Rabu, 09 Januari 2013

Renung



Aroma malam yang terus mengunduh gemintang di langit sana setiap detiknya semakin menunjukkan gelapnya kabut malam yang datang bersama tiupan gelombang angin. Menerbangkan dedauanan kering dan bunga-bunga yang mengkerucut kuncupnya, tak berani menantang malam. Lampu-lampu jalanan seakan berperang dengan lampu-lampu taman mengadu terangnya cahaya yang mereka pancarkan. Di tiang lampu taman seseorang tengah duduk menengadah langit dengan aroma rokok kretek yang begitu menyengat dari mulutnya. Ia menyadandarkan tubuhnya di tiang itu sembari duduk di sebuah bangku taman yang terbuat dari semen dengan balutan cat berwarna hijau.
                Dilihatnya sekeliling taman ini seakan sepi, biasanya orang-orang asyik berduaan berkasih-kasih di taman ini. Namun sekarang begitu sepi, hanya ada kendaraan-kendaraan yang lalu lalang di jalan tepat di hadapan orang itu. Diseruputnya kopi hitam yang semenjak tadi menemani sebatang rokok yang menyempil di antara kedua jarinya. Semakin nikmatlah suasana sepinya malam ini, terasa hingga relung paru-paru dan terecap hingga batang tenggorokkan.
                “Bang boleh pinjem korek gak?” sebuah suara anak kecil mengagetkan orang itu.
                “Hah, mau ngerokok dek?”.
                “Iya Bang” anak itu tersenyum.
                “Kecil-kecil udah ngerokok. Nggak boleh!”.
                “Yahhh Bang”.
                “Ngapain kamu masih kecil udah ngerokok?”.
                “Abisnya dari tadi saya ngeliat Abang ngerokok sendirian aja asyik sih. Siapa tahu kan kayak Abang, ngerokok bisa ngatasin kesepian”.
                “Waduh, sok tahu nih anak. Kata siapa ngerokok bisa ngobatin kesepian?”.
                “Dari mata Abang”.
                “Eh jangan sok tau. Udah malem ngapain anak kecil kayak kamu masih di luar?”.
                “Nggak tahu nih Bang, tadi disuruh sama Ibu nyari orang yang lagi duduk sendirian di taman”.
                “Hah, terus kenapa ke sini?”.
                “Ya abis yang duduk sendirian di sinikan cuma Abang”.
                Sejenak mata yang menghitam legam dari wajah orang itu seakan tampak begitu kebingungan dengan kehadiran seorang anak kecil di sampingnya. Aroma udara malam yang begitu pekat seakan hilang perlahan-lahan sepinya dari kulit orang itu. Dinginnya angin yang menerbangkan dedauanan kering seakan telah menghilang keberadaannya. Semua lampu jalanan dan lampu taman telah mati, kecuali lampu taman yang ada di antara mereka berdua. Suara-suara bising kendaraan yang lalu lalalng di jalalan sana pun lenyap seketika.
                “Eh namamu siapa?”.
                “Iwan, Bang. Kelas 2 SD Bang” anak itu tersenyum kembali.
                “Lah belom juga nanya lagi udah dua kali jawab aja?”.
                “Hahahaha abis udah ketauan pasti pertanyaan selanjutnya apa Bang” anak kecil itu menggaruk-garuk kepalanya.
                “O iya tadikan kamu bilang kalua kamu ke sini disuruh Ibu, emang Ibu kamu siapa kok tahu saya?”.
                “Nah itu dia om saya lupa nanya sama Ibu saya soal itu. Apa mau saya balik lagi nanya ke Ibu saya om?”.
                “Nggak usah, nggak. Ntar malah bikin cape doang kamunya….”.
                “Tapi sih yang jelas, yang saya udah ucapin tadi Bang. Saya disuruh kemari buat nyari orang yang duduk sendirian di taman terus disuruh nemenin dia Bang”.
                “Aduhhh makin nggak ngerti aja nih otak” orang itu menggaruk-garuk kepalanya, tak begitu keras garukkan yang ia lakukan tapi untuk sekedar menyentuh rambutnya yang panjang tentu sangat terasa.
                “Tapi Abang sadar nggak”.
                “Sadar apa Dek?”.
                “Abang nggak kelihatan kesepian lagi” anak kecil itu bangkit dari tempat duduk di samping orang itu dan berlari sembari tertawa begitu riang.
                “Hey Dek, tunggu mau ke mana?”.
                “Mau pulang Bang, udah disuruh pulang sama Ibu” anak itu menghilang di kejauhan malam.
                Sebuah senyuman merekah dari balik wajah orang itu. Lampu-lampu jalanan dan lampu taman yang tadi mati kini menyala kembali. Aroma malam kembali terasa disertai angin malam yang begitu dingin. Kendaraan yang lalu lalang mulai kembali membuat bising suasana.
                Orang itu berdiri, menyeruput kopi dari gelasnya hingga habis dan menghisap rokoknya yang tinggal satu hisapan. Dibuangnya gelas kopi dan puntungan ke dalam tempat sampah.
                “Esok tahun baru ya? Aku lupa bahwa ada yang harus kukerjakan”. 


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar