Minggu, 09 Desember 2012

Bicara Tentang Surga, Seperti Hidup Dalam Dongeng?



            Mari kita menjelma menjadi pepohonan di surga, lalu perhatikan manusia pertama yang baru saja diciptakan. Dia dianugerahi nama Adam oleh sang Pencipta. Dengan kuasa yang dikehendaki sang Pencipta, Ia menyuruh mahluk yang sudah lebih dahulu diciptakannya untuk memberi penghormatan kepada Adam.
            Malaikat adalah mahluk yang selalu bertasbih, tugas dia yang utama adalah ta’at kepada sang Pencipta. Saat diminta untuk menghormati Adam, maka rebahlah badannya sebagai tanda penghormatan. Tidak ada hal yang penting setelah ini.
            Iblis? Kau tahu Iblis? Dia adalah mahluk sang Pencipta yang juga tidak kalah bertaqwanya. Kemudian apa yang terjadi ketika Iblis diminta penghormatannya kepada Adam?
            “Api lebih baik daripada tanah.”
            Penolakan.
            Iblis hanya tidak mau menghormati Adam.
            Kepada sang Pencipta? Ia tetap sujud dan rebah menyembah.
            Bermain-mainlah Adam dalam surga itu. Iblis? Dia sudah diusir akibat penolakan. Adam sendirian dan muncul rasa sepi ditengah kenikmatan. Sang Pencipta akhirnya menciptakan pasangan untuk Adam melalui salah satu tulang rusuknya bagian kiri, dan jadilah seorang perempuan yang bernama Hawa. Mungkin bidadari belum ada saat itu.
            Kira-kira kau tahu apa pandangan Adam kepada Hawa pertama kali? Cinta sepertinya. Lalu mereka bersenang-senanglah hingga lalai bahwa Iblis sudah menjadi musuh yang nyata bagi mereka.
            Tahukah kau? Kadang aku sempat berpikir jauh ke masa itu. Masa Adam yang sedang bercengkrama dengan Hawa dalam surga yang jarang dijelaskan surga apa.
            Kau juga pasti tahu kan? Siapa yang paling bertanggung jawab atas tinggalnya kaum kita di bumi ini? Pernahkah kau menyesalinya? Atau… pernahkah kau berkhayal jika peristiwa Adam dan Hawa memakan buah khuldi itu tidak pernah ada?
            Ah, jadi kau bahkan menginginkannya? Menginginkan peristiwa itu tidak pernah ada? Supaya apa? Aha… supaya anak cucu Adam juga bisa  menetap di surga itu pastinya kan? Dan kau… kau juga bisa menetap disana tanpa perlu merasakan pahit ketir tinggal di bumi ini ya? Kau ini picik juga ya.
            Baiklah, mari kita hidupkan khayalan kita kembali, jika memang takdir yang kita kehendaki terjadi. Manusia menetap di surga itu. Manusia menetap disana dengan segala kenikmatan yang ada. Kira-kira seperti itu?
            Pertama-pertama kontruksi tubuh manusia tidak seperti sekarang ini.
            Buang air besar?
            Buang air kecil?
            Kentut?
            Manusia tidak akan mengeluarkan hal-hal menjijikan seperti itu. Tubuh mereka bersih dan wangi. Memancarkan cahaya? Bisa jadi.
            Manusia berlimpah kenikmatan. Mereka tinggal menjentikkan jari, maka muncullah keinginan yang ada di pikirannya. Kebutuhan biologis? Bagaiman dengan kebutuhan itu? Tenang, mau dengan lawan jenis dari manusia? Atau dengan bidadari? Aku dengar-dengar, kerudung bidadari itu lebih indah dari dunia dan seisinya. Tahan dulu liurmu… klimaksnya bisa mencapai 70 tahun lamanya. Ah itu yang kau tunggu-tunggu bukan?
            Manusia dibuai kenikmatan abadi.
            Pasti ada dampak negatifnya dari khayalan kita ini. Mari kita berpikir sedikit lagi. Manusia menetap di surga itu? Tanpa seleksi terlebih dahulu dari bumi? Tanpa merasakan pahit ketir dulu?
            Ujian?
            Peringatan?
            Adzab?
            Apakah ‘mungkin’ itu masih ada ketika sudah di surga? Apakah manusia akan merasakan ujian, peringatan, atau bahkan menyaksikan adzab? Lalu iblis? Apa pekerjaan mereka ketika manusia menetap di surga itu? Masih adakah yang sanggup digoda? Maka Iblis akan kesepian nanti di dalam neraka.
            Tanpa proses hidup di bumi, langsung menetap di surga… ini akan menjadikan manusia tidak tahu arti dari perjuangan? Pengorbanan? Berbagi? Penderitaan? Memperebutkan cinta dari sesama? Dan lain sebagainya yang hanya ada di bumi.
            Manusia menjadi konsumtif tanpa tahu arti dari itu semua. Kau pernah berpikir seperti itu?
            Hedonisme…
            Kau pernah berpikir seperti itu?
            Ternyata sang Pencipta maha pintar. Sebelum Ia menciptakan Adam, Ia telah memberikan tujuan yang jelas terhadap apa yang akan diciptakannya.
            Adam dan anak cucunya akan menjadi khalifah di bumi yang telah diciptakan-Nya. Sungguh menarik bukan? Lalu Malaikat.. apa responnya? Dia mempertanyakan keputusan yang dibuat oleh sang Pencipta. Seperti ada keraguan bukan?
            Hebat, malaikat meragukan keputusan sang Pencipta.
            Hakikat para malaikat adalah ta’at kepada sang Pencipta, jadi saat dia mempertanyakan keputusan sang Pencipta, apa kiranya jawaban sang Pencipta?
            “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”


           
mn ujung bulan 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar