Jumat, 11 Januari 2013

MENJELMA SEMAR


                        
Di sini, di ruang nan betapa luasnya, ruangyang terbentang jauh di atas semesta bumi.Ruang dimana dewi-dewi bersenandung, dimana para dewa bersemayam, dimana iblis-iblis menjadi budak, serta mainan penghibur bagi anak-anak para dewa. Ruang yang bernama Kahyangan ini sedang geger.Dikarenakan sang Hyang Tunggal tiba-tiba saja memanggil dewa Jagad Pratingkahuntuk menghadap.Sang Hyang Tunggal adalah pencipta dan penguasa apapun yang berada di semesta bumi dan semesta kahyangan.Sedangkan Jagad Pratingkah adalah raja dewa yang merajai dan bertanggung jawab atas Kahyangan dan Bumi.

Semua dewa takjub mendengar kabar tersebut. Mereka khawatir akan dewa Jagad yang kerap kali mengamuk setelah menghadap sang Hyang Tunggal. Tiada satupun yang tahu sabda apa yang diberikan Sang HyangTunggal kepada dewa Jagad. Sampai-sampai setelah menghadap sang Hyang Tunggal, dewa Jagad langsung berteriak memanggil semua dewa untuk berkumpul dihadapanya. Seluruh dewapun gopoh-gapah meninggalkan kewajiban pekerjaanya dan dengan cepat terbang menuju singgasana raja dewa, dan berkerumunan menghadap dan berlutut.

“Bumi sudah semakin tua dan mengenaskan.Manusianya pun semakin mungkar. Harus ada pembaharuan dan pencerahan kalau tidak bumi bisa hancur.”

Seluruh dewa terdiam dan hikmat memerhatikan sang raja dewa. Para dewi serta-merta berhenti bersenandung dan diam-diam menguping pembicaraan tersebut, para putra-putri dewa melepaskan iblis-iblisnya lantas pergi keruang tidurnya masing-masing. Raja dewa atau dewa Jagad Pratingkah akan mengadakan Sayembara.

Sayembara ini berbeda dengan sayembara yang dahulu kala sering diselenggarakan pada kerajaan – kerajaan di bumi. Di bumi, sayembara biasa diselenggarakan oleh seorang pemimpin kerajaan atau raja untuk mencari pendamping hidup putri kesayanganya. Dengan cara mengadu kekuatan atau pertempuran yang akan dilakukan oleh para calon.Sedangkan pada sayembara di Kahyangan ini, yaitu untuk mencari satu dewa yang nantinya akan diubah menjadi manusia dan diturunkan ke bumi untuk membimbing para manusia. Karena dewa-dewa ini berjumlah lebih dari 400. Maka, dewa Jagad hendak mengadu kesaktian dan kekuatan para dewa. Yang memenangkan pertempuran itulah yang nantinya akan menjadi manusia dan diutus kebumi.

“ Jadi, dari kalian semua. Siapa yang hendak ikut sayembara ini?” Dewa Jagad berkata dengan keras kepada para dewa yang bersimpuh dihadapannya.

Sebagian dewa tetap mendiam. Sambil sesekali melihat satu sama lain. Mereka merasa tidak tertarik akan sayembara itu. Terdengar pula bisikan-bisikan kecil dari sebagian dewa lainya

 “ kau saja.”
“ lebih baik jadi dewa”
“aku tidak ingin bertempur”
“untuk apa menjadi manusia”.


Ditengah riuh rendahnya reaksi para dewa tiba-tiba terdengar salah satu dewa berteriak mengajukan diri dengan terbang meninggalkan kerumunan dewa lainya dan melayangkan raganya lalu berteriak dengan lantak ” Saya bersedia!” Pun seketika semua kembali mendiam dan memusatkan perhatian pada dewa tersebut.
Adalah dewa Murwakala. Dewa yang matanya menjorok keluar. Disegani para dewa lainya karena pernah merusak dan mengacau Kahyangan. Pada saat itu hanya dewa Jagad yang dapat menghentikannya.

“ baiklah siapa lagi” dewa jagad kembali menawarkan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya dewa Jagad tidak yakin kalau nantinya Murwakala akan menjadi pembimbing manusia.

“ Saya paduka raja” Dengan hormat dan santun salah seorang dewa mengajukan diri. dengan melayangkan raga dan keluar dari kerumunan dewa-dewa lainya. Yang satu ini adalah dewa Ismaya. Berparas tampan, dikenalsebagai dewa yang paling sabar, selalu memberi bantuan pada dewa lainnya. Dan senang berekreasi ke bumi.Seketika dewa-dewa lainya kembali meriuh. Heran serta kasihan dengan dewa Ismaya. Karena semua tahu kekuatanya jauh lebih rendah dibanding dewa Murwakala.

“ kau yakin?” dewa Jagad bertanya kembali dengan nada bicara tidak percaya.
“ Yakin paduka raja” Ismaya menjawab dengan senyuman yang bersahaja.

Setelah lama menuggu dewa Jagad akhirnya menutup pencarian peserta sayembara, karena tidak ada lagi yang mengajukan. Dan memberi tahu peraturan pertandingan.

“ karena ini menyangkut masalah bumi. Maka pertempuran ini akan dilakukan kalian, dengan menggunakan isi bumi sebagai senjata kalian”
“kalian dilarang mengeluarkan senjata atau energi asli kalian”
Sambil menjelaskan, dewa  Jagad mengeluarkan replika bumi dari sakunya. Replika yang berbentuk bulat itu berputar – putar di atas telapak tanganya.

 “ Pilihlah Negeri yang ada di bumi  untuk jadi senjata kalian nantinya”
“ agar tidak terjadi kesamaan senjata, hisap bayangan Negri mana saja yang kalian pilih.”

Murwakala mendapat kesempatan pertama untuk memilih senjatanya. Murwakala pun tanpa babibu langsung menghisap dengan yakin bayangan negeri Amerika Serikat, lalu bayangan negri Jepang, dan yang terakhir dia menghisap bayangan negeri Belanda. 

“ Hmmm. Cepat sekali kau Murwa”
“ peradaban bumi akhir-akhir ini ada di tangan negeri-negeri itu paduka. Saya sering mendengar kabar itu dari roh-roh manusia di neraka. Hahhah”

Tanpa menanggapi celoteh Murwakala, dewa Jagad langsung mengalihkan replika itu kehadapan Isamaya.

“ baiklah sekarang giliran kau Ismaya. Pilih yang mana kau mau”
Isma pun tersenyum dan mengintai ke setiap sudut replika bola bumi itu. Pun Ismaya menghisap bayangan sebuah negeri yang bernama Indonesia. 

“ Sudah paduka”
Ismaya  memutuskan memilih hanya satu negeri. Banyak dewa yang terkejut melihat kelakuan si Ismaya itu. Semua terbingung-bingung akan apa yang ada dipikiran Ismaya. Sebab Murwakala memilih tiga negara, maka secara kualitatif Ismaya kalah. Sedangkan Murwakala semakin geram, karena merasa diremehkan dengan lawanya itu. Namun dewa Jagad hanya tersenyum menaggapinya. Seakan tiada rasa heran dengan pilihan Ismaya itu.

“ Baiklah. Adakah alasan akan pilihanmu itu”
“ saya sering mengintainya ketika sedang berkelana ke bumi. Dan sejak itu saya menyukai negeri Indonesia.”

Pengumuman pun ditutup lantas semua dewa dibubarkan. Dewa jagad memanggil para iblis dan memerintahkan mereka untuk membuat arena pertempuran. Pertempuran akan dilaksankan setelah arena tersebut siap.


***

“ arena sudah siap!”
“ arena sudah siap..! mari saksikan!”
“ pertempuran akan dimulai!”
“ Mari saksikan”
“ dewa Murwakala melawan dewa Ismaya”

Suara teriakan pengumuman dari para iblis semakin lama semakin keras. Menggelegar. Mengiringi hiruk-pikuknyadewa-dewa yang mulai memasuki pintu keagungan istana raja dewa. Semua dewa sangat antusias dalam menghadiri pertempuran itu. Mereka datang membawa anak dan istri mereka. Berkumpul menyemuti singgasana agung dewa Jagad Pratingkah.

Sambil duduk di kursi keemasan, dewa Jagad membuka tempat atau arena yang berada di belakang singgasananya. Hanya dengan tiupan. Pun seluruh dewa takjub memandangi arena pertempuran itu. Arena tersebut mengapung diatas kobaran api yang diambil dari neraka. Dari cahaya api itu membentuk menjadi sebuah gelanggang berbentuk persegi, dan terdapat para iblis beterbangan mengelilingi arena itu. Di tengah gelanggang itu telah berdiri tegak Murwakala dengan tidak henti-hentinya menantang. Dengan berteriak dan menyeringai kehadapan Ismaya yang masih mempersiapkan dirinya dengan memejamkan mata. Tidak lama kemudian. .

“ Pertempuran dimulai!!”

Setelah berteriak, Salah seorang iblis pun meniupkan terompet pertanda pertandingan dimulai.


Murwakala langsung menyerang dengan menyemburkan sebuah Ngarai yaitu lembah yang bertebing terjal yang dalam dan luas. Di bumi, lembah itu bernama Grand canyon yang berada di Amerika serikat. Dengan sigap Ismaya langsung membuka matanya dan dari kedua kelopak matanya mengeluarkan bayangan besar yang berbentukGunung. Gunung itu berdiri tegak di hadapanya dan menghadang serangan dari Murwakala. Gunung merapi namanya, berasal dari bumi di daerah Jogjakarta, Indonesia. Lembah itu pun menabrak prisai gunung Merapi, dan menciptakan ledakan yang dahsyat. Semua terhenyak melihatnya. Tebing hancur menjadi bebatuan karena tersiram larva Merapi. Bebatuan berlumur larva itu melayang membabi buta kesegala arah,mengenai tubuh Murwakala juga Ismaya. Lalu mereka pun terpental ke belakang.Setelah menyiagakan raganya Murwakala lantas kembali menyerang Isma. Kali ini dia menerbangkan bunga-bunga sakura dari tiap ujung jarinya yang berjumlah seratus itu. Sehingga bunga-bunga sakura yang berasal dari negeri bumi yang bernama Jepang itu menyelimuti tubuh Ismaya. Tangan dan kaki Ismaya pun terjerat tak dapat bergerak, dan lambat laun sakura-sakura itu mulai menjalar ke bagian leher Ismaya.

Sebagaian besar dewa bersorak, memberi dukungan kepada Ismaya. Ya, hampir  semua dewa mendukung Ismaya. Anak-anak dewa pun banyak yang memelas melihat Ismaya. Ismaya memang selalu bersikap baik kepada setiap dewa, bahkan putra-putri dewa sering diajaknya berkelana ke semesta bumi. Sakura-sakura itu mulai melilit leher Ismaya, semakin lama semakin erat. Tiba-tiba mulut Ismaya memuntahkan sesuatu. Yaitu berbutir-butir telur. Telur itu menggelinding ke arena. Terus mengalir dari mulut Ismaya. Seketika telur –telur yang berjumlah ribuan itu menetas. Dari tiap cangkang telur mengeluarkan seekor burung Maleo. Burung yang di bumi terdapat di negeri Indonesia tepatnya di hutan-hutan papua. Raga burung ini berwarna hitam gosong kecuali dibagian perutnya berwarna merah muda. Memiliki jambul di bagian belakang kepalanya. Berbeda dengan jenis burung di bumi lainya, burung Maleo ini sehabis menetas langsung dapat menggunakan sayapnya untuk terbang. Sehingga beribu-ribu burung Maleo itu langsung terbang menggerayangi tubuh Ismaya yang berselimut Sakura-sakura.


Semua terkesima menyaksikan aksi burung Maleo yang lincah itu. Bunga-bunga sakura kian menghilang dari tubuh Ismaya. Akibat disantap oleh burung burung Maleo itu. Murwakala terlihat tidak puas. Dia langsung berancang-ancang lagi untuk menyerang Ismaya. Murwakala memutar-mutarkan kepalanya dan langsung membuka lebar-lebar mulutnya. Lalu menyemprotkan gas alam yang berasal dari Belanda kearah lawanya itu. Ismaya yang masih menyigapkan dirinya tidak sempat menghadang serang gas itu, lantas terpental. Murwakala pun tertawa dengan keras. Hanya beberapa jenak saja Ismaya bangun dari kejatuhanya, Murwakala menyemburkan gas alam itu lagi. Namun kali ini Ismaya lebih sigab. Dia langsung menyemburkan Lumpur panas yang berasal dari bumi daerah sidoarjo Indonesia. Sehingga gas alam Murwakala tertahan oleh lumpur panas itu, pun terjadi pergulatan seru antara Gas dan Lumpur itu. Gas terus mendorang lumpur yang terus mengalir dari mulut Ismaya. Murwakala juga terus menyemprotkan gas itu. Namun lamban laun arus gas itu melemah sehingga tekanan dari lumpur panas itu lebih kuat. Dan tiba-tiba Murwakala kehabisan daya gas. Gas berhenti mengalir. Lumpur panas menerobos masuk kedalam mulut Murwa, sehingga terpentalah Murwakala seraya berteriak karena merasa kepanasan. Semua penonton pertarungan itu pun bersorak.

“ serang ..!”
“ ayo Ismaya. serang lagi!”


Murwakala terkapar. Ismaya masih menyempurnakan kesigapanya. Murwakala bangkit dengan wajah yang tiada hentinya menyeringai. Ismaya tetap tenang tanpa menyerang. Lagi-lagi Murwakala melancarkan serangan lebih dulu. Dengan mengambil bayangan sebuah alam  di sakunya. Alam itu dari negeri Amerika Serikat, bernama Alaska. Murwakala menenggelamkan tanganya ke dalam lubang yang berada di bayangan alam Alaska itu. Ketika menarik keluar tanganya dari lubang itu. Tiba-tiba keluar pedang besar yang terbentuk dari berbatang-batang emas. Lantas ia genggam pedang emas itu. Konon, di bumi Amerika Serikat,  di daerah Alaska adalah sumber daya alam terkaya akan Emas.

Tanpa babibu, Murwakala langsung melancarkan serangan kepada Ismaya, dengan segala kemampuan berpedangnya. Semua penonton mendadak tegang. Semua tahu kemampuan Murwakala dalam berpedang tiada tandinganya. Ismaya langsung menyiasati serangan itu dengan mengambil bayangan salah satu pulau di bumi indonesia. Pulau ini bernama kalimantan. Di hadangnya serangan pedang Murwakala itu dengan pulau kalimantan sehingga menancap pedang itu ke badan pulau itu.

Murwakala mencabut lagi pedang emas itu. Dari cabutan itu menimbulkan lubang di badan kalimantan. Ismaya menenggelamkan tanganya ke lubang itu dan mengambil berbongkah-bongkah Batubara yang bercampur dengan biji-biji Bauksit, biji-biji Besi, Nikel, Emas, perak, Intan, tanah semen. Ismaya merencanakan serangan. Namun kalah cepat dengan pergerakan Murwakala yang langsung menyabat tanganya. Pun hasil-hasil alam itu berjatuhan ke segala arah. Sampai menyebrangi arena dan mendarat ke penonton. Dewa jagad, iblis serta para dewa yang menyaksikan pertarungan itu terkesima melihat keberagaman hasil alam dari kalimantan itu yang berterbangan. Murwakala merampas bayangan kalimantan dan melemparya ke bawah arena, lalu hangus terbakar.

Murwakala semakin menggila.Bertubi–tubi sabatan ia lancarkan ke Ismaya. Penonton kembali bersorak-sorak memberi dukungan kepada Ismaya.

“ awas Isma!” kau bisa Isma” bertahanlah Isma”
Ismaya terkapar disudut gelanggang, dengan tanganya yang luluh lantak karena digunakan untuk menangkis serangan pedang emas. Murwakala tertawa girang. Meludah. Mengangkat pedang. Dan menyombong ke arah pononton. Setelah itu, sambil mengusap-ngusap pedang emas dengan rasa bangga, dia berjalan perlahan mendekati Ismaya yang ringkih di sudut sana. Ismaya menahan perih tanganya. Tapi tetap bersiasat untuk melakukan perlawanan.

Murwakala pun sampai di sudut, dekat tubuh Ismaya. sambil tertawa-tawa Murwakala menginjak kepala Ismaya. Dan kembali meyombongkan diri ke arah penonton dengan mengangkat tanganya sambil tetawa keras. Namun ditengah asiknya dia berlagak, tiba-tiba tubuh Isma bergetar kencang. Murwakala pun tercengang. Kakinya tergunjang dan terpental dari kepala Ismaya yang sejak tadi dia injak. Tubuh ismaya terus begetar. Lantas semakin cepat getaranya. Murwakala menjauh. Beberapa jenak kemudian bunyi  ledakan.

Penonton terkesima dan takjub. Ismaya berubah menjadi sekor hewan melata. Yang berkulit tebal layaknya kulit badak, ekornya pipih melancip, kepalanya bermoncong, bibirnya berliur, liurnya beracun, lidahnya yang berwarna kuning kemerah-merahan sesekali menjulur dan diujung lidahnya bercabang dua. Di bumi hewan ini bernama Komodo, yang hanya ada di negeri Indonesia. Yaitu di pulau Komodo, Rinca, Flores, Motang dan gili Dasami di Nusatenggara.

Dengan sertamerta Ismaya yang menjelma komodo itu lari melata dengan gesitnya dan lengsung mengigit kaki Murwakala. Serta merta murwakala menyabat  dengan pedang Emas. Ismaya pun terpental. Dan raganya kembali menjadi seperti semula. Murwakala sangat geram, ingin menyerang balik, namun ketika dia hendak melangkah. Dia rasakan tubuhnya panas. Kakinya tiba-tiba membusuk. Lalu tidak sadarkan diri. Seketika penonton bersorak kegirangan. Melihat Murwakala yang terkapar tidak berdaya, dan tidak dapat bangkit. Murwakala dibawa terbang iblis-iblis untuk mendapatkan perawatan.Sayembara dewa Jadad selesai.

Setelah pertempuran itu selesai Ismaya dibawa terbang oleh dewa Jagad menuju MahaciptaYaitu tempat sang Hyang Tunggal bersemayam. Disana Ismaya akan diperoses untuk dijadikan manusia dan diturunkan ke bumi.

“ Jadilah kau seorang pengasuh anak wahai Ismaya. Sebab disitulah sesungguhnya perubahan peradaban bumi berawal” . Singkat sabda sang Hyang Tunggal kepada Ismaya.




***

##Ting nong##

Seorang lelaki tua membukakan pintu rumahnya, dan mendapatkan seorang pria dewasa yang pendek dan berbadan  gemuk sedang berdiri diluar pintu itu.

“ benar ini keluarga Pandu Pandawanata?”
“ oh tepat sekali. Ada perlu?”
“ saya dengar keluarga ini mencari pengasuh. Saya sangat senang bila dapat bekerja di keluarga ini.”
“ ohhh...yaya. Mari masuk dulu”

Masuklah mereka berdua. Seorang calon majikan dan calon pengasuh. Di ruang tamu terlihat sepasang anak kembar sedang asik bermain PlayStation .

“ nakula, sadewa!  Sebentar lagi kalian memiliki teman baru. Ayo kemari” 

Serentak kedua anak itu mengalihkan perhatian mereka dari permainan itu, dan langsung beranjak mendekati ayah mereka.

“Aa..maav.. siapa nama anda?”
“ Semar tuan.”
“  Nah. ayo beri salam kepada om Semar...”


  
Marendra 10_ 12_ 2012-12-10




Tidak ada komentar:

Posting Komentar