Senin, 09 Juli 2012

Makhluk Tak Berakal



Setiap kali aku berlumut, aku selalu dianggap kotor, tidak terawat dan hal lain yang mempersepsikan bahwa diriku penuh dengan kenistaan. Setiap kali aku rapuh, akulah yang pertama-tama disalahkan akan kerapuhan itu. Padahal aku hanya segumpalan dari zat-zat yang tidak berakal. Zat-zat yang dibuat oleh zai-zat yang berakal. Tidak selamanya diriku dicap sebagai kenistaan. Diriku bisa saja berfluktuasi ke arah kebajikan. Dimensi zaman yang telah memberikan kontribusi apakah aku berfluktuasi ke arah kebajikan ataukah ke arah yang penuh dengan kenistaan. Namun, itu semua merupakan persepsi dari makhluk yang ‘dikatakan’ berakal. Makhluk yang ‘dikatakan’ bisa melestarikan jagad alam ini. akan tetapi itu semua hanya ‘dikatakan’ bukan ‘dikenyataan’. Sudahlah kita lupakan saja makhluk yang serba banyak ‘dikatakan’ ini.
Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam, hari, bulan, tahun. Aku selalu tidak suka dengan makhluk ‘indah’ ini. Secara fisiologi memang indah sekali. Sudah banyak yang mengakui keindahannya. Tidak hanya indah dilihat, tapi juga harum baunya. Namun makhluk ‘indah’ ini selalu aku singkirkan dari kehidupanku. Aku tidak suka dengan makhluk yang satu ini. Makhluk ‘indah’ ini selalu memperlambat aku dalam melakukan aktivitasku. Meski makhluk ini indah, tatap seja aku tidak menyukainya.
Aku harus bekerja ekstra keras untuk melanggengkan keperkasaanku di dalam pondasi. Aku tiban makhluk ’indah’ ini ketika aku ingin bergerak menjulang keatas. Akan tetapi, makhluk ‘indah’ ini tidak mudah menyerah begitu saja jika dirinya akan ditiban oleh zat-zat yang tak berakal. Makhluk ‘indah’ ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah setangkai untaian Bunga Mawar.
“Hey..kau janganlah terlampau sombong dengan seenaknya menjajah wilayah keindahanku”, bicara Bunga ketika wilayahnya dijajah oleh aku yang tak berakal ini.
“Lalu kamu mau apa jika aku jajah, hah?”, Tanyaku dengan wajah antagonisnya.
Sekejap Bunga mawar itu termangu membisu melihatku. Seakan melihat sebuah makhluk asing. Terlihat seperti memutar otak bagi Bunga Mawar untuk menjawab pertanyaan aku itu.
“Aku punya ‘zat berakal’ yang membantuku menindas kau, Bunga Mawar. ‘Zat berakal’ ini adalah para kaum-kaum kapitalistik yang akan selalu menindas bagi mereka yang lemah. Jangan salahkan aku jika kau aku tindas, karena kau sendiri terlihat lemah dihadapanku”, lanjut aku berkata.
Entah apa yang dipikirkan oleh Bunga Mawar itu. Seolah-olah bunga Mawar itu melayukan bentuk tubuhnya yang indah semampai itu. Tubuhnya melayu selayu-layunya. Mungkin apakah ini sinyal dari Bunga Mawar kalau dia seudah menyerah, karna sudah aku tindas. Aku tak peduli apakah dia menyerah atau tidak. Yang penting aku bisa menunjukan keperkasaanku ditengah alam jagad raya ini.
Para kaum kapitalistik bagiku seolah-olah hidup dibelakang layar. Semua bahan yang aku inginkan selalu dipenuhiya. Tidaklah perlu aku bekerja keras untuk mendapatkan segala yang aku inginkan. Kalau boleh diibaratkan seorang pemimpin, mungkin aku bagaikan Seoharto. Seorang pemimpin yang begitu lamanya berkuasa di Negeri ini. Banyak hal mengapa Soeharto itu bisa mempertahankan kekuasaannya begitu lama. Salah satu hal yang melandasinya ialah karena beliau itu hidup sebagai presiden dibawah kaum kapitalistik. Kaum yang selalu menyokong keinginan presiden yang bisa dibilang sebagai presiden yang otoriter. Keotoritariannya ini tidak lepas dari pengaruh panji-panji kapitalisme. Kapitalisme yang dibawa oleh para kaum kapitalistik. Soeharto tidak sadar bahwa dibalik kebaikan kaum kapitalistik yang diberikan terhadap dirinya merupakan hanya strategi mereka untuk merauk segala kekayaan alam Negeri ini.
Sudah cukup aku membicarakan seorang pemimpin yang bodoh itu. Karena kebodohannya itu pula segala obyek vital kekayaan alam Negara ini dikuasai oleh kaum kapitalistik itu. Sebagai dampak kebodohannya, rakyatnya pun ikut dibodohi oleh kaum kapitalistik itu melalui intervensinya terhadap Soeharto.
Sepertinya aku juga sudah dibodohi oleh kaum kapitalistik itu. Seperti mengikuti jejak Soeharto aku begitu menuruti keinginan-keinginan para kaum kapitalisme. Peduli setan! Yang penting aku bisa bertahan hidup dengan seenaknya. Tugasku hanya membasmi semua hal-hal yang menghalangiku. Apanpun hal itu. Baik atau buruk sama saja bagiku. Walaupun hal itu baik aku tetap saja membasminya jika hal baik itu menghalangi segala keinginanku. Begitu juga sama halnya dengan hal yang buruk. Aku merasa hidup ini hidup dizaman kapitalistik, di mana segala macam kehidupan selalu diukur dengan uang (modal).
Suatu ketika kaum kapitalistik ingin membangun gedung pencakar langit untuk keperluan berbisnisnya. Dan yang pasti aku selalu menjadi partnernya dalam melaksanakan proyek pembangunan itu. “rontokkanlah Bunga Mawar ini wahai ‘zat tak berakal’, serta rampaslah tanah yang mereka tumbuhi, karena mereka hanya menggangu pembangunan gedung ini saja !”. perintah para kaum kapitalistik itu terhadapku. Tanpa pikir panjang aku langsung merontokkan Bunga-Bunga Mawar itu. Sebab, kalau aku memikirkan merontokkan bunga Mawar itu justru aku yang merugi. Aku akan digantikan oleh makhluk lainnya yang lebih kuat. Aku tidak ingn hal itu terjadi.
***
Pernah suatu hari terjadilah kejadian kalau aku berpikit terlalu panjang dalam hal menuruti perintah kaum kapitalistik tersebut. Waktu itu para kaum kapitalistik ingin membangun jalan raya. Sudah tentu akulah yang diajak partnernya. Di saat yang sama pula, kaum kapitalistik menyuruhku membasmi bunga-bunga mawar itu. “Rontokkanlah Bunga Mawar ini wahai ‘zat tak berakal’, serta rampaslah tanah yang mereka tumbuhi, karena mereka hanya menggangu pembangunan gedung ini saja !,” perintah para kaum kapitalistik itu.
“Baiklah tuan,” sahutku. Dengan kesadaran yang aktif, sebenarnya aku berpikir panjang untuk melaksanakan perintah kaum kapitalistik itu. Jujur saja aku terpesona melihat keindahna makhluk yang satu ini, bunga Mawar. Warnanya yang enak dipandang. Baunya yang harum. Serta kelopaknya yang begitu elegan terlihat. Membuat pesonaku jatuh ke setangkai bunga Mawar itu. Berhari-hari aku memikirkannya apakah aku menuruti perintah kaum kapitalistik ini atau aku menuruti pesonaku ini. aku menjadi dilemma. Begitu lamanya aku memikirkannya. Dikarenakan aku lama berpikir, dengan semena-mena para kaum kapitalistik itu menggantikan aku denga ‘zat tak berakal’ juga. Namun bedanga ‘zat tak berakal ini lebih kuat. Butuh tenaga yang kuat untuk merobohkannya. Sedikit kecewa aku dengan hasil seperti itu. Namun aku tidak patah arah. Dengan segala cara aku mencoba membalikkan kepercayaan para kaum kapitalistik ini terhadapku. Agar mereka mau mengajak berpartner lagi denganku. Karena aku tidak akan bisa hidup jika tidak ada yang membantuku dengan bantuan modal uang. Maka dari itu aku selalu langsung melaksanakan perintah para kaum kapitalistik itu.
***
Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaan para kaum kapitalistik itu. Dengan seketika hilanglah bunga-bunga Mawar itu di bumi tempat di mana proyek pembangunan itu berlangsung. Seperti biasa, dalam perampasan serta penindasan, bunga-bunga mawar itu tak pernah melawannya. Hanya terdiam pucat pasi.
Namun aku curiga dengan kediaman para bunga-bunga itu. Bisa saja suatu ketika bunga-bunga itu akan melawanku dengan pemberontakan-pemberontakan melalui duri-durinya itu. Aku selalu mngkhawatirkan duri-duri itu bisa mencuat keluar untuk melakukan perlawanan terhadapku. Karena aku yakin betul kalau bunga-bunga Mawar itu sedah merasakan ketertindasan yang cukup berat.
Dan akhirnya kekhawatiranku pun terbukti. Selang beberapa tahun kemudian bunga-bunga mawar ini melakukan perlawanan terhadapku. Ternyata secara diam-diam dia melakukan penyebaran biji-biji didalam tubuhku ini. Begitu lama biji-biji ini mengendap ditubuhku. Hebat sekali bunga Mawar itu bisa membuatku terlena dengan kediaman bunga Mawar selama ini. Di samping ketertindasannya ternyata bunga Mawar ini melakukan rencana-rencana untuk melawan. Dan berkatalah bunga mawar itu dengan lantangnya,”jangan kau sangka aku diam saja selama penindasanmu itu. Aku makhluk hidup yang punya perkembangan jiwa. Sedangkan kau hanya ‘zat tak berakal’ yang tidak bisa mengembangkan kesadaran jiwa kamu. Hidup kau statis, monoton, selalu mengikuti apa yang diperintahkan oleh kaum kapitalistik. Oleh sebab itu, kau tidak bisa berpikir untuk masa depan hidup anda!”        
Kali ini aku yang terdiam. Campuran zat-zat yang membentukku seakan memudar di kepingan-kepingan tubuhku sendiri.  Tidak ada energy yang membantuku.
“Aku sengaja melakukan penaburan-penaburn biji di tubuhmu. Karena aku sudah muak dengan kaum kapitalis. Kaum yang selalu membantumu bukan?,” Tanya bunga mawar itu seraya mengeluarkan serbuk-serbuk sarinya agar suasana tidak terlalu menegang. Seakan terkunci pikiranku, aku tidak bisa menjawabnya. Justru bunga Mawar itu terus melakukan orasi-orasinya. “Aku menaburkan biji-biji ditubuhmu tidaklah asal, aku menanamkan prinsip dan keyakinan di dalam biji itu bahwa suatu saat biji itu akan tumbuh dan menghancurkan tirani (kekuasaan otoriter). Tirani harus tumbang di mana pun. Dan tiraninya itu adalah kau wahai ‘zat tak berakal’,” berkatalah bunga Mawar itu.
Dan akhirnya aku dan kaum kapitalistik sadar betul. Janganlah meremehkan sesuatu hal. Dan sudah waktunya aku menyiapkan strategi lain untuk menghadapi bunga Mawar itu. Ingatlah para makhluk-makhluk hidup. Aku ( seorang tirani) dan kapitalistik tetap akan menjadi musuh yang memberikan halusinasi kebaikan, padahal bukanlah kebaikan yang aku berikan tetapi keburukan.
Aku tidak pernah marah jika dipanggiol ‘makhluk tak berakal’. Karena aku memanglah demikian. Aku hanya bangunan tembok.


Harsaid Yogo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar