Sore yang gerimis kembali menyapu
jalanan dan debu-debu trotoar. Pekat di bawah sana, arus kecil air kecoklatan
yang menyapu tanah membawa segala polusi turun menyentuh tanah dan pergi
mengalir melalui got-got kecil di bawah sana hingga ke hulu-hulu sungai nun
jauh di sana.
Di halte sana seorang anak kecil
terduduk. Satu tumpuk Koran dipeluknya, tak lupa selembar plastik transparan
membungkus setumpuk Koran demi melindunginya dari cipratan atau tetesan air
yang merembes dari atap halte yang bocor.
Biasanya ketika gerimis seperti ini ada satu atau dua bahkan lebih pengguna sepeda motor atau pejalan kaki yang berteduh, namun untuk kali ini halte seakan sepi. Hanya anak kecil penjual Koran saja yang duduk meneduh di sana.
Biasanya ketika gerimis seperti ini ada satu atau dua bahkan lebih pengguna sepeda motor atau pejalan kaki yang berteduh, namun untuk kali ini halte seakan sepi. Hanya anak kecil penjual Koran saja yang duduk meneduh di sana.
Anak itu melihat ke kanan dan kiri
menyapu seluruh jalanan. lampu merah, lampu lalu lintas sana terus menyala.
Semakin lama tumpukkan kendaraan mulai membanyak, mengantre lampu merah
berpindah ke lampu hijau untuk menyala. Bunyi decit rem di hadapan mengagetkan
anak itu. Seorang pria paruh baya berkendara sepesa motor berhenti dan meneduh
di halte. Akhirnya ada juga yang berteduh di halte di sore yang gerimis ini.
Pria itu duduk di samping anak kecil penjual Koran itu. Dinyalakannya sebatang
rokok di mulutnya, asap mengepul memenuhi atmosfer halte. Dia melirik anak
kecil di sampingnya sembari melepaskan batang rokok dari mulutnya dengan
menggunakan dua buah jari yang mengapit pada ujung rokok tersebut.
“Koran sore ya dek?” tanya pria
paruh baya itu.
“Iya pak” jawab lugu anak kecil
penjual Koran.
Dirogohnya saku celana dan diberikan
selembar uang ke anak itu dan ditukarkannya dengan satu judul Koran. Dibukanya
Koran itu lembar demi lembar, tapi tak satu pun yang terlihat jelas pria itu
membacanya. Setelah lembar terakhir ia lihat, pandangannya ia alihkan ke anak
itu.
“Belum ganti baju dek?”.
“Belum pak”.
“Kelas berapa?”.
“Kelas 5 pak”.
“Ohhh…”.
Kembali pria itu menghisap rokoknya,
dikepulkan asap membumbung tinggi ke langit. Sore gerimis ini belum juga reda,
langit mendung seakan masih menahan beban bawaannya untuk tidak ia turunkan
dengan segera. Sedikit demi sedikit, mungkin nanti malamlah ia turunkan semua.
Asap rokok membaur dengan rintikkan hujan dan jatuh, kalah terbawa oleh rintik-rintik
air menghempas tanah.
Dilipatnya Koran dan ditaruhnya di
samping. Ia berdiri dan melangkah beberapa langkah. Menjulurkan tangannya ke
depan menjauhi atap halte, merasakan apakah gerimis yang turun mulai reda
perlahan. Dirasanya masih belum reda gerimis yang turun di sore ini, ia kembali
berjalan dan duduk. Masih di samping anak itu. Dihisapnya rokok di tangannya
kembali.
“Hah, hujannya masih belum berhenti”
keluh pria itu, “Bisa terlambat pulang sampai rumah. Kalau nekat hujan-hujanan,
nanti malah sakit. Pusing kepala”.
“Mana badan pegal semua” pria itu
kembali berdiri. Dilihatnya ke kanan dan kiri, sejauh-jauhnya yang dapat ia
terawang.
Mendengar keluhan pria itu, anak
kecil itu hanya terdiam memperhatikan tindak-tanduk pria itu.
“Nah itu dia” diserongkan
pandangannya ke arah pertokoan tak jauh dari lampu lalu lintas sana. Matanya
mulai mencari ke kanan dan kiri. Diambil Koran di tempat ia duduk di damping
anak kecil itu tadi, dibuka dan diangkat ke atas kepala. Ia berjalan agak
berlari ke arah pertokoan sana dengan dipayungi Koran yang ia beli dari anak
kecil penjual Koran di halte itu.
Sekarang tinggallah sendiri anak
kecil itu, yang terus dari tadi memandang tindak-tanduk pria itu. Matanya masih
ke arah pria itu yang hilang masuk ke dalam sebuah pertokoan tak jauh dari
sana.
Setelah agak lama pria itu kembali
ke halte dengan membawa sebuah bungkusan plastik hitam di tangannya.
Koran-koran yang tadi ia gunakan untuk melindungi dari rintikkan hujan masih
tetap ia gunakan sebagai paying. Pelindung dari hujan gerimis sore ini. Ia
bediri di halte, dibuangnya Koran-koran basah itu ke tanah. Dari bungkusan
plastik hitam ia keluarkan sebuah lipatan jas hujan.
Ia tadi berjalan pergi ke toko itu
dan membeli jas hujan, pikin anak itu memperhatikan pria paruh baya itu.
Pria itu mulai mengeluarkan jas
hujannya, di bentangkannya dan di pakai mulai dari celana hingga baju dari jas
hujan itu. Setelah selesai memakainya pria itu berjalan ke arah sepeda
motornya, dinaiki, dinyalakan dan pergilah ia dari halte itu.
Anak kecil penjual Koran itu masih
duduk terdiam memperhatikan pria tadi pergi. Dialihkannya perhatiannya ke arah
tumpukkan Koran basah yang dibuang pria tadi. Dia berdiri dan mulai membereskan
tumpukkan Koran basah itu, dirapikannya tumpukkan itu dan ditaruhnya di atas
tempat duduk. Dilipatnya sesuai lipatannya yang sudah mulai sobek di sana dan
sini.
Setelah selesai ia rapiakan dan ia
taruh di tempat duduk, sedikit lama ia memperhatikan Koran basah itu.
Dirogohnya kantong saku celannya, selembar uang ia keluarkan. Selembar uang itu
ia taruh di atas Koran basah itu.
Lalu berjalanlah ia ke tumpukkan
Koran miliknya. diambil dan dibawa dalam pelukkannya meninggalkan halte, pada
sore bergerimis yang turun membasahi jalanan, trotoar, dan segala pepohonan
yang dipayungi gedung-gedung pencakar langit di kota ini.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar