Sabtu, 29 Desember 2012

Mati untuk Hidup


Aku merenung, baru dua hari aku di tempat ini, belum lama jika hitungan waktu bumi. Hanya saja aku berada di luar dimensi bumi sekarang. Satu hari di tempat ini rasanya seperti seratus tahun di bumi. Orang-orang yang ada disini pun tidak ada yang tua, bahkan tidak terlihat seorang bayi kecil berada disini. Semua terlihat seperti berumur remaja. Semua lelaki terlihat tampan begitu juga perempuan yang ada sangat cantik.

Baru dua hari aku tinggal di dimensi ini. Rasa bosan sudah melanda. Mengapa? Karena tidak ada masalah, semua berjalan sangat damai. Apapun yang ingin dilakukan dapat terlaksana dengan mudah. Bahkan aku bisa terbang disini. Semua karena kemampuan manusia yang berada di sini sudah melebihi kemampuan manusia yang ada di bumi. Mungkin terbersit pertanyaan kenapa aku bisa ada di tempat ini. Baik, aku akan bercerita tentang kehidupanku satu tahun waktu bumi sebelum aku berada di tempat membosankan ini.

Aku Uka Apais, saat itu aku berusia 23 tahun. Aku hidup di tahun dimana ada isu akan terjadinya kiamat. Bel  jam di kamarku sudah berbunyi, bertepatan dengan matahari yang sudah berada tepat di atas kepala setiap orang yang berjalan. Tetap saja masih sangat terlalu pagi bagiku untuk membuka mata. Maklum aku biasa tidur kalau masjid dekat rumahku sudah menganjurkan setiap orang untuk beribadah daripada tidur. Bagi aku, tidur merupakan sesuatu yang lebih penting daripada menjalankan ritual yang aku sendiri tidak tahu gunanya untuk apa.

Saat terbangun aku langsung mengambil sebatang rokok dan menyalakan televisi yang ada di kamarku. Saat itu aku melihat acara gosip yang menanyakan pendapat para artis-artis yang sok agamis. Pendapat artis tentang ramalan akan terjadinya kiamat di tahun ini. Sontak, saat itu juga aku berteriak “orang tolol …..!!!!” bagiku orang-orang yang berbicara tentang hal yang belum terjadi itu bodoh. aku pun kesal dan langsung mematikan TV “acara tv sekarang pembodohan semua”.

Batang rokok yang aku hisap hampir habis. Aku pergi ke kamar mandi dan langsung bersiap untuk berangkat kuliah. Dengan pakaian tebal aku berangkat ke kampus. Pada saat itu, aku sedang sakit sehingga aku memakai jaket yang cukup tebal. Sebenarnya aku bingun apa tujuan kuliah, namun aku tetap berangkat dan menjalani rutinitasku. Aku menganggap rutinitas kuliah adalah hiburan dunia maya yang aku jalani hanya untuk menghibur diriku. Sampai di kampus aku bertemu teman-temanku yang memiliki pemikiran hampir sama gilanya denganku. Hanya mereka yang membuat aku tetap rela bertahan di kampus. Masuk ke kelas, aku harus bersandiwara menjadi orang yang normal demi beradaptasi dengan teman-teman yang ada di kelas. Orang normal bagiku adalah orang-orang yang patuh pada peraturan yang mengekang ide-ide membangun. Orang normal adalah orang yang menjalani ritual rutin tanpa tahu untuk apa dia menjalankan ritual itu. Orang normal adalah orang yang bangun pagi, kena macet, kerja menurut pada perintah bos, pulang lalu tidur. aku berpikir kalau itu adalah cara untuk menjadi orang normal, maka aku memilih untuk menjadi orang yang tidak normal.

“sekarang kita UTS yah” kata dosen.

Banyak sekali yang terkejut pada saat itu. Saat dosen keluar untuk mengambil kertas soal ujian, banyak yang pindah tempat duduk ke belakang. Aku tetap santai dan nyaman dengan tempat dudukku  di depan. Aku berpikir untuk apa nilai bagus tetapi itu tidak mencerminkan kemampuan yang aku miliki. Saat ujian berlangsung banyak diantara temanku yang orang normal berwajah muram karena tidak bisa mengerjakan soal yang diberikan. Sambil senyum aku berjalan menghampiri dosen dan memberikan kertas jawaban. Aku pun keluar kelas dan kembali ke tembok, habitat nyata yang aku miliki di kampus. Aku selau menjadi orang pertama yang selesai dalam ujian kelas apapun. Aku selalu yakin dengan kemampuan yang ku miliki.

Saat aku bersandar di tembok, datanglah Arisalah dengan Nawdir. “Ukaaaaaa, udah kelar lo UTSnya?” Nawdir menyapaku. Aku menjawab “sudah”. Arisalah memandangku sambil memegang sulingnya. Dia bertanya tentang kesehatanku.

“uka. Lo lagi sakit yah?” tanya Arisalah.
“sedikit ga enak badan.” Jawabku.

Setelah beberapa perbincangan dan diskusi, aku pergi ke kantin untuk makan. Di sana aku bertemu dengan seseorang yang pernah cukup dekat dengan kehidupanku. Dia melihat kondisiku yang sedang sakit. Dia menganjurkan agar aku pergi ke dokter untuk memeriksa kondisi tubuhku. Kami berbincang cukup singkat, karena setelah makananku habis, aku menyalakan rokok. Dia terlihat marah karena aku merokok saat kondisi tubuhku tidak sehat. Dia pun pergi dari hadapanku tanpa pamit. Aku hanya senyum, karena memang aku tidak perduli dengan siapapun bahkan dengan diriku sendiri.

Sepulang dari kampus, aku menyempatkan mampir ke klinik dekat rumah untuk memeriksa kondisi tubuhku. Saat pemeriksaan berlangsung dokter menyarankan kepadaku untuk segera berhenti merokok. Dokter itu tahu bahwa seperempat paru-paru yang aku miliki memang sudah tidak berfungsi atau mati. Dokter mengatakan kenapa aku masih hidup saat ini, itu karena daya tahan tubuhku yang sangat kuat dan aku sering berolahraga. Hanya itu yang membuatku masih dapat bertahan.

Sepulang dari klinik aku pergi ke apotek untuk menebus obat dari dokter. Aku merogoh saku celana dan mengambil sebatang rokok lagi untuk ku hisap. Aku tudak perduli dengan apa yang dikatakan dokter itu pada ku. Menurutku bukan dokter itu yang menentukan umurku, bahkan Tuhan pun  tidak dapat mengambil nyawaku. Hanya diriku sendiri yang dapat menentukan kapan aku akan mati. Lagipula akupun sudah mulai bosan hidup di dunia ini. Jadi kapanpun aku mati, aku sudah siap. Meski aku jarang beribadah atau bisa dibilang aku orang dengan banyak dosa. Aku berpikir seperti itu sambil menghisap rokok yang ku pegang. 

Rupanya kebosanan ku tinggal di bumi tercinta ini memang sudah sangat memuncak. Aku tidak perduli dengan keadaan tubuh ku yang sudah sangat menurun ini. Hingga pada suatu hari aku merasa sangat mengantuk dan aku tidur di tembok kampus. Di dalam tidurku aku bermimpi roh ku terbang dan melihat teman-temanku menangis di samping tubuhku. Semua terlihat sangat nyata. Aku sulit mengendalikan roh ku yang terus naik melewati pintu dimensi. Ternyata harapan ku untuk meninggalkan bumi ini terwujud. Aku telah mati.

Saat sampai di pintu masuk dunia baru, aku disuruh memilih tubuh manusia segar yang akan aku pakai selama aku berada di dimensi ini. Aku masuk ke tubuh baru itu. Aku merasa ada yang aneh, tubuh ini sangat kuat. Kemampuanku untuk berpikir juga sangat cepat dan tepat. Ternyata tubuhku yang baru ini adalah tubuh yang dapat memaksimalkan kemampuan otak manusia. Aku dapat melakukan semua hal yang aku mau.

Hari pertama aku di sini, aku terbang mengelilingi tempat baru ini. Ternyata tempat ini memiliki karakter yang sama dengan bumi. Ternyata ini juga merupakan planet yang ada bersampingan dengan dimensi bumi. Hanya saja planet ini memiliki besar beribu kali lipat dengan besar bumi. Setelah aku mengelilingi planet baru ini. Aku mencoba kemampuan otakku yang lain. Aku memikirkan sebuah benda yang pernah ku lihat di bumi, yaitu mobil. Hanya dengan memikirkan dan menggabungkannya dengan apapun yang ada di sekitar, ternyata berhasil membuat mobil itu terbentuk dan menjadi nyata.

Aku sadar bahawa kekuatan ini memang benar-benar ada dan aku miliki. Aku seperti tuhan yang dapat membuat atau menciptakan apapun yang aku mau. Mungkin ini yang dibilang banyak orang di bumi sebagai surga. Karena kita akan dapatkan apa saja yang kita inginkan di surga. Lalu aku berpikir kembali. Kalau disini adalah surga, maka seharusnya ada neraka. Setelah aku berkeliling dan keluar dari planet baruku ini. Aku tidak menemukan tanda-tanda adanya neraka. Akupun bertanya kepada orang yang sudah lama berada disini. Benar saja, tidak ada neraka dimanapun itu dan di dimensi apapun. Mungkin saja pernyataan orang itu benar. Karena jika dilihat saat aku masih hidup di bumi. Aku jarang sekali beribadah. Bahkan aku cenderung banyak melakukan dosa. Harusnya aku masuk neraka jika memang neraka itu ada.

Setelah semua kemampuan yang aku miliki sudah aku coba. Aku keluar dari planet itu dan membuat planetku sendiri. Hanya butuh waktu beberapa jam untuk membuat planet baru yang indah dan mirip bumi. Aku bersantai dan melamun didalamnya. Aku mulai merasa bosan dengan kehidupanku sekarang. Ini adalah hari kedua aku tinggal di dimensi baru ku ini. Tidak ada kekacauan, keributan, masalah dan apapun itu. Aku teringat kebiasaan aku berdiskusi dan berdebat di tembok kampus tentang masalah-masalah yang ada dan mendapatkan jalan keluar dari masalah itu. Aku dan teman-teman tembok ku juga gemar membuat cerpen.

Akhirnya aku memutuskan membuat cerpen untung mengobati rasa rindu ku ini. cerita ini yang sedang aku tulis sekarang. Setelah sampai pada akhir-akhir cerita yang aku tulis ini. Mulai terpikir olehku, dengan kemampuan aku yang sekarang, aku bisa melakukan apapun yang aku mau. Kenapa aku tidak kembali ke dimensi lama ku dan kembali ke tembok kampus dimana terakhir kali aku terbaring disana. Aku akan melakukan perjalanan menembus ruang dan waktu, jadi aku bisa kembali. Maka akupun mencobanya.

Aku mulai berpikir keras untuk melakukan perjalanan ruang dan waktuku itu. Aku merasa kesakitan karena aku melakukan perjalanan dengan kecepatan berjuta-juta kali melebihi kecepatan cahaya hingga tubuhku lebur hingga tidak berbentuk. Tiba-tiba semua gelap, lalu aku mendengar suara teman-temanku memanggil. Uka bangun, Uka jangan mati, Uka, Uka, Uka. Itu yang aku dengar. Aku sadar bahwa aku telah berhasil melakukan penembusan ruang dan waktu. Aku membuka mata lalu melihat wajah sedih teman-teman tembokku. Aku melihat wajah sedih Maren, Arisalah, Nawdir, Askar, mamah Inos, Kuple, Paruh, Hallursan. Aku tersenyum dan berkata “aku kembali kawan”.

Aku kembali dari dimensi yang disebut orang mungkin adalah surga. Tenyata aku juga kembali dengan membawa kekuatan yang aku dapat dari sana. Aku merahasiakan kekuatanku dari yang lain. Aku juga tidak akan pernah memakai kekuatan itu, karena hidup yang mudah dan hidup tanpa masalah itu hidup yang sangat membosankan. Jika hidup di surga adalah hidup yang berjalan tanpa adanya masalah sedikitpun maka aku Uka Apais lebih memilih untuk tinggal dan hidup di bumi selamanya.  

Dirham Damara

2 komentar:

  1. Asik...
    Cerita yang bagus untuk memulai hari di tahun yang baru.

    Selamat tahun baru utk Komunitas Tembok. We'll see you soon..

    BalasHapus
  2. terimakasih untuk komentarnya :). semoga tidak bosan untuk membaca cerita kami yang lain.

    BalasHapus