Saya
benar-benar buntu. Buntu. Buntu. Apa yang saya tulis tak lagi menjadi bahan
fiksi yang unik. Dulu, ketika HB. Jassin dan kawan-kawan masih hidup, hingga
dilanjutkan oleh kritikus generasi Sapardi dan Korrie, cerita fiksi adalah
cerita yang hanya dalam imajinasi namun berfungsi untuk melukiskan dan
menyamarkan kenyataan hingga halus dan bisa dinikmati.
Tetapi
sekarang? Saya keki. Jengkel. Semua bahan fiksi yang akan, sedang, dan telah
saya tulis, telah ada menjadi kenyataan yang jauh lebih jahat dan mengerikan.
Sumpah. Lantas, pekerjaan saya apa lagi kalau khayalan saya di dahului dunia
nyata?
Beberapa
bulan lalu, saya ingin menulis tentang seorang ibu yang membakar anaknya karena
tak mampu menghidupi keluarganya. Keluarganya belasan tahun menghilang, agar
kesan fiksinya lebih kuat. Tak lupa, sosok suami yang turut menghilang
dihadirkan dalam cerita ini.
Setelah
lelah membuat jalinan cerita, saya menonton televisi sambil menyeruput kopi
hangat. Harum sekali. Saya lalu duduk di sofa empuk. Untuk referensi, saya
coba-coba melihat berita, siapa tahu ada yang bisa saya tambahkan kedalam
cerita. Televisi malam-malam begini kalau tidak film lama ya berita pagi yang
hampir basi.
Eh,
tak tahunya... tokoh-tokoh dalam cerpen saya menjadi objek berita malam itu!
Lengkap dengan laporan langsung dan suami yang memang menghilang serta
keluarganya yang tak jelas rimbanya. Kenapa pas benar, ya?
Saya
sepakat, bahwa cerita fiksi harus memiliki jarak fiksi dengan dunia nyata. Saya
sadar betul. Meski hanya nama yang berbeda, tetapi saya tetap jengkel, saya
harus mencari ide lain agar kesan kreatif saya tetap bertahan.
Apa,
ya? Oh ya.
Saya,
malam itu juga, akhirnya menemukan cerita tentang seorang pengarang feminis
yang mengadakan bedah buku di kota. Kota Ku terkenal dengan penduduknya yang
memegang teguh religiusitas dan toleransi.
Banjir
dan kemampetan jalan raya oleh sampah-sampah menjadi masalah utama kota.
Disamping, seperti pada umumnya kota besar, urbanisasi menghasilkan berton-ton
masalah yang tak kunjung selesai.
Apa
lagi, ya? Ia mengadakan acara ini atas desakan komunitas para sastrawan agak
kiri sedikit yang ingin menambah wawasan. Juga, mereka yakin acara ini diadakan
di lingkungan terbatas. Nah, di tengah cerita, sekelompok telik sandi beberapa
ormas mencium gelagat ini. mereka anti feminis. Ssst, mereka nafsunya besar
juga pada wanita.
Masalahnya,
materi buku yang di bedah dianggap bertentangan dengan keyakinan mereka,
seperti, gravitasi itu kebawah, dan laki-laki itu unik, serta perempuan itu ganas. Mulailah mereka merencanakan
sesuatu.
Penggerebekan.
Tepat di tengah acara. Maka jadilah penggerebekan itu mengacaukan acara yang
tengah berlangsung, pembicara berusaha menetralkan, tetapi yang ormas-ormas itu
inginkan, acara berhenti dan pembicara hengkang ke negara asalnya yang sangat
liberal. Neo liberalis.
Tiga
hari setelah saya tulis cerita ini, dan yakin sekali akan di muat di koran Kota
Ku, mata saya mencolot hampir jatuh.
“SEORANG PENGARANG FEMINIS DI GEREBEK MASSA DI TEMPAT BEDAH BUKU”
Awalnya,
saya mengira itu judul cerpen saya yang saya kirim minggu lalu. Tetapi,
ternyata itu judul berita utama. Buntu! Saya menyerapah. Entah kenapa lagi-lagi
dunia nyata mendahului saya. Apa-apaan sih dunia ini? tidak punya pekerjaan
selain mengganggu cerita-cerita saya.
Saya
kesal. Akhirnya saya membuat cerita tanpa berkhayal sama sekali. Maksudnya,
pura-pura tak pernah tahu dunia nyata. Semoga kali ini saya berhasil membuat
jarak fiksi yang begitu nyata. Bahasa adalah simbol kenyataan, baik. Dan kini
mari merenung-renung tentang jalan ceritanya.
“pada
suatu hari,” saya memulainya. Cukup fiksi.
Dulu,
ada seorang bupati yang memenangkan pemilihan di sebuah kota kecil dekat laut.
Ia memenangkan pemilihan itu karena wakil yang menjadi pasangannya, adalah
pemain ludruk terkenal. Semua bisa dibuat terpingkal-pingkal olehnya. Ia lucu
sekali.
Singkat
cerita, mereka berdua banyak membuat terobosan-terobosan dalam pembangunan.
Namun, dasar laki-laki. Di tengah jalan, libido sang bupati menuntut gadis
perawan termolek dari rakyat yang dipimpinnya dipersembahkan kepadanya.
Bagaimana dengan sang wakil?
Rupanya,
pemain ludruk beruntung ini mencium gelagat tak baik sejak awal, maklum. Ia
ahli sandiwara. Ahli membaca skenario dan penerapannya di dunia peran. Ia
mengundurkan diri, yang tentu saja di sambut kekagetan berbagai pihak.
Mengejutkan!Mulailah ia membeberkan satu demi satu skandal, meski secara
tersirat. Sang bupati, sebagaimana lazaimnya pejabat negeri itu, tetap cuek dan
tak tersentuh.
Kembali
tentang bupati, ia kesampaian menikahi gadis termolek di kotanya, meski
keluarga sang gadis setengah hati. Umur sang bupati hampir padam, tapi masih
saja menyala-nyala libidonya. Pada gadis pula.Itu kan jatah jejaka kotanya,
kritik aktivis perempuan yang mengomentari kejadian ini di sebuah acara
televisi.
Entah
kenapa, seperti orang kekenyangan saja, bupati nyentrik ini menceraikan
istrinya di usia perkawinan yang baru empat hari!
Aha,
cerita saya kali ini cukup fiksi. Yang sanggup mengalahkannya hanya lakon-lakon
wayang seperti Bima Bungkus, Gatotkaca Sraya, atau sekalian Wahyu Makutharama.
Ya, saya yakin benar kali ini.
Mungkin,
cerita kuda Troya yang ternyata non-fiksi juga belum tentu punya skenario
serumit dan seaneh ini, meskipun jika penguasa kota saya tahu ada karangan
seperti ini yang dimuat, siap-siap saja ganti nomor telepon.
Eh,
dasar pena saya dikutuk Yang Maha Kuasa. Seminggu setelahnya, di D-U-N-I-A
N-Y-A-T-A YANG SAYA BENCI, infotainmen ramai-ramai memberitakan tentang bupati
dari kota di dekat laut, yang habis ditinggal oleh wakilnya karena perbedaan
prinsip dan skandal yang macam-macam, menikah dengan
gadis usia delapan belas tahun.
Belum
cukup, yang paling melukai perasaan saya sebagai pengarang yang
mengagung-agungkan kefiksian cerita saya kali ini-dengan harapan masuk koran-empat
hari kemudian dia menceraikan istrinya. Yang paling menghancurkan logika saya,
ketika di wawancara dalam sebuah jumpa pers, ia dengan wajah penuh senyum
mengatakan demikian:
“mencintai
wanita itu seperti mengganti baju, kalau tak suka, ya ganti lagi...”
Gol.
Gawang saya robek parah. Hati dan logika saya ditembus bola misterius bernama
kegagalan menciptakan jarak fiksi antara cerpen saya dengan kenyataan. Kalau
begini, imajinasi saya ternyata menjadi logis, dan cerpen saya menjadi seperti
berita di koran. Apalah maksudnya ini!
Saya
sih, senang-senang saja mengenakan wanita seperti mengenakan baju. Jangan
dibayangkan, ya. Masalahnya, wanita mana yang mau dianggap demikian? Memang
mengasyikkan, tapi resikonya, bos!
Saya
frustasi, tuan. Saya merapuh. Pekerjaan saya sebagai pengarang terancam
mengalami kebuntuan. Apa saja yang menjadi keyakinan saya mengenai kefiksian
sedang diuji. Tetapi saya harus melakukan sesuatu agar karier saya di
koran-koran tak mampus.
Dapat
duit dari mana, coba?
Saya
memutuskan untuk konsultasi pada sastrawan terkemuka negeri ini, namun tak
dikenal, sebab karyanya banyak dinikmati orang tetapi tidak menjadi bacaan
wajib di sekolah-sekolah. Nilainya tinggi, luhur. Tetapi matematika dan
linguistik jauh lebih luhur dalam sistem nilai dan norma saat ini.
“Jadilah
wartawan, teman...” Katanya tenang. Ia banyak mengalami asam garam kenyataaan.
Rujak.
“Saya
pengarang, mas, tidak seprinsip!” Saya mencoba idealis.
Dia
ini saya anggap teman sekaligus guru pribadi yang bisa saya temui tanpa harus
menuliskan di daftar pustaka.
“Buktinya,
tulisanmu identik dengan berita di koran,”
“Bukan
itu...”
Ia
menyela, “Buat apa kamu susah-susah membuat cerita, yang mengandung nilai
moral, kalau di masyarakat fiksi tak memiliki jarak lagi dengan dunia nyata....”
Asap
rokoknya mengepul tinggi-tinggi, sementara rokok saya hambar. Ditelan frustasi.
“Sebenarnya
fiksi itu apa sih, mas...” Saya merenung.
“Ya,
tidak nyata, gampangnya, ngimpi, gitu”
“Terus,
yang saya buat selama ini apa, mas? Nyata terus”
“Kamu
harus ngerti, teman. Kenapa pengarang-pengarang luhur jaman orde-orde itu
mampet bikin karya lagi. Mereka sadar, mendekati kiamat, Tuhan menciptakan
makhluk baru dari dunia konsep di dunia nyata bernama Fiksi” Ia merebahkan
badannya lebih nyaman pada kursi kayu tempat kami diskusi.
“Ah,
mas, saya sedang konsul malah dikasih puisi”
“Lho,
aku lagi nyimpulkan ini. Menjelaskan yang kamu alami. Fiksi ini dinyatakan
Tuhan, sehingga kita, para pengarang sebagai pemilik awal fiksi awalnya
keheranan juga”
“Terus,
hubungannya apa?”
Dari
mulutnya memang bau ciu. Tetapi omongan sastrawan besar kita ini ada benarnya
juga. fiksi kini tak ada lagi, semuanya menjadi mungkin ada dan kemungkinannya lebih besar, jauh lebih besar
dari sebelumnya untuk ada di dunia nyata. Entah kenapa.
Mungkin
pemerintah kita adalah korban kebijakan jaman dulu, yang mewajibkan kita rajin
membaca fiksi, sehingga mereka terpengaruh cerita-cerita itu.
“Ya,
gitu lah. Sudahlah, kamu jadi wartawan saja, terus kamu beritakan hal yang
aneh-aneh itu menggunakan kemampuan bahasamu yang meliuk-liuk”
“Ye,
nanti sama dengan berita gosip, yang meliuk-liuk bahasanya, lagipula saya tetap
ingin jadi pengarang!”
“kalau
begitu,” tandasnya, “Kau tulis saja yang pasti fiksi,”
“Apa
itu?”
“Menulis
konsep tentang masyarakat ideal... atau masyarakat madani... atau sekelompok
pengarang yang tinggal di satu desa... atau kita berdua,”
“Lantas?”
Saya mengabaikan pendapatnya bahwa kami berdua adalah fiksi.
“Masalahmu,
teman, ada pada ketidakmampuanmu menciptakan jarak fiksi antara karangan
cerpenmu dengan berita di tivi”
Tuan-tuan
tahu? Sepulangnya dari obrolan yang sebetulnya masih panjang itu, saya
memutuskan untuk berhenti menulis fiksi, dan menjadi peneliti saja. Tentang
berapa jumlah cerita fiksi yang telah menjadi kenyataan.
Kenapa
tidak menjadi wartawan? Saya trauma. Trauma membuat cerita, takut dunia nyata yang
saya laporkan berbalik menjadi fiksi seperti ketika saya menjadi pengarang
cerita fiksi.
Ar-Risalah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar