Bulan yang mengawang di atas langit
bersama bintang-bintang yang digantung sebagai penghias malam terlalu manis
apabila awan-awan kehitaman yang sesekali menutupi bulan, terlihat
mondar-mandir meski berbeda bentuknya. Sebuah tangis bayi di malam, memecah
keheningan balutan mulut-mulut gemintang. Bayi yang lahir membuat seluruh
tetangga-tetangga berkumpul di rumahnya. Berkerubung seperti melihat sebuah
kejadian yang maha dashyat telah terjadi di rumah itu. Seorang bayi yang lahir
dari rahim seorang remaja tanpa seorang ayah.
Seorang
pria berlari menembus kerumunan orang secara gelagapan di sana. “Di mana Pak
RT?” teriak pria itu.
“Aku di
sini, siapa yang mencariku?” jawab Pak RT dari depan teras sedang mengobrol
dengan keluarga remaja yang melahirkan.
“Saya
Pak, Fahmi” pria yang bernama Fahmi mendekati Pak RT.
“Oh
kamu toh Mi, ada apa?”.
“Begini
pak, mari ikut saya sebentar” Fahmi menggandeng Pak RT keluar dari teras rumah
dan berhenti dekat jalan di depan rumah, “begini Pak, bagaimana kalau kita
bunuh saja anak itu?”.
“Astagfirulloh
Mi, maksud kamu apa? Sadar Mi, sadar” Pak RT menggenggam wajah Fahmi yang penuh
dengan keringat.
“Ya
Pak, kita mesti membunuhnya kalau tidak mau sebuah bencana datang ke Desa
ini…”.
“Kamu
ini sinting ya? bencana apa Mi yang bakal datang?”.
“Saya
tak bisa menceritakannya Pak”.
“Ya ya
saya mengerti, sekarang kamu pulang dan istirahat saja dulu”.
“Tidak
bisa begitu Pak, ini sungguh berbahaya Pak!”.
“Sudah,
sudah Mi. sudah terlalu larut kamu pulanglah biar di sini saya yang
mengurusnya”.
“Tapi
Pak…”.
“Sudah
Mi” Pak RT segera mendorong tubuh Fahmi perlahan membalikkannya supaya berjalan
pulang, “Haduh ada-ada saja” berjalan ia kembali ke teras rumah dan duduk.
Dari dalam
rumah seorang Bidan tua keluar menggendong seorang bayi yang masih merah telah
bersih dan diselimuti. Bayi itu diserahkan kepada Kakeknya.
“Bagaimana
keadaan anak saya Bu?”.
“Tidak
apa-apa, dia sedang beristirahat”.
“Terima
kasih Bu” Kakek sang bayi menyerahkan sebuah amplop dari balik tangannya ke
bidan.
“Ya sama-sama. Kapan ayah si Bayi
menikahi anakmu?”.
“Menurut kesepakatan beberapa
minggu lagi Bu”.
“Kasihan si Dewi harus menikah
seusia sekarang”.
“Ya mau bagaimana lagi Bu, semua
telah terjadi. Bahkan anak ini pun tidak diinginkan kelahirannya” Kakek sang
Bayi tertunduk lesu melihat wajah lelap sang Bayi dipelukkan tangannya.
“Yasudah, aku mesti pulang. Sudah
terlalu larut malam”.
“Bunuh Bayi itu, jika tidak mau
Desa ini terjadi bencana!” sebuah teriakkan dari kejauhan mengaggetkan seluruh
orang-orang di Rumah itu, membuat sang Bayi terbangun dan menangis kencang.
“Astagfirulloh siapa itu?” teriak
Pak RT.
“Bunuh bayi itu untuk keselamatan
kita!”.
“Masya Allah” Pak RT berdiri dan
mengajak para pemuda kampung yang tengah berbincang-bincang dekat rumah itu,
segera bangkit dan berlari ke arah suara teriakkan itu berasal.
“Fahmi! Apa yang sedang kau
berbuat, berteriak-teriak seperti itu?” ucap Pak RT.
“Bunuh Bayi itu demi keselamatan
Desa kita”.
“Apa-apaan kau Fahmi? Cepat
tenangkan dia”.
Beberapa pemuda segera menarik
kedua tangan Fahmi, tapi Fahmi tetap
saja berteriak-teriak bahkan meronta mencoba melepaskan tangannya.
Akhirnya beberapa pemuda yang lainnya mulai memeluk tubuh Fahmi, menjaganya
untuk tetap tenang dan diam.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan,
Mi? kukira kau hanya kelelahan” tanya Pak RT.
“Kita harus membunuh bayi itu Pak!
Bencana akan segera datang!”.
“Bencana apa maksudmu?”.
“Iblis akan datang malam ini. Dia
akan membawa bayi haram itu!”.
“Astagfirulloh Mi, apa-apaan pikiranmu
itu”.
“Benar Pak, aku tidak berbohong”.
Seorang pemuda yang menggenggam
tangan Fahmi, memberikan sebuah pukulan tepat di wajah Fahmi, “Bangsat kau
Mi!”.
“Sudah-sudah, tenang semuanya” Pak
RT mencoba menenangkan suasana.
“Kau akan mati bersama yang lainnya
malam ini!” Fahmi meludahi wajah pemuda tadi yang meninju wajahnya.
“Beberapa hari lagi, Ayah sang Bayi
akan datang dan menikahi Ibunya jadi tenanglah Mi”.
“Aku tahu Pak. Aku tahu”.
“Ya jadi tenanglah, Bayi itu akan
menjadi bayi yang suci seutuhnya”.
“Tetap tidak bisa Pak. Iblis itu
akan segera datang malam ini!”.
“Sudah Pak kita ikat saja dia, dan
membiarkannya. Aku tahu dia marah karena Dewi telah melahirkan anak yang bukan
dari darahnya sendiri” ucap seorang pemuda.
“Bangsat kau Di! Aku baru pindah ke
Desa ini baru beberapa bulan. Aku tak tahu tentang Dewi sama sekali. Aku sudah
punya kekasih….”.
“Ya tapi dahulu kan? Hahahaha”.
“Bangsat kau!”.
“Dan bukankah karena dia telah
mati, makanya engkau pindah ke Desa ini? Hahahaha” sahut pemuda lainnya.
“Kau juga San?!”.
“Sudah-sudah tenanglah” Pak RT
mencoba menengahi, “lepaskan dia. jadi katakanlah yang sebenarnya Mi?”.
“Aku sudah mengatakan yang
sebenarnya padamu Pak, bahwa sebuah bencana akan datang pada Desa ini”.
“Sebaiknya
kau pulang saja Mi, rupa-rupanya kau terlalu banyak minum”.
“Aku mengatakan yang sebenarnya
Pak. Padamu dan pada siapa saja!”.
“Sudahlah Mi…”.
“Bangsat!” sebuah pukulan mendarat
di wajah Pak RT yang membuatnya terjungkal.
Seluruh pemuda yang ada di sana
segera menghantam dan memukuli tubuh Fahmi. Pak RT yang terjatuh segera
dibopong masuk ke dalam rumah. Dan Fahmi yang telah babak belur dibawa oleh
beberapa pemuda keluar dari kampung dan membiarkannya begitu saja dengan wajah
dan seluruh tubuh babak belur tergeletak di atas tanah.
“Eh bego, dasar tidak tahu terima
kasih. Kalau kau tadi tidak memukul Pak RT mungkin kejadian seperti ini tidak
bakal terjadi” para pemuda itu pun lalu pergi.
Fahmi dengan tubuh babak belurnya mencoba
bangun dan menyandarkan tubuhnya di sebuah batang pohon di dekatnya. Dari balik
jaketnya dikeluarkan sebatang rokok, ia nyalakan. Beberapa jam lamanya ia duduk
di sana dan menghadap ke arah Desa tiba-tiba saja suasana malam yang telah
larut terasa semakin mencekam. Bintang-bintang tiba-tiba saja lenyap bersama awan-awan
di langit sana, yang tertinggal hanya bulan tanpa angin di atas. Bulan itu
tampak lebih dekat dan besar dari biasanya, sinarnya pun lebih terang
menggenggam malam.
Dari kejauhan sebuah cahaya merah
turun dengan kecepatan tinggi dari arah cahaya rembulan jatuh menuju tepat di
tenga-tengah Desa. Teriakan meraung-raung terasa begitu menggores telinga,
ditambah dengan kobaran api terlihat menjilat-jilat langit malam ini. Dari luar
Desa Fahmi melihat cahaya merah itu telah kembali terbang bersama dengannya
iringan tangis bayi.
“Dahulu aku memiliki calon istri dan
seorang anak, tapi sekarang aku harus menyaksikan kejadian ini untuk kedua
kalinya”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar