Aku
bertemu seorang teman lama, di sebuah taman, pada sebuah senja gerimis musim
hujan. Kami membicarakan banyak hal. Beberapa tahun seperti menyimpan segudang
kerinduan, yang kemudian meruah antara kami berdua.
Mulai
dari urusan pekerjaan, mengingat masa-masa muda, sampai pada masalah
percintaan. Dan sampailah kami pada sebuah pertanyaan yang dia lemparkan
kepadaku.
“Cinta.
Apa itu, teman?” sebuah pertanyaan yang cukup mudah. Tapi benarkah?
Apa
sebenarnya cinta itu? Apakah aku benar-benar mengetahuinya? Lalu cinta seperti
apa yang sebenarnya aku ketahui? Pertanyaan-pertanyaan perlahan memakan
kepalaku.
Aku
pernah jatuh cinta. Ya, pernah. Tapi tak benar-benar mengerti apa itu cinta.
Hanya sekedar menyukai lawan jenis dan ingin memilikinya, kemudian bercinta
dengannya.
Tapi
benarkah yang seperti itu yang namanya cinta? Aku ragu.
Aku
kembalikan pertanyaan itu kepadanya. Sedikit mengerutkan dahinya, mungkin
sedang berpikir. Dan pada akhirnya kami berdua mengerutkan dahi masing-masing,
kemudian berpikir.
Sebenarnya,
aku menemukan banyak sekali cinta. Aku menemukan cinta seorang ibu dalam
sekaleng sarden, kemudian cinta seorang ayah dalam keringatnya pada lepas pagi.
Lalu aku menemukan banyak sekali cinta dalam butir-butir debu kapur papan tulis
sekolah. Cinta yang melimpah untuk seorang murid yang lapar.
Tapi
itukah cinta yang sebenarnya? Aku rasa benar.
Bagaimana
dengan temanku. Sepertinya masih tenggelam dalam pikirannya. Sampai terpejam
matanya dan masih saja mengerutkan dahi.
Sudahlah.
Kubiarkan saja dulu.
Aku
mulai berpikir lagi. Bagaimana dengan hubunganku dengan lawan jenis yang selama
ini juga kuanggap sebagai cinta. Apakah itu benar-benar cinta? tentu saja aku
tidak bisa menjawabnya.
Perasaan
menyukai lawan jenis dan ingin memilikinya. Apakah berarti cinta itu harus
memiliki. Bagaimana jika tidak memiliki. Apa tidak bisa dikatakan sebagai
cinta. Kemudian timbul rasa ingin bercinta dengan lawan jenis ini. Bukankah
bercinta itu berlandaskan nafsu. Apakah berarti cinta itu nafsu. Lagipula,
kenapa dinamakan bercinta, tidak bernafsu atau sesuatu yang lain.
Kembali
kepada temanku. Dia masih memejamkan mata dengan dahi yang semakin mengkerut.
Sudahlah.
Kubiarkan saja dia berpikir dulu.
Kami
tidak pernah berpikir sekeras ini sebelumnya. Hanya percakapan-percakapan
ringan yang biasanya mengisi pertemuan kami. Entahlah, mungkin ada sesuatu yang
sedang dia pikirkan.
Cinta.
ya, cinta.
Tapi
kenapa dia memikirkan persoalaan tentang cinta. Aku ingat betul, dia adalah
orang yang paling tidak suka berbicara tentang cinta dulu. Terlebih karena
latar belakang kehidupan punk-nya,
yang menganggap bahwa persoalaan cinta tidaklah penting dalam hidup. Masih
banyak masalah-masalah sosial lainnya yang menurutnya lebih penting untuk
dibicarakan.
Tentu
saja, dia belum menyadari bahwa cinta adalah masalah terbesar dalam hidup. Aku
menyadarinya akhir-akhir ini.
Aku
mulai berpikir lagi. Bagaimana dengan beberapa kerusuhan yang ramai di
beritakan akhir-akhir ini. Apakah ada cukup cinta untuk orang-orang yang
kehilangan keluarga mereka. Apakah ada cinta pada para petugas yang mengoyak
pasar-pasar miskin.
Itukah
cinta menurut mereka. Atau mereka juga belum menemukan seperti apa cinta itu
sebenarnya, sama sepertiku.
Ah,
ingin rasanya mengajak mereka untuk bersama-sama mencari apa itu cinta. Tidak
apa, akan kuajarkan kepada mereka begitu sudah kutemukan apa yang kucari. Kalau
perlu akan kubagi sedikit.
Dan
lagi, kutengok ke arah temanku. Dan masih kutemukan dia dalam keadaan yang
sama. Memejamkan mata dan mengerutkan dahi.
Apakah
benar-benar sesulit ini.
Aku
tiba-tiba teringat sebuah dialog yang sama dengan seorang teman. Aku lemparkan
pertanyaan ini padanya. Kemudian dia menjawab,
“Cinta
adalah kerinduan.” Jawaban yang singkat dan sungguh tidak membantu. Tapi tetap
akan aku pertimbangkan.
Aku
mulai lelah, dan kuputuskan untuk berhenti berpikir tentang cinta. Tinggal
menunggu apa yang dihasilkan dari pertapaan temanku. Atau menunggu dia lelah
dan mulai menyerah juga.
Benarlah
dia selesai dari pertapaannya. Wajahnya mulai datar saat menghilangkan
kerut-kerut dari dahinya. Membuka mata perlahan, menatapku, kemudian tersenyum
cerah.
“Jadi,
sudah kau temukan, teman?”
“Ya.
Sudah.”
“Lalu,
apa itu cinta?”
“Cintailah
yang Maha Pencinta, teman. Kau akan menemukan apa itu cinta yang sesungguhnya.”
“aku
harus mencintai Tuhan?”
Dia
hanya diam lalu berdiri. Matanya menghadap kearah kejauhan. Tajam. Seperti ada
sesuatu yang dia inginkan disana. Dia meninggalkan beberapa kata sebelum
akhirnya tersenyum dan kemudian benar-benar pergi. “mencintalah dengan cinta yang paling cinta, teman!”
Aku
tidak akan merindukannya. Dia pasti akan kembali, saat sedang memikirkan
sesuatu yang sulit. Atau aku yang memikirkannya.
Askar M.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar