Selasa, 24 Juli 2012

Masaku, lalu masa mereka



Hidup memang betul jadi petualangan bagi George. Hari telah jadi pertaruhan hidup-mati dirinya dan juga tangungjawabnya: seorang anak dan seorang istri. Kini, kumpulan hasil bumi: batubara yang dikumpulkan dari atas tebing tinggi berkawah yang sepenuhnya menjadi daging dan energi daripada mereka.
Selepas gulita yang diiringi adzan subuh meninggalkan Ribez, berarti tiba waktu untuk tapak George meninggalkan rumah menuju pertambangan seperti hari kebanyakan. Dengan berbekal alat seadanya yang sederhana dia mengharap rezeki.
Dengan perut kosong sisa semalam langkah George harus lumayan banyak dilakukan   2km jarak untuk tiba di pertambangan. Jarak tempuh tersebut memakan waktu kurang lebih 2 jam. Pepohonan di hutan hujan dan tebing-tebing juranglah jalan setapak satu-satunya menuju kawasan pertambangan.
***
Memang, hidup George tidak mudah. Bukannya tidak pernah mengeluh, tetapi dia selalu menyembunyikan keluhanya di dalam hati dan doanya agar tidak seorang pun; bahkan istrinya menganggap remeh dan mengasihaninya. Tuhan menjadi satu-satunya tempat George mengadu dan mengeluh. Doa yang selalu ditasbihkan  George selalu sama: agar keluarganya dapat hidup layak. Tidak banyak, bukan, permintaan pria berbadan besar dan berkulit agak gelap ini? Tapi Dia tahu yang terbaik telah diberikanNya.
Selepas bersujud subuh, tubuh George yang sudah tua bersiap melakukan aktifitas rutin beratnya.
“Pak, sepertinya sedang kurang sehat, sebaiknya tidak usah ke pertambangan  hari ini.” Kata marylin, istri George membujuk.
“Tidak, badanku terasa biasa saja, bahkan lebih baik dari kemarin” Dia menolak dengan suara lembut.
Berangkatlah Dia dengan penuh kecemasan sang istri. Sebenarnya George memang merasa kurang sehat hari itu, tetapi Dia lebih tidak tega melihat Istrinya yang harus bekerja  mencari kayu bakar di hutan untuk mendapatkan uang makan sekeluarga seharian.
Seperti biasa, segala rintangan siap ditempuh. Tetapi, hari itu agak berbeda: hujan lebat mengguyur Ribez sebelum George sempat menyelesaikan langkahnya melewati hutan. Dia berlari dengan gegas menghindari kuyup badannya karena air dari langit. Sia-sia memang. Akhirnya tubuh kuyup George memilih untuk berteduh menuggu hujan reda di sebuah gua kecil yang gelap.
Hujan semakin lebat. George yang menggigil kedinginan masih memilih berteduh. Dia merasa sangat menderita. Tubuh yang masih dipaksakan untuk kuat ini sepertinya sudah  melewati batas ketahanan. Gigil karena hujan dan sakit yang dibawanya dari rumah membuatnya kehilangan kesadaran.
***
            “Di mana aku?”  Ucap George sambil melihat sekeliling dengan heran.
“Kau sudah sadar, ya? Silahkan minum ini” Kata seorang wanita muda berpakaian parawat sambil menyodorkan segelas air mineral.
“Cepat jawab, di mana aku sekarang? Kenapa aku bisa di tempat seperti ini?” Dengan suara agak keras menyambut tawaran wanita itu.
“Baik, sebelumnya, namaku Diana, suster yang merawatmu sejak pertama kali kau ditemukan.  Akan aku jelaskan mulai dari saat seorang polisi menemukanmu terbaring tak sadarkan diri di dekat pohon besar.” Katanya, dengan suara lembut.
George yang mendengarka cerita Diana bahwa dirinya ditemukan tidak sadarkan diri oleh seorang polisi di dekat pohon besar merasa heran dan setengah percaya. Karena yang Dia  ingat bahwa dirinya sedang berteduh di sebuah gua di tengah hutan.
Tatap George mengelilingi ruangan di mana dia berada. Agak heran dan takjub pandangnya setelah dia tegaskan. Seluruh pemandangan memang jauh  berbeda dari yang biasa dia lihat: hampir segalanya terbuat dari emas terkadang berhias butiran pemata dan segalanya teknologi serba berada di luar kemampuan kepercayaan George.
“sebenarnya ada di mana aku?” tanya George penuh keheranan dan ketakutan yang sangat mengkhawatirkan keluarganya.
Diana menjelaskan keadaan yang sekarang dialami George. Didapatkanlah informasi, bahwa: sekarang dia berada di masa depan, tepatnya di tahun 2300. Di mana segala sesuatu dapat dilakukan, bahkan mengubah benda apapun menjadi sebuah perhiasan; emas, permata, dll dengan menggunakan alat canggih abad itu.
            “aku ingin kembali pada keluargaku” pinta George entah pada siapa.
Tentu saja bisa. Segalanya bisa dilakukan saja dengan teknologi canggih milik manusia. Jangankan mesin waktu, alat anti gravitasi pun sudah tercipta.
            “aku akan membantumu” tawar Diana.
            “tapi bagaimana caranya?” tanya George menatap Diana penuh pengharapan.
Diana memberikan George sebuah brosur jasa perjalanan waktu. Sesungguhnya jasa ini menawarkan untuk rekreasi keluarga ke berbagai zaman di masa lalu dengan membayar sejumlah uang.
Diana yang hanya bekerja sebagai perawat hanya bisa menawarkan solusi yang seperti tanpa kealanjutan yang jelas.
            “aku bisa bekerja sebagai apa pun” bujuk George pada Diana.
Keinginan George sepertinya tersambut. Diana menawarkan sebuah pekerjaan di pabrik kayu sebagai pengangkat barang kepadanya. George pun menerima tawaran itu demi untuk bisa pulang kembali ke masa lalu. Kebetulan memang hanya itu jenis pekerjaan yang bisa dilakukanya.
***
Di hari pertama bekerja, George sedikit agak canggung dengan kebiasaan hidup di masa depan. Mulai dari budaya, kebiasaan, watak, tak pernah sekali pun Dia temui orang-orang dengan watak seperti itu di tempatnya tinggal: Ribez tahun 1998. Semua orang terlihat acuh, sombong, bahkan tidak sopan. Mungkin hanya Diana orang baik yang tinggal di sini, pikirnya.
Setelah berbulan-bulan bekerja di tempat asing tersebut, uang tabungan untuk pulang hampir tercapai. Sebegitu senangnya hati George dengan hal itu. Dia akan bertemu keluarga yang dicintainya.
Terkumpullah jerihpayah George berupa uang untuk dibelikan tiket menumpang mesin waktu menuju kota kecil di sebelah tenggara Negara Laboa bernama Ribez tahun 1998. Seluruhnya telah diberikannya untuk kembali pulang, termasuk bergaul dengan orang masa depan yang jauh dari budipekerti yang baik.
Sebelum pulang, George menyempatkan berbelanja dengan uang ang tersisa untuk keluarganya: lemari, meja makan dan seluruhnya perlengkapan yang tidak diperlukan. Tentu saja, semuanya terbuat dari emas. Dia berpikir akan menjadi orang yang kaya raya setelah pulang ke Ribez. Pun memang kenyataannya akan seperti itu setelah dia menjual perabot emas yang dibawanya, tentu kekayaan yang didapat.
            “sampaikan salam untuk Istrimu, george” kata Diana sambil melambaikan tangan menghantar kepergianku.



Arief Budiman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar