasih
pak”.
Tak lama
polisi tadi membawa selembar kertas putih yang di dalamnya mungkin tentang
laporanku tadi.
“Sekarang
mana pelakunya Pak?” tanya Pak polisi.
“Ini Pak”
jawabku sambil mendorong pemuda yang mencuri motorku tadi.
“Sekarang
saya akan memintai keterangan ke Bapak atas usaha pencurian motor bapak”.
“Saya
bersedia dimintai keterangan Pak”.
Setelah
dimintai keterangan oleh Bapak polisi aku disuruh kembali pulang kerumahku.
Urusan pemuda yang berusaha mencuri motorku sekarang jadi urusan polisi itu.
Semoga saja pemuda yang berusaha mencuri motorku tadi dihukum sesuai dengan
peraturan dan perundang-undangan. Dan kuberharap pemuda itu setelah mendapat
imbasnya dia semakin jera. kebingungan, kepanikan, dan berjuta-juta pertanyaan
yang menjelmaku tadi lenyap sudah atas bantuan tukang ojek tadi dan Bapak polisi. Kini aku
tenang, damai, dan tentram seperti akhir kalender kemarin bersama teman-temanku
yang mungkin tak akan pernah terlupakan.
Aji S
Tidak ada komentar:
Posting Komentar