Minggu, 16 Desember 2012

Merah Dalam Jingga


               
                Senja di ibukota memang unik. Jingga dalam tiap wajah tersorot oleh sang surya yang ingin beristirahat sejenak. Tiap wajah memadahkan kelelahan yang terlihat dalam guratan-guratannya. Belum lagi kemacetan yang ternyata belum bisa teratasi oleh tiap buaian-buaian kata para penjanji.
                Macet… ya kemacetan memang selalu dikutuk oleh sebagian kalangan yang merasa dirinya selalu dirugikan. Siapa kiranya yang pantas bertanggung jawab terhadap kerugian ini?
                Jalanan yang sempit? Putaran yang tidak strategis? Angkutan partikelir yang sembrono? Angkutan milik negara yang terlihat angkuh? Pasar tumpah? Pasar pagi? Pasar malam? Kendaraan pribadi yang membanjir? Rombongan para pejabat yang diberi prioritas? Kalangan atas? Kalangan menengah? Atau kaumku, kaum yang terinjak gedung-gedung pencakar perumahan kumuh?
                Entah siapa yang patut disalahkan. Jelasnya semua penyebab, baik yang terlihat maupun tersirat memiliki andil tersendiri dalam rangka ikut berkontribusi terhadap kemacetan.
                Tidak bisa dipungkiri bahwa kaumku sering mendapat keuntungan dari kemacetan. Kontras dengan mereka-mereka yang menghardik kegiatan rutin ini. Mungkin tak dapat dipungkiri bahwa sebagian besar dari kaumku sedang berperang dengan sebagian besar dari mereka. Hanya saja para cendekiawan menyebutnya kesenjangan sosial. Sok intelek sekali bahasanya bukan ?
                Aku sendiri besar sebagai orang yang sering disebut pengamen jalanan, atau kadang ada juga beberapa orang yang bilang musisi jalanan, lebih terlihat keren sepertinya dengan nama itu. Pergaulanku dengan sesama pengamen membuat aku lebih mengerti kalimat yang sering digadang-gadang masyarakat, “ibukota lebih kejam daripada ibu tiri” agak melankolis memang kalau terdengar dikuping musuh kami, tapi mereka memang tidak akan pernah mengerti jika tidak nyemplung ke dunia kami.
***
                Mataku terusik dengan sinar matahari yang datang dari timur. Sudah hampir tepat di atas kepala sepertinya. Aku lunglai dengan keadaan ini. Di mana kemacetan yang aku tunggu masih beberapa jam lagi muncul. Perutku kadang tidak mau tahu dengan keadaan ini, sedang uang telah menjelma menjadi tuan-tuan manusia yang menjauhi aku.
                Kupandangi satu persatu orang-orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Aku seperti tiada. Mungkin aku seperti hantu, tidak terlihat. Tetapi tidak terlihat bukan berarti tidak ada kan? Tato di lenganku mungkin menjadi penyebab hilangnya keberadaanku. Atau bisa jadi tindikkan di beberapa anggota ragaku yang menjadikan hadirnya dinding tebal yang menghilankan eksistensiku.
                Bagaimana aku bisa menghadirkan sepiring nasi… ah terlalu muluk-muluk khayalanku ini, tak perlulah sepiring nasi, beberapa suap saja sudah cukup sebenarnya. Bisa saja aku mengamen di bawah lampu merah, tapi aku sudah kebagian jatah di kemacetan, begitu kata bos ku. Populasi pengamen memang terus meningkat, yang pensiun jarang, yang baru memulai karirnya sebagai pengamen membludak. Negeri ini memang terlalu rumit untuk menghadirkan pekerjaan yang cocok bagi orang-orang seperti aku.
                Oh iya, aku lupa memberitahu, kira-kira ada dimana posisi kaum menengah? Tahu kah? Mereka tidak netral. Sebagian dari mereka berada di pihak kaumku, sebagian dari mereka menjelma oposisi. Kira-kira seimbanglah perbandingannya. Aku tak ambil pusing dengan hal ini.
                Perang menjijikan ini sudah sampai pada tahap yang buka-bukaan sepertinya. Jelas saja saat aku sedang menjajakan nada-nada di samping kendaraan mereka, bukan receh yang dikeluarkan melainkan todongan pisau dari orang berdasi dalam mobil mewah itu. Aku tersentak. Aku hantam tangannya dengan gitarku sampai pisau itu terlepas dari genggamannya. Tiba-tiba dia mengambil bedil dan mengarahkan kearahku. Aku kabur tunggang-langgang dengan nafas memburu.
                Kejadian ini bukan aku saja yang mengalami. Hampir semua pengamen sepertiku mendapati perilaku yang sama dari mereka-mereka yang mengutuk kami. Aku tak habis pikir, bisa-bisanya hal ini terjadi. Hai para cendekiawan, ini bukan lagi kesenjangan sosial, tetapi pemusnahan sosial!
                Bos ku datang dengan Koran ditangannya. Dibantingnya Koran itu.
                “Bangsat. Mereka mengira kita dan para pedagang liar adalah kemacetan itu!”
                Tokoh kalangan atas yang menentang kemacetan memberikan komentar dan menuduh kami. Ini seperti pernyataan perang terbuka! Kami layani dengan taring menyeringai.
                Setiap kemacetan tiba, aku meyiapkan sebilah golok yang aku kaitkan di pinggang. Prinsip kami jelas.
                “Tidak akan menyerang kalau tidak diserang!!”
                Kalangan atas tidak semuanya itu musuh, karena segelintir dari mereka adalah para simpatisan yang sudah bisa memosisikan dirinya dikehidupan kami.
                Akhirnya ada juga kejadian dimana aku menebas leher musuh kami saat dia mencoba menodongkan senjata api laras pendek. Hampir putus. Darah bersimbah hingga tanganku merah. Anyir dan amis baunya. Ini perdana bagiku mengeksekusi. Bisa jadi membantu malaikat maut merealisasikan tugasnya. Ada rasa iba saat itu, namun prinsip menjadi penentu keteguhan hatiku.
                Peperangan ini terus berlanjut berhari-hari hampir sepekan lamanya. Dua rusukku sudah patah terkena tongkat golf, tanganku disarangi beberapa peluru, pelipisku robek terkena tiga jahitan, dan sisanya beberapa luka lecet terkena spion mobil. Satu nyawa… aku bantu menghilangkannya, selebihnya aku tidak pernah lagi mengincar leher, biasanya hanya tangan atau jari saja yang kutebas dengan golokku.
                Kalangan atas ternyata kelimpungan menghadapi kami. Kami merasa sudah diatas angin. Menang hampir kami raih, hampir kami genggam. Euforia ini kami hadirkan dengan menaiki mobil-mobil musuh sambil mengcungkan senjata. Golok, celurit, pisau, kujang, rencong, dan lain-lain. Yang penting harus tajam dan dibiarkan berkarat sedikit, supaya bisa meninggalkan tetanus.
                Tiba-tiba anjing-anjing mengepung kami dari jarak belasan meter. Aku bertatapan dengan bos ku. Matanya panik, wajahnya pucat. Kenapa dia? Ternyata dibalik anjing-anjing negara itu, ada sosok tokoh kalangan atas yang wajahnya terpampang di Koran. Aku dapat melihat wajahnya dari kejauhan, aku dapat lihat mimik wajahnya, tersenyum setan! Biadab, mereka menjilat pantat anjing itu untuk bisa memperbudaknya.
                Nafasku memburu. Hampir tegang. Pesimis mulai mengaburkan pandanganku, mengaburkan semangatku untuk membela kaumku dari fitnah ini. Mereka memang selalu mencari-cari kesalahan kaumku untuk menghindari kaumnya yang berpotensi lebih besar untuk disalahkan. Penjilat memang licik!
                Bos ku naik ke atas peti kemas kontainer. Mengarahkan golok tajam berkarat yang dihiasi darah kearah tokoh penentang kami.
                “Mati atau hidup dalam bayang-bayang kenistaan!!”
                Satu kalimat.
                Satu kalimat memang.
                Namun mampu untuk membuat kepulan semangat juang kami. Ya… mati urusan nanti. Kami tantang kematian itu.            
     


Mn ujung bulan 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar