Jumat, 13 Juli 2012

Tertembak mati




Kegelapan yang menyelimuti relung hati yang dalam. Isak tangis mengiringi kepergian sang mantan. Darah menetesi lantai putih. Petir menyentak begitu kencang. Gemuruh angin yang keras membuat pepohonan bertumbangan. Hanya keikhlasan yang bisa melepaskan semua keadaan. Ini memang takdir yang tak bisa dihindarkan. Kelakuan buruk memang menyedihkan. Bendera kuning tertancap di depan pekarangan. Para tamu silih berganti berdatangan turut berbela sungkawa atas semua kejadian.
Di ruang tamu tertidur jasad yang terbujur kaku. Tubuh tanpa darah yang terhisap oleh peluru panas. Kain kafan yang membalut sekujur tubuh tanpa nyawa. Kapas-kapas yang terjepit hidung dan telinga. Kedua telapak tangan yang bersandar di atas dada. Bibir yang menjepit begiru rapat. Kelopak mata yang begitu pucat. Wajah  terlihat kuning pucat. Lantunan doa yang mengiri. Keluarga mengelilingi jasad yang terbujur kaku. Kedua anak kecil yang menangis tanpa henti.
Tukang gali kubur menggali tanah 2 meter. Sebagian orang mengambil keranda yang berada di mesjid. Semuanya hanya terdiam. Melakukan kegiatan yang tak sering di lakukan. Karangan bunga yang memenuhi halaman pekarangan. Semua keluarga larut dalam kesedihan yang sangat mendalam. Sahabat dekat berdatangan tak yakin semua ini hal yang sangat kebetulan.
Ibu memeluk erat kedua buah hatinya. Dengan penuh rasa kasih dan sayang. Ibu mengecup kening kedua buah hatinya. Air mata yang tanpa henti membasahi pipi yang kering. para polisi berjaga di halaman pekarangan. Tetangga yang berbincang-bincang dengan penuh rasa penasaran. Para ulama dan kiyai siap menyolatkan. Jasad yang terbujur kaku dibawa ke dalam mesjid yang berada di samping rumah. Semuanya larut dalam keheningan. Kiyai yang menjadi imam dalam prosesi menyolatkan, berdiri tegak sambil menyolatkan.
Keluarga yang tak tahan dengan semua perasaan. Berteriak histeris seperti kerasukan. Kerabat melerai dan menenangkan. Air putih yang diberikan menyadarkan yang kerasukan. Keikhlasan memang harus dijalankan. Takdir memang tak ada yang bisa menahan. Hanya iman islam yang bisa menyelamatkan. Keluarga hanya bisa mendoakan. Agar beristirahat di tempat peristirahatan.
Jasad siap untuk dimakamkan. Keluarga, tetangga, kerabat. Menggotong keranda yang mengenaskan. Keranda keluar dari dalam masjid. Semua keluarga berkumpul di halaman masjid. Kemudian keranda dibawa ke tempat pemakaman. Keluarga, tetangga, kerabat. Mengiringi jasad yang terbujur kaku ke tempat peristirahatan. Langkah yang begitu pelan. Air mata yang tak henti menetes. Anak kecil yang menangis begitu kencang mengiringi prosesi pemakaman
Dipemakaman tanah yang tergali sedalam 2 meter sudah tersiapkan. Batu nissan yang terukir sudah siap dipasang. Terlihat iring-iringan keluarga, kerabat, tetangga yang mengantarkan jasad ke pemakaman. Petugas siap membantu menurunkan. Semua memakai pakaian hitam. Semua terdiam hening bagaikan kota yang tanpa penghuni. Semua larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Kedua buah hati memberi salam perpisahan. Isteri yang merangkul kedua buah hati berusaha tegar dihadapan sang mantan.
Jasad mulai diturunkan. Orang-orang menyangga dengan penuh hati-hati. Jasad dibaringkan menghandap dinding liang lahad. Kain kafan yang membungkus dan terikat oleh tali mulai dilepaskan. Ulama mengajankan, semoga jasad bisa tenang di tempat peristirhatan. Papan-papan mulai menutupi jasad yang terbaring. Sedikit demi sedikit gundukan tanah mulai menutupi lubang 2 meter itu. Isak tangis pun mulai pecah kembali setelah setengah dari lubang mulai tertutupi oleh tanah merah itu. Petugas yang membantu menguburkan jasad itu mulai mempercepat kerjanya. Tanah diinjak-injak begitu padat.
Sekarang begitu terlihat gundukan tanah merah. Bunga tertabur di gundukan tanah merah. Batu nissan yang terukir benar-benar terpasang. Satu persatu kerabat, tetangga mulai meninggalkan pemakaman. Kini hanyalah keluarga yang masih berada di pemakaman. Kematian memang akhir dari perjalanan kehidupan. Dan penyesalan bukanlah sesuatu yang tepat untuk menyelesaikan sebuah keterpurukan.
“mah, apakah papah tidak akan pernah kembali lagi?”
“kamu yang sabar ya nak. Mamah akan selalu menyayangi kalian berdua”
“aku dan ade juga akan selalu menyayangi mamah”
“iya sayang. Hanya kalian saat ini yang membuat mamah tegar dan terus berdiri tegak.”
          Aku hanya terdiam membisu. Mendengar apa yang dikatakan kedua buah hati ku. Semakin sakit hati ini melihat semua yang telah terjadi. Terasa mimpi yang menghinggapi relung hati yang sedang tersayat nadi. Air mata tak hentinya membanjiri pipi ini. Kerudung hitam tertiup hembusan angin yang begitu dingin. Tangan yang memegang batu nissan yang terukir nama sang mantan. Kata perpisahan terucap dengan begitu menyedihkan. Doa yang terselip di hati mengiringi kepergian dirinya yang begitu terasakan.
          Langkah kaki meninggalkan tempat pemakaman. Jauh dari tempat pemakaman tengokan demi tengokan tak terasa terlakukan. Kedua buah hati yang begitu terpukul dengan semua kejadian. Jangan ada dendam yang berkepanjangan. Suasana rumah yang sepi tanpa ada yang bisa di banggakan. Kini usailah sudah. Hanya tinggal kenangan yang menjadi obat rasa rindu.
          Foto-foto yang terpampang diruang keluarga kini hanya tinggallah foto tanpa jasad. Foto itu benar-benar hanyalah foto. Semua kenangan indah yang telah terlewati kini takkan pernah bisa terulang kembali. Kegiatan yang biasanya dilakukan kini hanyalan hal yang tak pernah lagi dipegang. Sunggung hal yang sangat memilukan. Tanpamu aku akan tetap hidup. Kedua buah hati mu akan ku jaga dengan baik. Semoga dirimu tenang di alam sana.
“mamah, papah bukan teroris kan?”
“bukan nak, papah mu itu buka teroris. Percayalah”


Asep Sunandar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar