Sabtu, 23 Februari 2013

DONI DAN SEPATU AJAIB



Doni nampak sedih. Sedih sekali. Amat sangat sedih, namun tidak menyedihkan. Ternyata, dia bersedih karena sepatu yang biasa dipakainya ke sekolah rusak parah. Rusak karena ketika sepatunya dijemur setelah dicuci tadi pagi dicium petir tanpa mengirim e-mail lebih dulu kepada Doni. Parahnya, petir itu datang tanpa hujan setetes pun. Sudah terbayang dalam benak pemirsa betapa bingungnya dia. Apalagi, besok lusa sudah mulai masuk sekolah.
“Aduuh, gimana nih! Sepatu gue jadi somplak gini sih. Dosa apa gue yak, sampe ketimpa musibah begini. Emang sih, besok cuma lomba lari aja. Tapi kan itu penting, soalnya gue belum pernah juara lomba lari antar kelas. Padahal gue udah latihan tiap hari loh,” curhat Doni kepada Deeto, sahabat karibnya yang merupakan juara seri balap motor Superbike World Championship dengan status wild card saat balap di Silverstone beberapa waktu lalu. Dia menunggang motor Aprilia RSV4.
“Lah, loe ikut juga belom pernah. Waktu itu gue tawarin, loe bilang malah takut. Ya udah sih, jangan bingung begitu. Atau kalo perlu, gue beliin sepatu baru aja. Kan loe sendiri yang bilang, kalo loe mau jadi pelari profesional. Gue yakin deh. Liat aja dulu temen loe ini. Biar kata gue bukan seorang pembalap sungguhan, tapi gue ternyata bisa juara seri tuh. Yah, biar kata gue cuma wild card sih.”
“Bukan itu masalahnya. Gue justru mau beli sepatu baru dari hadiah lomba besok lusa itu. Nah, yang gue mau pake buat lomba itu ya sepatu gue yang ancur dicipok petir sialan itu. Aaaarrrrghh!!!” Doni stres seperti orang yang kurang waras.
Melihat bahwa sahabatnya seperti ini, Deeto memutuskan untuk pamit pulang saja. Deeto berpikir, mungkin Doni butuh waktu sendiri agar mampu menyelesaikan masalah yang sekarang sedang membelitnya.
Pada sore hari, Doni jalan-jalan di pinggir lapangan sepak bola dekat komplek rumahnya tanpa alas kaki. Tiba-tiba, dia melihat sesosok kakek tua yang terlihat tertatih-tatih membawa sebuah dua buah kardus yang kelihatannya cukup berat meskipun ukurannya hanya sebesar kardus sepatu. Doni pun segera menghampiri kakek-kakek itu.
“Permisi kek, kelihatannya kakek kesulitan. Apa saya boleh membantu?” Doni menawarkan bantuan.
“Oh, boleh saja. Terima kasih ya anakku.”
Lalu Doni segera membawa salah satu kardus itu. Doni kontan bertanya sesuatu kepada kakek itu.
“Oh iya kek, rumah kakek di mana?” Nanti saya malah salah tujuan.”
“Rumah kakek? Itu, di sisi lain dari lapangan bola ini. Rumahnya yang beratap rumbai-rumbai.”
“Ooo, yang itu. Oke kek, saya antar segera.”
“Duueessssshhh......”
Doni pun langsung berlari secepat mungkin. Kakek itu sedikit terkejut. Dia belum pernah melihat orang yang berlari secepat itu. Apalagi gerak potong larinya yang cukup mengagumkan. Benar-benar merupakan bakat yang sempurna. Sesampainya kakek di rumahnya, Doni bersiap-siap mau pamit pulang setelah membantu kakek itu membawa barang bawaannya. Namun, kakek itu menahannya. Kakek itu merasa perlu membalas budi baik Doni.
“Nak, terima kasih atas bantuannya. Sebagai tanda terima kasih, kakek cuma bisa memberikan ini.”
Sepasang sepatu olahraga tua yang masih bagus dan bersih diberikan kepada Doni.
“Tapi kek, sepatu ini masih bagus kok. Nggak perlu diberi ke saya. Mungkin kakek suatu saat perlu sepatu itu.”
“Nggak apa-apa, kakek cuma nggak biasa dibantu orang yang nggak pakai alas kaki.”
Seketika Doni melihat ke bawah. Ia terkejut karena dia benar-benar bertelanjang kaki seperti yang dikatakan kakek. Ia baru ingat, saat dia sedang bingung dengan sepatu lamanya dia berjalan sendirian tanpa memakai alas kaki bahkan sandal sekalipun terlebih dulu. Tentu saja Doni merasa malu.
“Oh iya kek, saya lupa. Tadi saya lagi bingung soal sepatu saya yang disamber petir. Jadinya hancur. Eh, ternyata saya saking bingungnya langsung galau aja sampe nggak inget kalo nggak pake alas kaki. Nah, itu sebabnya saya......”
“Kebetulan! Kamu pake aja ini sepatu. Nggak apa-apa kok. Yah, paling nggak kamu nggak perlu lagi ngelanjutin galau kamu itu soal sepatu yang udah rusak. Iya kan!?”
“Iya juga ya. Oke deh kek, saya terima sepatunya. Terima kasih ya kek. Assalamualaikum!” senang Doni sambil berlalu pergi begitu saja.
Kakek itu hanya geleng-geleng kepala saja seperti sedang mendengarkan musik dugem. Dasar anak muda, batinnya.
Keesokan harinya, seluruh peserta lomba lari 100 meter di sekolah Doni sudah bersiap-siap di lapangan olahraga yang terletak di dalam sekolah Doni. Tentu saja tidak terkecuali Doni sendiri, yang akhirnya ikut lomba lari itu dengan memakai sepatu pemberian kakek yang pernah ditolongnya. Bahkan Doni sendiri lumayan pagi juga datangnya, karena sahabatnya Deeto yang pagi itu juga hendak berangkat ke markas tim balapnya untuk uji ketahanan motor balapnya kebetulan berpapasan dengan dia. Deeto menawarkan berangkat bersama, karena meski jarak antara markas tim balapnya dengan sekolah Doni cukup jauh, namun sama-sama melewati satu jalan besar. Doni pun jadi punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri untuk lomba lari pertamanya. Doni diantar Deeto menggunakan Aprilia RSV 250.
Semua peserta bersiap-siap di garis awal lomba. Wasit pun meneriakkan aba-aba.
“Bersiap semuanya. Pada hitungan ketiga, kalian langsung berlari. Satu, dua, ti......ga!”
“Duueeeesssshhhhhh......”
Seluruh peserta berlari secepat yang mereka bisa untuk menuju garis akhir, termasuk Doni tentunya. Namun, Doni merasa larinya terasa sangat cepat sekali. Padahal, dia tidak seluruhnya mengeluarkan kemampuan larinya. Dia hanya fokus untuk mencapai garis akhir lebih dulu. Sebab, lawan-lawannya bukan lawan yang tidak bisa dianggap remeh begitu saja. Makin lama kecepatan Doni makin meningkat, hingga meninggalkan debu-debu ke arah lawan-lawannya yang makin jauh ketinggalan. Seperti slogan salah satu pabrikan sepeda motor terbesar di Indonesia. Akhirnya, seperti yang sudah diduga oleh para pembaca, Doni menang dengan mudah. Ini semua berkat sepatu ajaib pemberian sang kakek yang ternyata adalah kakek dari ibunya Deeto, sahabatnya sendiri. Tentu saja dengan tekad yang kuat, kerja keras, dan semangat yang membara.
Doni pun meraih piala emas sebagai tanda kemenangannya. Begitu pulang ke rumahnya, dia langsung menelepon Deeto.
“Haalllooooooo......”
“Woy! Berisik, monyet! Kenapa sih teriak-teriak!? Gue kan bukan orang budek! Sebaiknya loe kasih gue kabar bagus. Kalo nggak, gue bakar loe!” Deeto sewot.
“Tau nggak loe??”
“Nggak!”
“Makanya itu, gue mau kasih tau loe. Gue menang lomba lari loh. Hebat kan!?”
“Iya, iya. Selamat ya, atas kemenangannya. Semoga loe diterima di sisi-Nya, ke ke ke ke ke......”
“Wanjrit! Sialan loe! Makasih ya, ucapannya.”
“Ya, sama-sama.”
Doni pun langsung menuju kamarnya tanpa mandi lebih dulu, dan akhirnya dia tertidur pulas.


Deeto Kongo 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar