Jumat, 20 Juli 2012

Cinta, apa itu?




Aku bertemu seorang teman lama, di sebuah taman, pada sebuah senja gerimis musim hujan. Kami membicarakan banyak hal. Beberapa tahun seperti menyimpan segudang kerinduan, yang kemudian meruah antara kami berdua.
Mulai dari urusan pekerjaan, mengingat masa-masa muda, sampai pada masalah percintaan. Dan sampailah kami pada sebuah pertanyaan yang dia lemparkan kepadaku.
“Cinta. Apa itu, teman?” sebuah pertanyaan yang cukup mudah. Tapi benarkah?
Apa sebenarnya cinta itu? Apakah aku benar-benar mengetahuinya? Lalu cinta seperti apa yang sebenarnya aku ketahui? Pertanyaan-pertanyaan perlahan memakan kepalaku.
Aku pernah jatuh cinta. Ya, pernah. Tapi tak benar-benar mengerti apa itu cinta. Hanya sekedar menyukai lawan jenis dan ingin memilikinya, kemudian bercinta dengannya.
Tapi benarkah yang seperti itu yang namanya cinta? Aku ragu.
Aku kembalikan pertanyaan itu kepadanya. Sedikit mengerutkan dahinya, mungkin sedang berpikir. Dan pada akhirnya kami berdua mengerutkan dahi masing-masing, kemudian berpikir.
Sebenarnya, aku menemukan banyak sekali cinta. Aku menemukan cinta seorang ibu dalam sekaleng sarden, kemudian cinta seorang ayah dalam keringatnya pada lepas pagi. Lalu aku menemukan banyak sekali cinta dalam butir-butir debu kapur papan tulis sekolah. Cinta yang melimpah untuk seorang murid yang lapar.
Tapi itukah cinta yang sebenarnya? Aku rasa benar.
Bagaimana dengan temanku. Sepertinya masih tenggelam dalam pikirannya. Sampai terpejam matanya dan masih saja mengerutkan dahi.
Sudahlah. Kubiarkan saja dulu.
Aku mulai berpikir lagi. Bagaimana dengan hubunganku dengan lawan jenis yang selama ini juga kuanggap sebagai cinta. Apakah itu benar-benar cinta? tentu saja aku tidak bisa menjawabnya.
Perasaan menyukai lawan jenis dan ingin memilikinya. Apakah berarti cinta itu harus memiliki. Bagaimana jika tidak memiliki. Apa tidak bisa dikatakan sebagai cinta. Kemudian timbul rasa ingin bercinta dengan lawan jenis ini. Bukankah bercinta itu berlandaskan nafsu. Apakah berarti cinta itu nafsu. Lagipula, kenapa dinamakan bercinta, tidak bernafsu atau sesuatu yang lain.
Kembali kepada temanku. Dia masih memejamkan mata dengan dahi yang semakin mengkerut.
Sudahlah. Kubiarkan saja dia berpikir dulu.
Kami tidak pernah berpikir sekeras ini sebelumnya. Hanya percakapan-percakapan ringan yang biasanya mengisi pertemuan kami. Entahlah, mungkin ada sesuatu yang sedang dia pikirkan.
Cinta. ya, cinta.
Tapi kenapa dia memikirkan persoalaan tentang cinta. Aku ingat betul, dia adalah orang yang paling tidak suka berbicara tentang cinta dulu. Terlebih karena latar belakang kehidupan punk-nya, yang menganggap bahwa persoalaan cinta tidaklah penting dalam hidup. Masih banyak masalah-masalah sosial lainnya yang menurutnya lebih penting untuk dibicarakan.
Tentu saja, dia belum menyadari bahwa cinta adalah masalah terbesar dalam hidup. Aku menyadarinya akhir-akhir ini.
Aku mulai berpikir lagi. Bagaimana dengan beberapa kerusuhan yang ramai di beritakan akhir-akhir ini. Apakah ada cukup cinta untuk orang-orang yang kehilangan keluarga mereka. Apakah ada cinta pada para petugas yang mengoyak pasar-pasar miskin.
Itukah cinta menurut mereka. Atau mereka juga belum menemukan seperti apa cinta itu sebenarnya, sama sepertiku.
Ah, ingin rasanya mengajak mereka untuk bersama-sama mencari apa itu cinta. Tidak apa, akan kuajarkan kepada mereka begitu sudah kutemukan apa yang kucari. Kalau perlu akan kubagi sedikit.
Dan lagi, kutengok ke arah temanku. Dan masih kutemukan dia dalam keadaan yang sama. Memejamkan mata dan mengerutkan dahi.
Apakah benar-benar sesulit ini.
Aku tiba-tiba teringat sebuah dialog yang sama dengan seorang teman. Aku lemparkan pertanyaan ini padanya. Kemudian dia menjawab,
“Cinta adalah kerinduan.” Jawaban yang singkat dan sungguh tidak membantu. Tapi tetap akan aku pertimbangkan.
Aku mulai lelah, dan kuputuskan untuk berhenti berpikir tentang cinta. Tinggal menunggu apa yang dihasilkan dari pertapaan temanku. Atau menunggu dia lelah dan mulai menyerah juga.
Benarlah dia selesai dari pertapaannya. Wajahnya mulai datar saat menghilangkan kerut-kerut dari dahinya. Membuka mata perlahan, menatapku, kemudian tersenyum cerah.
“Jadi, sudah kau temukan, teman?”
“Ya. Sudah.”
“Lalu, apa itu cinta?”
“Cintailah yang Maha Pencinta, teman. Kau akan menemukan apa itu cinta yang sesungguhnya.”
“aku harus mencintai Tuhan?”
Dia hanya diam lalu berdiri. Matanya menghadap kearah kejauhan. Tajam. Seperti ada sesuatu yang dia inginkan disana. Dia meninggalkan beberapa kata sebelum akhirnya tersenyum dan kemudian benar-benar pergi. “mencintalah dengan cinta yang paling cinta, teman!”
Aku tidak akan merindukannya. Dia pasti akan kembali, saat sedang memikirkan sesuatu yang sulit. Atau aku yang memikirkannya.




Askar M.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar