Aroma malam yang terus mengunduh
gemintang di langit sana setiap detiknya semakin menunjukkan gelapnya kabut
malam yang datang bersama tiupan gelombang angin. Menerbangkan dedauanan kering
dan bunga-bunga yang mengkerucut kuncupnya, tak berani menantang malam.
Lampu-lampu jalanan seakan berperang dengan lampu-lampu taman mengadu terangnya
cahaya yang mereka pancarkan. Di tiang lampu taman seseorang tengah duduk
menengadah langit dengan aroma rokok kretek yang begitu menyengat dari mulutnya.
Ia menyadandarkan tubuhnya di tiang itu sembari duduk di sebuah bangku taman
yang terbuat dari semen dengan balutan cat berwarna hijau.
Dilihatnya
sekeliling taman ini seakan sepi, biasanya orang-orang asyik berduaan
berkasih-kasih di taman ini. Namun sekarang begitu sepi, hanya ada
kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan tepat di hadapan orang itu.
Diseruputnya kopi hitam yang semenjak tadi menemani sebatang rokok yang
menyempil di antara kedua jarinya. Semakin nikmatlah suasana sepinya malam ini,
terasa hingga relung paru-paru dan terecap hingga batang tenggorokkan.
“Bang
boleh pinjem korek gak?” sebuah suara anak kecil mengagetkan orang itu.
“Hah,
mau ngerokok dek?”.
“Iya
Bang” anak itu tersenyum.
“Kecil-kecil
udah ngerokok. Nggak boleh!”.
“Yahhh
Bang”.
“Ngapain
kamu masih kecil udah ngerokok?”.
“Abisnya
dari tadi saya ngeliat Abang ngerokok sendirian aja asyik sih. Siapa tahu kan
kayak Abang, ngerokok bisa ngatasin kesepian”.
“Waduh,
sok tahu nih anak. Kata siapa ngerokok bisa ngobatin kesepian?”.
“Dari
mata Abang”.
“Eh
jangan sok tau. Udah malem ngapain anak kecil kayak kamu masih di luar?”.
“Nggak
tahu nih Bang, tadi disuruh sama Ibu nyari orang yang lagi duduk sendirian di
taman”.
“Hah,
terus kenapa ke sini?”.
“Ya
abis yang duduk sendirian di sinikan cuma Abang”.
Sejenak
mata yang menghitam legam dari wajah orang itu seakan tampak begitu kebingungan
dengan kehadiran seorang anak kecil di sampingnya. Aroma udara malam yang
begitu pekat seakan hilang perlahan-lahan sepinya dari kulit orang itu.
Dinginnya angin yang menerbangkan dedauanan kering seakan telah menghilang
keberadaannya. Semua lampu jalanan dan lampu taman telah mati, kecuali lampu
taman yang ada di antara mereka berdua. Suara-suara bising kendaraan yang lalu
lalalng di jalalan sana pun lenyap seketika.
“Eh
namamu siapa?”.
“Iwan,
Bang. Kelas 2 SD Bang” anak itu tersenyum kembali.
“Lah
belom juga nanya lagi udah dua kali jawab aja?”.
“Hahahaha
abis udah ketauan pasti pertanyaan selanjutnya apa Bang” anak kecil itu menggaruk-garuk
kepalanya.
“O iya
tadikan kamu bilang kalua kamu ke sini disuruh Ibu, emang Ibu kamu siapa kok
tahu saya?”.
“Nah
itu dia om saya lupa nanya sama Ibu saya soal itu. Apa mau saya balik lagi
nanya ke Ibu saya om?”.
“Nggak
usah, nggak. Ntar malah bikin cape doang kamunya….”.
“Tapi
sih yang jelas, yang saya udah ucapin tadi Bang. Saya disuruh kemari buat nyari
orang yang duduk sendirian di taman terus disuruh nemenin dia Bang”.
“Aduhhh
makin nggak ngerti aja nih otak” orang itu menggaruk-garuk kepalanya, tak
begitu keras garukkan yang ia lakukan tapi untuk sekedar menyentuh rambutnya
yang panjang tentu sangat terasa.
“Tapi
Abang sadar nggak”.
“Sadar
apa Dek?”.
“Abang
nggak kelihatan kesepian lagi” anak kecil itu bangkit dari tempat duduk di samping
orang itu dan berlari sembari tertawa begitu riang.
“Hey
Dek, tunggu mau ke mana?”.
“Mau
pulang Bang, udah disuruh pulang sama Ibu” anak itu menghilang di kejauhan
malam.
Sebuah
senyuman merekah dari balik wajah orang itu. Lampu-lampu jalanan dan lampu
taman yang tadi mati kini menyala kembali. Aroma malam kembali terasa disertai
angin malam yang begitu dingin. Kendaraan yang lalu lalang mulai kembali
membuat bising suasana.
Orang
itu berdiri, menyeruput kopi dari gelasnya hingga habis dan menghisap rokoknya
yang tinggal satu hisapan. Dibuangnya gelas kopi dan puntungan ke dalam tempat
sampah.
“Esok
tahun baru ya? Aku lupa bahwa ada yang harus kukerjakan”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar