Minggu, 16 Desember 2012

Ayam dan Seorang Ksatria



            Wangi tanah basah tercium semerbak menghiasi hutan ini, begitu menyengat hidung. Suasana dingin yang menusuk kulit begitu terasa, terutama ditambah dengan suara-suara serangga yang semakin menambah dengan kesunyian yang menyengat pendengaran. Angin seakan tak terasa hembusannya, tertahan lebatnya pepohonan yang tumbuh serampangan di sana-sini. Cahaya mentari pun seakan tertumbuk larinya oleh dedauan yang merubungi atap hutan dan terpantul, tak sampai menyentuh permukaan tanah. Hanya sedikit yang berhasil menembus masuk melalui celah-celah kecil dedaunan.
            Sebilah besi berukuran kecil menyembul dari balik semak-semak di arah barat sana. Seorang pria bersembunyi di sana. Tanpa satu pun gerakkan ia boroskan, dengan busur yang ia pasang dengan kuda-kudanya demi melesatkan sebilah anak panah. Satu gerakkan maka selesai sudah.
            Tak jauh di timur sana, seekor ayam hutan sedang asyik mematuki tanah basah hutan, mencari krikil-krikil kecil. Tubuhnya begitu tegap dan ramping, kaki-kakinya begitu kuat mencengkram tanah, paruhnya begitu cepat mematuk tanah, begitu merah jenggernya. Ia pejantan. Pejantan dengan warna bulu hitam gelap. Matanya begitu awas.
            Dedauana semak itu seakan telah akrab dengan keringat dingin yang mengucur dari dahi pria itu, tak ada satu pun daun yang bergoyang. Bahkan gerakkan kecil dari serangga-serangga hutan yang hinggap di semak itu tak membuatnya bergerak satu kali pun. Sudah kukatakan di atas, satu gerakkan maka selesai sudah. Sang buruan akan langsung lari begitu mengetahui ada seorang pemburu di semak sana yang mengincarnya.
            Setelah dirasa begitu tepat, waktu dan posisi dari dirinya dan mangsa buruannya. Sebilah anak panah melesat dari balik semak, meluncur dan memburu sasarannya.
            Mendengar suara dedauan terkoyak dan melihat dengan sekejap sesuatu meluncur ke arahnya, ayam hutan itu dengan gerak refleksnya mengembangkan kedua sayapnya, dikepakkan dan langsung melompat jauh tinggi ke atas udara.
            Merasa bidikkannya meleset, pria itu berlari dan melompat keluar dari balik semak-semak sembari mencabut sebilah parang dari sarung parang di pinggangnya. Diayunkan parangnya kea rah buruannya,namun kembali ayam hutan itu melompat ke udara menghindar serangan parang pria itu.
            Sesaat sebelum mendarat di tanah, ayam itu dengan paruhnya yang kuat melepaskan serangan balik ke arah pria itu. Pria itu terjatuh dengan dahi yang terluka dan kembali bangkit mengambil ancang-ancang. Dilihat buruannya telah bersiap pula dengan ancang-ancangnya, dikembangkan kedua sayapnya, jenggernya semakin memerah, matanya melotot begitu tajam. Ia bersiap untuk menyerang pula atau bahkan kembali memberikan serangan balasan bila pria itu menyerang terlebih dahulu.
           
Kali ini ayam hutan itu yang menyerang terlebih dahulu. Ia berlari dan langsung melompat mencakar dengan kakinya, namun dengan kesigapan seorang ksatria pria itu menebaskan parangnya. Dengan keseimbangan kedua sayapnya yang dapat memotong udara, ayam hutan itu merubah arah posisi tubuhnya di udara sehingga parang pria itu hanya sedikit mengenai bulu sayap ayam hutan itu.
            Ia mendarat di tanah sempoyongan, sedikit bulu sayapnya berhamburan di udara. Dihentakkan satu kakinya memperbaiki tubuhnya agar seimbang sehingga tidak terjatuh di tanah dan dapat berdiri dengan tegap. Ancang-ancang kembali ia lakukan.
            Nafasnya begitu deras membabat oksigen segar yang dikeluarkan pepohonan di hutan ini. Tak disangka olehnya, seekor ayam hutan dapat membuatnya bertarung hingga kepayahan seperti sekarang.  Seorang ksatria dari kerajaan Sriwijaya yang tengah berada dalam sebuah misi hidup dan mati demi menyelamatkan sang putri mahkota dari kehancuran kerajaan, harus bertarung dengan seekor ayam hutan yang begitu gagah dan perkasa. Darah menetes dari dahinya yang terluka begitu parah, tak berhenti ia menetes.
            Secara tiba-tiba ayam hutan itu membalikkan  badannya dan berlari menjauhi arena pertempuran. Melihat hal itu, pria itu segera mengejarnya masuk lebih dalam ke area hutang yang lebih gelap. Di sini keberadaan cahay begitu sedikit bila kita bandingkan dengan area hutan tempat pertarungan pertama tadi. Bahkan suasana siang hari tak jauh berbeda dengan suasana pada malam hari. Jika kau melihatnya. Kesunyian dan udara lebih sunyi dan dingin di sini.
            Pria itu menghentikkan langkahnya, dilihatnya jauh di bawah sana jurang menga-nga begitu dalam di bawah kakinya. Di seberang sana, ayam itu berdiri seakan mengejek. Tak jauh memang lebar jurang itu, tapi jika kau melihat dalamnya mungkin seluruh tubuhmu pun akan ketakutan. Dia mundur beberapa langkah mengambil jarak untuk melakukan sebuah lompatan. Diambilnya langkah pertama, ia melompat. Begitu tinggi ia melompat, namun tak cukup jauh untuk melompati lebarnya jurang itu.
            Karena tubuh maupun tangannya tak mampu menggapai pinggiran di seberang jurang, maka ia gunakkan parangnya untuk ia tancapkan di tanah dan membuatnya tidak jatuh ke dalam jurang. Ia bergelantung di parang. Dari atas terlihat cakar ayam muncul, sebuah patukkan melesat mengoyak jemari pria itu. Dia berteriak dan jatuh. Parangnya pun tak luput jatuh pula.
            Tubuhnya menghempas tanah, ternyata masih ada bagian kecil retakkan tanah yang mencuat muncul dari bagian pinggiran jurang menahan tubuh pria itu. Tak terlalu jauh dari jarak ia bergelantung tadi, kira-kira 10 meter jauhnya. Dia segera bangkit, dicarinyaparang miliknya namun tak ada. Parangnya telah jatuh ke dalam jurang paling dalam. Ia genggam batu-batu yang mencuat di pinggir-pinggir mulut jurang, dipanjatlah ia ke atas sana.
            Setelah mencapai atas, ia kembali mengejar ayam itu, hingga jatuh tepat malam hari mereka terus berkejaran. Hutan semakin  gelap dan sunyi. Suara-suara dari binatang-binatang malam mulai bersahutan di hutan menggema seluruh hutan. Dingin di sini pun mulai mendekap tubuh.
            Dia terus mengendus-endus jejak ayam itu dalam kegelapan, tak disangka sebuah serangan mendadak membuatnya terjatuh. Dadanya robek, darah berlinang di tubuhnya. Segera ia bangkit, namun serangan berikutnya yang dating tak dapat ia elakkan. Kini matanya telah berdarah.
            Sedikit lama ia tidak membangkitkan tubuhnya. Serangan berikutnya tak muncul kembali. Dia bangkit perlahan menahan perih di sekujur luka tubuhnya. Dari kejauhan di balik semak sana terdengar bunyi dedaunan bergesek berbunyi.
            “Di sana kau rupanya! Kali ini akan kuhabisi kau!” diambil sebatang kayu yang tak berukuran besar di bawah kakinya, segera ia berlari ke arah semak-semak di sana.
            Semakin malam hutan semakin misterius. Segala bebunyian dari hewan-hewan malam tak dapat kita tebak, mungkin terlindung di kegelapan malam. Dingin pun semakin menguatkan kemisteriusan hutan.
            “Dimana dia?” Tanya seorang perempuan sendiri berlindung di gerowong bawah sebuah pohon besar, “di mana engkau, Paman?”. Ia terlihat begitu lemas dan lemah, bahkan perkataan ia tadi pun terdengar begitu kecil tak bertenaga suara yang keluar dari mulutnya. Ke dua bibirnya bahkan terlihat semakin pucat. Tangannya masih menekan kuat perutnya. Begitu kuruslah ia. “Masihkah kau lama, Paman? Aku sudah tak kuat….” Matanya terpejam seiring sebuah jeritan seorang pria dan auman harimau menggema dari balik hutan rimba sana.


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar