Di
sini, di ruang nan betapa luasnya, ruangyang terbentang jauh di atas semesta bumi.Ruang
dimana dewi-dewi bersenandung, dimana para dewa bersemayam, dimana iblis-iblis
menjadi budak, serta mainan penghibur bagi anak-anak para dewa. Ruang yang
bernama Kahyangan ini sedang geger.Dikarenakan sang Hyang Tunggal tiba-tiba
saja memanggil dewa Jagad Pratingkahuntuk menghadap.Sang Hyang Tunggal adalah pencipta
dan penguasa apapun yang berada di semesta bumi dan semesta kahyangan.Sedangkan
Jagad Pratingkah adalah raja dewa yang merajai dan bertanggung jawab atas
Kahyangan dan Bumi.
Semua dewa takjub mendengar kabar
tersebut. Mereka khawatir akan dewa Jagad yang kerap kali mengamuk setelah menghadap
sang Hyang Tunggal. Tiada satupun yang tahu sabda apa yang diberikan Sang
HyangTunggal kepada dewa Jagad. Sampai-sampai setelah menghadap sang Hyang
Tunggal, dewa Jagad langsung berteriak memanggil semua dewa untuk berkumpul
dihadapanya. Seluruh dewapun gopoh-gapah meninggalkan kewajiban pekerjaanya dan
dengan cepat terbang menuju singgasana raja dewa, dan berkerumunan menghadap
dan berlutut.
“Bumi sudah semakin tua dan
mengenaskan.Manusianya pun semakin mungkar. Harus ada pembaharuan dan pencerahan
kalau tidak bumi bisa hancur.”
Seluruh dewa terdiam dan hikmat
memerhatikan sang raja dewa. Para dewi serta-merta berhenti bersenandung dan
diam-diam menguping pembicaraan tersebut, para putra-putri dewa melepaskan
iblis-iblisnya lantas pergi keruang tidurnya masing-masing. Raja dewa atau dewa
Jagad Pratingkah akan mengadakan Sayembara.
Sayembara ini berbeda dengan
sayembara yang dahulu kala sering diselenggarakan pada kerajaan – kerajaan di
bumi. Di bumi, sayembara biasa diselenggarakan oleh seorang pemimpin kerajaan
atau raja untuk mencari pendamping hidup putri kesayanganya. Dengan cara mengadu
kekuatan atau pertempuran yang akan dilakukan oleh para calon.Sedangkan pada sayembara
di Kahyangan ini, yaitu untuk mencari satu dewa yang nantinya akan diubah
menjadi manusia dan diturunkan ke bumi untuk membimbing para manusia. Karena
dewa-dewa ini berjumlah lebih dari 400. Maka, dewa Jagad hendak mengadu
kesaktian dan kekuatan para dewa. Yang memenangkan pertempuran itulah yang
nantinya akan menjadi manusia dan diutus kebumi.
“ Jadi, dari kalian semua. Siapa yang
hendak ikut sayembara ini?” Dewa Jagad berkata dengan keras kepada para dewa
yang bersimpuh dihadapannya.
Sebagian dewa tetap mendiam. Sambil
sesekali melihat satu sama lain. Mereka merasa tidak tertarik akan sayembara
itu. Terdengar pula bisikan-bisikan kecil dari sebagian dewa lainya
“ kau saja.”
“ lebih baik jadi dewa”
“aku tidak ingin bertempur”
“untuk apa menjadi manusia”.
Ditengah riuh rendahnya reaksi para
dewa tiba-tiba terdengar salah satu dewa berteriak mengajukan diri dengan
terbang meninggalkan kerumunan dewa lainya dan melayangkan raganya lalu
berteriak dengan lantak ” Saya bersedia!” Pun seketika semua kembali mendiam
dan memusatkan perhatian pada dewa tersebut.
Adalah dewa Murwakala. Dewa yang
matanya menjorok keluar. Disegani para dewa lainya karena pernah merusak dan
mengacau Kahyangan. Pada saat itu hanya dewa Jagad yang dapat menghentikannya.
“ baiklah siapa lagi” dewa jagad
kembali menawarkan sambil menggeleng-gelengkan kepala. Sepertinya dewa Jagad
tidak yakin kalau nantinya Murwakala akan menjadi pembimbing manusia.
“ Saya paduka raja” Dengan hormat dan
santun salah seorang dewa mengajukan diri. dengan melayangkan raga dan keluar
dari kerumunan dewa-dewa lainya. Yang satu ini adalah dewa Ismaya. Berparas tampan,
dikenalsebagai dewa yang paling sabar, selalu memberi bantuan pada dewa
lainnya. Dan senang berekreasi ke bumi.Seketika dewa-dewa lainya kembali
meriuh. Heran serta kasihan dengan dewa Ismaya. Karena semua tahu kekuatanya
jauh lebih rendah dibanding dewa Murwakala.
“ kau yakin?” dewa Jagad bertanya
kembali dengan nada bicara tidak percaya.
“ Yakin paduka raja” Ismaya menjawab
dengan senyuman yang bersahaja.
Setelah lama menuggu dewa Jagad
akhirnya menutup pencarian peserta sayembara, karena tidak ada lagi yang
mengajukan. Dan memberi tahu peraturan pertandingan.
“ karena ini menyangkut masalah bumi.
Maka pertempuran ini akan dilakukan kalian, dengan menggunakan isi bumi sebagai
senjata kalian”
“kalian dilarang mengeluarkan senjata atau energi asli
kalian”
Sambil menjelaskan, dewa Jagad mengeluarkan replika bumi dari sakunya.
Replika yang berbentuk bulat itu berputar – putar di atas telapak tanganya.
“ Pilihlah Negeri yang ada di bumi untuk jadi senjata kalian nantinya”
“ agar tidak terjadi kesamaan
senjata, hisap bayangan Negri mana saja yang kalian pilih.”
Murwakala mendapat kesempatan pertama
untuk memilih senjatanya. Murwakala pun tanpa babibu langsung menghisap dengan
yakin bayangan negeri Amerika Serikat, lalu bayangan negri Jepang, dan yang
terakhir dia menghisap bayangan negeri Belanda.
“ Hmmm. Cepat sekali kau Murwa”
“ peradaban bumi akhir-akhir ini ada di tangan
negeri-negeri itu paduka. Saya sering mendengar kabar itu dari roh-roh manusia
di neraka. Hahhah”
Tanpa menanggapi celoteh Murwakala, dewa Jagad
langsung mengalihkan replika itu kehadapan Isamaya.
“ baiklah sekarang giliran kau Ismaya. Pilih yang mana
kau mau”
Isma pun tersenyum dan mengintai ke setiap sudut
replika bola bumi itu. Pun Ismaya menghisap bayangan sebuah negeri yang bernama
Indonesia.
“ Sudah paduka”
Ismaya
memutuskan memilih hanya satu negeri. Banyak dewa yang terkejut melihat
kelakuan si Ismaya itu. Semua terbingung-bingung akan apa yang ada dipikiran
Ismaya. Sebab Murwakala memilih tiga negara, maka secara kualitatif Ismaya
kalah. Sedangkan Murwakala semakin geram, karena merasa diremehkan dengan
lawanya itu. Namun dewa Jagad hanya tersenyum menaggapinya. Seakan tiada rasa
heran dengan pilihan Ismaya itu.
“ Baiklah. Adakah alasan akan pilihanmu itu”
“ saya sering mengintainya ketika sedang berkelana ke
bumi. Dan sejak itu saya menyukai negeri Indonesia.”
Pengumuman pun ditutup lantas semua
dewa dibubarkan. Dewa jagad memanggil para iblis dan memerintahkan mereka untuk
membuat arena pertempuran. Pertempuran akan dilaksankan setelah arena tersebut
siap.
***
“ arena sudah siap!”
“ arena sudah siap..! mari saksikan!”
“ pertempuran akan dimulai!”
“ Mari saksikan”
“ dewa Murwakala melawan dewa Ismaya”
Suara teriakan pengumuman dari para
iblis semakin lama semakin keras. Menggelegar. Mengiringi hiruk-pikuknyadewa-dewa
yang mulai memasuki pintu keagungan istana raja dewa. Semua dewa sangat
antusias dalam menghadiri pertempuran itu. Mereka datang membawa anak dan istri
mereka. Berkumpul menyemuti singgasana agung dewa Jagad Pratingkah.
Sambil duduk di kursi keemasan, dewa
Jagad membuka tempat atau arena yang berada di belakang singgasananya. Hanya
dengan tiupan. Pun seluruh dewa takjub memandangi arena pertempuran itu. Arena
tersebut mengapung diatas kobaran api yang diambil dari neraka. Dari cahaya api
itu membentuk menjadi sebuah gelanggang berbentuk persegi, dan terdapat para
iblis beterbangan mengelilingi arena itu. Di tengah gelanggang itu telah
berdiri tegak Murwakala dengan tidak henti-hentinya menantang. Dengan berteriak
dan menyeringai kehadapan Ismaya yang masih mempersiapkan dirinya dengan
memejamkan mata. Tidak lama kemudian. .
“ Pertempuran dimulai!!”
Setelah berteriak, Salah seorang
iblis pun meniupkan terompet pertanda pertandingan dimulai.
Murwakala langsung menyerang dengan
menyemburkan sebuah Ngarai yaitu lembah yang bertebing terjal yang dalam dan
luas. Di bumi, lembah itu bernama Grand canyon yang berada di Amerika serikat.
Dengan sigap Ismaya langsung membuka matanya dan dari kedua kelopak matanya
mengeluarkan bayangan besar yang berbentukGunung. Gunung itu berdiri tegak di
hadapanya dan menghadang serangan dari Murwakala. Gunung merapi namanya, berasal
dari bumi di daerah Jogjakarta, Indonesia. Lembah itu pun menabrak prisai
gunung Merapi, dan menciptakan ledakan yang dahsyat. Semua terhenyak
melihatnya. Tebing hancur menjadi bebatuan karena tersiram larva Merapi.
Bebatuan berlumur larva itu melayang membabi buta kesegala arah,mengenai tubuh
Murwakala juga Ismaya. Lalu mereka pun terpental ke belakang.Setelah
menyiagakan raganya Murwakala lantas kembali menyerang Isma. Kali ini dia menerbangkan
bunga-bunga sakura dari tiap ujung jarinya yang berjumlah seratus itu. Sehingga
bunga-bunga sakura yang berasal dari negeri bumi yang bernama Jepang itu menyelimuti
tubuh Ismaya. Tangan dan kaki Ismaya pun terjerat tak dapat bergerak, dan
lambat laun sakura-sakura itu mulai menjalar ke bagian leher Ismaya.
Sebagaian besar dewa bersorak,
memberi dukungan kepada Ismaya. Ya, hampir
semua dewa mendukung Ismaya. Anak-anak dewa pun banyak yang memelas
melihat Ismaya. Ismaya memang selalu bersikap baik kepada setiap dewa, bahkan
putra-putri dewa sering diajaknya berkelana ke semesta bumi. Sakura-sakura itu
mulai melilit leher Ismaya, semakin lama semakin erat. Tiba-tiba mulut Ismaya
memuntahkan sesuatu. Yaitu berbutir-butir telur. Telur itu menggelinding ke
arena. Terus mengalir dari mulut Ismaya. Seketika telur –telur yang berjumlah
ribuan itu menetas. Dari tiap cangkang telur mengeluarkan seekor burung Maleo.
Burung yang di bumi terdapat di negeri Indonesia tepatnya di hutan-hutan papua.
Raga burung ini berwarna hitam gosong kecuali dibagian perutnya berwarna merah
muda. Memiliki jambul di bagian belakang kepalanya. Berbeda dengan jenis burung
di bumi lainya, burung Maleo ini sehabis menetas langsung dapat menggunakan
sayapnya untuk terbang. Sehingga beribu-ribu burung Maleo itu langsung terbang
menggerayangi tubuh Ismaya yang berselimut Sakura-sakura.
Semua terkesima menyaksikan aksi
burung Maleo yang lincah itu. Bunga-bunga sakura kian menghilang dari tubuh
Ismaya. Akibat disantap oleh burung burung Maleo itu. Murwakala terlihat tidak
puas. Dia langsung berancang-ancang lagi untuk menyerang Ismaya. Murwakala
memutar-mutarkan kepalanya dan langsung membuka lebar-lebar mulutnya. Lalu
menyemprotkan gas alam yang berasal dari Belanda kearah lawanya itu. Ismaya
yang masih menyigapkan dirinya tidak sempat menghadang serang gas itu, lantas
terpental. Murwakala pun tertawa dengan keras. Hanya beberapa jenak saja Ismaya
bangun dari kejatuhanya, Murwakala menyemburkan gas alam itu lagi. Namun kali
ini Ismaya lebih sigab. Dia langsung menyemburkan Lumpur panas yang berasal
dari bumi daerah sidoarjo Indonesia. Sehingga gas alam Murwakala tertahan oleh
lumpur panas itu, pun terjadi pergulatan seru antara Gas dan Lumpur itu. Gas
terus mendorang lumpur yang terus mengalir dari mulut Ismaya. Murwakala juga
terus menyemprotkan gas itu. Namun lamban laun arus gas itu melemah sehingga
tekanan dari lumpur panas itu lebih kuat. Dan tiba-tiba Murwakala kehabisan
daya gas. Gas berhenti mengalir. Lumpur panas menerobos masuk kedalam mulut
Murwa, sehingga terpentalah Murwakala seraya berteriak karena merasa kepanasan.
Semua penonton pertarungan itu pun bersorak.
“ serang ..!”
“ ayo Ismaya. serang lagi!”
Murwakala terkapar. Ismaya masih
menyempurnakan kesigapanya. Murwakala bangkit dengan wajah yang tiada hentinya
menyeringai. Ismaya tetap tenang tanpa menyerang. Lagi-lagi Murwakala
melancarkan serangan lebih dulu. Dengan mengambil bayangan sebuah alam di sakunya. Alam itu dari negeri Amerika
Serikat, bernama Alaska. Murwakala menenggelamkan tanganya ke dalam lubang yang
berada di bayangan alam Alaska itu. Ketika menarik keluar tanganya dari lubang
itu. Tiba-tiba keluar pedang besar yang terbentuk dari berbatang-batang emas.
Lantas ia genggam pedang emas itu. Konon, di bumi Amerika Serikat, di daerah Alaska adalah sumber daya alam
terkaya akan Emas.
Tanpa babibu, Murwakala langsung melancarkan
serangan kepada Ismaya, dengan segala kemampuan berpedangnya. Semua penonton
mendadak tegang. Semua tahu kemampuan Murwakala dalam berpedang tiada
tandinganya. Ismaya langsung menyiasati serangan itu dengan mengambil bayangan
salah satu pulau di bumi indonesia. Pulau ini bernama kalimantan. Di hadangnya
serangan pedang Murwakala itu dengan pulau kalimantan sehingga menancap pedang
itu ke badan pulau itu.
Murwakala mencabut lagi pedang emas
itu. Dari cabutan itu menimbulkan lubang di badan kalimantan. Ismaya
menenggelamkan tanganya ke lubang itu dan mengambil berbongkah-bongkah Batubara
yang bercampur dengan biji-biji Bauksit, biji-biji Besi, Nikel, Emas, perak,
Intan, tanah semen. Ismaya merencanakan serangan. Namun kalah cepat dengan
pergerakan Murwakala yang langsung menyabat tanganya. Pun hasil-hasil alam itu
berjatuhan ke segala arah. Sampai menyebrangi arena dan mendarat ke penonton.
Dewa jagad, iblis serta para dewa yang menyaksikan pertarungan itu terkesima
melihat keberagaman hasil alam dari kalimantan itu yang berterbangan. Murwakala
merampas bayangan kalimantan dan melemparya ke bawah arena, lalu hangus
terbakar.
Murwakala semakin
menggila.Bertubi–tubi sabatan ia lancarkan ke Ismaya. Penonton kembali bersorak-sorak
memberi dukungan kepada Ismaya.
“ awas Isma!” kau bisa Isma”
bertahanlah Isma”
Ismaya terkapar disudut gelanggang,
dengan tanganya yang luluh lantak karena digunakan untuk menangkis serangan
pedang emas. Murwakala tertawa girang. Meludah. Mengangkat pedang. Dan
menyombong ke arah pononton. Setelah itu, sambil mengusap-ngusap pedang emas
dengan rasa bangga, dia berjalan perlahan mendekati Ismaya yang ringkih di
sudut sana. Ismaya menahan perih tanganya. Tapi tetap bersiasat untuk melakukan
perlawanan.
Murwakala pun sampai di sudut, dekat
tubuh Ismaya. sambil tertawa-tawa Murwakala menginjak kepala Ismaya. Dan
kembali meyombongkan diri ke arah penonton dengan mengangkat tanganya sambil
tetawa keras. Namun ditengah asiknya dia berlagak, tiba-tiba tubuh Isma
bergetar kencang. Murwakala pun tercengang. Kakinya tergunjang dan terpental
dari kepala Ismaya yang sejak tadi dia injak. Tubuh ismaya terus begetar.
Lantas semakin cepat getaranya. Murwakala menjauh. Beberapa jenak kemudian
bunyi ledakan.
Penonton terkesima dan takjub. Ismaya
berubah menjadi sekor hewan melata. Yang berkulit tebal layaknya kulit badak,
ekornya pipih melancip, kepalanya bermoncong, bibirnya berliur, liurnya
beracun, lidahnya yang berwarna kuning kemerah-merahan sesekali menjulur dan
diujung lidahnya bercabang dua. Di bumi hewan ini bernama Komodo, yang hanya
ada di negeri Indonesia. Yaitu di pulau Komodo, Rinca, Flores, Motang dan gili
Dasami di Nusatenggara.
Dengan sertamerta Ismaya yang
menjelma komodo itu lari melata dengan gesitnya dan lengsung mengigit kaki
Murwakala. Serta merta murwakala menyabat
dengan pedang Emas. Ismaya pun terpental. Dan raganya kembali menjadi
seperti semula. Murwakala sangat geram, ingin menyerang balik, namun ketika dia
hendak melangkah. Dia rasakan tubuhnya panas. Kakinya tiba-tiba membusuk. Lalu
tidak sadarkan diri. Seketika penonton bersorak kegirangan. Melihat Murwakala
yang terkapar tidak berdaya, dan tidak dapat bangkit. Murwakala dibawa terbang
iblis-iblis untuk mendapatkan perawatan.Sayembara dewa Jadad selesai.
Setelah pertempuran itu selesai
Ismaya dibawa terbang oleh dewa Jagad menuju MahaciptaYaitu tempat sang Hyang
Tunggal bersemayam. Disana Ismaya akan diperoses untuk dijadikan manusia dan
diturunkan ke bumi.
“ Jadilah kau seorang pengasuh anak
wahai Ismaya. Sebab disitulah sesungguhnya perubahan peradaban bumi berawal” . Singkat
sabda sang Hyang Tunggal kepada Ismaya.
***
##Ting nong##
Seorang lelaki tua membukakan pintu
rumahnya, dan mendapatkan seorang pria dewasa yang pendek dan berbadan gemuk sedang berdiri diluar pintu itu.
“ benar ini keluarga Pandu Pandawanata?”
“ oh tepat sekali. Ada perlu?”
“ saya dengar keluarga ini mencari
pengasuh. Saya sangat senang bila dapat bekerja di keluarga ini.”
“ ohhh...yaya. Mari masuk dulu”
Masuklah mereka berdua. Seorang calon
majikan dan calon pengasuh. Di ruang tamu terlihat sepasang anak kembar sedang
asik bermain PlayStation .
“ nakula, sadewa! Sebentar lagi kalian memiliki teman baru. Ayo
kemari”
Serentak kedua anak itu mengalihkan
perhatian mereka dari permainan itu, dan langsung beranjak mendekati ayah
mereka.
“Aa..maav.. siapa nama anda?”
“ Semar tuan.”
“
Nah. ayo beri salam kepada om Semar...”
Marendra 10_ 12_ 2012-12-10
Tidak ada komentar:
Posting Komentar