Senin, 09 Juli 2012

BIDADARI DALAM KELAM



            “ Saya terima nikah dan kawinnya Marianah binti Fansuri dengan mas kawin cincin berlian seberat 10 gram dan seperangkat alat shalat dibayar tunai”
            “ Bagaimana saksi, sah? ” suara penghulu meminta persetujuan kepada para saksi yang menghadiri akad nikahku dengan lelaki pilihan dan yang memilihku.
            “ Sah....” jawab para saksi yang menghadiri akad nikahku.
            “Alhamdulillah.....”
            Ya hari ini adalah hari yang menjadi sejarah baru untuk hidupku. Aku dipinang oleh lelaki yang mencintaiku dengan  apa adanya. Ya, menurutku seperti itu. Karena sejak pertama kali aku bertemu dengannya, dia lelaki pertama yang berani berkata kalau ia mencintaiku sepenuh hati dan tak bisa melupakanku sejak pertama ia bertemu denganku di sekitaran tempat hiburan malam di Melawai. Aku sedikit terkejut, selama perjalanan hidupku aku tak pernah menemukan lelaki sejantan dan seberani dia, yang tak ragu mengungkapkan kalau dia memiliki rasa yang lebih kepadaku. Aneh, tapi ini kenyataan. Biasanya aku hanya menemui lelaki yang merayuku, membujukku agar aku bisa melayaninya tanpa sedikitpun kata-kata cinta terlontar dari mulut para lelaki itu. Hanya mas Gilang, dia saja lelaki yang berkata cinta kepadaku.
            Sudah kujelaskan memang sebelumnya kalau aku mungkin tak pantas untuk menjadi istri lelaki tampan dan berwibawa itu. Tapi ia tetap memaksaku agar aku mau menerima cintanya dan mau untuk dipinangnya. Mustahil, itulah kata pertamku menjawab pertanyaannya. Memang pada waktu aku berkenalan dengannya, aku hanya seorang wanita penghibur yang setiap malam mengeluarkan najis, aib, bahkan dosa yang mungkin Tuhan sangat murka dengan apa yang kulakukan. Tapi inilah aku, sang Bidadari dalam kelam. Itulah sebutan yang selalu ditimpakan kepadaku oleh orang-orang yang menganggap diri mereka suci, lebih suci dari aku, si Bidadari dalam kelam.
            Aku hanya bisa tersenyum dan inilah aku si Bidadari yang kelam. Yang diobral, yang dicabik-cabik kesuciannya, yang dianggap menjijikan bahkan dianggap lebih menjijikan dari  anjing. Tapi kuterima  segala hinaan itu semua dengan senyum dan dengan rasa tanpa dosa. Dosakah aku menuruti orang tuaku yang telah memasukan aku kedalam kubangan neraka? Bukankah ini baktiku terhadap orang tuaku? Ah, itu bukan hal yang musti aku ingat kembali. Inilah aku si Bidadari dalam kelam yang akan mencoba membuka tabir mimpi yang baru nan cerah, membuka dunia dalam mimpi dengan harapan aku bisa lebih suci dari orang-orang yang kerap mencerca dan menghakimiku. Kini aku bukan lagi seorang bidadari dalam kelam yang setiap hari mencium bau neraka bahkan hidup dalam kubangan neraka tapi sedikit demi sedikit akan kutapaki surga yang masih jauh dari hadapanku.
***
            “Kamu harus menyadari bahwa kini hidup kita tak seperti dahulu lagi. Mungkin sebelum kepergian ayahmu kita hidup serba berkecukupan, tapi sepeninggal ayahmu, kita mungkin harus banyak-banyak berhemat. Apa yang kita punya dulu sedikit demi sedikit mulai terkikis dan menipis “ keluh ibu sambil mengelus-elus kepalaku dengan penuh kasih. “Aku sadar itu ibu “. Aku sedikit kaget dengan perkataan ibu tadi karena baru kali ini kudengar ibu bimbang. Aku tak berharap banyak dari ibu, memang sebelumnya aku terus merengek kepadanya agar aku bisa tetap meneruskan pendidikanku jenjang yang lebih tinggi. Meski aku yakin bahwa tanpa adanya ayah disisi kami, kami masih bisa tetap bertahan menjalani hidup.
            “ Maafkan ibu nak, mungkin ibu tak bisa memenuhi keinginanmu untuk melanjutkan sekolahmu ke jenjang perguruan tinggi tapi ibu berharap kamu bisa terus menjalani hidup meski pendidikanmu hanya sebatas tamatan SMA “ kata ibu seraya menasehatiku. Aku tertegun, menangis dengan perkataan ibu yang itu. Itu artinya aku harus lebih prihatin akan kehidupan kami yang kian pelik. “ Baiklah ibu, aku tak akan merengek dan menuntut apa yang mungkin kau tak sanggupi tapi izinkan aku untuk membalas semua budi baikmu Ibu, semenjak aku engkau lahirkan sampai aku tumbuh dewasa ini dan semoga budibaikku takkan hilang sampai sepeninngal engkau nanti “. Itulah kata-kata yang hanya dapat kulontarkan dari pernyataan ibu tadi. Aku segera memeluknya menciuminya dan tak kulepaskan pelukannya yang erat itu. Tuhan aku hanya bisa berharap yang terbaik saja untuk masa depanku untuk membalas budi baik ibu.
            Semakin hari kehidupan kami semakin terasa kelam, itu yang aku rasakan. Setiap hari tak jarang satu dua orang datang kerumah kami bukan untuk memberi belas kasih dan memang kami tak ingin dikasihani orang lain meski kehidupan kami kian merasa melarat. Orang-orang yang datang kerumah kami hanya bertujuan menagih hutang. Ayah meninggal dengan meninggalkan banyak hutang. Ya ayah dulu seorang bos besar, pengelola pabrik teh dikampung halamanku, tapi sejak krisis ekonomi yang melanda negara kita tahun 90-an usaha ayah mengelola pabrik teh muali bangkrut. Ia harus mencari tambalan uang dari orang yang satu ke orang yang lainnya, dari perusahaan yang satu ke perusahaan yang lainnya. Sampai akhirnya tibalah awal dan titik kehancuran keluarga kami. Usaha ayah dalam bidang pabrik teh itu gulung tikar, ayah tak mampu menahan beban mental yang dihadapinya akhirnya ia jatuh sakit dan akhirnya meninggal. Sungguh aku tak ingin mengulang kembali tragedi itu dalam fikiranku, kini yang ku harapkan hanyalah kami bisa bangkit dari keterpurukan ini
***
            “ Wah-wah  tak kusangka, si Fansuri meninggalkan harta yang sangat berharga. Amboi cantiknya kau ni ha...ha...ha...” kata seorang penaggih hutang kepada kami. Ya itulah kata-kata si tua bangka yang tak tahu malu itu, Tuan Munajat saudagar kaya dari tanah Minang itu. Jijik aku dengar perkataannya itu. Jijik melihat tatapannya yang penuh birahi dengan nada suaranya yang sok merayu dan gerak tubuhnya yang mencengkramku. “ Maaf tuanku dengan segala hormat, engkau boleh menyiksa hatiku dengan segala tagihanmu dan segala hinaanmu tapi jangan kau pernah sentuh atau menyakiti satu-satunya putriku “kata ibu dengan mimik memelas. “ Baik aku tak akan lagi barang sedikitpun menyentuh putri tunggal yang kau emaskan ini Dirah, asal kau secepatnya membayar dan menutup segala hutang-hutangmu. Dan ingat bunganya jangan kau lupakan. “ Baik akan aku penuhi secepatnya tuntutanmu pak tua, tapi beri kami waktu untuk membayar segala hutang-hutang kami  “. Baiklah anak manis kan kucamkan selalu perkataan dan janjimu itu “ kata pak tua itu, lalu iapun pergi dengan dua kacungnya dari rumah kami.
***
            Kian hari kian terpuruk kehidupan yang kami jalani. Ibu sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupan yang terkungkung, terkungkung oleh beban moral, beban sosial, beban materidan yang pasti kami harus memikirkan perjalanan hidup yang tak mungkin sampai disini saja. Kami mulai kebingungan dengan jalan hidup kami. Andai ayah masih hidup mungkin hidup kami tak akan sesengsara ini. Tuhan mungkin mempunyai rencana indah lain dalam hidup tapi sampai kapan rencana indah itu ada. Ah...aku tak boleh berandai-andai saja aku harus melihat dan menatap serta membuka tabir yang gelap menjadi tabir yang terang.
            Nyonya Liem, ya...nyonya Liem aku teringat sosok wanita itu. Aku bertemu dengannya dalam sebuah perjalanan menuju Solo. Iya memang wanita berparas ayu, mungkin ada sedikit campuran Jawa dan China soalnya dia berbeda dengan wanita Indonesia lainnya. Ia berkulit kuning langsat, bermata sipit dan wajahnya dominan ke campuran Jawa dan Oriental. Dialah wanita yang menawariku pekerjaan ketika aku berada di kereta senja itu. Tapi sayang waktu itu aku masih mengenyam pendidikanku di SMA. Inilah jalan satu-satunya yang mungkin bisa aku tempuh, meminta pekerjaan kepadanya dan bisa menutup segala hutang yang ditinggalkan ayah kepada kami. Kebetulan ia memberikan kartu namanya dan memberikan alamat tempat ia bekerja. Ya, kuptuskan menemuinya mungkin pekan depan. “ Ibu aku hendak pamit untuk pergi ke Jakarta pekan depan “ izinku pada ibu. “ Untuk apa nak? tegakah enggkau meninggalkan ibu dalam keadaan yang seperti ini nak? “tanya ibu dengan penuh cucuran air mata. “ ni demi kita ibu, demi masa depan kita, sudikah engkau mengizinkanku ibu? “ tanyaku pada ibu dengan penuh harap. “ baiklah, jika itu keputusanmua apa boleh buat, ibu tak bisa melarang apa yang menjadi keputusanmu “. Ibu mengizinkanku untuk pergi ke ibukota mencari sumber penghidupan lain yang mungkin tak kudapat di kaki gunung Slamet ini. Akhirnya akupun pergi ke jakarta dengan pinjaman uang dari Tini teman karibku.
            Jalan Melawai no.70 itulah alamat yang nyonya Liem berikan kepadaku. Tepat di jalan dan di depan rukan itu aku berdiri tegak.. “ Ternyata ini kediaman nyonya Liem. Aku menuju ruangan nyonya berparas ayu keturunan Jawa dan China itu Ia menyambutku dengan penuh rasa gembira. “ Ternyata engkau datang Ana “ sambutnya dengan wajah sumringah. “ iya nyonya aku datang, untuk memohonkan lamaranku menjadi karyawanmu “ jawabku dengan senyum yangv khas dari wajahku.” Baiklah nanti malam kau ikut aku nanti kau akan tahu pekerjaan yang akan kuberikan kepadamu cantik. Ya sudah kau sekarang istirahat dahulu, saya tahu kamu lelah setelah menempuh perjalanan semalaman penuh. Akupun digiring oleh dua pengawak nyonya Liem kesebuah kamar di rukannya.
***
            Malam kelam pertama aku jalani sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Melawai ini. Ya Tuhan, ternyata inilah pekerjaan yang nyonya Liem berikan kepadaku, menjadi seorang pelayan di sebuah tempat yang aneh menurutku, tempat orang-orang yang tanpa malunya saling bercumbu, saling merayu dan yang lainnya sedang mengundi nasib dengan menelanjangi wanita-wanita muda didalam tempat ini. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan keluar dengan tanpa membawa hasil dan tujuanku atau aku meneruskan perjalanan baruku ini sebagai pelayan di diskotik ibukota. Tapi mungkin hatiku sudah tertutup oleh kekelaman yang aku jalani di kampung halaman sehingga aku tetap bertahan dengan kelam, kelam yang sebenar-benarnya. Bau neraka itulah yang pertama kali aku ucapkan dalam benaku. Tapi inilah hidup penuh dengan tanda tanya dan pilihan. “ hai manis maukah engkau menemaniku malam ini? “ tanya seorang lelaki muda mungkin lebih tua tiga tahun dariku. “ Maaf tuan aku tak bisa melayanimu “ tolaku. “ Kenapa? “ tanyanya lagi dengan suara geram. “ Aku bukan wanita penghibur yang mungkin kau pikirkan tapi aku hanya seorang pelayan biasa “. Akupun berlari ke tempat minuman di perjajakan dalam remang-remang lampu neraka.
            Setiap hari aku menjalani kehidupan ini di ibukota sebagai pelayan di diskotik. Banyak lelaki yang meminta aku melayaninya. Tapi aku tolak dengan berbagai macam cara. Baik dari yang kasarsampai yang paling lembut. Beragam caranya. Hingga akhirnya tak ku sadari sudah tiga tahun aku berada dalam kelam malam kota Jakarta. Tapi aku bangga dengan pekerjaan ini dan kunikmati semua hasil dan jerih payah  selama hidupku dalam tabir kelam yamg menyelimutinya.
            Sadar den sabar akhirnya aku bisa melunasi semua hutang-hutang ayah dengan jerih payahku. Ibu meninggal lima bulan yang lalu karena penyakit TBC nya mungkin karena kungkungan hidup yang mendera kami tak mampu kami tepis segera. Tapi kini  inilah aku dengan pangeran yang mencintaiku dengan apa adanya. Yang memberikan harapan dengan tabir yang cerah. Memupus bayangan bidadari dalam kelam yang dihina dina, dihancurkan di caci dalam kehidupan, Dan aku temukan, inilah tabir cerah yang menhampiri dan memupus tabir kelam bersama mas Gilang yang dahulu menyebutku bidadari dalam kelam. 


Disoni


Tidak ada komentar:

Posting Komentar