Pagi menjelma petang, meracau malam silih
berganti berhembusan melewati rongga-rongga karat tak terasah sebilah pisau,
tak bergeming tak tersentuh secuil pun irisan melintang kulit tanganku, seakan
menjelma sebuah tombak yang tertancap pada sebongkah berhala tanpa kepala.
Hanya nanar mataku yang berani mengadu pandangan disela-sela temaramnya keempat
dinding beku yang menghimpit pertukaran aliran udara. Keringat bercucuran
menyelingi perdebatan dua buah suara yang saling berbisik di gendang telinga
hati.
“kau memang bodoh! mau saja menerima
bualan kata-kata manis lelaki pembohong itu!. Sudah jelas dia itu buaya darat,
tapi kenapa kau mau saja menerima dia menjadi kekasihmu?”. Makhluk bertanduk
itu menggenggam pundakku erat sembari memonyong-monyongkan bibirnya meniup-niup
urat-urat leherku. “sudah kau genggam saja pisau itu lalu kau iriskan tepat di
nadi lengan kirimu. Tak usah kau pedulikan neraka atau surga, itu hanya
iming-iming orang-orang berpeci agar kau taat beribadah”. Makhluk bertanduk itu
mendekati sebilah pisau yang membujur di atas meja kayu tepat di hadapanku sembari
menggerak-gerakkan jarinya mengitari sekeliling pisau itu. “jika kau takut
tersesat, tak usah perduli!. Aku bersedia untuk menemanimu jasadmu nanti”. Sesaat
ludah kutelan.
“tak usah kau
dengar dia! Dia itu makhluk hina! Surga dan neraka itu ada!”. Balas sesosok
makhluk yang tubuhnya dikelilingi oleh sebuah cahaya. “pria itu hanya cobaan
untukmu, hanya untuk mengetes apakah imanmu kuat atau tidak. Jika kau mengiris
tanganmu kelak kau hanya akan menjadi teman dia di neraka nanti. Ingat surga
dan neraka itu ada!”.
“cuihhh, pembohong! Jika surga dan
neraka ada, apa buktinya kalau surga dan neraka itu ada? Itu hanya omongan
pembodohan besar-besaran!”. Kedua makhluk itu berkeliling mengitari setiap
rongga-rongga kepala, silih berganti mendebat ketika air mataku menghujan
mengalir di pipiku membasahi setiap penjuru pori-pori, tak guna usapan tanganku
air mata terus berlinangan mengalir. “sudah tak usah kau pikirkan perkataan
malaikat busuk itu!. Bagi dirimu yang sebatang kara ini, hidup di dunia hanya
akan terus membuatmu menderita!”. Mataku melotot semakin memburu berniat untuk
menggerakkan tanganku meraih pisau. Gemetar jari-jariku mengkisut ketika
kulitku beradu dengan dinginnya besi berkarat itu.
“derita?! Kau bilang itu derita!.
Apakah kau akan menyerah begitu saja?! Bukankah hidup di dunia ini adalah
sebuah tantangan? Dia adalah salah satu tantangan yang baru kau hadapi di dunia
ini. Apakah kau akan menyerah terhadap sebuah tantangan? Kau adalah wanita
tangguh, tak mungkin kau akan menyerah begitu saja terutama terhadap pria
brengsek macam dia!”.
“berisik kau! Bualan motivasimu
terdengar seperti orang-orang tolol dalam televisi yang sok bijak!. Pendidikan
dasar pun belum tentu mereka dapat
luluskan hahahaha”.
“gue cinta lo! tapi kenapa lo ngebuang
gue?!”. Teriakku merintih kekalutan hati menjerit menarik seluruh air mata dari
kantung lelapnya. “gue gak bisa hidup tanpa lo!”. Kutarik garis mendarah di
lenganku, lebih sedikit di atas nadi kiriku menggunakan sebilah pisau yang
kugenggam. Darah menyeri tak kurasakan bila dibandingkan dengan remuk redamnya
perasaanku.
“jangannn! Tak ada guna kau
menyakiti diri, kini dia telah pergi!”. Teriak sang malaikat. “menyakiti diri
sendiripun tak akan menyelesaikan masalah”.
“hahahahahaha aku menang! Aku
menang!”. Teriak sang iblis. “ayo sekarang sobek nadimu dengan pisau itu!”.
Lidah sang iblis menjulur menjilati seluruh permukaan nadi lengan kiriku
menikmati setiap tetes darah yang keluar mengucur dari lenganku. Tiga kali
sayatan telah kubuat namun nadiku sendiri masih belum tersayat.
“bangsat!. Banyak bacot lo!”. Sebuah
tinju menghujam pipi sang iblis.
“ooohh, jadi kau ingin bermain kasar
rupanya?!”. Ucap sang iblis. “akan kuperlihatkan kesaktianku!”. Jari-jarinya
mengacung ke angkasa, lafalan-lafalan mantera-manteranya terdengar memilukan
gendang telinga. Seketika puluhan ribu tikus-tikus bermata merah berbulu hitam
berkerumun mengangkat tombak diikuti ribuan kelelawar bercakarkan besi
berterbangan mengelilingi atmosfer ruangan berdinding sempit. “serrraaaangg!!”.
Beribu-ribu pasukan sang iblis berlari mengangkat senjata menyerang sang
malaikat.
Sang malaikat kaget, direntangkannya
kedua tangan hingga memunculkan cahaya kemilauan berbinar-binar seperti aurora
yang menggantung dilangit malam, menarik lukisan-lukisan manusia yang tertempel
dalam dinding pada kertas keluar
bergelumat gulat dengan puluhan ribu tentara sang iblis. Menumpah darah tak
karuan pertempuran itu, pembataian dan pembunuhan terjadi satu sama lain hingga
habis luluh lantah seluruh bala tentara dari kedua belah pihak, tak ada satu
pun yang berhasil keluar menjadi pemenang.
“cuihhh seimbang!”. Ucap sang iblis
meludah.
Kekalutan keduanya terjadi. Sang
iblis mencabut ekornya yang berubah menjadi sebuah tombak bermata tiga yang
diikuti oleh sang malaikat yang mencabut pedang dari salah satu bulu sayapnya.
Pedang dan tombak beradu menciptakan topan menopan yang meluluh lantahkan seisi
ruangan, tembok-tembok mulai bergetar hampir tercerabut, petir menyambar
kesegala penjuru ruangan membumi hanguskan seluruh lantai. Seakan-akan dunia
hancur berantakan menyerak ketika tombak dan pedang beradu beribu-ribu kali
diikuti puluhan ribu mantera terlafalkan berkomat-kamit.
“hentikkkaaaannn!!”. Teriakku tak
tahan. “gue yang seharusnya hancur! kenapa kalian yang menghacurkan satu sama
lain?!”. Segera kuberdiri dari tempatku terduduk, berlari mengacungkan pisau
pada sang malaikat dan sang iblis yang berhenti bertempur kaget karena
teriakkanku.Kutarik baju sang malaikat, segera kuhujam dadanya hingga mati
dengan pisau di tanganku.
“bagus, bunuh dia! Dia hanya
serangga pengganggu hahahahaha”. Gembira sang iblis. “sekarang sayatlah nadimu”.
Kualihkan sorot mataku pada sang iblis sembari mendekat ke arahnya. “bagus
kemarilah dan sayat nadimu di hadapanku, agar aku bisa menyaksikan kematianmu
hahahahha”. Kutarik tanduk sang iblis.” Lho apa yang kau lakukan?!”. Teriak
sang iblis.
Segera kutarik tubuh sang iblis
menghadap tanah dan sesegera itu pula kutikam dadanya. “berisik lo!”. Nafasku
memburu.
“Toktoktok”. Tiba-tiba suara pintu
kamarku terdengar. Dengan tergesa kurapikan tatanan rambutku yang acak-acakan.
Ketika membuka pintu segera kusembunyikan sebilah pisau yang tengah kugenggam
di balik bayangan punggungku, rupanya tetangga kostanku mengetuk pintu. “ada
apa ya mbak?”.
“mohon maaf ya mbak, bisa minta
tolong musiknya dikecilin sedikit saya mau istirahat”.
“o iya, maaf mbak hehehe”.
Segera kututup kembali pintu kamarku
dan kuputar tombol speaker komputerku ke arah minus.
“dasar orang gila! Dengerin lagu
metal kenceng-kenceng, orangkan juga mau istirahat!”. Sebuah gerutuan kudengar
dari balik pintu kamar kostanku.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar