Sabtu, 29 Desember 2012

Membunuh Diri


                  Pagi menjelma petang, meracau malam silih berganti berhembusan melewati rongga-rongga karat tak terasah sebilah pisau, tak bergeming tak tersentuh secuil pun irisan melintang kulit tanganku, seakan menjelma sebuah tombak yang tertancap pada sebongkah berhala tanpa kepala. Hanya nanar mataku yang berani mengadu pandangan disela-sela temaramnya keempat dinding beku yang menghimpit pertukaran aliran udara. Keringat bercucuran menyelingi perdebatan dua buah suara yang saling berbisik di gendang telinga hati.
            “kau memang bodoh! mau saja menerima bualan kata-kata manis lelaki pembohong itu!. Sudah jelas dia itu buaya darat, tapi kenapa kau mau saja menerima dia menjadi kekasihmu?”. Makhluk bertanduk itu menggenggam pundakku erat sembari memonyong-monyongkan bibirnya meniup-niup urat-urat leherku. “sudah kau genggam saja pisau itu lalu kau iriskan tepat di nadi lengan kirimu. Tak usah kau pedulikan neraka atau surga, itu hanya iming-iming orang-orang berpeci agar kau taat beribadah”. Makhluk bertanduk itu mendekati sebilah pisau yang membujur di atas meja kayu tepat di hadapanku sembari menggerak-gerakkan jarinya mengitari sekeliling pisau itu. “jika kau takut tersesat, tak usah perduli!. Aku bersedia untuk menemanimu jasadmu nanti”. Sesaat ludah kutelan.
 “tak usah kau dengar dia! Dia itu makhluk hina! Surga dan neraka itu ada!”. Balas sesosok makhluk yang tubuhnya dikelilingi oleh sebuah cahaya. “pria itu hanya cobaan untukmu, hanya untuk mengetes apakah imanmu kuat atau tidak. Jika kau mengiris tanganmu kelak kau hanya akan menjadi teman dia di neraka nanti. Ingat surga dan neraka itu ada!”.
            “cuihhh, pembohong! Jika surga dan neraka ada, apa buktinya kalau surga dan neraka itu ada? Itu hanya omongan pembodohan besar-besaran!”. Kedua makhluk itu berkeliling mengitari setiap rongga-rongga kepala, silih berganti mendebat ketika air mataku menghujan mengalir di pipiku membasahi setiap penjuru pori-pori, tak guna usapan tanganku air mata terus berlinangan mengalir. “sudah tak usah kau pikirkan perkataan malaikat busuk itu!. Bagi dirimu yang sebatang kara ini, hidup di dunia hanya akan terus membuatmu menderita!”. Mataku melotot semakin memburu berniat untuk menggerakkan tanganku meraih pisau. Gemetar jari-jariku mengkisut ketika kulitku beradu dengan dinginnya besi berkarat itu.
            “derita?! Kau bilang itu derita!. Apakah kau akan menyerah begitu saja?! Bukankah hidup di dunia ini adalah sebuah tantangan? Dia adalah salah satu tantangan yang baru kau hadapi di dunia ini. Apakah kau akan menyerah terhadap sebuah tantangan? Kau adalah wanita tangguh, tak mungkin kau akan menyerah begitu saja terutama terhadap pria brengsek macam dia!”.
            “berisik kau! Bualan motivasimu terdengar seperti orang-orang tolol dalam televisi yang sok bijak!. Pendidikan dasar pun  belum tentu mereka dapat luluskan hahahaha”.
            “gue cinta lo! tapi kenapa lo ngebuang gue?!”. Teriakku merintih kekalutan hati menjerit menarik seluruh air mata dari kantung lelapnya. “gue gak bisa hidup tanpa lo!”. Kutarik garis mendarah di lenganku, lebih sedikit di atas nadi kiriku menggunakan sebilah pisau yang kugenggam. Darah menyeri tak kurasakan bila dibandingkan dengan remuk redamnya perasaanku.
            “jangannn! Tak ada guna kau menyakiti diri, kini dia telah pergi!”. Teriak sang malaikat. “menyakiti diri sendiripun tak akan menyelesaikan masalah”.
            “hahahahahaha aku menang! Aku menang!”. Teriak sang iblis. “ayo sekarang sobek nadimu dengan pisau itu!”. Lidah sang iblis menjulur menjilati seluruh permukaan nadi lengan kiriku menikmati setiap tetes darah yang keluar mengucur dari lenganku. Tiga kali sayatan telah kubuat namun nadiku sendiri masih belum tersayat.
            “bangsat!. Banyak bacot lo!”. Sebuah tinju menghujam pipi sang iblis.
            “ooohh, jadi kau ingin bermain kasar rupanya?!”. Ucap sang iblis. “akan kuperlihatkan kesaktianku!”. Jari-jarinya mengacung ke angkasa, lafalan-lafalan mantera-manteranya terdengar memilukan gendang telinga. Seketika puluhan ribu tikus-tikus bermata merah berbulu hitam berkerumun mengangkat tombak diikuti ribuan kelelawar bercakarkan besi berterbangan mengelilingi atmosfer ruangan berdinding sempit. “serrraaaangg!!”. Beribu-ribu pasukan sang iblis berlari mengangkat senjata menyerang sang malaikat.
            Sang malaikat kaget, direntangkannya kedua tangan hingga memunculkan cahaya kemilauan berbinar-binar seperti aurora yang menggantung dilangit malam, menarik lukisan-lukisan manusia yang tertempel dalam dinding  pada kertas keluar bergelumat gulat dengan puluhan ribu tentara sang iblis. Menumpah darah tak karuan pertempuran itu, pembataian dan pembunuhan terjadi satu sama lain hingga habis luluh lantah seluruh bala tentara dari kedua belah pihak, tak ada satu pun yang berhasil keluar menjadi pemenang.
            “cuihhh seimbang!”. Ucap sang iblis meludah.
            Kekalutan keduanya terjadi. Sang iblis mencabut ekornya yang berubah menjadi sebuah tombak bermata tiga yang diikuti oleh sang malaikat yang mencabut pedang dari salah satu bulu sayapnya. Pedang dan tombak beradu menciptakan topan menopan yang meluluh lantahkan seisi ruangan, tembok-tembok mulai bergetar hampir tercerabut, petir menyambar kesegala penjuru ruangan membumi hanguskan seluruh lantai. Seakan-akan dunia hancur berantakan menyerak ketika tombak dan pedang beradu beribu-ribu kali diikuti puluhan ribu mantera terlafalkan berkomat-kamit.
            “hentikkkaaaannn!!”. Teriakku tak tahan. “gue yang seharusnya hancur! kenapa kalian yang menghacurkan satu sama lain?!”. Segera kuberdiri dari tempatku terduduk, berlari mengacungkan pisau pada sang malaikat dan sang iblis yang berhenti bertempur kaget karena teriakkanku.Kutarik baju sang malaikat, segera kuhujam dadanya hingga mati dengan pisau di tanganku.
            “bagus, bunuh dia! Dia hanya serangga pengganggu hahahahaha”. Gembira sang iblis. “sekarang sayatlah nadimu”. Kualihkan sorot mataku pada sang iblis sembari mendekat ke arahnya. “bagus kemarilah dan sayat nadimu di hadapanku, agar aku bisa menyaksikan kematianmu hahahahha”. Kutarik tanduk sang iblis.” Lho apa yang kau lakukan?!”. Teriak sang iblis.
            Segera kutarik tubuh sang iblis menghadap tanah dan sesegera itu pula kutikam dadanya. “berisik lo!”. Nafasku memburu.
            “Toktoktok”. Tiba-tiba suara pintu kamarku terdengar. Dengan tergesa kurapikan tatanan rambutku yang acak-acakan. Ketika membuka pintu segera kusembunyikan sebilah pisau yang tengah kugenggam di balik bayangan punggungku, rupanya tetangga kostanku mengetuk pintu. “ada apa ya mbak?”.
            “mohon maaf ya mbak, bisa minta tolong musiknya dikecilin sedikit saya mau istirahat”.
            “o iya, maaf mbak hehehe”.
            Segera kututup kembali pintu kamarku dan kuputar tombol speaker komputerku ke arah minus.
            “dasar orang gila! Dengerin lagu metal kenceng-kenceng, orangkan juga mau istirahat!”. Sebuah gerutuan kudengar dari balik pintu kamar kostanku.
             

Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar