Panel I
Hujan
rintik-rintik membasahi tanah hutan yang gembur. Daun-daun pepohonan dan
tumbuh-tumbuhan meneteskan setiap bulir air hujan yang jatuh tertahan olehnya,
menyentuh tanah. Aroma mesiu begitu menyengat hidung ditambah dengan amisnya
darah yang mulai basah setelah mengering di atas kain baju. Air yang mengalir
dari langit mulai membasahi mayat-mayat yang perlahan darahnya bersatu dengan
aliran air.
Pasukan
berbaju putih berbaris menutup jalanan menuju bukit. Pasukan mereka telah
dipukul mundur.
“Cepat
bawa pasukanmu mundur!” seorang manggalayuda
dari pasukan lain memberitahu Wisamarta yang membariskan pasukannya menutupi
jalan dan tidak ikut mundur ke dalam bukit.
“Sebagai
manggalayuda, aku akan tetap di sini.
Memberikan waktu untuk Pangeran memasuki daerah hutan”.
“Apa-apaan
kau ini?!”.
“Cepatlah
pergi. Lindungi Pangeran!”.
Manggalayuda itu pergi memacu kudanya,
menyusul pasukannya yang dititahkan untuk melindungi Pangeran bersama pasukan
pelindung Pangeran.
Dari
jauh terlihat pasukan Kompeni telah tiba. Jumlahnya ratusan bahkan semakin
bertambah hingga ribuan.
“Allahhu
Akbar!” teriak Wisamarta yang kemudian diikuti teriakan pasukannya dengan
diiringi bunyi letusan senapan dari berbagai arah.
Banyak
tubuh-tubuh yang bergelimpangan di kedua kubu. Ketika bunyi letusan senapan
telah berhenti, pasukan Wisamarta mencabut pedangnya dan berlari menyongsong
lawan. Seketika banyak terjadi tubrukan-tubrukan antar tubuh. Ada yang jatuh
hingga terpental, ada pula yang tertusuk bayonet dan pedang-pedang lawan, dan
ada pula yang berhasil menusuk lawannya. Pertarungan yang berlangsung terjadi
begitu sengit, suara tebasan pedang bercampur dengan suara kematian tubuh-tubuh
yang tertusuk dan tertembak.
Wisamarta
berlari menyongsong seorang Jendral yang duduk di atas kuda sembari menyabetkan
pedangnya pada musuh. Mula-mula tebasan pedangnya ia sabetkan pada leher sang
kuda hingga keseimbangannya terjatuh dan Jendral di atas kudanya terjatuh.
Dengan sigap Wisamarta menendang pedang di tangan Sang Jendral. Diduduki
tubuhnya, diarahkan pedangnya di atas leher Sang Jendral.
……..
ngluhurke
asmane wong tua
dadia pendekaring bangsa
cup menenga anakku
dadia pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane
ndadari kaya ndas buta nggilani
lagi nggoleki cah nangis
tak lela lela lela ledung
lagi nggoleki cah nangis
tak lela lela lela ledung
……
Sebuah lantunan lagu tiba-tiba saja
menyeruak di telinga Wisamarta membawa pikirannya melayang jauh pada sebuah
masa.“Sudah tidur?”.
“Iya Kang mas” suara lembut perempuan yang sedang menidurkan bayinya begitu indah di pendengaran Wisamarta, “sudah larut, kok masih saja belum tidur. Besok kau bekerja”.
“Tak apa, aku ingin sekali mendengar nyanyianmu itu. Merdu sekali”.
“Masih aja genit” sebuah senyuman terlihat mewarnai wajah cantik perempuan itu sembari mletakkan tubuh anak mereka ke atas tempat tidur.
“Baiklah kalau begitu, aku akan pergi beristirahat” Wisamarta berjalan perlahan melewati ruang tamu mematikan setiap api penerangan ruangan sebelum ia pergi ke dalam kamar.
Tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuat Wisamarta terkejut dan mengurungkan niatnya untuk mematikan api penerangan.
“Siapa Mas?”.
“Assalamualaikum” ucap seorang dari balik pintu.
“Tidak tahu” Wisamarta berjalan
membukakan pintu, “waalaikumsalam”.Seorang berpakaian perang rapi dengan pedangnya muncul dari balik pintu. “Tuan Wisamarta”.
“Ya”.
Sepucuk surat bertanda keraton diserahkan prajurit itu, sebelum ia pergi menghilang di kegelapan malam.
“Surat apa Mas?”.
Dibuka olehnya surat itu. Dibaca perlahan setiap kata-kata dalam surat itu. “Surat perintah perang dari pangeran”. Ditatapnya mata istrinya. Dipeluk tubuhnya lalu dicium keningnya.
Tangan sang Jendral yang menarik kerah baju Wisamarta tiba-tiba membuatnya tersadar. Sang Jendral mencoba meronta, namun tak bisa karena tubuhnya telah tertindih kedua kaki Wisamarta.
“Bunuh aku!” teriak Jendral yang sudah menyadari bahwa hidupnya kini ada di tangan Wisamarta, “Kenapa kau diam saja?!”.
Tiba-tiba air mata Wisamarta menetes di atas wajah sang Jendral. Air itu ia kira rintikan hujan dari langit, namun mata ia masih begitu awas untuk melihat mata Wisamarta yang mengeluarkan air. Ia terkejut.
“Kenapa kau tidak membunuhku segera?”.
Wisamarta tetap menangis.
“Kenapa kau menangis?! Cepat bunuhlah aku”.
“Aku memohon padamu, hentikanlah semua ini” dilepaskannya tubuh Jendral itu.
Gelagapan Sang Jendral ke sana-ke mari mencari senjata. Tak jauh ia melihat sebuah pistol. Ditodongkan pistol itu ke arah Wisamarta.
“Rakyat telah menderita. Kami berjuang untuk menghilangkan penderitaan rakyat namun, rakyat semakin menderita. Seakan perjuangan kami adalah salah”.
Tiba-tiba sebuah pedang menembus dada Wisamarta. Di hadapan Sang jendral seorang prajurit Kompeni membunuh Wisamarta. Sang Jendral yang terkejut hanya diam saja, membatu.
Panel II
“Seru
juga nih komiknya” ucap seorang anak pada temannya, “dapat dari mana?”.
“tidak
tahu. kakakku yang membelinya kemarin”.
*Dari
sebuah komik pendek karya salah satu komikus Indonesia
Ridwan
yakin dah, yang ini seirus keren sbenrnya....
BalasHapus