Sabtu, 23 Februari 2013

Sesosok Ayah Jadi – Jadian



Hampir 40 hari setelah kematian Adik, kami pun masih diselimuti oleh duka yang cukup mendalam, Ayah dan Ibu yang sekiranya dulu sering bertengkar kini lebih banyak menghabiskan hari-harinya dengan isap tangis penuh penyesalan. Terkadang celotehan-celotehan kasar masih terdengar dari bawah lantai dasar rumah kami. Tanpa terdengar oleh tetangga. Jauh dari kehidupan orang-orang. Rumah yang terpencil di dalam gelapnya pepohonan yang masih jauh dari kerumunan masyarakat. Teriakan seorang ayah kepada ibu terdengar jelas. Menambah kesedihan lagi di dalam benak seorang anak yang kini menjadi anak tunggal di keluarga ini.

Entah mengapa Ayah kini lebih sering meluapkan emosinya kepada Ibu. Sesekali aku melihat telapak tangan Ayah melayang menepak keras wajah Ibu yang sudah tua renta tak berdaya. Aku tak tega melihat Ibu menangis, namun yang bisa aku lakukan hanya menangis sambil memeluk Ibuku. Umurku yang belum genap 14 tahun hanya bisa menangis lebih kencang untuk meredam emosi ayah sambil memeluk Ibu. Namun, ini tidak berhasil. Bahkan ayah yang tadinya memukuli ibu kini berbalik memukul diriku.

Adikku yang tidak tahu apa-apa menjadi korban tragis kekerasan Ayah. Ayah yang harusnya kukenal sebagai penuntun keluarga dan  penyelamat keluarga kini berbalik menjadi seorang Ayah yang kejam dan tak tau diri. Kematian Adik bukannya malah membuat dirinya sadar akan dirinya. Malah membuat dirinya makin menjadi-jadi. Bahkan lebih dari seperti seekor binatang jalang.

Setiap malam Ayah pulang dengan sempoyongan sambil memegang sebotol minuman yang aku tak tahu apa itu isinya. Sampai saat ini aku tak tahu apa pekerjaan Ayah yang setiap harinya pulang hingga senja datang. Aku juga tak tahu apa yang dilakukan ayah diluar sana sehingga dirinya seperti ini. Yang aku tahu aku hanya bisa bersekolah sampai saat ini. Bukan berarti aku seorang kakak yang tak perduli kepada masalah keluarga. Namun, aku sendiri saja tak berani menanyakan hal apapun kepada ayah. Aku takut. Aku takut dipukuli ayah. Luka memar merah di lengan dan kakiku saja belum sempat kering. Lebih baik aku bercerita kepada ibu dan hampir tiap malam memang kebiasaan aku dan ibu bercerita mengenai masalah-masalah kehidupan yang ibu rasakan sambil menemani adikku yang sedang sakit ditempat tidurnya.
Setiap bercerita dengan ibu aku selalu meneteskan air mata, entah apa karena aku yang cengeng. Namun, aku sangat bisa merasakan perasaan luka yang ada di hati ibu.
Ibu hanya bisa menangis melihatku dan langsung memelukku. “ibu gak kuat lagi nak, ibu capek dengan kelakuan ayahmu.”

Tiba-tiba adik terbangun dan menangis sangat kencang, mendengar perbincangan aku dan ibuku tentang ayah. Lebih dari itu, tangisannya melebihi suara tangis seorang manusia. Matanya merah melotot dan seperti orang yang sedang kesurupan. Tiba-tiba adikku berteriak layaknya binatang yang ingin lepas dari sangkarnya. Serentak keadaan menjadi sunyi penuh kebisuan dan yang ada hanya suara jeritan seorang adik yang baru berumur 4 tahun ini. Ibu yang sedari tadi menangis kaget melihat kejadian ini dan langsung memeluk adik sambil membaca doa-doa yang sekiranya bisa menenangkan hati adik. Aku merasakan keganjilan terhadap penyakit adikku ini. Namun, yang bisa aku lakukan hanya memeluk adikku sambil sesekali mengusapkan kepalanya. Matanya terus melotot kearah ibu dengan memancarkan api kemarahan. Apa yang salah dengan keluargaku ini.
Ayah yang kesal mendengar teriakan itu menghampiri kami dan mendobrak pintu kamar adikku. Ibu yang memeluk aku dan adikku tak membiarkan anak-anaknya disakiti oleh ayahnya.
“minggir kamu, anak-anak ini harus dikasih pelajaran. Kamu ini gak becus mengurus anak!” suara ayah menghancurkan suara tangisan kami bertiga. Suara yang membuat aku merasakan sedih dan takut akan kekerasaan yang akan dilakukan ayah.

Satu tamparan keras melayang di pipi kanan ibuku hingga berdarah, ibuku yang sudah tua umurnya ini jatuh, tak berdaya dan menangis. Ayah menarik lengan adikku dengan kencang hingga terbangun dari tempat tidurnya. Ia menangis sangat keras, lebih keras dari sebelumnya. Suasana menjadi kacau ketika ayah menarik lengan adikku hingga patah tulang karena adik yang meronta-ronta tidak ingin mengikuti ayahnya. Sedangkan aku, aku hanya bisa melihat kejadian ini semua sambil menangis dan hanya membantu ibuku untuk bangun.

Seperti yang aku duga, mereka berdua: adik dan ayah seperti orang yang kesurupan. Mana mungkin ayah punya kekuatan sehebat itu hingga mematahkan lengan anaknya sambil berteriak dan melotot seperti bukan manusia. Adikku yang juga menangis tak karuan sambil sesekali berteriak dan meronta-ronta, sungguh ini bukan perilaku manusia.

Ayah menarik adik keluar kamar seperti binatang, tak ada rasa manusiawi. Sambil menendang pintu kamar yang menghalanginya ia terus menyeret adikku yang sedari tadi hanya bisa menangis sangat keras. Kuku-kuku adikku terus mencakar pergelangan tangan ayah, ini malah membuatnya makin menjadi-jadi. Lihat saja pergelangan tangan ayah penuh dengan darah karena dicakar cukup dalam oleh adik. Lantas ayah menggiringnya keluar rumah, membawanya ke sebuah lubang sumur tua yang ada dibelakang rumah.

Ayah yang sangat marah dan kesal menceburkan anaknya ini kedalam sumur tua yang dalamnya hampir 10 meter. Saat itu yang aku lihat seperti bukan ayahku yang aku kenal. Adikku malah kelakuannya seperti binatang meronta-ronta. Berteriak dan menangis sangat keras. Mereka semua bukan anggota keluargaku. Mereka seperti binatang jalang yang dirasuki setan. Suara teriakan adikku seketika hilang begitu saja begitu ayah melemparkan adikku kedalam sumur tua itu. Apa benar ayah kesurupan? Aku melihat ayah menyakiti dirinya sendiri sambil berteriak dan mengaum seperti harimau menusuki dirinya dengan kukunya sendiri yang tajam. Kedua lengannya berceceran darah. Matanya tertuju kearahku. Mata yang merah melotot tajam. 

Giginya bertaring dan itu bukan ayahku. Tapi sosok manusia lain yang menyeramkan. Aku tak tahu itu siapa.
Aku menangis melihat kejadian ini sambil memeluk ibuku yang sudah pingsan akibat tamparan ayah tadi. Aku takut menatapnya. Aku memejamkan mata menunduk terus memeluk ibu dan seketika itu pula sosok manusia lain yang menyeramkan bukan ayah aku itu hilang dalam kegelapan malam yang mencekam.


Bani R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar