Mari kita menjelma menjadi pepohonan di surga, lalu
perhatikan manusia pertama yang baru saja diciptakan. Dia dianugerahi nama Adam
oleh sang Pencipta. Dengan kuasa yang dikehendaki sang Pencipta, Ia menyuruh
mahluk yang sudah lebih dahulu diciptakannya untuk memberi penghormatan kepada
Adam.
Malaikat adalah mahluk yang selalu bertasbih, tugas dia
yang utama adalah ta’at kepada sang Pencipta. Saat diminta untuk menghormati
Adam, maka rebahlah badannya sebagai tanda penghormatan. Tidak ada hal yang
penting setelah ini.
Iblis? Kau tahu Iblis? Dia adalah mahluk sang Pencipta
yang juga tidak kalah bertaqwanya. Kemudian apa yang terjadi ketika Iblis
diminta penghormatannya kepada Adam?
“Api lebih baik daripada tanah.”
Penolakan.
Iblis hanya tidak mau menghormati Adam.
Kepada sang Pencipta? Ia tetap sujud dan rebah menyembah.
Bermain-mainlah Adam dalam surga itu. Iblis? Dia sudah
diusir akibat penolakan. Adam sendirian dan muncul rasa sepi ditengah kenikmatan.
Sang Pencipta akhirnya menciptakan pasangan untuk Adam melalui salah satu
tulang rusuknya bagian kiri, dan jadilah seorang perempuan yang bernama Hawa.
Mungkin bidadari belum ada saat itu.
Kira-kira kau tahu apa pandangan Adam kepada Hawa pertama
kali? Cinta sepertinya. Lalu mereka bersenang-senanglah hingga lalai bahwa
Iblis sudah menjadi musuh yang nyata bagi mereka.
Tahukah kau? Kadang aku sempat berpikir jauh ke masa itu.
Masa Adam yang sedang bercengkrama dengan Hawa dalam surga yang jarang
dijelaskan surga apa.
Kau juga pasti tahu kan? Siapa yang paling bertanggung
jawab atas tinggalnya kaum kita di bumi ini? Pernahkah kau menyesalinya? Atau…
pernahkah kau berkhayal jika peristiwa Adam dan Hawa memakan buah khuldi itu
tidak pernah ada?
Ah, jadi kau bahkan menginginkannya? Menginginkan
peristiwa itu tidak pernah ada? Supaya apa? Aha… supaya anak cucu Adam juga
bisa menetap di surga itu pastinya kan?
Dan kau… kau juga bisa menetap disana tanpa perlu merasakan pahit ketir tinggal
di bumi ini ya? Kau ini picik juga ya.
Baiklah, mari kita hidupkan khayalan kita kembali, jika
memang takdir yang kita kehendaki terjadi. Manusia menetap di surga itu.
Manusia menetap disana dengan segala kenikmatan yang ada. Kira-kira seperti
itu?
Pertama-pertama kontruksi tubuh manusia tidak seperti
sekarang ini.
Buang air besar?
Buang air kecil?
Kentut?
Manusia tidak akan mengeluarkan hal-hal menjijikan
seperti itu. Tubuh mereka bersih dan wangi. Memancarkan cahaya? Bisa jadi.
Manusia berlimpah kenikmatan. Mereka tinggal menjentikkan
jari, maka muncullah keinginan yang ada di pikirannya. Kebutuhan biologis?
Bagaiman dengan kebutuhan itu? Tenang, mau dengan lawan jenis dari manusia?
Atau dengan bidadari? Aku dengar-dengar, kerudung bidadari itu lebih indah dari
dunia dan seisinya. Tahan dulu liurmu… klimaksnya bisa mencapai 70 tahun
lamanya. Ah itu yang kau tunggu-tunggu bukan?
Manusia dibuai kenikmatan abadi.
Pasti ada dampak negatifnya dari khayalan kita ini. Mari kita
berpikir sedikit lagi. Manusia menetap di surga itu? Tanpa seleksi terlebih
dahulu dari bumi? Tanpa merasakan pahit ketir dulu?
Ujian?
Peringatan?
Adzab?
Apakah ‘mungkin’ itu masih ada ketika sudah di surga?
Apakah manusia akan merasakan ujian, peringatan, atau bahkan menyaksikan adzab?
Lalu iblis? Apa pekerjaan mereka ketika manusia menetap di surga itu? Masih
adakah yang sanggup digoda? Maka Iblis akan kesepian nanti di dalam neraka.
Tanpa proses hidup di bumi, langsung menetap di surga…
ini akan menjadikan manusia tidak tahu arti dari perjuangan? Pengorbanan?
Berbagi? Penderitaan? Memperebutkan cinta dari sesama? Dan lain sebagainya yang
hanya ada di bumi.
Manusia menjadi konsumtif tanpa tahu arti dari itu semua.
Kau pernah berpikir seperti itu?
Hedonisme…
Kau pernah berpikir seperti itu?
Ternyata sang Pencipta maha pintar. Sebelum Ia
menciptakan Adam, Ia telah memberikan tujuan yang jelas terhadap apa yang akan
diciptakannya.
Adam dan anak cucunya akan menjadi khalifah di bumi yang
telah diciptakan-Nya. Sungguh menarik bukan? Lalu Malaikat.. apa responnya? Dia
mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh sang Pencipta. Seperti ada keraguan
bukan?
Hebat, malaikat meragukan keputusan sang Pencipta.
Hakikat para malaikat adalah ta’at kepada sang Pencipta,
jadi saat dia mempertanyakan keputusan sang Pencipta, apa kiranya jawaban sang
Pencipta?
“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu
ketahui.”
mn
ujung bulan 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar