Jumat, 30 November 2012

Siapa Menipu Siapa



“Aku sudah tak tahan apabila kita harus hidup dalam kesusahan seperti ini terus menerus” ucap istriku dengan ketus.  
            “Lantas apa yang harus kulakukan? Sudah tak ada lagi orang-orang yangdatang kepada ku untuk mempergunakan jasaku lagi”.
            “Kau bisa membuat mereka kaya, kenapa kau tidak mempergunakan kesaktianmu untuk membuat kita kaya juga”.
            “Kau tahu itu membutuhkan beberapa syarat….”.
            “Akan kulakukan syarat apa saja asal kita dapat kaya kembali. Jika kau tak mau, aku ingin kita berpisah saja!”.
            Aku terdiam sejenak memikirkan semua yang diucapkan oleh istriku. “Baiklah”. Aku berjalan melewati lorong gelap tepat di bawah rumahku menuju sebuah gua yang kubangun sebagai istana tempat aku bekerja melayani tamu-tamuku. Tamu yang ingin menggunakan jasaku. Untuk sekedar mencari harta atau kecantikan dan pesona lainnya aku sanggupi. Tapi kini sepertinya sudah tak ada lagi yang dating kepadaku, mereka telah mendapatkan apayang mereka inginkan sehingga kini tinggalah aku yang kehilangan mata pencaharian. Hingga kini aku hamper jatuh ke dalam lubang kemiskinan dan istriku mengancamku untuk pergi meninggalkan aku.
            Kurapikan segala sesajen yang kuletakkan di atas sebuah meja kayu berwarna hitam, sebelum memulai upacara pemanggilan. Kunyalakan kemenyan hingga asap dan wanginya menyebar mengelilingi seluruh gua. Kurapalkan matera-mantera pemanggilan guna memanggil pesuruhku, sesosok jin kecil berkepala botak, orang-orang banyak memanggilnya Tuyul.
            “Ada apa tuanku memanggilku?” sahut Tuyul yang tiba-tiba muncul dari kegelapan gua, lalu berjalan ke arahku.
            “Aku membutuhkan bantuanmu”.
            “Untuk siapa kali ini, pejabatkah, tentarakah atau penduduk biasa?”.
            “Kali ini aku memanggilmu untuk diriku sendiri”.
            “Oooh, baiklah. Tapi jangan lupa syaratnya pun tak berbeda dengan yang lain. Yaitu sesuatu dari istrimu”.
            “Baiklah”.
            Tuyul kembali menghilang sembari berkata, “Uangmu akan ada malam ini dan syaratnya aku pun inginkan malam ini pula”. Aku tertunduk lesu memikirkan apa yang telah istriku inginkan padaku. Sebuah kesalahan yangtelah aku lakukan, aku tidak memilih istri yang mencintaiku apa adanya. Istriku menikah denganku gara-gara aku menggunakan sebuah ajian padanya, hingga pada akhirnya aku menyesalinya. Hingga larut malam aku tetap berdiam di dalam gua, sendirian. Sendiri dalam kebodohan pemikiranku sendiri.
            “Sesuai janjiku, aku datang membawakan apa yang kau inginkan” Tuyul mengeluarkan berlembar-lembar uang dari balik tangannya, “Dan sekarang aku inginkan janjimu”.
            “Pergilah, dia sudah menunggumu di atas” aku tertunduk lesu hingga seluruh tubuhku seakan mati rasa melihat Tuyul berlari kecil menaiki tangga menuju ke atas, menuju istriku. Sebelum ia menghilang, kulihat senyum licik mengembang di wajahnya.
            Setelah begitu lama waktu yang kurasakan, kuberanikan diriku berjalan ke atas melihat istriku. Kulihat pada ruang tamu hingga ke dalam kamar kami, ia tak kutemukan. Lalu kuberjalan terus mencarinya hingga aku melihat pintu rumahku terbuka lebar. Berjalan menuju halaman rumahku.
            Seluruh mulutku kelu seakan mati rasa. Kutemukan tubuh istriku terkulai lemah di tanah, kudekap tubuhnya hingga menggigil seluruh darahku. Di dahinya kutemukan dua buah jejak kaki kecil membekas di sana. Ia tak bernafas lagi, ia mati.
            Seluruh air mata membanjiri mata dan pipiku, aku menjerit namun seluruh kekuatan suaraku tak keluar. Kubawa tubuh istriku menuju kamarku, kubaringkan ia di tempat tidur kami. Kuambil sebilah keris lalu kuhunuskan ke langit, akan kubunuh Tuyul. Akan kubawa kepalanya ke hadapan istriku, dan semua orang. Aku mendendam hingga langit.
            Kekalutan menjalari seluruh tubuhku. Aku berlari mengelilingi perkampungan mencari jejak Tuyul sembari mengacung-acungkan keris di tangan kananku. Aku tak letih terus mencarinya. Hingga aku menemukan jejaknya, ya jejaknya kembali menuju rumahku. Jejak itu kembali lenyap di dekat tubuh istriku, amarahku kembali memuncak hebat seakan telah dipermainkan dengan adanya selembar kertas berisikan sebuah ajian.
Kurapalkan beberapa ajian. Ajian pembuka gerbang, gerbang menuju dunia lain. Aku tahu dia telah pergi menuju dunianya. Kini akan kukejar ke mana pun kau pergi. Sebuah kilatan cahaya menyambar di pelupuk mataku, beberapa helaian angin lembut membawa tubuhku pergi. Menghilang dari duniaku, dunia manusia.
Mereka terlihat begitu aneh dan menyeramkan jika para manusia itu melihat mereka. Lari dan ketakutan pun yang akan para manusia itu lakukan bila ada di sini. Aku juga adalah seorang manusia, tapi aku yang akan membuat mereka lari ketakutan sebab aku datang dengan dendam. Dendam seorang manusia terkutuk.
Kuberjalan mendekati sesosok jin dengan sebuah bola mata terpasang di bawah mulutnya, taringnya panjang dan hidungnya, ia tak memiliki hidung. “Di mana dia?”.
“Si si siapa maksudmu?” ucapnya ketakutan, menggoyang-goyangkan kepala dan kedua tangannya.
“Jangan kau berpura-pura padaku. Di mana Tuyul itu?!”.
“Me me mereka….”.
“Cepat!”.
“Mereka ada di bukit hitam sana, dekat dengan istana raja Iblis”.
“Baiklah”. Kugerakkan kaki dan tubuhku melewati kota ini, berjalan mendaki sebuah bukit dan sampai pada sebuah pedesaan. Di sana semua penghuni desa adalah para tuyul.
“Di mana dia?”.
“Siapa?”.
“Tuyul”.
“Apa maksudmu? Kami semua bernama Tuyul. Tuyul yang manakah yang kau cari”.
“Heii Tuyul aku tahu kau di sini, tak usah kau bersembunyi. Berani-beraninya kau membunuh istriku. Keluarlah, akan kubunuh kau!” teriakku menggema seluruh pedesaan.
“Apa maksudmu dengan membunuh?” tanya tetua desa tuyul, “Kami tak memiliki kekuatan sama sekali untuk membunuh, terutama di dunia kalian, para manusia”.
“Tidak mungkin”.
Sejurus kulihat Tuyul berlari dari kejauhan menuju kegelapan. “Itu dia!” aku berlari mengejarnya.
“Siapa?!”.
Kuikuti terus dia berlari menuju ke mana pun. Akakn kuburu kau hingga kau mati di tanganku. Kami berkejaran terus menerus menerobos hutan gelap, sungai-sungai kemerahan, dan jurang-jurang penuh belukar batu lancip. Hingga kulihat ia masuk ke dalam sebuah pintu gerbang raksasa, hitam warnanya pintu itu. Aku pun memasukinya.
Kulihat ruangannya begitu besar, mungkin tempat raksasa kukira. Tapi di sana terdapat sebuah singgasana yang berlapis marmer kehitaman dengan sedikit emas di setiap sudutnya. Begitu sepi dan sunyi tempat itu. Tiba-tiba kulihat Tuyul meloncat dari balik singgasana dan langsung duduk di atas singgasana.
            “Kau!”.
            “Kikikikik kulihat kau hebat juga dapat mengejarku dan sampai di tempat ini”.
            “Akan kubunuh kau!”.
            “Bersabarlah, kikikikik”.
            “Bedebah” tubuhku melompat dan langsung menghujam tubuh Tuyl dengan keris yang kuacungkan, “Hah matilah kau”.
            Dengan keris menancap di tubuhnya Tuyul kurasa telah mati, tak ada yang dapat hidup jika telah kutusuk dengan keris sakti ini. Keris sakti yang dapat membuat tujuh pegunungan bergetar dengan sekali sabetan.
            “Hahahahahaha, sekarang dendamku telah terbalas!”.
            “Apakah benar?” mata Tuyul terbuka kembali dan langsung berubah wujudnya, dari yang kecil dan botak kini ia menjelma sesosok bayangan hitam tinggi yang terbuat dari kabut kehitaman. Aku terpelanting jauh ke belakang.
            “Tidak mungkin!”.
            “Kikikikik kau kira aku ini siapa? Aku bukanlah tuyul seperti yang kau bayangkan”.
            “Bangsat, kau telah menipuku. Iblis keparat!”.
            “Kikikikik manusia memanglah makhluk naïf”.
            “Sialan kau!” kembali kumelompat dan mencoba menusukkan kerisku ke tubuhnya. Dengan sebuah kibasan dari tangannya Iblis mampu melontarkan seluruh tubuhku menghantam tiang besar ruangan itu. Darah keluar dari mulutku.
            “Keris itu hanya sebagian kecil kabutku, kau tak mungkin membunuhku dengan keris itu kikikikik”.
            “Bangsat, aku tak mungkin tertipu kembali olehmu” kembali serang Iblis, namun sekarang dengan sebuah serangan yang berbeda. Kuayun-ayunkan kerisku mencoba untuk membunuh Iblis, dia hanya membalas dengan sebuah serangan dan dengan sebuah serangan itu aku harus kembali terpental jauh dan terluka lebih parah.
            Akhirnya kuputuskan untuk mengeluarkan seluruh kekuatanku yang tersisa, kurapalkan mantera terhebat yang pernah kupelajari. Keris di tanganku berguncang begitu hebat, seluruh tempat itu bergetar.
            “Kikikikikik ayo lakukan”.
            Dengan seluruh kesaktianku, kembali kumelompat ke arah Iblis dan dengan kecepatan tinggi kutusukkan kerisku menembus dadanya. Kami berdua jatuh, seluruh tempat ini berguncang dengan hebat.
            “Hahahahahaha lihatlah istriku, aku telah membunuhnya. Sebagai tanda bukti bahwa aku telah membunuhnya akan kupotong salah satu jarinya, akan kutunjukkan padamu dan kesemua orang bahwa aku telah membunuh Iblis”.
            Sesampainya di hadapan tubuh istriku kucium dan kupeluk tubuhnya. “Kini dendammu telah kubalas. Beristirahatlah dengan tenang”. Kuberjalan keluar pintu rumahku. Hari telah memasuki pagi yang begitu cerah. Para tetanggaku telah memulai aktifitasnya kembali.
            “Heiiii para tetanggaku lihatlah di tanganku ini apa!! Ya ya benar ini adalah telunjuk sang Iblis, semalam aku telah membunuhnya. Aku marah padanya karena istriku telah dibunuh olehnya” air mataku keluar begitu deras.
            Ketua RT dan beberapa orang anak muda mencoba menahan kedua tanganku dan terus berbisik kepadaku untuk menyebut nama Tuhan. “Apa-apaan kalian! Lepaskan aku! Jika tidak maka kakan kubunuh kau!” jerit dan rontaku, “Aku telah membunuh Iblis kau tahu, lihatlah jarinya telah kupotong hahahahahaha”.
            “Pak RT, luka di tangannya cukup parah, darahnya tak mau berhenti” ucap seorang anak muda kepada Ketua RT.
            “Carilah perban dan tutup luka potongnya dan bawa jarinya pula. Kita bawa dia ke rumah sakit dahulu sebelum ke kantor polisi”.



Ridwan
            

Tidak ada komentar:

Posting Komentar