Hidup memang betul jadi petualangan bagi
George. Hari telah jadi pertaruhan hidup-mati dirinya dan juga tangungjawabnya:
seorang anak dan seorang istri. Kini, kumpulan hasil bumi: batubara yang dikumpulkan
dari atas tebing tinggi berkawah yang sepenuhnya menjadi daging dan energi
daripada mereka.
Selepas gulita yang diiringi adzan subuh
meninggalkan Ribez, berarti tiba waktu untuk tapak George meninggalkan rumah
menuju pertambangan seperti hari kebanyakan. Dengan berbekal alat seadanya yang
sederhana dia mengharap rezeki.
Dengan perut kosong sisa semalam langkah
George harus lumayan banyak dilakukan
2km jarak untuk tiba di pertambangan. Jarak
tempuh tersebut memakan waktu kurang lebih 2 jam. Pepohonan di hutan hujan dan
tebing-tebing juranglah jalan setapak satu-satunya menuju kawasan pertambangan.
***
Memang, hidup George tidak mudah.
Bukannya tidak pernah mengeluh, tetapi dia selalu menyembunyikan keluhanya di
dalam hati dan doanya agar tidak seorang pun; bahkan istrinya menganggap remeh
dan mengasihaninya. Tuhan menjadi satu-satunya tempat George mengadu dan
mengeluh. Doa yang selalu ditasbihkan
George selalu sama: agar keluarganya dapat hidup layak. Tidak banyak,
bukan, permintaan pria berbadan besar dan berkulit agak gelap ini? Tapi Dia
tahu yang terbaik telah diberikanNya.
Selepas bersujud subuh, tubuh George
yang sudah tua bersiap melakukan aktifitas rutin beratnya.
“Pak, sepertinya
sedang kurang sehat, sebaiknya tidak usah ke pertambangan hari ini.” Kata marylin, istri George membujuk.
“Tidak, badanku
terasa biasa saja, bahkan lebih baik dari kemarin” Dia menolak dengan suara
lembut.
Berangkatlah Dia dengan penuh kecemasan
sang istri. Sebenarnya George memang merasa kurang sehat hari itu, tetapi Dia
lebih tidak tega melihat Istrinya yang harus bekerja mencari kayu bakar di hutan untuk mendapatkan
uang makan sekeluarga seharian.
Seperti biasa, segala rintangan siap ditempuh.
Tetapi, hari itu agak berbeda: hujan lebat mengguyur Ribez sebelum George
sempat menyelesaikan langkahnya melewati hutan. Dia berlari dengan gegas
menghindari kuyup badannya karena air dari langit. Sia-sia memang. Akhirnya
tubuh kuyup George memilih untuk berteduh menuggu hujan reda di sebuah gua
kecil yang gelap.
Hujan semakin lebat. George yang
menggigil kedinginan masih memilih berteduh. Dia merasa sangat menderita. Tubuh
yang masih dipaksakan untuk kuat ini sepertinya sudah melewati batas ketahanan. Gigil karena hujan
dan sakit yang dibawanya dari rumah membuatnya kehilangan kesadaran.
***
“Di
mana aku?” Ucap George sambil melihat
sekeliling dengan heran.
“Kau sudah
sadar, ya? Silahkan minum ini” Kata seorang wanita muda berpakaian parawat
sambil menyodorkan segelas air mineral.
“Cepat jawab, di
mana aku sekarang? Kenapa aku bisa di tempat seperti ini?” Dengan suara agak
keras menyambut tawaran wanita itu.
“Baik,
sebelumnya, namaku Diana, suster yang merawatmu sejak pertama kali kau ditemukan. Akan aku jelaskan mulai dari saat seorang polisi
menemukanmu terbaring tak sadarkan diri di dekat pohon besar.” Katanya, dengan
suara lembut.
George yang mendengarka cerita Diana
bahwa dirinya ditemukan tidak sadarkan diri oleh seorang polisi di dekat pohon
besar merasa heran dan setengah percaya. Karena yang Dia ingat bahwa dirinya sedang berteduh di sebuah
gua di tengah hutan.
Tatap George mengelilingi ruangan di
mana dia berada. Agak heran dan takjub pandangnya setelah dia tegaskan. Seluruh
pemandangan memang jauh berbeda dari
yang biasa dia lihat: hampir segalanya terbuat dari emas terkadang berhias
butiran pemata dan segalanya teknologi serba berada di luar kemampuan
kepercayaan George.
“sebenarnya ada
di mana aku?” tanya George penuh keheranan dan ketakutan yang sangat
mengkhawatirkan keluarganya.
Diana menjelaskan keadaan yang sekarang
dialami George. Didapatkanlah informasi, bahwa: sekarang dia berada di masa
depan, tepatnya di tahun 2300. Di mana segala sesuatu dapat dilakukan, bahkan
mengubah benda apapun menjadi sebuah perhiasan; emas, permata, dll dengan
menggunakan alat canggih abad itu.
“aku
ingin kembali pada keluargaku” pinta George entah pada siapa.
Tentu saja bisa. Segalanya bisa
dilakukan saja dengan teknologi canggih milik manusia. Jangankan mesin waktu,
alat anti gravitasi pun sudah tercipta.
“aku
akan membantumu” tawar Diana.
“tapi
bagaimana caranya?” tanya George menatap Diana penuh pengharapan.
Diana memberikan George sebuah brosur
jasa perjalanan waktu. Sesungguhnya jasa ini menawarkan untuk rekreasi keluarga
ke berbagai zaman di masa lalu dengan membayar sejumlah uang.
Diana yang hanya bekerja sebagai perawat
hanya bisa menawarkan solusi yang seperti tanpa kealanjutan yang jelas.
“aku
bisa bekerja sebagai apa pun” bujuk George pada Diana.
Keinginan George sepertinya tersambut.
Diana menawarkan sebuah pekerjaan di pabrik kayu sebagai pengangkat barang
kepadanya. George pun menerima tawaran itu demi untuk bisa pulang kembali ke
masa lalu. Kebetulan memang hanya itu jenis pekerjaan yang bisa dilakukanya.
***
Di hari pertama bekerja, George sedikit
agak canggung dengan kebiasaan hidup di masa depan. Mulai dari budaya,
kebiasaan, watak, tak pernah sekali pun Dia temui orang-orang dengan watak
seperti itu di tempatnya tinggal: Ribez tahun 1998. Semua orang terlihat acuh,
sombong, bahkan tidak sopan. Mungkin hanya Diana orang baik yang tinggal di
sini, pikirnya.
Setelah berbulan-bulan bekerja di tempat
asing tersebut, uang tabungan untuk pulang hampir tercapai. Sebegitu senangnya
hati George dengan hal itu. Dia akan bertemu keluarga yang dicintainya.
Terkumpullah jerihpayah George berupa
uang untuk dibelikan tiket menumpang mesin waktu menuju kota kecil di sebelah
tenggara Negara Laboa bernama Ribez tahun 1998. Seluruhnya telah diberikannya
untuk kembali pulang, termasuk bergaul dengan orang masa depan yang jauh dari
budipekerti yang baik.
Sebelum pulang, George menyempatkan
berbelanja dengan uang ang tersisa untuk keluarganya: lemari, meja makan dan
seluruhnya perlengkapan yang tidak diperlukan. Tentu saja, semuanya terbuat
dari emas. Dia berpikir akan menjadi orang yang kaya raya setelah pulang ke
Ribez. Pun memang kenyataannya akan seperti itu setelah dia menjual perabot
emas yang dibawanya, tentu kekayaan yang didapat.
“sampaikan
salam untuk Istrimu, george” kata Diana sambil melambaikan tangan menghantar
kepergianku.
Arief Budiman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar