Di
kota ini, topeng menjadi komoditas utama. Harganya bervariasi, mulai dari
seribu hingga ratusan juta. Topeng polisi mulai tigapuluh juta. Yang termahal
tentu saja presiden, empat miliar! Harga yang fantastis untuk sebuah topeng
kayu yang dijual di pinggir jalan.
Tentu
saja, hukum etalase. Makin baik tempatnya, makin mahal harganya. Air mineral
kemasan, di warung pinggir kampung harganya tak sampai tigaribu. Di bioskop
mewah di jantung kota sana, harganya delapanribu paling murah. Ya, ya. Semakin mewah
tempat dan iklannya, semakin mahal harganya.
Juga,
semakin kaya yang membelinya,semakin mahal. Semakin-semakin yang lain juga
mendukung, misalnya kegunaan topeng, material, dan siapa yang membelinya.
di
kota ini, termasuk juga Uka, semua mengenakan topeng berlapis-lapis. Ada yang
bercorak kotak-kotak, batik, lurik, ada juga yang sudah kontemporer, seperti
grafiti yang bisa di pesan. Jika sudah usang, ada bermacam cara
memperbaharuinya. Masuk masjid, gereja, baca filsafat, merokok, yang penting
mengganti kebiasaan di depan sesama pengguna topeng, nanti topeng itu berubah
dengan sendirinya. Syaratnya, harus mengganti kebiasaan, menggantinya di depan
pengguna topeng yang lain, dan sugesti diri.
Topeng-topeng
ini bukan benda mati, ia hidup, memiliki kehendak seperti manusia. ia mampu
berbicara, dan inilah yang menyebabkan penggunanyaa tampak tidak terganggu
dengan tebalnya topeng yang ia pakai. Keluarbiasaan topeng ini lagi, adalah
mampu hidup selama enam jam sebelum akhirnya benar-benar mati, hanya setelah
tidak lagi digunakan. Jika topeng ini dilepas, jantungnya akan tertinggal di
wajah penggunanya, dan akan tetap berdenyut sebagai memori yang masih bisa
dilihat orang, menggantung seperti anggur yang tinggal sebutir.
Uka
sendiri mengenakan topeng berlapis-lapis, hingga mukanya tebal sekali. Mirip
helm. Topeng-topeng ini bertumpuk dan diganti-ganti sesuai tempat ia berada.
Dalam
kolam ikan.
Kandang
sapi.
Panti
pijat.
Kampus.
Kantor.
Mal.
Dan
pemakaman.
Ya,
disana setiap topeng dimusiumkan dan diziarahi seperti ikan dalam akuarium,
dilihat-lihat anak kecil yang belum mengetahui bentuk topeng rusak.
Suatu
ketika, Uka menemukan topeng yang masih hidup di jalanan, ia masih menggumamkan
sesuatu di bibirnya. “tolong, tolong... saya haus” katanya.
Uka
ragu-ragu, menolongnya? Masalahnya topeng ini agak buruk juga dan pasti akan
mati. Usang. Nampaknya ia habis digunakan sebentar dan dibuang paksa oleh
pemiliknya.
Jika
tidak, ia kasihan juga. topeng ini masih hidup, dan masih punya jantung. Di
kota itu, jika menemukan topeng masih berjantung yang dibuang, harus
mengembalikan pada pemiliknya. Jadi masalahnya, siapa pemiliknya?
“Siapa
namamu?” tanya Uka ragu, ia belum menyentuhnya. Takut.
Agak
berat menggerakkan mulutnya, topeng itu hanya minta air. Dengan sisa air di botolnya,
Uka meminumkan air ke mulut topeng itu.
“Aku..”
“Antarkan
aku pada pemilikku...”
“Siapa
pemilikmu?”
“Ke
utara, berjalanlah ke utara...”
Agak
bimbang juga, tetapi, terdorong rasa kasihan, akhirnya ia membawanya dengan
menaruh di wajahnya sendiri, topeng
teratas. Kini wajah Uka menjadi topeng berjantung itu.
Dalam
perjalanan, meskipun topeng ini belum mengemukakan kemana tujuan pastinya, ia
banyak bercerita tentang masa lalunya, yang Uka pikir terlalu jujur. Dulu,
topeng ini dikenakan oleh seorang atheis, yang terus-menerus meragukan Tuhan.
Tuhan
hanya teori, katanya. Begitu juga Surga dan neraka. Kalau Tuhan itu ada secara
fisik, bukan secara teori, kenapa kita belum bisa lihat dia, dan dia sembunyi
dalam topeng Langit?
Betul
juga. Uka sendiri sempat berpikir demikian. Semua orang memakai Topeng, kenapa
Tuhan harus tidak pakai? Toh dalam kenyataannya, Tuhan memakai Topeng yang kata
orang islam, ada duapuluh. Kata orang kristen, Dia bersembunyi di balik topeng
Jesus dan Yahova. Cuma, karena salah satu topengnya adalah sosok mengerikan,
yang sanggup menyerapahi orang-orang dan menghadiahkan dosa kepada siapa saja
yang kurang beruntung, maka jarang ada orang mau membuka topeng-topeng ini
dalam teori tentang Tuhan dan segala topeng-Nya.
Dan
tentang Surga, tandas topeng ini, ada yang aneh. Kenapa Surga dalam kitab-kitab
digambarkan berisi kenikmatan fisik? Air susu yang ada di sungai, menurut salah
satu pasal. Arak yang menjadi telaga, di ayat lain. Ada pula parade bidadari
bugil yang supercantik, manja, dan wangi, dalam kisah lain.
Masuk
akal juga, pikir Uka. Ia mulai menyukai sahabatnya yang bertengger di mukanya.
bukankah kita, di dunia ini menghindari kenikmatan fisik, dan harus menyakiti
rohani kita dengan segudang kata-kata maaf dan memaafkan?
Apa
lagi ketika kita harus membuat keputusan, menyakiti diri agar orang lain
selamat, atau membiarkan orang lain sakit dan kita mempertahankan keselamatan
diri. Nantinya kita akan mendapatkan balasan dalam Surga. Yang Tinggi. Di
langit, kedudukan para raja.
Masalahnya,
bukankah kenikmatan tertinggi di dunia ini semasa hidup adalah berupa perasaan,
bukan fisik? Kita bertemu dan bercumbu dengan kekasih, dan kita berdua saling
cinta, bukan karena fisik ataupun jumlah mereka yang banyak.
Dan
juga, di dunia ini buat apa lagi menyakiti diri agar orang mendapatkan
kenikmatan hati, tetapi di Surga kenikmatan ini tak ada? Uka mulai berpikir
kritis, dan menjadi lawan bicara yang mengasyikkan buat si topeng. Enam jam
berlalu, dan topeng ini diizinkan memperpanjang usia dengan memanfaatkan wajah
Uka. Akhirnya, topeng ini menempel sempurna di wajah uka, meski belum permanen.
Kembali
tentang Surga dalam cerita si topeng ini. Surga adalah tempat segala
kenikmatan. Dalam buku yang sempat di baca Uka, seorang ahli mengemukakan bahwa
setiap kenikmatan memiliki titik jenuh. Seperti juga hukum harga pasar,
keseimbangan itu fluktuatif, memiliki titik ketidakseimbangan yang
berubah-ubah.
Lantas,
dalam Surga, yang berisi kenikmatan dan kemudahan, bukankah jika kebutuhan
sudah terpenuhi tetap saja ada titik jenuh? Kita akan terus mencari yang baru
dan baru. hidup kita di dunia ini tidak membosankan karena memiliki tantangan.
Level-level kesulitan. Tangga, dan kenikmatan sesungguhnya, adalah terletak
pada saat kita menaiki tangga itu, bukan ketika diam pada salah satu levelnya.
Hari
mulai gelap, dan orang-orang mulai tertutupi kegelapan malam. Dalam gelap,
topeng mereka tampak serupa. Hitam. Bentuknyapun samar. Penerangan banyak,
tetapi tidak memperjelas, karena sebagian besar topeng-topeng itu membuat efek
bias di malam hari karena perbedaan suhu, cahaya matahari, dan kelembaban.
Yang
aneh, orang-orang mulai menunjuk-nunjuk Uka. Mulanya Uka tak peduli dengan itu,
tetapi ketika dengan jelas seorang melemparnya dengan batu, Uka mulai bereaksi.
“Ada
apa?!” seru Uka.
“Hei
Atheis! Jangan masuk kampung ini! pengotor!”
“Maaf,
Tuan, saya hanya melewati kampung ini sejenak untuk ke utara!” balas Uka.
Topengnya diam saja. Entah kenapa hanya topeng Uka yang terlihat berbeda oleh
orang-orang kampung ini.
Jumlah
warga yang mengerubunginya memaksa Uka akhirnya lari, lari sejauh-jauhnya! Ia
tak peduli lagi utara atau selatan. Topengnya hanya diam, ia tampak tenang.
Aneh! Bangsat! Maki Uka dalam hati.
Semakin
banyak warga kampung yang mengejarnya. Semua topeng seharusnya nampak sama, di
malam hari. Tetapi kenapa topeng Uka bisa di kenali?, ya,kenapa hanya topeng
Uka? Cuih! Bangsat! Ia terus berlari sambil sesekali menangkis lemparan batu
warga kampung yang semakin dekat.
“Topeng,
kenapa kamu tidak menjadi bias malam ini? semua topeng seharusnya menjadi samar
di malam hari!”
“siapa
bilang aku topeng?”
“kamu
sendiri tak membantah ketika kupanggil topeng!”
Sementara
topeng-topeng yang digunakan warga akhirnya nampak jelas di mata Uka, ia melihat
dengan mata wajahnya, bukan dengan mata topeng yang dikenakannya. Mereka
menggunakan topeng ulama-ulama yang berhati bersih, ia tahu benar, di pasar,
harganya seratusribu dengan garansi. Ia hafal benar bentuknya. Ya, ia hafal
benar, dan tahu setiap lekuknya.
Ia
sungguh-sungguh hafal, bagaimana tidak, dulu ia bekerja pada perajin topeng
ulama. Jantungnya terbuat dari bahan yang sama untuk membuat jantung topeng
pelacur. Benar-benar bahan yang sama, dan kini ia mengenalinya!
Topeng-topeng
ulama inilah yang dari tadi berteriak, dan manusia penggunanya hanya menurut
saja mengejar-ngejar Uka. Melempari terus dengan batu. Disaat yang sama, dengan
terengah-engah, Uka bertanya lagi, “siapa siapa sebenarnya kamu, Topeng!?”
“Aku
bukan topeng, aku wajah!”
“Aku
wajah!!”
Ar-Risalah
Rawamangun,
12 November 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar