Sabtu, 28 Juli 2012

Jin Ada di Hati Kita Masing-masing


Malam ini kuhabiskan dengan mengendarai motor matik kesayanganku yang kubawa dengan kecepatan yang tak begitu cepat, lambat menyusuri jalanan ibukota yang lengang. Menikmati udara malam yang begitu dingin menerpa wajahku yang mulai tersapu kantuk yang datang marayapi mata. Hingga akhirnya aku putuskan untuk memutar balikkan motorku menuju rumah dan sesegera mungkin bersitirahat.
 Tak lebih dari beberapa jam yang lalu, aku menikmati berbuka puasa di bulan ramadhan ini bersama teman-teman semasa sekolahku dulu. Memang mengasyikkan, tetapi kadang kecanggungan seakan menjalari bibirku sehingga tak seperti dulu, untuk sekedar melepas canda gurau pun seakan merasa bebas lain dengan sekarang seakan tertekan oleh usia.
Perjalanan melewati gang rumah aku melihat beberapa anak muda sedang menongkrong-nongkrong tak jelas. Mereka hanya tertawa-tawa tak menentu, kadang melemparkan beberapa petasan ke jalanan seakan membunuh sepinya malam dengan ledakan-ledakan kecil. Kulewati mereka dengan beberapa pencetan klakson, guna memberikan isyarat pada mereka untuk menyingkir dari jalanan. seakan tak menerima kudengar beberapa dari mereka berteriak-teriak menghujatku.
Sesampainya di rumah segera ku ambil handuk yang tergantung pada tepian jemuran, bersiap untuk mandi. Sunyi memang rumahku, hanya ada aku di rumah ini. Sebuah rumah kontrakkan yang kusewa sejak beberapa tahun lalu ini seakan menjadi sebuah kamar kost yang bersekat beberapa ruangan, begitu luas. Entah sampai kapan aku harus menempati rumah ini sendiri, tak pernah aku bayangkan.
Selesai mandi segera kurebahkan tubuhku pada kasur tempat tidurku. Pukul duabelas malam yang jelas kuterawang dari jam dinding yang menggantung di ruang tengah rumahku. Waktu yang tepat untuk setidaknya tidur, sebelum kembali bangun pada pukul tiga dini hari untuk sahur sebelum keesokkan harinya melanjutkan ibadah puasa pada bulan ramadhan ini.
Tiba-tiba suara ribut-ribut kudengar menggema dari luar rumahku, teriakan beberapa orang yang marah. Segera kubangkitkan tubuhku bangun dan mencari keluar rumah suara ribut-ribut itu. Kubuka pintu gerbang rumahku kulangkahkan kakiku hingga beberapa meter dari rumahku. Kulihat beberapa orang sedang berteriak dipenuhi amarah berkerumun seperti hendak membunuh seseorang.
                kudekati mereka dengan perlahan. Kulihat orang-orang itu masing-masing membawa sebuah kayu di tangannya, astaga mereka benar akan membunuh seseorang!!.
“Mas, ada apa ini? Kok pada bawa senjata segala?” tanyaku pada salah satu orang.
                “Ada maling tertangkap, pak”.
                “Astaga!!”.
Kusibak beberapa tubuh dan benar, ternyata dua orang pencuri sedang dihakimi oleh massa. Bibir meraka telah bengkak, mata tertutup lumuran darah dari pelipis yang sobek dan pipi yang biru membengkak, tertelanjangi hanya memakai celana dalam saja. Keduanya tidak dapat berkutik, pasrah menerima hantaman yang menghujani tubuh mereka.
                “Astagfirullah!! Tenang-tenang pak. Sudah jangan dipukuli lagi, nanti mereka bisa terbunuh!” aku mencoba menghentikan.
                “Biarkan saja mereka mati! Toh mereka Cuma maling! Merusak bulan ramadhan saja!”.
                “Justru karena ini bulan ramadhan pak, bulan untuk saling memaafkan”.
                “Memaafkan?! Sekarang saja masih bulan ramadhan pak, belum idul fitri!! Jangan-jangan bapak temannya maling ini ya?!”.
                “Astaga, bukan pak! Saya warga di sini. Ya sudah kita tunggu hingga pak RT datang, kita selesaikan saja pada pihak yang berwenang” aku menunjuk pada seorang anak muda, “Coba kamu pergi ke rumah pak RT, panggil dia”.
                anak muda itu pergi dengan tergesa menuju rumah pak RT, sementara aku masih berhasil menahan amarah warga yang berkerumun menghakimi dua orang pencuri yang telah babak belur.
kulihat tangan mereka masih erat memegang kayu yang mereka pakai untuk memukul dua pencuri itu. Suasana yang kubangun untuk menentramkannya, kurasakan semakin memanas tak pernah berkurang sama sekali.
                kudengar pak RT datang dari kejauhan, sedikit agak berlari sembari membetulkan kain sarungnya yang agak melorot dengan sebelah tangan, karena tangan sebelahnya ia gunakkan untuk menggenggam sebatang kayu. Sesampainya di kerumunan dia berdiri menghadap warga.
                “Ada apa ini?” ucapnya tajam.
“Maling pak!” seorang warga menjawabnya.
“Astagfirullah, mana malingnya!”.
“Itu pak!”.
                Sedikit demi sedikit kugerakkan tubuhku menjauh dari kedua pencuri itu.
“Oh ini, malingnya!!”.
                Entah seakan semuanya tak terdengar lagi ketika kuberjalan menjauhi kerumunan orang-orang itu. Sekan malu seakan menghentak seluruh tubuhku, menghancurkan setiap sel-sel pembuluh darahku hingga yang paling dalam. Hingga sebuah pikiran terlintas dalam benakku tentang kejadian itu sembari berjalan pulang menuju rumah meningggalkan kejadian itu tanpa ada satu orangpun dari kerumunan itu yang sadar bahwa aku telah pergi. Aku berkata.
                “Sepertinya aku telah salah, datang tanpa membawa senjata untuk diriku sendiri”.


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar