Senin, 25 Februari 2013

Sebuah Kisah Untuk Hari Esok




Panel I
                Hujan rintik-rintik membasahi tanah hutan yang gembur. Daun-daun pepohonan dan tumbuh-tumbuhan meneteskan setiap bulir air hujan yang jatuh tertahan olehnya, menyentuh tanah. Aroma mesiu begitu menyengat hidung ditambah dengan amisnya darah yang mulai basah setelah mengering di atas kain baju. Air yang mengalir dari langit mulai membasahi mayat-mayat yang perlahan darahnya bersatu dengan aliran air.
                Pasukan berbaju putih berbaris menutup jalanan menuju bukit. Pasukan mereka telah dipukul mundur.              
                “Cepat bawa pasukanmu mundur!” seorang manggalayuda dari pasukan lain memberitahu Wisamarta yang membariskan pasukannya menutupi jalan dan tidak ikut mundur ke dalam bukit.
                “Sebagai manggalayuda, aku akan tetap di sini. Memberikan waktu untuk Pangeran memasuki daerah hutan”.
                “Apa-apaan kau ini?!”.
                “Cepatlah pergi. Lindungi Pangeran!”.
                Manggalayuda itu pergi memacu kudanya, menyusul pasukannya yang dititahkan untuk melindungi Pangeran bersama pasukan pelindung Pangeran.
                Dari jauh terlihat pasukan Kompeni telah tiba. Jumlahnya ratusan bahkan semakin bertambah hingga ribuan.
                “Allahhu Akbar!” teriak Wisamarta yang kemudian diikuti teriakan pasukannya dengan diiringi bunyi letusan senapan dari berbagai arah.
                Banyak tubuh-tubuh yang bergelimpangan di kedua kubu. Ketika bunyi letusan senapan telah berhenti, pasukan Wisamarta mencabut pedangnya dan berlari menyongsong lawan. Seketika banyak terjadi tubrukan-tubrukan antar tubuh. Ada yang jatuh hingga terpental, ada pula yang tertusuk bayonet dan pedang-pedang lawan, dan ada pula yang berhasil menusuk lawannya. Pertarungan yang berlangsung terjadi begitu sengit, suara tebasan pedang bercampur dengan suara kematian tubuh-tubuh yang tertusuk dan tertembak.
                Wisamarta berlari menyongsong seorang Jendral yang duduk di atas kuda sembari menyabetkan pedangnya pada musuh. Mula-mula tebasan pedangnya ia sabetkan pada leher sang kuda hingga keseimbangannya terjatuh dan Jendral di atas kudanya terjatuh. Dengan sigap Wisamarta menendang pedang di tangan Sang Jendral. Diduduki tubuhnya, diarahkan pedangnya di atas leher Sang Jendral.

……..
ngluhurke asmane wong tua
dadia pendekaring bangsa
cup menenga anakku
kae bulane ndadari kaya ndas buta nggilani
lagi nggoleki cah nangis
tak lela lela lela ledung
……
            Sebuah lantunan lagu tiba-tiba saja menyeruak di telinga Wisamarta membawa pikirannya melayang jauh pada sebuah masa.
            “Sudah tidur?”.
            “Iya Kang mas” suara lembut perempuan yang sedang menidurkan bayinya begitu indah di pendengaran Wisamarta, “sudah larut, kok masih saja belum tidur. Besok kau bekerja”.
            “Tak apa, aku ingin sekali mendengar nyanyianmu itu. Merdu sekali”.
            “Masih aja genit” sebuah senyuman terlihat mewarnai wajah cantik perempuan itu sembari mletakkan tubuh anak mereka ke atas tempat tidur.
            “Baiklah kalau begitu, aku akan pergi beristirahat” Wisamarta berjalan perlahan melewati ruang tamu mematikan setiap api penerangan ruangan sebelum ia pergi ke dalam kamar.    
            Tiba-tiba saja suara ketukan pintu membuat Wisamarta terkejut dan mengurungkan niatnya untuk mematikan api penerangan.
            “Siapa Mas?”.
“Assalamualaikum” ucap seorang dari balik pintu.
            “Tidak tahu” Wisamarta berjalan membukakan pintu, “waalaikumsalam”.
            Seorang berpakaian perang rapi dengan pedangnya muncul dari balik pintu. “Tuan Wisamarta”.
            “Ya”.
            Sepucuk surat bertanda keraton diserahkan prajurit itu, sebelum ia pergi menghilang di kegelapan malam.
            “Surat apa Mas?”.
            Dibuka olehnya surat itu. Dibaca perlahan setiap kata-kata dalam surat itu. “Surat perintah perang dari pangeran”. Ditatapnya mata istrinya. Dipeluk tubuhnya lalu dicium keningnya.
            Tangan sang Jendral yang menarik kerah baju Wisamarta tiba-tiba membuatnya tersadar. Sang Jendral mencoba meronta, namun tak bisa karena tubuhnya telah tertindih kedua kaki Wisamarta.
            “Bunuh aku!” teriak Jendral yang sudah menyadari bahwa hidupnya kini ada di tangan Wisamarta, “Kenapa kau diam saja?!”.
            Tiba-tiba air mata Wisamarta menetes di atas wajah sang Jendral. Air itu ia kira rintikan hujan dari langit, namun mata ia masih begitu awas untuk melihat mata Wisamarta yang mengeluarkan air. Ia terkejut.
            “Kenapa kau tidak membunuhku segera?”.
            Wisamarta tetap menangis.
            “Kenapa kau menangis?! Cepat bunuhlah aku”.
            “Aku memohon padamu, hentikanlah semua ini” dilepaskannya tubuh Jendral itu.
            Gelagapan Sang Jendral ke sana-ke mari mencari senjata. Tak jauh ia melihat sebuah pistol. Ditodongkan pistol itu ke arah Wisamarta.
            “Rakyat telah menderita. Kami berjuang untuk menghilangkan penderitaan rakyat namun, rakyat semakin menderita. Seakan perjuangan kami adalah salah”.
            Tiba-tiba sebuah pedang menembus dada Wisamarta. Di hadapan Sang jendral seorang prajurit Kompeni membunuh Wisamarta. Sang Jendral yang terkejut hanya diam saja, membatu.
             



Panel II
                “Seru juga nih komiknya” ucap seorang anak pada temannya, “dapat dari mana?”.
                “tidak tahu. kakakku yang membelinya kemarin”.

                                                                                                                *Dari sebuah komik pendek karya salah satu komikus Indonesia


Ridwan

1 komentar: