Senin, 09 Juli 2012

Memburu Roh




            Kabar berita telah kusebar bersama angin gemangin lalu lalang, dari telinga berdentingan ke telinga melewati beribu mulut turun temurun yang tak kian henti berkelebatan tak kunjung berbusa. Dari tua ke muda, dari muda ke yang lebih mda hingga bakal-bakal muda yang terus tumbuh. Terus menderu kian seru. Tentang sebuah mitos yang bahkan mereka tidak tahu bahwa aku yang menyebarkan. Aku yang terus hidup sejak awal penceritaan hingga kini aku tetap berada beriringan dengan jalan kehidupan mereka, generasi ke generasi. Dari makhluk berbeda asal muasal penciptaan kodrat Sang Pencipta.
            Anak itu terus menangis tersedun sedan bergemeletar dalam hatinya. Sebuah luka dan penesalan disertai kekalutan amarah membahana memberangus senyum riang cerita kanak-kanaknya. Sunggh kasihan, namun apa yang harus keluar dari mulut kata ini takdir tetaplah takdir, baik kehidupan maupun kematian. Orang tuanya telah mati berselimut kain tertindih tanah disalami iringan doa dan tangis yang menggelegar merobek gendang telinga.
            Kini mitos yang kutularkan tengah berjumpa ria di ranah telinganya. Mitos tentang kekalutan orang-orang yang mati bersama para malaikat pencabut nyawa. Mitos yang berkajaran dalam cerita tentang arwah-arwah yang telah diambil oleh para malaikat kematian, yang selama kurun waktu tujuh hari tujuh malam menggenggam lidah para arwah-arwah yang ditarik keluar dari jasad-jasadnya.menanti di sebuah pohon tua berumur ribuan tahun hingga terkumpulnya rantai bekal doa keselamatan yang dikirim oleh para sanak keluarganya ataupun para tetangga sang mati sebelum oeh sang malaikat bawa menuju tempat peradilan Sang Pencipta.
            Kulihat kembali legam bola matanya yang kian memerah memancar disertai jeritan robekan lensa hatinya melalui dengusan udara yang keluar masuk rongga pernafasan, seakan memberangus memburu setiap oksigen yang terus berderu kian kemari memenuhi seluruh ruang udara aru-paru yang kembang kempis seakan berteriak untuk mencerai-berai setiap amarah yang terluap keluar melalui urat-urat kemerahan sang anak. Tangannya mengepal menguliti setiap derik jari-jemari, memerah kuku-kuku jemarinya penuh dengan darah amarah.
            Kuikuti setiap langkahnya hingga menjejak mengarah pada sebilah parang yang terduduk lama menanti tumbal darah mangsa jagalnya pada sebuah meja kayu lusuh tergerogoti usia. Digenggamnya parang itu dan di masukkannya ke dalam baju kumalnya, menyembunikan setiap jilatan nafsu membunuh sang arang agar tidak seorang pun dapat mencium setiap jilatan pancaran nafsu sang parang melalui kilatn cahaya bola mata. Dia berlari ke tempat beribu jasad terbujur kaku menanti hari pembalasan, tempat orang tuanya terlelap abadi. Tanpa takut ia menancapkan parangnya di atas tanah, beribu suasana mencekam terus membara. Dia menangis,    air matanya membanjiri seluruh daratan pipinya tanpa suara sedikit pun, yang ada hanya rasa amarah padaku.
            “kembalikan dia!” teriaknya. “hey malaikat kematian kembalikanlah dia padaku!”. Kini telah sampai ia dihadapanku. Pada sebuah pohon tua berumur ribuan tahun sembari menghunuskan parangnya yang terus mengulurkan lidahnya kesana kemari mencari bau amisnya darah. Air matanya kini telah kering, terusap beribu niat. Matanya tetaplah memerah.
            Setiap geriknya terus kuawasi hingga tak ada satupun iblis yang berani duduk bersandar di bahunya mendampingi setiap keluh amarahnya. Yang hanya terus tetap berani untuk mendekati dia hanyalah sang iblis kembaran. Sang iblis terus mengendap-endap menanti-nanti sebuah kesempatan untuk dapat bersandar di pelukan sang anak.
            Berkali-kali sang anak terus berteriak memecah kemurnian sunyinya topeng malam, namun tak ada satupun sebuah gema yang menjawabnya. Air matanya kini kembali mengalir membanjir kembali, begitu derasnya hingga mampu membanjiri seluruh sungai susu Nirwana.
            Semakin lama jarum jam berputar di porosnya, ia pun segera melumatkan lidah sang parang membabati seluruh permkaan pohon. Beribu kali bahkan berjuta kali ia tak henti-hentinya melukai tubuh sang pohon hingga dapat kudengar drasnya darah sang pohon mengalir, mangucur keluar dari nadi-nadi kambiumnya menyembur ke segala penjuru diiringi teriakan pilu kesakitan sesosok makhluk tua lemah tak berdaya yang terus dilukai tanpa tahu salahnya.
            “tolong… tolong, jangan bunuh aku. Tolonga aku hanya pohon tua tak berdaya. Tuhan tolong hentikan manusia ini, Aku masih ingin tetap hidup!. Malaikat tolong aku! Sakit! Seluruh tubuhku terluka, tolong!” rintih sang pohon yang aku dan sang anak acuhkan.
            “di mana dia? Di mana rohnya? Kembalikan dia wahai malaikat. Aku menyayanginya. Aku rindu peluk nyanyiannya. Aku rinduakan  semua cium doanya. Aku…..” teriak sang anak sembari menangis terlutut menggenggam parang.
            Tiba-tiba seekor ular iblis licik datang mengarah padanya dan sesegera itu pula kusiapkan panah apiku untuk membunuhnya. Ia melata dngan kecepatan tinggi terus menjulurkan lidah dan taring-taring bisanya seraya bernafsu menggigit sang anak. Belum sempat ku luncurkan panahku…..
            “ah, akhirnya kau keluar juga malaikat!” sang anak segera menghunuskan parangnya dengan penuh kepuasan karena dapat membuat  makhluk yang ia kira malaikat tengah terpancing keluar. “kembalikan dia!”. Sang ular iblis segera meloncat hendak menerkam gigit sang anak. Dengan gerakan yang cepat sang anak mengyunkan parangnya membelah leher sang ular iblis mati. Namun dengan kesaktiannya, sang iblis berhasil merasuki seekor burung gagak yang tengah terlelap tidur di atas sebuah pohon dan langsung mengancang-ancang terbang.
            “mau lari ke mana kau malaikat? Kembalikan dia!” parang digenggamannya langsung dilesatkan merobek seluruh rongga udara malam memburu menusuk tubuh sang gagak iblis hingga jatuh terguling-guling dan mati mengkaku dingin.
            Dihampirinya mayat sang gagak iblis seraya mencerabut parangnya dan segera mambabi buta membaluri seluruh tubuh sang gagak iblis dngan luka darah hingga tercerai berai semabri terus berteriak. “kembalikan dia! Kembalikan dia huhuhuhu…..” sungguh pilu  mendeengar jeritan anak manusia itu.
            Tak selang berberapa lama sebuah pelukkan hangat menyambar tubuh ringkih lemah sang anak yang terus mengis tanpa henti. Sebuah pelukkan yang ia rindukan, sebuah pelukkan yang ia kenal, sebuah pelukkan kasih sayang yang hangat.
            “aku memang telah tiada, tapi aku tetap ada. Janganlah kau bersedih, aku telah menjelma  dalam doa untukmu. Dalam doa yang selalu bersinar menerangi setiap harimu. Dalam doa dari seorang ibu”.


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar