Rabu, 09 Januari 2013

Wajah



Di kota ini, topeng menjadi komoditas utama. Harganya bervariasi, mulai dari seribu hingga ratusan juta. Topeng polisi mulai tigapuluh juta. Yang termahal tentu saja presiden, empat miliar! Harga yang fantastis untuk sebuah topeng kayu yang dijual di pinggir jalan.
Tentu saja, hukum etalase. Makin baik tempatnya, makin mahal harganya. Air mineral kemasan, di warung pinggir kampung harganya tak sampai tigaribu. Di bioskop mewah di jantung kota sana, harganya delapanribu paling murah. Ya, ya. Semakin mewah tempat dan iklannya, semakin mahal harganya.
Juga, semakin kaya yang membelinya,semakin mahal. Semakin-semakin yang lain juga mendukung, misalnya kegunaan topeng, material, dan siapa yang membelinya.
di kota ini, termasuk juga Uka, semua mengenakan topeng berlapis-lapis. Ada yang bercorak kotak-kotak, batik, lurik, ada juga yang sudah kontemporer, seperti grafiti yang bisa di pesan. Jika sudah usang, ada bermacam cara memperbaharuinya. Masuk masjid, gereja, baca filsafat, merokok, yang penting mengganti kebiasaan di depan sesama pengguna topeng, nanti topeng itu berubah dengan sendirinya. Syaratnya, harus mengganti kebiasaan, menggantinya di depan pengguna topeng yang lain, dan sugesti diri.
Topeng-topeng ini bukan benda mati, ia hidup, memiliki kehendak seperti manusia. ia mampu berbicara, dan inilah yang menyebabkan penggunanyaa tampak tidak terganggu dengan tebalnya topeng yang ia pakai. Keluarbiasaan topeng ini lagi, adalah mampu hidup selama enam jam sebelum akhirnya benar-benar mati, hanya setelah tidak lagi digunakan. Jika topeng ini dilepas, jantungnya akan tertinggal di wajah penggunanya, dan akan tetap berdenyut sebagai memori yang masih bisa dilihat orang, menggantung seperti anggur yang tinggal sebutir.
Uka sendiri mengenakan topeng berlapis-lapis, hingga mukanya tebal sekali. Mirip helm. Topeng-topeng ini bertumpuk dan diganti-ganti sesuai tempat ia berada.
Dalam kolam ikan.
Kandang sapi.
Panti pijat.
Kampus.
Kantor.
Mal.
Dan pemakaman.
Ya, disana setiap topeng dimusiumkan dan diziarahi seperti ikan dalam akuarium, dilihat-lihat anak kecil yang belum mengetahui bentuk topeng rusak.
Suatu ketika, Uka menemukan topeng yang masih hidup di jalanan, ia masih menggumamkan sesuatu di bibirnya. “tolong, tolong... saya haus” katanya.
Uka ragu-ragu, menolongnya? Masalahnya topeng ini agak buruk juga dan pasti akan mati. Usang. Nampaknya ia habis digunakan sebentar dan dibuang paksa oleh pemiliknya.
Jika tidak, ia kasihan juga. topeng ini masih hidup, dan masih punya jantung. Di kota itu, jika menemukan topeng masih berjantung yang dibuang, harus mengembalikan pada pemiliknya. Jadi masalahnya, siapa pemiliknya?
“Siapa namamu?” tanya Uka ragu, ia belum menyentuhnya. Takut.
Agak berat menggerakkan mulutnya, topeng itu hanya minta air. Dengan sisa air di botolnya, Uka meminumkan air ke mulut topeng itu.
“Aku..”
“Antarkan aku pada pemilikku...”
“Siapa pemilikmu?”
“Ke utara, berjalanlah ke utara...”
Agak bimbang juga, tetapi, terdorong rasa kasihan, akhirnya ia membawanya dengan menaruh di wajahnya sendiri, topeng  teratas. Kini wajah Uka menjadi topeng berjantung itu.
Dalam perjalanan, meskipun topeng ini belum mengemukakan kemana tujuan pastinya, ia banyak bercerita tentang masa lalunya, yang Uka pikir terlalu jujur. Dulu, topeng ini dikenakan oleh seorang atheis, yang terus-menerus meragukan Tuhan.
Tuhan hanya teori, katanya. Begitu juga Surga dan neraka. Kalau Tuhan itu ada secara fisik, bukan secara teori, kenapa kita belum bisa lihat dia, dan dia sembunyi dalam topeng Langit?
Betul juga. Uka sendiri sempat berpikir demikian. Semua orang memakai Topeng, kenapa Tuhan harus tidak pakai? Toh dalam kenyataannya, Tuhan memakai Topeng yang kata orang islam, ada duapuluh. Kata orang kristen, Dia bersembunyi di balik topeng Jesus dan Yahova. Cuma, karena salah satu topengnya adalah sosok mengerikan, yang sanggup menyerapahi orang-orang dan menghadiahkan dosa kepada siapa saja yang kurang beruntung, maka jarang ada orang mau membuka topeng-topeng ini dalam teori tentang Tuhan dan segala topeng-Nya.
Dan tentang Surga, tandas topeng ini, ada yang aneh. Kenapa Surga dalam kitab-kitab digambarkan berisi kenikmatan fisik? Air susu yang ada di sungai, menurut salah satu pasal. Arak yang menjadi telaga, di ayat lain. Ada pula parade bidadari bugil yang supercantik, manja, dan wangi, dalam kisah lain.
Masuk akal juga, pikir Uka. Ia mulai menyukai sahabatnya yang bertengger di mukanya. bukankah kita, di dunia ini menghindari kenikmatan fisik, dan harus menyakiti rohani kita dengan segudang kata-kata maaf dan memaafkan?
Apa lagi ketika kita harus membuat keputusan, menyakiti diri agar orang lain selamat, atau membiarkan orang lain sakit dan kita mempertahankan keselamatan diri. Nantinya kita akan mendapatkan balasan dalam Surga. Yang Tinggi. Di langit, kedudukan para raja.
Masalahnya, bukankah kenikmatan tertinggi di dunia ini semasa hidup adalah berupa perasaan, bukan fisik? Kita bertemu dan bercumbu dengan kekasih, dan kita berdua saling cinta, bukan karena fisik ataupun jumlah mereka yang banyak.
Dan juga, di dunia ini buat apa lagi menyakiti diri agar orang mendapatkan kenikmatan hati, tetapi di Surga kenikmatan ini tak ada? Uka mulai berpikir kritis, dan menjadi lawan bicara yang mengasyikkan buat si topeng. Enam jam berlalu, dan topeng ini diizinkan memperpanjang usia dengan memanfaatkan wajah Uka. Akhirnya, topeng ini menempel sempurna di wajah uka, meski belum permanen.
Kembali tentang Surga dalam cerita si topeng ini. Surga adalah tempat segala kenikmatan. Dalam buku yang sempat di baca Uka, seorang ahli mengemukakan bahwa setiap kenikmatan memiliki titik jenuh. Seperti juga hukum harga pasar, keseimbangan itu fluktuatif, memiliki titik ketidakseimbangan yang berubah-ubah.
Lantas, dalam Surga, yang berisi kenikmatan dan kemudahan, bukankah jika kebutuhan sudah terpenuhi tetap saja ada titik jenuh? Kita akan terus mencari yang baru dan baru. hidup kita di dunia ini tidak membosankan karena memiliki tantangan. Level-level kesulitan. Tangga, dan kenikmatan sesungguhnya, adalah terletak pada saat kita menaiki tangga itu, bukan ketika diam pada salah satu levelnya.
Hari mulai gelap, dan orang-orang mulai tertutupi kegelapan malam. Dalam gelap, topeng mereka tampak serupa. Hitam. Bentuknyapun samar. Penerangan banyak, tetapi tidak memperjelas, karena sebagian besar topeng-topeng itu membuat efek bias di malam hari karena perbedaan suhu, cahaya matahari, dan kelembaban.
Yang aneh, orang-orang mulai menunjuk-nunjuk Uka. Mulanya Uka tak peduli dengan itu, tetapi ketika dengan jelas seorang melemparnya dengan batu, Uka mulai bereaksi.
“Ada apa?!” seru Uka.
“Hei Atheis! Jangan masuk kampung ini! pengotor!”
“Maaf, Tuan, saya hanya melewati kampung ini sejenak untuk ke utara!” balas Uka. Topengnya diam saja. Entah kenapa hanya topeng Uka yang terlihat berbeda oleh orang-orang kampung ini.
Jumlah warga yang mengerubunginya memaksa Uka akhirnya lari, lari sejauh-jauhnya! Ia tak peduli lagi utara atau selatan. Topengnya hanya diam, ia tampak tenang. Aneh! Bangsat! Maki Uka dalam hati.
Semakin banyak warga kampung yang mengejarnya. Semua topeng seharusnya nampak sama, di malam hari. Tetapi kenapa topeng Uka bisa di kenali?, ya,kenapa hanya topeng Uka? Cuih! Bangsat! Ia terus berlari sambil sesekali menangkis lemparan batu warga kampung yang semakin dekat.
“Topeng, kenapa kamu tidak menjadi bias malam ini? semua topeng seharusnya menjadi samar di malam hari!”
“siapa bilang aku topeng?”
“kamu sendiri tak membantah ketika kupanggil topeng!”
Sementara topeng-topeng yang digunakan warga akhirnya nampak jelas di mata Uka, ia melihat dengan mata wajahnya, bukan dengan mata topeng yang dikenakannya. Mereka menggunakan topeng ulama-ulama yang berhati bersih, ia tahu benar, di pasar, harganya seratusribu dengan garansi. Ia hafal benar bentuknya. Ya, ia hafal benar, dan tahu setiap lekuknya.
Ia sungguh-sungguh hafal, bagaimana tidak, dulu ia bekerja pada perajin topeng ulama. Jantungnya terbuat dari bahan yang sama untuk membuat jantung topeng pelacur. Benar-benar bahan yang sama, dan kini ia mengenalinya!
Topeng-topeng ulama inilah yang dari tadi berteriak, dan manusia penggunanya hanya menurut saja mengejar-ngejar Uka. Melempari terus dengan batu. Disaat yang sama, dengan terengah-engah, Uka bertanya lagi, “siapa siapa sebenarnya kamu, Topeng!?”
“Aku bukan topeng, aku wajah!”
“Aku wajah!!”

 Ar-Risalah
Rawamangun, 12 November 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar