“ Saya terima nikah dan kawinnya
Marianah binti Fansuri dengan mas kawin cincin berlian seberat 10 gram dan
seperangkat alat shalat dibayar tunai”
“
Bagaimana saksi, sah? ” suara penghulu meminta persetujuan kepada para saksi
yang menghadiri akad nikahku dengan lelaki pilihan dan yang memilihku.
“ Sah....” jawab para saksi yang menghadiri
akad nikahku.
“Alhamdulillah.....”
Ya hari ini adalah hari yang menjadi
sejarah baru untuk hidupku. Aku dipinang oleh lelaki yang mencintaiku dengan apa adanya. Ya, menurutku seperti itu. Karena
sejak pertama kali aku bertemu dengannya, dia lelaki pertama yang berani berkata
kalau ia mencintaiku sepenuh hati dan tak bisa melupakanku sejak pertama ia
bertemu denganku di sekitaran tempat hiburan malam di Melawai. Aku sedikit
terkejut, selama perjalanan hidupku aku tak pernah menemukan lelaki sejantan
dan seberani dia, yang tak ragu mengungkapkan kalau dia memiliki rasa yang
lebih kepadaku. Aneh, tapi ini kenyataan. Biasanya aku hanya menemui lelaki
yang merayuku, membujukku agar aku bisa melayaninya tanpa sedikitpun kata-kata
cinta terlontar dari mulut para lelaki itu. Hanya mas Gilang, dia saja lelaki
yang berkata cinta kepadaku.
Sudah kujelaskan memang sebelumnya
kalau aku mungkin tak pantas untuk menjadi istri lelaki tampan dan berwibawa
itu. Tapi ia tetap memaksaku agar aku mau menerima cintanya dan mau untuk
dipinangnya. Mustahil, itulah kata pertamku menjawab pertanyaannya. Memang pada
waktu aku berkenalan dengannya, aku hanya seorang wanita penghibur yang setiap
malam mengeluarkan najis, aib, bahkan dosa yang mungkin Tuhan sangat murka
dengan apa yang kulakukan. Tapi inilah aku, sang Bidadari dalam kelam. Itulah
sebutan yang selalu ditimpakan kepadaku oleh orang-orang yang menganggap diri
mereka suci, lebih suci dari aku, si Bidadari dalam kelam.
Aku hanya bisa tersenyum dan inilah
aku si Bidadari yang kelam. Yang diobral, yang dicabik-cabik kesuciannya, yang
dianggap menjijikan bahkan dianggap lebih menjijikan dari anjing. Tapi kuterima segala hinaan itu semua dengan senyum dan dengan
rasa tanpa dosa. Dosakah aku menuruti orang tuaku yang telah memasukan aku
kedalam kubangan neraka? Bukankah ini baktiku terhadap orang tuaku? Ah, itu
bukan hal yang musti aku ingat kembali. Inilah aku si Bidadari dalam kelam yang
akan mencoba membuka tabir mimpi yang baru nan cerah, membuka dunia dalam mimpi
dengan harapan aku bisa lebih suci dari orang-orang yang kerap mencerca dan
menghakimiku. Kini aku bukan lagi seorang bidadari dalam kelam yang setiap hari
mencium bau neraka bahkan hidup dalam kubangan neraka tapi sedikit demi sedikit
akan kutapaki surga yang masih jauh dari hadapanku.
***
“Kamu harus menyadari bahwa kini
hidup kita tak seperti dahulu lagi. Mungkin sebelum kepergian ayahmu kita hidup
serba berkecukupan, tapi sepeninggal ayahmu, kita mungkin harus banyak-banyak
berhemat. Apa yang kita punya dulu sedikit demi sedikit mulai terkikis dan
menipis “ keluh ibu sambil mengelus-elus kepalaku dengan penuh kasih. “Aku
sadar itu ibu “. Aku sedikit kaget dengan perkataan ibu tadi karena baru kali
ini kudengar ibu bimbang. Aku tak berharap banyak dari ibu, memang sebelumnya
aku terus merengek kepadanya agar aku bisa tetap meneruskan pendidikanku jenjang
yang lebih tinggi. Meski aku yakin bahwa tanpa adanya ayah disisi kami, kami
masih bisa tetap bertahan menjalani hidup.
“ Maafkan ibu nak, mungkin ibu tak
bisa memenuhi keinginanmu untuk melanjutkan sekolahmu ke jenjang perguruan
tinggi tapi ibu berharap kamu bisa terus menjalani hidup meski pendidikanmu
hanya sebatas tamatan SMA “ kata ibu seraya menasehatiku. Aku tertegun,
menangis dengan perkataan ibu yang itu. Itu artinya aku harus lebih prihatin
akan kehidupan kami yang kian pelik. “ Baiklah ibu, aku tak akan merengek dan
menuntut apa yang mungkin kau tak sanggupi tapi izinkan aku untuk membalas
semua budi baikmu Ibu, semenjak aku engkau lahirkan sampai aku tumbuh dewasa
ini dan semoga budibaikku takkan hilang sampai sepeninngal engkau nanti “.
Itulah kata-kata yang hanya dapat kulontarkan dari pernyataan ibu tadi. Aku
segera memeluknya menciuminya dan tak kulepaskan pelukannya yang erat itu.
Tuhan aku hanya bisa berharap yang terbaik saja untuk masa depanku untuk
membalas budi baik ibu.
Semakin hari kehidupan kami semakin
terasa kelam, itu yang aku rasakan. Setiap hari tak jarang satu dua orang
datang kerumah kami bukan untuk memberi belas kasih dan memang kami tak ingin
dikasihani orang lain meski kehidupan kami kian merasa melarat. Orang-orang
yang datang kerumah kami hanya bertujuan menagih hutang. Ayah meninggal dengan
meninggalkan banyak hutang. Ya ayah dulu seorang bos besar, pengelola pabrik
teh dikampung halamanku, tapi sejak krisis ekonomi yang melanda negara kita
tahun 90-an usaha ayah mengelola pabrik teh muali bangkrut. Ia harus mencari
tambalan uang dari orang yang satu ke orang yang lainnya, dari perusahaan yang
satu ke perusahaan yang lainnya. Sampai akhirnya tibalah awal dan titik
kehancuran keluarga kami. Usaha ayah dalam bidang pabrik teh itu gulung tikar,
ayah tak mampu menahan beban mental yang dihadapinya akhirnya ia jatuh sakit
dan akhirnya meninggal. Sungguh aku tak ingin mengulang kembali tragedi itu
dalam fikiranku, kini yang ku harapkan hanyalah kami bisa bangkit dari
keterpurukan ini
***
“ Wah-wah tak kusangka, si Fansuri meninggalkan harta
yang sangat berharga. Amboi cantiknya kau ni ha...ha...ha...” kata seorang
penaggih hutang kepada kami. Ya itulah kata-kata si tua bangka yang tak tahu
malu itu, Tuan Munajat saudagar kaya dari tanah Minang itu. Jijik aku dengar
perkataannya itu. Jijik melihat tatapannya yang penuh birahi dengan nada
suaranya yang sok merayu dan gerak tubuhnya yang mencengkramku. “ Maaf tuanku
dengan segala hormat, engkau boleh menyiksa hatiku dengan segala tagihanmu dan
segala hinaanmu tapi jangan kau pernah sentuh atau menyakiti satu-satunya
putriku “kata ibu dengan mimik memelas. “ Baik aku tak akan lagi barang
sedikitpun menyentuh putri tunggal yang kau emaskan ini Dirah, asal kau
secepatnya membayar dan menutup segala hutang-hutangmu. Dan ingat bunganya
jangan kau lupakan. “ Baik akan aku penuhi secepatnya tuntutanmu pak tua, tapi
beri kami waktu untuk membayar segala hutang-hutang kami “. Baiklah anak manis kan kucamkan selalu
perkataan dan janjimu itu “ kata pak tua itu, lalu iapun pergi dengan dua
kacungnya dari rumah kami.
***
Kian hari kian terpuruk kehidupan
yang kami jalani. Ibu sudah tak sanggup lagi menjalani kehidupan yang
terkungkung, terkungkung oleh beban moral, beban sosial, beban materidan yang
pasti kami harus memikirkan perjalanan hidup yang tak mungkin sampai disini
saja. Kami mulai kebingungan dengan jalan hidup kami. Andai ayah masih hidup
mungkin hidup kami tak akan sesengsara ini. Tuhan mungkin mempunyai rencana
indah lain dalam hidup tapi sampai kapan rencana indah itu ada. Ah...aku tak
boleh berandai-andai saja aku harus melihat dan menatap serta membuka tabir
yang gelap menjadi tabir yang terang.
Nyonya Liem, ya...nyonya Liem aku
teringat sosok wanita itu. Aku bertemu dengannya dalam sebuah perjalanan menuju
Solo. Iya memang wanita berparas ayu, mungkin ada sedikit campuran Jawa dan
China soalnya dia berbeda dengan wanita Indonesia lainnya. Ia berkulit kuning
langsat, bermata sipit dan wajahnya dominan ke campuran Jawa dan Oriental.
Dialah wanita yang menawariku pekerjaan ketika aku berada di kereta senja itu.
Tapi sayang waktu itu aku masih mengenyam pendidikanku di SMA. Inilah jalan
satu-satunya yang mungkin bisa aku tempuh, meminta pekerjaan kepadanya dan bisa
menutup segala hutang yang ditinggalkan ayah kepada kami. Kebetulan ia
memberikan kartu namanya dan memberikan alamat tempat ia bekerja. Ya, kuptuskan
menemuinya mungkin pekan depan. “ Ibu aku hendak pamit untuk pergi ke Jakarta
pekan depan “ izinku pada ibu. “ Untuk apa nak? tegakah enggkau meninggalkan
ibu dalam keadaan yang seperti ini nak? “tanya ibu dengan penuh cucuran air
mata. “ ni demi kita ibu, demi masa depan kita, sudikah engkau mengizinkanku
ibu? “ tanyaku pada ibu dengan penuh harap. “ baiklah, jika itu keputusanmua apa
boleh buat, ibu tak bisa melarang apa yang menjadi keputusanmu “. Ibu
mengizinkanku untuk pergi ke ibukota mencari sumber penghidupan lain yang
mungkin tak kudapat di kaki gunung Slamet ini. Akhirnya akupun pergi ke jakarta
dengan pinjaman uang dari Tini teman karibku.
Jalan Melawai no.70 itulah alamat
yang nyonya Liem berikan kepadaku. Tepat di jalan dan di depan rukan itu aku
berdiri tegak.. “ Ternyata ini kediaman nyonya Liem. Aku menuju ruangan nyonya
berparas ayu keturunan Jawa dan China itu Ia menyambutku dengan penuh rasa
gembira. “ Ternyata engkau datang Ana “ sambutnya dengan wajah sumringah. “ iya
nyonya aku datang, untuk memohonkan lamaranku menjadi karyawanmu “ jawabku
dengan senyum yangv khas dari wajahku.” Baiklah nanti malam kau ikut aku nanti
kau akan tahu pekerjaan yang akan kuberikan kepadamu cantik. Ya sudah kau
sekarang istirahat dahulu, saya tahu kamu lelah setelah menempuh perjalanan
semalaman penuh. Akupun digiring oleh dua pengawak nyonya Liem kesebuah kamar
di rukannya.
***
Malam kelam pertama aku jalani
sebagai pelayan di sebuah tempat hiburan malam di kawasan Melawai ini. Ya
Tuhan, ternyata inilah pekerjaan yang nyonya Liem berikan kepadaku, menjadi
seorang pelayan di sebuah tempat yang aneh menurutku, tempat orang-orang yang
tanpa malunya saling bercumbu, saling merayu dan yang lainnya sedang mengundi
nasib dengan menelanjangi wanita-wanita muda didalam tempat ini. Aku tak tahu
apa yang harus aku lakukan keluar dengan tanpa membawa hasil dan tujuanku atau
aku meneruskan perjalanan baruku ini sebagai pelayan di diskotik ibukota. Tapi
mungkin hatiku sudah tertutup oleh kekelaman yang aku jalani di kampung halaman
sehingga aku tetap bertahan dengan kelam, kelam yang sebenar-benarnya. Bau
neraka itulah yang pertama kali aku ucapkan dalam benaku. Tapi inilah hidup
penuh dengan tanda tanya dan pilihan. “ hai manis maukah engkau menemaniku
malam ini? “ tanya seorang lelaki muda mungkin lebih tua tiga tahun dariku. “
Maaf tuan aku tak bisa melayanimu “ tolaku. “ Kenapa? “ tanyanya lagi dengan
suara geram. “ Aku bukan wanita penghibur yang mungkin kau pikirkan tapi aku
hanya seorang pelayan biasa “. Akupun berlari ke tempat minuman di perjajakan
dalam remang-remang lampu neraka.
Setiap hari aku menjalani kehidupan
ini di ibukota sebagai pelayan di diskotik. Banyak lelaki yang meminta aku
melayaninya. Tapi aku tolak dengan berbagai macam cara. Baik dari yang
kasarsampai yang paling lembut. Beragam caranya. Hingga akhirnya tak ku sadari
sudah tiga tahun aku berada dalam kelam malam kota Jakarta. Tapi aku bangga
dengan pekerjaan ini dan kunikmati semua hasil dan jerih payah selama hidupku dalam tabir kelam yamg
menyelimutinya.
Sadar den sabar akhirnya aku bisa
melunasi semua hutang-hutang ayah dengan jerih payahku. Ibu meninggal lima
bulan yang lalu karena penyakit TBC nya mungkin karena kungkungan hidup yang
mendera kami tak mampu kami tepis segera. Tapi kini inilah aku dengan pangeran yang mencintaiku
dengan apa adanya. Yang memberikan harapan dengan tabir yang cerah. Memupus
bayangan bidadari dalam kelam yang dihina dina, dihancurkan di caci dalam
kehidupan, Dan aku temukan, inilah tabir cerah yang menhampiri dan memupus
tabir kelam bersama mas Gilang yang dahulu menyebutku bidadari dalam kelam.
Disoni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar