Sabtu, 21 Juli 2012

AKU MENCARI KAMI




            Supri, Jono, dan aku menjalin sahabat sejak empat tahun silam. Bukan sahabat, inilah yang disebut saudara. Susah, senang kami hadapi bersama. Tidak dipungkiri jika memang kami terkadang ribut-ribut kecil, itu memang hal yang biasa, bahkan kejadian-kejadian seperti itu membuat kami menjadi kami yang kuat.
            Kami, menantang matahari, membakar samudra, menghantam waktu, membelah gunung, menikam bulan, menerawang terang. Kami adalah kami. Kami bukan manusia, melainkan serpihan-serpihan alam yang saling melengkapi.
            Ya itu kami
            Itulah kami, tetapi semenjak kerusakan internal hadir dalam persaudaraan, kami hanya serpihan yang mengawang-awang tanpa tujuan, tidak jelas tujuan kami. Wanita memang sebuah simbol keindahan, tetapi keindahan itu bisa menjadi berbahaya. Kerusakan itu hadir seiring munculnya persaingan Supri dan Jono dalam mendapatkan Vanya.
            Aku tidak ingin munafik, Vanya memang gadis yang mempesona. Menurut beberapa orang, kecantikan itu relatif, tapi kami sependapat untuk Vanya, cantik itu mutlak. Buat apa cantik jika hasilnya merusak yang telah ada. Persaingan Supri dan Jono mulai tidak sehat. Menurutku mereka mulai saling menikam dari belakang.
            “Mana nih si Jono, pri? Kemaleman nanti nih nonkrongnya kita. “ Aku membuka percakapan saat menunggu Jono di tempat biasa kami kumpul.
            “Au dah, bodo amatan dah ama dia.” Supri acuh tak acuh, terus menghisap rokoknya.
            “Lah ko lu gitu dah? Akhir-akhir ini gua liat lu berdua mulai saling menjauh dah? Kenape lu?” Aku mencoba mencari tahu penyebab keretakan mereka berdua.
            “Ah itu perasaan lu aja kali, eh eh tuh cewe yang lewat bening bener dah ya?” Supri mencoba mengalihkan pembicaraan.
            “Lu jangan mengalihkan pembicaraan deh, gua tau nih, gara-gara Vanya kan ?” Aku mulai menerka-nerka.
            “Gk usah sok tau deh lu, udah kaya wartawan aja lu nanya-nanya.” Sesaat setelah Supri berbicara, Jono datang dan langsung duduk sambil memesan jus tomat.
            “Maap cooy gua telat nih.” Jono duduk sambil menyulut rokoknya.
            “Lu kira kita lagi kuliah, ada telat-telatan segala.” Aku mencoba mencairkan suasana.
            “Tumben lu dateng.” Tiba-tiba Supri membuat suasana menjadi kaku, ternyata benar dugaanku, persaingan mereka mulai tidak sehat.
            “Kenapa lu, ada masalah gua dateng?” Jono merasa tersinggung dengan ucapan Supri.
            “Ada yang salah dengan omongan gua hah?” Supri seperti membelit-belitkan masalah. Suasana makin tegang.
            “Jelaslah! Heh, gua baru tau tadi, lu ternyata suka jelek-jelekin gw didepan Vanya, culun tau gk lu.” Jono berbicara sambil mematikan rokoknya.
            “Ya gua berbicara kenyataan aja, lu juga begitu kan? Bongkar-bongkar kejelekan gua.” Supri membela diri dan berargurmen.
            Aku yang tak ingin mereka berdua adu mulut langsung berkata, “Gua muak ye dengan keadaan ini. Lu berdua kalo emang mau saingan dapetin Vanya jangan kaya begini caranya. Lu gk boleh saling bongkar aib sahabat lu. Gibah tau gk lu pada. Pada kaya tikus laper tau gak lu berdua. Gua cabut dah kalo gini caranya.” Aku pergi tanpa ada dari Supri dan Jono yang mencegahku.
             Aku pergi ke pinggir danau, tempat yang sangat tepat untuk merenung di malam hari. Aku menyulut rokok dan mencoba berpikir solusi apa yang tepat. Bicara wanita memang tidak ada obatnya. Kalau memang sudah jatuh cinta pada wanita pasti akan berusaha untuk mendapatkannya, namun untuk kasus ini, cara mendapatkan Vanya yang dilakukan Supri dan Jono sudah tidak sehat. Ini bukan ribut-ribut kecil lagi, akan menghancurkan persahabatan jika terus berlanjut.
            Semenjak kejadian kemarin, Supri dan Jono makin menjauh, aku bingung, karena kami tidak pernah lengkap saat sedang kumpul. Ini keadaan yang tidak menyenangkan. Aku harus mencari cara agar kami bisa tetap menjadi kami. Bukan menjadi seperti ini, kami bukan serpihan yang mengawang tanpa tujuan. Kami harus tetap kami yang berupa serpihan alam yang saling melengkapi.
            Tapi aku mesti gimana? Ini seuatu yang sangat rumit. Aku tidak bisa gegabah  dengan keadaan ini. Mustahil membuat Vanya menjauh, mengingat Vanya sangat nyaman dengan perhatian-perhatian yang diberikan oleh Supri dan Jono.
            “Aku harus gimana??” Aku teriak sekencang-kencangnya di pinggir danau malam hari ini. Tempat ini menjadi favorit ku semenjak aku jarang kumpul bertiga lagi.
            “Hahahaha, bodoh sekali aku, keretakan ini hadir karena Vanya. Jadi apa solusinya? Hei danau bodoh jangan menatapku remeh seperti itu.” Danau itu seperti mulai memberiku saran, ah itu bukan saran, tapi perintah.
            “Apa kau gila danau bodoh. Jangan mencoba memasuki pikiranku!!! Tidak mungkin aku melakukan itu!!” Ada apa ini. Danau itu bukan mahluk hidup, tapi kenapa dia lebih hidup dalam pikiranku dibandingkan aku sendiri.
            “Tidak, aku tidak suka dengan Vanya, aku hanya ingin mengembalikan persaudaraanku yang sangat ku banggakan.”
            Lalu aku pergi kesebuah toserba untuk membeli sesuatu dan pergi ke rumah kos yang ditempati Vanya. Aku juga menyempatkan membeli martabak Bangka kesukaanya, hal ini kuketahui dari Supri dan Jono.
            “Van, maaf ganggu ya” Aku dan Vanya duduk berhadapan di teras.
            “Iya gak apa-apa ko jo, ada apa nih tumben kemari malem begini?” Vanya memang orang yang ramah, jika saja Supri dan Jono tidak jatuh cinta dengannya, mungkin aku adalah lelaki yang paling giat untuk mendapatkan cintanya.
            “Nih gua bawain martabak, lagi pingin aja mampir van,” Aku memberikan sebungkus martabak keju.
            “Waw, ini kesukaan gw jo, ko lu bisa tau sih?” Vanya langsung mengambil sepotong dan memakannya dengan lahap.
            “kebetulan aja mungkin, sepi banget nih kos-an, pada kemana?”
            Vanya menghabiskan martabak dalam mulutnya, lalu berkata “ Wah udah pada mudik jo, lu tau kan kita udah libur tiga bulan, mamih kos gua juga lagi pergi ke luar kota, serem juga sih sendirian disini.”
            Aku mengeluarkan sebilah pisau terbungkus kardus yang kuselipkan di belakang celanaku. Pisau ini kubeli di toserba, aku letakkan diatas meja tepat dihadapan Vanya.
            “Buat apaan jo? Gua belum bisa masak. hehehe” Vanya penasaran dengan Pisau yang kubawa sambil bercanda.
            “Udahkan makan martabaknya ya, gua cuman pingin sahabat-sahabat gua gk ribut lagi karena lu.” Ku ambil Pisau dan ku lepaskan bungkusnya, lalu kuarahkan ke leher Vanya.
            “Jo lu becanda kan?” Vanya mulai panik,”jo lu jangan gila dah!!.”
            “Maafin gw Van”



M.N

Tidak ada komentar:

Posting Komentar