Senin, 21 Januari 2013

BAYI



Bulan yang mengawang di atas langit bersama bintang-bintang yang digantung sebagai penghias malam terlalu manis apabila awan-awan kehitaman yang sesekali menutupi bulan, terlihat mondar-mandir meski berbeda bentuknya. Sebuah tangis bayi di malam, memecah keheningan balutan mulut-mulut gemintang. Bayi yang lahir membuat seluruh tetangga-tetangga berkumpul di rumahnya. Berkerubung seperti melihat sebuah kejadian yang maha dashyat telah terjadi di rumah itu. Seorang bayi yang lahir dari rahim seorang remaja tanpa seorang ayah.
                Seorang pria berlari menembus kerumunan orang secara gelagapan di sana. “Di mana Pak RT?” teriak pria itu.
                “Aku di sini, siapa yang mencariku?” jawab Pak RT dari depan teras sedang mengobrol dengan keluarga remaja yang melahirkan.
                “Saya Pak, Fahmi” pria yang bernama Fahmi mendekati Pak RT.
                “Oh kamu toh Mi, ada apa?”.
                “Begini pak, mari ikut saya sebentar” Fahmi menggandeng Pak RT keluar dari teras rumah dan berhenti dekat jalan di depan rumah, “begini Pak, bagaimana kalau kita bunuh saja anak itu?”.
                “Astagfirulloh Mi, maksud kamu apa? Sadar Mi, sadar” Pak RT menggenggam wajah Fahmi yang penuh dengan keringat.
                “Ya Pak, kita mesti membunuhnya kalau tidak mau sebuah bencana datang ke Desa ini…”.
                “Kamu ini sinting ya? bencana apa Mi yang bakal datang?”.
                “Saya tak bisa menceritakannya Pak”.
                “Ya ya saya mengerti, sekarang kamu pulang dan istirahat saja dulu”.
                “Tidak bisa begitu Pak, ini sungguh berbahaya Pak!”.
                “Sudah, sudah Mi. sudah terlalu larut kamu pulanglah biar di sini saya yang mengurusnya”.
                “Tapi Pak…”.
                “Sudah Mi” Pak RT segera mendorong tubuh Fahmi perlahan membalikkannya supaya berjalan pulang, “Haduh ada-ada saja” berjalan ia kembali ke teras rumah dan duduk.
                Dari dalam rumah seorang Bidan tua keluar menggendong seorang bayi yang masih merah telah bersih dan diselimuti. Bayi itu diserahkan kepada Kakeknya.
                “Bagaimana keadaan anak saya Bu?”.
                “Tidak apa-apa, dia sedang beristirahat”.
                “Terima kasih Bu” Kakek sang bayi menyerahkan sebuah amplop dari balik tangannya ke bidan.
“Ya sama-sama. Kapan ayah si Bayi menikahi anakmu?”.
“Menurut kesepakatan beberapa minggu lagi Bu”.
“Kasihan si Dewi harus menikah seusia sekarang”.
“Ya mau bagaimana lagi Bu, semua telah terjadi. Bahkan anak ini pun tidak diinginkan kelahirannya” Kakek sang Bayi tertunduk lesu melihat wajah lelap sang Bayi dipelukkan tangannya.
“Yasudah, aku mesti pulang. Sudah terlalu larut malam”.
“Bunuh Bayi itu, jika tidak mau Desa ini terjadi bencana!” sebuah teriakkan dari kejauhan mengaggetkan seluruh orang-orang di Rumah itu, membuat sang Bayi terbangun dan menangis kencang.
“Astagfirulloh siapa itu?” teriak Pak RT.
“Bunuh bayi itu untuk keselamatan kita!”.
“Masya Allah” Pak RT berdiri dan mengajak para pemuda kampung yang tengah berbincang-bincang dekat rumah itu, segera bangkit dan berlari ke arah suara teriakkan itu berasal.
“Fahmi! Apa yang sedang kau berbuat, berteriak-teriak seperti itu?” ucap Pak RT.
“Bunuh Bayi itu demi keselamatan Desa kita”.
“Apa-apaan kau Fahmi? Cepat tenangkan dia”.
Beberapa pemuda segera menarik kedua tangan Fahmi, tapi Fahmi tetap  saja berteriak-teriak bahkan meronta mencoba melepaskan tangannya. Akhirnya beberapa pemuda yang lainnya mulai memeluk tubuh Fahmi, menjaganya untuk tetap tenang dan diam.
“Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Mi? kukira kau hanya kelelahan” tanya Pak RT.
“Kita harus membunuh bayi itu Pak! Bencana akan segera datang!”.
“Bencana apa maksudmu?”.
“Iblis akan datang malam ini. Dia akan membawa bayi haram itu!”.
“Astagfirulloh Mi, apa-apaan pikiranmu itu”.
“Benar Pak, aku tidak berbohong”.
Seorang pemuda yang menggenggam tangan Fahmi, memberikan sebuah pukulan tepat di wajah Fahmi, “Bangsat kau Mi!”.
“Sudah-sudah, tenang semuanya” Pak RT mencoba menenangkan suasana.
“Kau akan mati bersama yang lainnya malam ini!” Fahmi meludahi wajah pemuda tadi yang meninju wajahnya.
“Beberapa hari lagi, Ayah sang Bayi akan datang dan menikahi Ibunya jadi tenanglah Mi”.
“Aku tahu Pak. Aku tahu”.
“Ya jadi tenanglah, Bayi itu akan menjadi bayi yang suci seutuhnya”.
“Tetap tidak bisa Pak. Iblis itu akan segera datang malam ini!”.
“Sudah Pak kita ikat saja dia, dan membiarkannya. Aku tahu dia marah karena Dewi telah melahirkan anak yang bukan dari darahnya sendiri” ucap seorang pemuda.
“Bangsat kau Di! Aku baru pindah ke Desa ini baru beberapa bulan. Aku tak tahu tentang Dewi sama sekali. Aku sudah punya kekasih….”.
“Ya tapi dahulu kan? Hahahaha”.
“Bangsat kau!”.
“Dan bukankah karena dia telah mati, makanya engkau pindah ke Desa ini? Hahahaha” sahut pemuda lainnya.
“Kau juga San?!”.
“Sudah-sudah tenanglah” Pak RT mencoba menengahi, “lepaskan dia. jadi katakanlah yang sebenarnya Mi?”.
“Aku sudah mengatakan yang sebenarnya padamu Pak, bahwa sebuah bencana akan datang pada Desa ini”.
  “Sebaiknya kau pulang saja Mi, rupa-rupanya kau terlalu banyak minum”.
“Aku mengatakan yang sebenarnya Pak. Padamu dan pada siapa saja!”.
“Sudahlah Mi…”.
“Bangsat!” sebuah pukulan mendarat di wajah Pak RT yang membuatnya terjungkal.
Seluruh pemuda yang ada di sana segera menghantam dan memukuli tubuh Fahmi. Pak RT yang terjatuh segera dibopong masuk ke dalam rumah. Dan Fahmi yang telah babak belur dibawa oleh beberapa pemuda keluar dari kampung dan membiarkannya begitu saja dengan wajah dan seluruh tubuh babak belur tergeletak di atas tanah.
“Eh bego, dasar tidak tahu terima kasih. Kalau kau tadi tidak memukul Pak RT mungkin kejadian seperti ini tidak bakal terjadi” para pemuda itu pun lalu pergi.
Fahmi dengan tubuh babak belurnya mencoba bangun dan menyandarkan tubuhnya di sebuah batang pohon di dekatnya. Dari balik jaketnya dikeluarkan sebatang rokok, ia nyalakan. Beberapa jam lamanya ia duduk di sana dan menghadap ke arah Desa tiba-tiba saja suasana malam yang telah larut terasa semakin mencekam. Bintang-bintang tiba-tiba saja lenyap bersama awan-awan di langit sana, yang tertinggal hanya bulan tanpa angin di atas. Bulan itu tampak lebih dekat dan besar dari biasanya, sinarnya pun lebih terang menggenggam malam.
Dari kejauhan sebuah cahaya merah turun dengan kecepatan tinggi dari arah cahaya rembulan jatuh menuju tepat di tenga-tengah Desa. Teriakan meraung-raung terasa begitu menggores telinga, ditambah dengan kobaran api terlihat menjilat-jilat langit malam ini. Dari luar Desa Fahmi melihat cahaya merah itu telah kembali terbang bersama dengannya iringan tangis bayi.
“Dahulu aku memiliki calon istri dan seorang anak, tapi sekarang aku harus menyaksikan kejadian ini untuk kedua kalinya”.

                  

Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar