Hampir 40 hari setelah kematian Adik, kami
pun masih diselimuti oleh duka yang cukup mendalam, Ayah dan Ibu yang sekiranya
dulu sering bertengkar kini lebih banyak menghabiskan hari-harinya dengan isap
tangis penuh penyesalan. Terkadang celotehan-celotehan kasar masih terdengar
dari bawah lantai dasar rumah kami. Tanpa terdengar oleh tetangga. Jauh dari
kehidupan orang-orang. Rumah yang terpencil di dalam gelapnya pepohonan yang
masih jauh dari kerumunan masyarakat. Teriakan seorang ayah kepada ibu terdengar
jelas. Menambah kesedihan lagi di dalam benak seorang anak yang kini menjadi
anak tunggal di keluarga ini.
Entah mengapa Ayah kini lebih sering
meluapkan emosinya kepada Ibu. Sesekali aku melihat telapak tangan Ayah
melayang menepak keras wajah Ibu yang sudah tua renta tak berdaya. Aku tak tega
melihat Ibu menangis, namun yang bisa aku lakukan hanya menangis sambil memeluk
Ibuku. Umurku yang belum genap 14 tahun hanya bisa menangis lebih kencang untuk
meredam emosi ayah sambil memeluk Ibu. Namun, ini tidak berhasil. Bahkan ayah
yang tadinya memukuli ibu kini berbalik memukul diriku.
Adikku yang tidak tahu apa-apa menjadi
korban tragis kekerasan Ayah. Ayah yang harusnya kukenal sebagai penuntun
keluarga dan penyelamat keluarga kini
berbalik menjadi seorang Ayah yang kejam dan tak tau diri. Kematian Adik
bukannya malah membuat dirinya sadar akan dirinya. Malah membuat dirinya makin
menjadi-jadi. Bahkan lebih dari seperti seekor binatang jalang.
Setiap malam Ayah pulang dengan
sempoyongan sambil memegang sebotol minuman yang aku tak tahu apa itu isinya.
Sampai saat ini aku tak tahu apa pekerjaan Ayah yang setiap harinya pulang
hingga senja datang. Aku juga tak tahu apa yang dilakukan ayah diluar sana
sehingga dirinya seperti ini. Yang aku tahu aku hanya bisa bersekolah sampai
saat ini. Bukan berarti aku seorang kakak yang tak perduli kepada masalah keluarga.
Namun, aku sendiri saja tak berani menanyakan hal apapun kepada ayah. Aku
takut. Aku takut dipukuli ayah. Luka memar merah di lengan dan kakiku saja
belum sempat kering. Lebih baik aku bercerita kepada ibu dan hampir tiap malam
memang kebiasaan aku dan ibu bercerita mengenai masalah-masalah kehidupan yang
ibu rasakan sambil menemani adikku yang sedang sakit ditempat tidurnya.
Setiap bercerita dengan ibu aku selalu
meneteskan air mata, entah apa karena aku yang cengeng. Namun, aku sangat bisa
merasakan perasaan luka yang ada di hati ibu.
Ibu hanya bisa menangis melihatku dan
langsung memelukku. “ibu gak kuat lagi nak, ibu capek dengan kelakuan ayahmu.”
Tiba-tiba adik terbangun dan menangis
sangat kencang, mendengar perbincangan aku dan ibuku tentang ayah. Lebih dari
itu, tangisannya melebihi suara tangis seorang manusia. Matanya merah melotot
dan seperti orang yang sedang kesurupan. Tiba-tiba adikku berteriak layaknya
binatang yang ingin lepas dari sangkarnya. Serentak keadaan menjadi sunyi penuh
kebisuan dan yang ada hanya suara jeritan seorang adik yang baru berumur 4
tahun ini. Ibu yang sedari tadi menangis kaget melihat kejadian ini dan
langsung memeluk adik sambil membaca doa-doa yang sekiranya bisa menenangkan
hati adik. Aku merasakan keganjilan terhadap penyakit adikku ini. Namun, yang
bisa aku lakukan hanya memeluk adikku sambil sesekali mengusapkan kepalanya.
Matanya terus melotot kearah ibu dengan memancarkan api kemarahan. Apa yang
salah dengan keluargaku ini.
Ayah yang kesal mendengar teriakan itu
menghampiri kami dan mendobrak pintu kamar adikku. Ibu yang memeluk aku dan
adikku tak membiarkan anak-anaknya disakiti oleh ayahnya.
“minggir kamu, anak-anak ini harus
dikasih pelajaran. Kamu ini gak becus mengurus anak!” suara ayah menghancurkan
suara tangisan kami bertiga. Suara yang membuat aku merasakan sedih dan takut
akan kekerasaan yang akan dilakukan ayah.
Satu tamparan keras melayang di pipi
kanan ibuku hingga berdarah, ibuku yang sudah tua umurnya ini jatuh, tak
berdaya dan menangis. Ayah menarik lengan adikku dengan kencang hingga terbangun
dari tempat tidurnya. Ia menangis sangat keras, lebih keras dari sebelumnya.
Suasana menjadi kacau ketika ayah menarik lengan adikku hingga patah tulang
karena adik yang meronta-ronta tidak ingin mengikuti ayahnya. Sedangkan aku,
aku hanya bisa melihat kejadian ini semua sambil menangis dan hanya membantu
ibuku untuk bangun.
Seperti yang aku duga, mereka berdua:
adik dan ayah seperti orang yang kesurupan. Mana mungkin ayah punya kekuatan
sehebat itu hingga mematahkan lengan anaknya sambil berteriak dan melotot
seperti bukan manusia. Adikku yang juga menangis tak karuan sambil sesekali
berteriak dan meronta-ronta, sungguh ini bukan perilaku manusia.
Ayah menarik adik keluar kamar seperti
binatang, tak ada rasa manusiawi. Sambil menendang pintu kamar yang
menghalanginya ia terus menyeret adikku yang sedari tadi hanya bisa menangis
sangat keras. Kuku-kuku adikku terus mencakar pergelangan tangan ayah, ini
malah membuatnya makin menjadi-jadi. Lihat saja pergelangan tangan ayah penuh
dengan darah karena dicakar cukup dalam oleh adik. Lantas ayah menggiringnya
keluar rumah, membawanya ke sebuah lubang sumur tua yang ada dibelakang rumah.
Ayah yang sangat marah dan kesal
menceburkan anaknya ini kedalam sumur tua yang dalamnya hampir 10 meter. Saat
itu yang aku lihat seperti bukan ayahku yang aku kenal. Adikku malah
kelakuannya seperti binatang meronta-ronta. Berteriak dan menangis sangat
keras. Mereka semua bukan anggota keluargaku. Mereka seperti binatang jalang
yang dirasuki setan. Suara teriakan adikku seketika hilang begitu saja begitu
ayah melemparkan adikku kedalam sumur tua itu. Apa benar ayah kesurupan? Aku
melihat ayah menyakiti dirinya sendiri sambil berteriak dan mengaum seperti
harimau menusuki dirinya dengan kukunya sendiri yang tajam. Kedua lengannya
berceceran darah. Matanya tertuju kearahku. Mata yang merah melotot tajam.
Giginya bertaring dan itu bukan ayahku. Tapi sosok manusia lain yang
menyeramkan. Aku tak tahu itu siapa.
Aku menangis melihat kejadian ini sambil
memeluk ibuku yang sudah pingsan akibat tamparan ayah tadi. Aku takut
menatapnya. Aku memejamkan mata menunduk terus memeluk ibu dan seketika itu
pula sosok manusia lain yang menyeramkan bukan ayah aku itu hilang dalam
kegelapan malam yang mencekam.
Bani R.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar