Doni
nampak sedih. Sedih sekali. Amat sangat sedih, namun tidak menyedihkan.
Ternyata, dia bersedih karena sepatu yang biasa dipakainya ke sekolah rusak
parah. Rusak karena ketika sepatunya dijemur setelah dicuci tadi pagi dicium
petir tanpa mengirim e-mail lebih
dulu kepada Doni. Parahnya, petir itu datang tanpa hujan setetes pun. Sudah
terbayang dalam benak pemirsa betapa bingungnya dia. Apalagi, besok lusa sudah
mulai masuk sekolah.
“Aduuh,
gimana nih! Sepatu gue jadi somplak gini sih. Dosa apa gue yak, sampe ketimpa
musibah begini. Emang sih, besok cuma lomba lari aja. Tapi kan itu penting,
soalnya gue belum pernah juara lomba lari antar kelas. Padahal gue udah latihan
tiap hari loh,” curhat Doni kepada Deeto, sahabat karibnya yang merupakan juara
seri balap motor Superbike World Championship dengan status wild card saat balap di Silverstone
beberapa waktu lalu. Dia menunggang motor Aprilia RSV4.
“Lah,
loe ikut juga belom pernah. Waktu itu gue tawarin, loe bilang malah takut. Ya
udah sih, jangan bingung begitu. Atau kalo perlu, gue beliin sepatu baru aja.
Kan loe sendiri yang bilang, kalo loe mau jadi pelari profesional. Gue yakin
deh. Liat aja dulu temen loe ini. Biar kata gue bukan seorang pembalap
sungguhan, tapi gue ternyata bisa juara seri tuh. Yah, biar kata gue cuma wild card sih.”
“Bukan
itu masalahnya. Gue justru mau beli sepatu baru dari hadiah lomba besok lusa
itu. Nah, yang gue mau pake buat lomba itu ya sepatu gue yang ancur dicipok
petir sialan itu. Aaaarrrrghh!!!” Doni stres seperti orang yang kurang waras.
Melihat
bahwa sahabatnya seperti ini, Deeto memutuskan untuk pamit pulang saja. Deeto
berpikir, mungkin Doni butuh waktu sendiri agar mampu menyelesaikan masalah
yang sekarang sedang membelitnya.
Pada
sore hari, Doni jalan-jalan di pinggir lapangan sepak bola dekat komplek
rumahnya tanpa alas kaki. Tiba-tiba, dia melihat sesosok kakek tua yang
terlihat tertatih-tatih membawa sebuah dua buah kardus yang kelihatannya cukup
berat meskipun ukurannya hanya sebesar kardus sepatu. Doni pun segera
menghampiri kakek-kakek itu.
“Permisi
kek, kelihatannya kakek kesulitan. Apa saya boleh membantu?” Doni menawarkan
bantuan.
“Oh,
boleh saja. Terima kasih ya anakku.”
Lalu
Doni segera membawa salah satu kardus itu. Doni kontan bertanya sesuatu kepada
kakek itu.
“Oh
iya kek, rumah kakek di mana?” Nanti saya malah salah tujuan.”
“Rumah
kakek? Itu, di sisi lain dari lapangan bola ini. Rumahnya yang beratap
rumbai-rumbai.”
“Ooo,
yang itu. Oke kek, saya antar segera.”
“Duueessssshhh......”
Doni
pun langsung berlari secepat mungkin. Kakek itu sedikit terkejut. Dia belum
pernah melihat orang yang berlari secepat itu. Apalagi gerak potong larinya
yang cukup mengagumkan. Benar-benar merupakan bakat yang sempurna. Sesampainya
kakek di rumahnya, Doni bersiap-siap mau pamit pulang setelah membantu kakek
itu membawa barang bawaannya. Namun, kakek itu menahannya. Kakek itu merasa
perlu membalas budi baik Doni.
“Nak,
terima kasih atas bantuannya. Sebagai tanda terima kasih, kakek cuma bisa
memberikan ini.”
Sepasang
sepatu olahraga tua yang masih bagus dan bersih diberikan kepada Doni.
“Tapi
kek, sepatu ini masih bagus kok. Nggak perlu diberi ke saya. Mungkin kakek
suatu saat perlu sepatu itu.”
“Nggak
apa-apa, kakek cuma nggak biasa dibantu orang yang nggak pakai alas kaki.”
Seketika
Doni melihat ke bawah. Ia terkejut karena dia benar-benar bertelanjang kaki
seperti yang dikatakan kakek. Ia baru ingat, saat dia sedang bingung dengan
sepatu lamanya dia berjalan sendirian tanpa memakai alas kaki bahkan sandal
sekalipun terlebih dulu. Tentu saja Doni merasa malu.
“Oh
iya kek, saya lupa. Tadi saya lagi bingung soal sepatu saya yang disamber
petir. Jadinya hancur. Eh, ternyata saya saking bingungnya langsung galau aja
sampe nggak inget kalo nggak pake alas kaki. Nah, itu sebabnya saya......”
“Kebetulan!
Kamu pake aja ini sepatu. Nggak apa-apa kok. Yah, paling nggak kamu nggak perlu
lagi ngelanjutin galau kamu itu soal sepatu yang udah rusak. Iya kan!?”
“Iya
juga ya. Oke deh kek, saya terima sepatunya. Terima kasih ya kek.
Assalamualaikum!” senang Doni sambil berlalu pergi begitu saja.
Kakek
itu hanya geleng-geleng kepala saja seperti sedang mendengarkan musik dugem.
Dasar anak muda, batinnya.
Keesokan
harinya, seluruh peserta lomba lari 100 meter di sekolah Doni sudah bersiap-siap
di lapangan olahraga yang terletak di dalam sekolah Doni. Tentu saja tidak
terkecuali Doni sendiri, yang akhirnya ikut lomba lari itu dengan memakai
sepatu pemberian kakek yang pernah ditolongnya. Bahkan Doni sendiri lumayan
pagi juga datangnya, karena sahabatnya Deeto yang pagi itu juga hendak
berangkat ke markas tim balapnya untuk uji ketahanan motor balapnya kebetulan
berpapasan dengan dia. Deeto menawarkan berangkat bersama, karena meski jarak antara
markas tim balapnya dengan sekolah Doni cukup jauh, namun sama-sama melewati
satu jalan besar. Doni pun jadi punya banyak waktu untuk mempersiapkan diri
untuk lomba lari pertamanya. Doni diantar Deeto menggunakan Aprilia RSV 250.
Semua
peserta bersiap-siap di garis awal lomba. Wasit pun meneriakkan aba-aba.
“Bersiap
semuanya. Pada hitungan ketiga, kalian langsung berlari. Satu, dua,
ti......ga!”
“Duueeeesssshhhhhh......”
Seluruh
peserta berlari secepat yang mereka bisa untuk menuju garis akhir, termasuk
Doni tentunya. Namun, Doni merasa larinya terasa sangat cepat sekali. Padahal,
dia tidak seluruhnya mengeluarkan kemampuan larinya. Dia hanya fokus untuk
mencapai garis akhir lebih dulu. Sebab, lawan-lawannya bukan lawan yang tidak
bisa dianggap remeh begitu saja. Makin lama kecepatan Doni makin meningkat,
hingga meninggalkan debu-debu ke arah lawan-lawannya yang makin jauh
ketinggalan. Seperti slogan salah satu pabrikan sepeda motor terbesar di
Indonesia. Akhirnya, seperti yang sudah diduga oleh para pembaca, Doni menang
dengan mudah. Ini semua berkat sepatu ajaib pemberian sang kakek yang ternyata
adalah kakek dari ibunya Deeto, sahabatnya sendiri. Tentu saja dengan tekad yang
kuat, kerja keras, dan semangat yang membara.
Doni
pun meraih piala emas sebagai tanda kemenangannya. Begitu pulang ke rumahnya,
dia langsung menelepon Deeto.
“Haalllooooooo......”
“Woy!
Berisik, monyet! Kenapa sih teriak-teriak!? Gue kan bukan orang budek!
Sebaiknya loe kasih gue kabar bagus. Kalo nggak, gue bakar loe!” Deeto sewot.
“Tau
nggak loe??”
“Nggak!”
“Makanya
itu, gue mau kasih tau loe. Gue menang lomba lari loh. Hebat kan!?”
“Iya,
iya. Selamat ya, atas kemenangannya. Semoga loe diterima di sisi-Nya, ke ke ke
ke ke......”
“Wanjrit!
Sialan loe! Makasih ya, ucapannya.”
“Ya,
sama-sama.”
Doni
pun langsung menuju kamarnya tanpa mandi lebih dulu, dan akhirnya dia tertidur
pulas.
Deeto Kongo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar