Setiap
kali aku berlumut, aku selalu dianggap kotor, tidak terawat dan hal lain yang
mempersepsikan bahwa diriku penuh dengan kenistaan. Setiap kali aku rapuh,
akulah yang pertama-tama disalahkan akan kerapuhan itu. Padahal aku hanya segumpalan
dari zat-zat yang tidak berakal. Zat-zat yang dibuat oleh zai-zat yang berakal.
Tidak selamanya diriku dicap sebagai kenistaan. Diriku bisa saja berfluktuasi
ke arah kebajikan. Dimensi zaman yang telah memberikan kontribusi apakah aku
berfluktuasi ke arah kebajikan ataukah ke arah yang penuh dengan kenistaan. Namun,
itu semua merupakan persepsi dari makhluk yang ‘dikatakan’ berakal. Makhluk
yang ‘dikatakan’ bisa melestarikan jagad alam ini. akan tetapi itu semua hanya
‘dikatakan’ bukan ‘dikenyataan’. Sudahlah kita lupakan saja makhluk yang serba
banyak ‘dikatakan’ ini.
Setiap detik. Setiap menit. Setiap jam,
hari, bulan, tahun. Aku selalu tidak suka dengan makhluk ‘indah’ ini. Secara fisiologi
memang indah sekali. Sudah banyak yang mengakui keindahannya. Tidak hanya indah
dilihat, tapi juga harum baunya. Namun makhluk ‘indah’ ini selalu aku
singkirkan dari kehidupanku. Aku tidak suka dengan makhluk yang satu ini.
Makhluk ‘indah’ ini selalu memperlambat aku dalam melakukan aktivitasku. Meski
makhluk ini indah, tatap seja aku tidak menyukainya.
Aku harus bekerja ekstra keras untuk
melanggengkan keperkasaanku di dalam pondasi. Aku tiban makhluk ’indah’ ini
ketika aku ingin bergerak menjulang keatas. Akan tetapi, makhluk ‘indah’ ini
tidak mudah menyerah begitu saja jika dirinya akan ditiban oleh zat-zat yang
tak berakal. Makhluk ‘indah’ ini tidak lain dan tidak bukan hanyalah setangkai
untaian Bunga Mawar.
“Hey..kau janganlah terlampau sombong
dengan seenaknya menjajah wilayah keindahanku”, bicara Bunga ketika wilayahnya
dijajah oleh aku yang tak berakal ini.
“Lalu kamu mau apa jika aku jajah, hah?”,
Tanyaku dengan wajah antagonisnya.
Sekejap Bunga mawar itu termangu membisu
melihatku. Seakan melihat sebuah makhluk asing. Terlihat seperti memutar otak
bagi Bunga Mawar untuk menjawab pertanyaan aku itu.
“Aku punya ‘zat berakal’ yang membantuku
menindas kau, Bunga Mawar. ‘Zat berakal’ ini adalah para kaum-kaum kapitalistik
yang akan selalu menindas bagi mereka yang lemah. Jangan salahkan aku jika kau
aku tindas, karena kau sendiri terlihat lemah dihadapanku”, lanjut aku berkata.
Entah apa yang dipikirkan oleh Bunga Mawar
itu. Seolah-olah bunga Mawar itu melayukan bentuk tubuhnya yang indah semampai
itu. Tubuhnya melayu selayu-layunya. Mungkin apakah ini sinyal dari Bunga Mawar
kalau dia seudah menyerah, karna sudah aku tindas. Aku tak peduli apakah dia
menyerah atau tidak. Yang penting aku bisa menunjukan keperkasaanku ditengah
alam jagad raya ini.
Para kaum kapitalistik bagiku seolah-olah
hidup dibelakang layar.
Semua bahan yang aku inginkan selalu dipenuhiya. Tidaklah perlu aku bekerja
keras untuk mendapatkan segala yang aku inginkan. Kalau boleh diibaratkan
seorang pemimpin, mungkin aku bagaikan Seoharto. Seorang pemimpin yang begitu
lamanya berkuasa di Negeri ini. Banyak hal mengapa Soeharto itu bisa
mempertahankan kekuasaannya begitu lama. Salah satu hal yang melandasinya ialah
karena beliau itu hidup sebagai presiden dibawah kaum kapitalistik. Kaum yang
selalu menyokong keinginan presiden yang bisa dibilang sebagai presiden yang
otoriter. Keotoritariannya ini tidak lepas dari pengaruh panji-panji
kapitalisme. Kapitalisme yang dibawa oleh para kaum kapitalistik. Soeharto
tidak sadar bahwa dibalik kebaikan kaum kapitalistik yang diberikan terhadap
dirinya merupakan hanya strategi mereka untuk merauk segala kekayaan alam
Negeri ini.
Sudah cukup aku membicarakan seorang
pemimpin yang bodoh itu. Karena kebodohannya itu pula segala obyek vital
kekayaan alam Negara ini dikuasai oleh kaum kapitalistik itu. Sebagai dampak
kebodohannya, rakyatnya pun ikut dibodohi oleh kaum kapitalistik itu melalui
intervensinya terhadap Soeharto.
Sepertinya aku juga sudah dibodohi oleh
kaum kapitalistik itu. Seperti mengikuti jejak Soeharto aku begitu menuruti
keinginan-keinginan para kaum kapitalisme. Peduli setan! Yang penting aku bisa
bertahan hidup dengan seenaknya. Tugasku hanya membasmi semua hal-hal yang
menghalangiku. Apanpun hal itu. Baik atau buruk sama saja bagiku. Walaupun hal
itu baik aku tetap saja membasminya jika hal baik itu menghalangi segala
keinginanku. Begitu juga sama halnya dengan hal yang buruk. Aku merasa hidup
ini hidup dizaman kapitalistik, di mana segala macam kehidupan selalu diukur
dengan uang (modal).
Suatu ketika kaum kapitalistik ingin
membangun gedung pencakar langit untuk keperluan berbisnisnya. Dan yang pasti
aku selalu menjadi partnernya dalam melaksanakan proyek pembangunan itu.
“rontokkanlah Bunga Mawar ini wahai ‘zat tak berakal’, serta rampaslah tanah
yang mereka tumbuhi, karena mereka hanya menggangu pembangunan gedung ini saja
!”. perintah para kaum kapitalistik itu terhadapku. Tanpa pikir panjang aku
langsung merontokkan Bunga-Bunga Mawar itu. Sebab, kalau aku memikirkan
merontokkan bunga Mawar itu justru aku yang merugi. Aku akan digantikan oleh
makhluk lainnya yang lebih kuat. Aku tidak ingn hal itu terjadi.
***
Pernah suatu hari terjadilah kejadian kalau
aku berpikit terlalu panjang dalam hal menuruti perintah kaum kapitalistik tersebut.
Waktu itu para kaum kapitalistik ingin membangun jalan raya. Sudah tentu akulah
yang diajak partnernya. Di saat yang sama pula, kaum kapitalistik menyuruhku
membasmi bunga-bunga mawar itu. “Rontokkanlah Bunga Mawar ini wahai ‘zat tak
berakal’, serta rampaslah tanah yang mereka tumbuhi, karena mereka hanya
menggangu pembangunan gedung ini saja !,” perintah para kaum kapitalistik itu.
“Baiklah tuan,” sahutku. Dengan kesadaran
yang aktif, sebenarnya aku berpikir panjang untuk melaksanakan perintah kaum
kapitalistik itu. Jujur saja aku terpesona melihat keindahna makhluk yang satu
ini, bunga Mawar. Warnanya yang enak dipandang. Baunya yang harum. Serta kelopaknya
yang begitu elegan terlihat. Membuat pesonaku jatuh ke setangkai bunga Mawar
itu. Berhari-hari aku memikirkannya apakah aku menuruti perintah kaum kapitalistik
ini atau aku menuruti pesonaku ini. aku menjadi dilemma. Begitu lamanya aku
memikirkannya. Dikarenakan aku lama berpikir, dengan semena-mena para kaum
kapitalistik itu menggantikan aku denga ‘zat tak berakal’ juga. Namun bedanga
‘zat tak berakal ini lebih kuat. Butuh tenaga yang kuat untuk merobohkannya.
Sedikit kecewa aku dengan hasil seperti itu. Namun aku tidak patah arah. Dengan
segala cara aku mencoba membalikkan kepercayaan para kaum kapitalistik ini
terhadapku. Agar mereka mau mengajak berpartner lagi denganku. Karena aku tidak
akan bisa hidup jika tidak ada yang membantuku dengan bantuan modal uang. Maka
dari itu aku selalu langsung melaksanakan perintah para kaum kapitalistik itu.
***
Kali ini aku tidak akan menyia-nyiakan
kepercayaan para kaum kapitalistik itu. Dengan seketika hilanglah bunga-bunga
Mawar itu di bumi tempat di mana proyek pembangunan itu berlangsung. Seperti
biasa, dalam perampasan serta penindasan, bunga-bunga mawar itu tak pernah
melawannya. Hanya terdiam pucat pasi.
Namun aku curiga dengan kediaman para
bunga-bunga itu. Bisa saja suatu ketika bunga-bunga itu akan melawanku dengan
pemberontakan-pemberontakan melalui duri-durinya itu. Aku selalu mngkhawatirkan
duri-duri itu bisa mencuat keluar untuk melakukan perlawanan terhadapku. Karena
aku yakin betul kalau bunga-bunga Mawar itu sedah merasakan ketertindasan yang
cukup berat.
Dan akhirnya kekhawatiranku pun terbukti. Selang
beberapa tahun kemudian bunga-bunga mawar ini melakukan perlawanan terhadapku. Ternyata
secara diam-diam dia melakukan penyebaran biji-biji didalam tubuhku ini. Begitu
lama biji-biji ini mengendap ditubuhku. Hebat sekali bunga Mawar itu bisa
membuatku terlena dengan kediaman bunga Mawar selama ini. Di samping
ketertindasannya ternyata bunga Mawar ini melakukan rencana-rencana untuk
melawan. Dan berkatalah bunga mawar itu dengan lantangnya,”jangan kau sangka
aku diam saja selama penindasanmu itu. Aku makhluk hidup yang punya
perkembangan jiwa. Sedangkan kau hanya ‘zat tak berakal’ yang tidak bisa
mengembangkan kesadaran jiwa kamu. Hidup kau statis, monoton, selalu mengikuti
apa yang diperintahkan oleh kaum kapitalistik. Oleh sebab itu, kau tidak bisa
berpikir untuk masa depan hidup anda!”
Kali ini aku yang terdiam. Campuran zat-zat
yang membentukku seakan memudar di kepingan-kepingan tubuhku sendiri. Tidak ada energy yang membantuku.
“Aku sengaja melakukan penaburan-penaburn
biji di tubuhmu. Karena aku sudah muak dengan kaum kapitalis. Kaum yang selalu
membantumu bukan?,” Tanya bunga mawar itu seraya mengeluarkan serbuk-serbuk
sarinya agar suasana tidak terlalu menegang. Seakan terkunci pikiranku, aku
tidak bisa menjawabnya. Justru bunga Mawar itu terus melakukan orasi-orasinya.
“Aku menaburkan biji-biji ditubuhmu tidaklah asal, aku menanamkan prinsip dan
keyakinan di dalam biji itu bahwa suatu saat biji itu akan tumbuh dan
menghancurkan tirani (kekuasaan otoriter). Tirani harus tumbang di mana pun.
Dan tiraninya itu adalah kau wahai ‘zat tak berakal’,” berkatalah bunga Mawar
itu.
Dan akhirnya aku dan kaum kapitalistik
sadar betul. Janganlah meremehkan sesuatu hal. Dan sudah waktunya aku menyiapkan
strategi lain untuk menghadapi bunga Mawar itu. Ingatlah para makhluk-makhluk
hidup. Aku ( seorang tirani) dan kapitalistik tetap akan menjadi musuh yang
memberikan halusinasi kebaikan, padahal bukanlah kebaikan yang aku berikan
tetapi keburukan.
Aku tidak pernah marah jika dipanggiol
‘makhluk tak berakal’. Karena aku memanglah demikian. Aku hanya bangunan
tembok.
Harsaid Yogo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar