Senja
di ibukota memang unik. Jingga dalam tiap wajah tersorot oleh sang surya yang
ingin beristirahat sejenak. Tiap wajah memadahkan kelelahan yang terlihat dalam
guratan-guratannya. Belum lagi kemacetan yang ternyata belum bisa teratasi oleh
tiap buaian-buaian kata para penjanji.
Macet…
ya kemacetan memang selalu dikutuk oleh sebagian kalangan yang merasa dirinya
selalu dirugikan. Siapa kiranya yang pantas bertanggung jawab terhadap kerugian
ini?
Jalanan
yang sempit? Putaran yang tidak strategis? Angkutan partikelir yang sembrono?
Angkutan milik negara yang terlihat angkuh? Pasar tumpah? Pasar pagi? Pasar
malam? Kendaraan pribadi yang membanjir? Rombongan para pejabat yang diberi
prioritas? Kalangan atas? Kalangan menengah? Atau kaumku, kaum yang terinjak
gedung-gedung pencakar perumahan kumuh?
Entah
siapa yang patut disalahkan. Jelasnya semua penyebab, baik yang terlihat maupun
tersirat memiliki andil tersendiri dalam rangka ikut berkontribusi terhadap
kemacetan.
Tidak
bisa dipungkiri bahwa kaumku sering mendapat keuntungan dari kemacetan. Kontras
dengan mereka-mereka yang menghardik kegiatan rutin ini. Mungkin tak dapat
dipungkiri bahwa sebagian besar dari kaumku sedang berperang dengan sebagian
besar dari mereka. Hanya saja para cendekiawan menyebutnya kesenjangan sosial.
Sok intelek sekali bahasanya bukan ?
Aku
sendiri besar sebagai orang yang sering disebut pengamen jalanan, atau kadang
ada juga beberapa orang yang bilang musisi jalanan, lebih terlihat keren
sepertinya dengan nama itu. Pergaulanku dengan sesama pengamen membuat aku
lebih mengerti kalimat yang sering digadang-gadang masyarakat, “ibukota lebih
kejam daripada ibu tiri” agak melankolis memang kalau terdengar dikuping musuh
kami, tapi mereka memang tidak akan pernah mengerti jika tidak nyemplung ke dunia kami.
***
Mataku
terusik dengan sinar matahari yang datang dari timur. Sudah hampir tepat di
atas kepala sepertinya. Aku lunglai dengan keadaan ini. Di mana kemacetan yang
aku tunggu masih beberapa jam lagi muncul. Perutku kadang tidak mau tahu dengan
keadaan ini, sedang uang telah menjelma menjadi tuan-tuan manusia yang menjauhi
aku.
Kupandangi
satu persatu orang-orang yang berlalu-lalang dihadapanku. Aku seperti tiada.
Mungkin aku seperti hantu, tidak terlihat. Tetapi tidak terlihat bukan berarti
tidak ada kan? Tato di lenganku mungkin menjadi penyebab hilangnya
keberadaanku. Atau bisa jadi tindikkan di beberapa anggota ragaku yang
menjadikan hadirnya dinding tebal yang menghilankan eksistensiku.
Bagaimana
aku bisa menghadirkan sepiring nasi… ah terlalu muluk-muluk khayalanku ini, tak
perlulah sepiring nasi, beberapa suap saja sudah cukup sebenarnya. Bisa saja
aku mengamen di bawah lampu merah, tapi aku sudah kebagian jatah di kemacetan,
begitu kata bos ku. Populasi pengamen memang terus meningkat, yang pensiun
jarang, yang baru memulai karirnya sebagai pengamen membludak. Negeri ini
memang terlalu rumit untuk menghadirkan pekerjaan yang cocok bagi orang-orang
seperti aku.
Oh iya,
aku lupa memberitahu, kira-kira ada dimana posisi kaum menengah? Tahu kah?
Mereka tidak netral. Sebagian dari mereka berada di pihak kaumku, sebagian dari
mereka menjelma oposisi. Kira-kira seimbanglah perbandingannya. Aku tak ambil
pusing dengan hal ini.
Perang
menjijikan ini sudah sampai pada tahap yang buka-bukaan sepertinya. Jelas saja
saat aku sedang menjajakan nada-nada di samping kendaraan mereka, bukan receh
yang dikeluarkan melainkan todongan pisau dari orang berdasi dalam mobil mewah
itu. Aku tersentak. Aku hantam tangannya dengan gitarku sampai pisau itu
terlepas dari genggamannya. Tiba-tiba dia mengambil bedil dan mengarahkan
kearahku. Aku kabur tunggang-langgang dengan nafas memburu.
Kejadian
ini bukan aku saja yang mengalami. Hampir semua pengamen sepertiku mendapati
perilaku yang sama dari mereka-mereka yang mengutuk kami. Aku tak habis pikir,
bisa-bisanya hal ini terjadi. Hai para cendekiawan, ini bukan lagi kesenjangan
sosial, tetapi pemusnahan sosial!
Bos ku
datang dengan Koran ditangannya. Dibantingnya Koran itu.
“Bangsat.
Mereka mengira kita dan para pedagang liar adalah kemacetan itu!”
Tokoh
kalangan atas yang menentang kemacetan memberikan komentar dan menuduh kami.
Ini seperti pernyataan perang terbuka! Kami layani dengan taring menyeringai.
Setiap
kemacetan tiba, aku meyiapkan sebilah golok yang aku kaitkan di pinggang.
Prinsip kami jelas.
“Tidak
akan menyerang kalau tidak diserang!!”
Kalangan
atas tidak semuanya itu musuh, karena segelintir dari mereka adalah para
simpatisan yang sudah bisa memosisikan dirinya dikehidupan kami.
Akhirnya
ada juga kejadian dimana aku menebas leher musuh kami saat dia mencoba
menodongkan senjata api laras pendek. Hampir putus. Darah bersimbah hingga
tanganku merah. Anyir dan amis baunya. Ini perdana bagiku mengeksekusi. Bisa jadi
membantu malaikat maut merealisasikan tugasnya. Ada rasa iba saat itu, namun
prinsip menjadi penentu keteguhan hatiku.
Peperangan
ini terus berlanjut berhari-hari hampir sepekan lamanya. Dua rusukku sudah
patah terkena tongkat golf, tanganku disarangi beberapa peluru, pelipisku robek
terkena tiga jahitan, dan sisanya beberapa luka lecet terkena spion mobil. Satu
nyawa… aku bantu menghilangkannya, selebihnya aku tidak pernah lagi mengincar
leher, biasanya hanya tangan atau jari saja yang kutebas dengan golokku.
Kalangan
atas ternyata kelimpungan menghadapi kami. Kami merasa sudah diatas angin.
Menang hampir kami raih, hampir kami genggam. Euforia ini kami hadirkan dengan
menaiki mobil-mobil musuh sambil mengcungkan senjata. Golok, celurit, pisau,
kujang, rencong, dan lain-lain. Yang penting harus tajam dan dibiarkan berkarat
sedikit, supaya bisa meninggalkan tetanus.
Tiba-tiba
anjing-anjing mengepung kami dari jarak belasan meter. Aku bertatapan dengan
bos ku. Matanya panik, wajahnya pucat. Kenapa dia? Ternyata dibalik
anjing-anjing negara itu, ada sosok tokoh kalangan atas yang wajahnya
terpampang di Koran. Aku dapat melihat wajahnya dari kejauhan, aku dapat lihat
mimik wajahnya, tersenyum setan! Biadab, mereka menjilat pantat anjing itu
untuk bisa memperbudaknya.
Nafasku
memburu. Hampir tegang. Pesimis mulai mengaburkan pandanganku, mengaburkan
semangatku untuk membela kaumku dari fitnah ini. Mereka memang selalu
mencari-cari kesalahan kaumku untuk menghindari kaumnya yang berpotensi lebih
besar untuk disalahkan. Penjilat memang licik!
Bos ku
naik ke atas peti kemas kontainer. Mengarahkan golok tajam berkarat yang
dihiasi darah kearah tokoh penentang kami.
“Mati
atau hidup dalam bayang-bayang kenistaan!!”
Satu
kalimat.
Satu
kalimat memang.
Namun mampu
untuk membuat kepulan semangat juang kami. Ya… mati urusan nanti. Kami tantang
kematian itu.
Mn ujung bulan 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar