Sabtu, 23 Februari 2013

Surat untuk mas Willy


                                             
Kepadamu, mas willy
aku tulis surat ini
dengan penuh rasa malu
Bersama dengan surat ini
aku ingin menyampaikan permohonan maaf
aku telah berlaku lancang
sebab mengaku sebagai penyair
sedang aku masih saja bermabuk
dengan bermanis-manis anggur yang kutulis
dengan syair merdu yang mengantuk
dan berlusin kemesraan beraroma sendu
aku belum lagi membenturkan pinsilku
pada trotoar yang melahirkan banyak bunga
dan belum mencelupkan kertas-kertasku
pada banjir yang warnanya hitam
seperti luka pada perut seorang bocah
sebab tak ada yang dicerna sedari pagi
Aku hina telah lama berbangga
menjadi seniman yang menutup jendela
sedang di halaman
mulut-mulut lapar berjuta, menganga
tangan-tangan mereka penuh luka dan darah
sebab tak henti mengaisi sisa pembangunan
aku belum menyentuh peluh yang mengering
pada orang-orang mati di pinggir jalan
terbujur kaku di kaki cukong-cukong yang congkak
Di masa lalu, kau begitu lantang
menggedor roda pemerintahan yang macet
memungut wajah-wajah miskin tergeletak di selokan
bahkan menyeka keringat dari jidat seorang pelacur
dari doa-doamu,
mengalir air mata yang curam
jatuh berderai pada muka ibu pertiwi
Kepadamu, aku sampaikan rasa malu ini


M. Askar  2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar