Kabar berita telah kusebar bersama
angin gemangin lalu lalang, dari telinga berdentingan ke telinga melewati
beribu mulut turun temurun yang tak kian henti berkelebatan tak kunjung
berbusa. Dari tua ke muda, dari muda ke yang lebih mda hingga bakal-bakal muda
yang terus tumbuh. Terus menderu kian seru. Tentang sebuah mitos yang bahkan
mereka tidak tahu bahwa aku yang menyebarkan. Aku yang terus hidup sejak awal
penceritaan hingga kini aku tetap berada beriringan dengan jalan kehidupan mereka,
generasi ke generasi. Dari makhluk berbeda asal muasal penciptaan kodrat Sang
Pencipta.
Anak itu terus menangis tersedun
sedan bergemeletar dalam hatinya. Sebuah luka dan penesalan disertai kekalutan
amarah membahana memberangus senyum riang cerita kanak-kanaknya. Sunggh
kasihan, namun apa yang harus keluar dari mulut kata ini takdir tetaplah
takdir, baik kehidupan maupun kematian. Orang tuanya telah mati berselimut kain
tertindih tanah disalami iringan doa dan tangis yang menggelegar merobek gendang
telinga.
Kini mitos yang kutularkan tengah
berjumpa ria di ranah telinganya. Mitos tentang kekalutan orang-orang yang mati
bersama para malaikat pencabut nyawa. Mitos yang berkajaran dalam cerita
tentang arwah-arwah yang telah diambil oleh para malaikat kematian, yang selama
kurun waktu tujuh hari tujuh malam menggenggam lidah para arwah-arwah yang
ditarik keluar dari jasad-jasadnya.menanti di sebuah pohon tua berumur ribuan
tahun hingga terkumpulnya rantai bekal doa keselamatan yang dikirim oleh para sanak
keluarganya ataupun para tetangga sang mati sebelum oeh sang malaikat bawa
menuju tempat peradilan Sang Pencipta.
Kulihat kembali legam bola matanya
yang kian memerah memancar disertai jeritan robekan lensa hatinya melalui
dengusan udara yang keluar masuk rongga pernafasan, seakan memberangus memburu
setiap oksigen yang terus berderu kian kemari memenuhi seluruh ruang udara
aru-paru yang kembang kempis seakan berteriak untuk mencerai-berai setiap
amarah yang terluap keluar melalui urat-urat kemerahan sang anak. Tangannya
mengepal menguliti setiap derik jari-jemari, memerah kuku-kuku jemarinya penuh
dengan darah amarah.
Kuikuti setiap langkahnya hingga
menjejak mengarah pada sebilah parang yang terduduk lama menanti tumbal darah
mangsa jagalnya pada sebuah meja kayu lusuh tergerogoti usia. Digenggamnya
parang itu dan di masukkannya ke dalam baju kumalnya, menyembunikan setiap
jilatan nafsu membunuh sang arang agar tidak seorang pun dapat mencium setiap
jilatan pancaran nafsu sang parang melalui kilatn cahaya bola mata. Dia berlari
ke tempat beribu jasad terbujur kaku menanti hari pembalasan, tempat orang
tuanya terlelap abadi. Tanpa takut ia menancapkan parangnya di atas tanah,
beribu suasana mencekam terus membara. Dia menangis, air matanya membanjiri seluruh daratan
pipinya tanpa suara sedikit pun, yang ada hanya rasa amarah padaku.
“kembalikan dia!” teriaknya. “hey
malaikat kematian kembalikanlah dia padaku!”. Kini telah sampai ia dihadapanku.
Pada sebuah pohon tua berumur ribuan tahun sembari menghunuskan parangnya yang
terus mengulurkan lidahnya kesana kemari mencari bau amisnya darah. Air matanya
kini telah kering, terusap beribu niat. Matanya tetaplah memerah.
Setiap geriknya terus kuawasi hingga
tak ada satupun iblis yang berani duduk bersandar di bahunya mendampingi setiap
keluh amarahnya. Yang hanya terus tetap berani untuk mendekati dia hanyalah
sang iblis kembaran. Sang iblis terus mengendap-endap menanti-nanti sebuah
kesempatan untuk dapat bersandar di pelukan sang anak.
Berkali-kali sang anak terus
berteriak memecah kemurnian sunyinya topeng malam, namun tak ada satupun sebuah
gema yang menjawabnya. Air matanya kini kembali mengalir membanjir kembali,
begitu derasnya hingga mampu membanjiri seluruh sungai susu Nirwana.
Semakin lama jarum jam berputar di
porosnya, ia pun segera melumatkan lidah sang parang membabati seluruh permkaan
pohon. Beribu kali bahkan berjuta kali ia tak henti-hentinya melukai tubuh sang
pohon hingga dapat kudengar drasnya darah sang pohon mengalir, mangucur keluar
dari nadi-nadi kambiumnya menyembur ke segala penjuru diiringi teriakan pilu
kesakitan sesosok makhluk tua lemah tak berdaya yang terus dilukai tanpa tahu
salahnya.
“tolong… tolong, jangan bunuh aku.
Tolonga aku hanya pohon tua tak berdaya. Tuhan tolong hentikan manusia ini, Aku
masih ingin tetap hidup!. Malaikat tolong aku! Sakit! Seluruh tubuhku terluka,
tolong!” rintih sang pohon yang aku dan sang anak acuhkan.
“di mana dia? Di mana rohnya?
Kembalikan dia wahai malaikat. Aku menyayanginya. Aku rindu peluk nyanyiannya.
Aku rinduakan semua cium doanya. Aku…..”
teriak sang anak sembari menangis terlutut menggenggam parang.
Tiba-tiba seekor ular iblis licik
datang mengarah padanya dan sesegera itu pula kusiapkan panah apiku untuk
membunuhnya. Ia melata dngan kecepatan tinggi terus menjulurkan lidah dan
taring-taring bisanya seraya bernafsu menggigit sang anak. Belum sempat ku
luncurkan panahku…..
“ah, akhirnya kau keluar juga
malaikat!” sang anak segera menghunuskan parangnya dengan penuh kepuasan karena
dapat membuat makhluk yang ia kira
malaikat tengah terpancing keluar. “kembalikan dia!”. Sang ular iblis segera
meloncat hendak menerkam gigit sang anak. Dengan gerakan yang cepat sang anak
mengyunkan parangnya membelah leher sang ular iblis mati. Namun dengan
kesaktiannya, sang iblis berhasil merasuki seekor burung gagak yang tengah
terlelap tidur di atas sebuah pohon dan langsung mengancang-ancang terbang.
“mau lari ke mana kau malaikat?
Kembalikan dia!” parang digenggamannya langsung dilesatkan merobek seluruh
rongga udara malam memburu menusuk tubuh sang gagak iblis hingga jatuh
terguling-guling dan mati mengkaku dingin.
Dihampirinya mayat sang gagak iblis
seraya mencerabut parangnya dan segera mambabi buta membaluri seluruh tubuh
sang gagak iblis dngan luka darah hingga tercerai berai semabri terus
berteriak. “kembalikan dia! Kembalikan dia huhuhuhu…..” sungguh pilu mendeengar jeritan anak manusia itu.
Tak selang berberapa lama sebuah
pelukkan hangat menyambar tubuh ringkih lemah sang anak yang terus mengis tanpa
henti. Sebuah pelukkan yang ia rindukan, sebuah pelukkan yang ia kenal, sebuah
pelukkan kasih sayang yang hangat.
“aku memang telah tiada, tapi aku
tetap ada. Janganlah kau bersedih, aku telah menjelma dalam doa untukmu. Dalam doa yang selalu
bersinar menerangi setiap harimu. Dalam doa dari seorang ibu”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar