Kegelapan
yang menyelimuti relung hati yang dalam. Isak tangis mengiringi kepergian sang
mantan. Darah menetesi lantai putih. Petir menyentak begitu kencang. Gemuruh
angin yang keras membuat pepohonan bertumbangan. Hanya keikhlasan yang bisa
melepaskan semua keadaan. Ini memang takdir yang tak bisa dihindarkan. Kelakuan
buruk memang menyedihkan. Bendera kuning tertancap di depan pekarangan. Para
tamu silih berganti berdatangan turut berbela sungkawa atas semua kejadian.
Di
ruang tamu tertidur jasad yang terbujur kaku. Tubuh tanpa darah yang terhisap
oleh peluru panas. Kain kafan yang membalut sekujur tubuh tanpa nyawa. Kapas-kapas
yang terjepit hidung dan telinga. Kedua telapak tangan yang bersandar di atas
dada. Bibir yang menjepit begiru rapat. Kelopak mata yang begitu pucat.
Wajah terlihat kuning pucat. Lantunan doa
yang mengiri. Keluarga mengelilingi jasad yang terbujur kaku. Kedua anak kecil
yang menangis tanpa henti.
Tukang
gali kubur menggali tanah 2 meter. Sebagian orang mengambil keranda yang berada
di mesjid. Semuanya hanya terdiam. Melakukan kegiatan yang tak sering di
lakukan. Karangan bunga yang memenuhi halaman pekarangan. Semua keluarga larut
dalam kesedihan yang sangat mendalam. Sahabat dekat berdatangan tak yakin semua
ini hal yang sangat kebetulan.
Ibu
memeluk erat kedua buah hatinya. Dengan penuh rasa kasih dan sayang. Ibu
mengecup kening kedua buah hatinya. Air mata yang tanpa henti membasahi pipi
yang kering. para polisi berjaga di halaman pekarangan. Tetangga yang
berbincang-bincang dengan penuh rasa penasaran. Para ulama dan kiyai siap
menyolatkan. Jasad yang terbujur kaku dibawa ke dalam mesjid yang berada di
samping rumah. Semuanya larut dalam keheningan. Kiyai yang menjadi imam dalam
prosesi menyolatkan, berdiri tegak sambil menyolatkan.
Keluarga
yang tak tahan dengan semua perasaan. Berteriak histeris seperti kerasukan.
Kerabat melerai dan menenangkan. Air putih yang diberikan menyadarkan yang
kerasukan. Keikhlasan memang harus dijalankan. Takdir memang tak ada yang bisa
menahan. Hanya iman islam yang bisa menyelamatkan. Keluarga hanya bisa
mendoakan. Agar beristirahat di tempat peristirahatan.
Jasad
siap untuk dimakamkan. Keluarga, tetangga, kerabat. Menggotong keranda yang
mengenaskan. Keranda keluar dari dalam masjid. Semua keluarga berkumpul di
halaman masjid. Kemudian keranda dibawa ke tempat pemakaman. Keluarga,
tetangga, kerabat. Mengiringi jasad yang terbujur kaku ke tempat
peristirahatan. Langkah yang begitu pelan. Air mata yang tak henti menetes.
Anak kecil yang menangis begitu kencang mengiringi prosesi pemakaman
Dipemakaman
tanah yang tergali sedalam 2 meter sudah tersiapkan. Batu nissan yang terukir
sudah siap dipasang. Terlihat iring-iringan keluarga, kerabat, tetangga yang
mengantarkan jasad ke pemakaman. Petugas siap membantu menurunkan. Semua
memakai pakaian hitam. Semua terdiam hening bagaikan kota yang tanpa penghuni.
Semua larut dalam kesedihan yang begitu mendalam. Kedua buah hati memberi salam
perpisahan. Isteri yang merangkul kedua buah hati berusaha tegar dihadapan sang
mantan.
Jasad
mulai diturunkan. Orang-orang menyangga dengan penuh hati-hati. Jasad dibaringkan
menghandap dinding liang lahad. Kain kafan yang membungkus dan terikat oleh
tali mulai dilepaskan. Ulama mengajankan, semoga jasad bisa tenang di tempat
peristirhatan. Papan-papan mulai menutupi jasad yang terbaring. Sedikit demi
sedikit gundukan tanah mulai menutupi lubang 2 meter itu. Isak tangis pun mulai
pecah kembali setelah setengah dari lubang mulai tertutupi oleh tanah merah
itu. Petugas yang membantu menguburkan jasad itu mulai mempercepat kerjanya.
Tanah diinjak-injak begitu padat.
Sekarang
begitu terlihat gundukan tanah merah. Bunga tertabur di gundukan tanah merah.
Batu nissan yang terukir benar-benar terpasang. Satu persatu kerabat, tetangga
mulai meninggalkan pemakaman. Kini hanyalah keluarga yang masih berada di
pemakaman. Kematian memang akhir dari perjalanan kehidupan. Dan penyesalan
bukanlah sesuatu yang tepat untuk menyelesaikan sebuah keterpurukan.
“mah,
apakah papah tidak akan pernah kembali lagi?”
“kamu
yang sabar ya nak. Mamah akan selalu menyayangi kalian berdua”
“aku dan
ade juga akan selalu menyayangi mamah”
“iya sayang.
Hanya kalian saat ini yang membuat mamah tegar dan terus berdiri tegak.”
Aku hanya terdiam membisu. Mendengar
apa yang dikatakan kedua buah hati ku. Semakin sakit hati ini melihat semua
yang telah terjadi. Terasa mimpi yang menghinggapi relung hati yang sedang
tersayat nadi. Air mata tak hentinya membanjiri pipi ini. Kerudung hitam
tertiup hembusan angin yang begitu dingin. Tangan yang memegang batu nissan
yang terukir nama sang mantan. Kata perpisahan terucap dengan begitu
menyedihkan. Doa yang terselip di hati mengiringi kepergian dirinya yang begitu
terasakan.
Langkah kaki meninggalkan tempat
pemakaman. Jauh dari tempat pemakaman tengokan demi tengokan tak terasa
terlakukan. Kedua buah hati yang begitu terpukul dengan semua kejadian. Jangan
ada dendam yang berkepanjangan. Suasana rumah yang sepi tanpa ada yang bisa di
banggakan. Kini usailah sudah. Hanya tinggal kenangan yang menjadi obat rasa
rindu.
Foto-foto yang terpampang diruang
keluarga kini hanya tinggallah foto tanpa jasad. Foto itu benar-benar hanyalah
foto. Semua kenangan indah yang telah terlewati kini takkan pernah bisa
terulang kembali. Kegiatan yang biasanya dilakukan kini hanyalan hal yang tak
pernah lagi dipegang. Sunggung hal yang sangat memilukan. Tanpamu aku akan
tetap hidup. Kedua buah hati mu akan ku jaga dengan baik. Semoga dirimu tenang
di alam sana.
“mamah,
papah bukan teroris kan?”
“bukan
nak, papah mu itu buka teroris. Percayalah”
Asep Sunandar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar