Cuaca malam ini tak terlalu bagus
untuk sebuah malam spesial, seperti malam ini. Hujan gerimis memenuhi seluruh
langit kota, tapi tak terlalu besar sehingga upacara perayaan malam tahun baru
ini terus berlangsung di tengah pusat kota. Jalan-jalan besar ditutup untuk
mendukung sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemuka kota ini. Sebuah parade
akbar demi menyambut datangnya tahun baru yang diselenggarakan dengan gegap
gempita oleh seluruh masyarakat belahan dunia mana pun. Gubernur kota ini
berharap dengan acara ini dapat mempersatukan seluruh masyarakat kota ini.
Orang
dari luar kota ini pun berbondong-bondong datang menghadiri perayaan akbar ini.
Membuat seluruh jalanan menjadi macet, apalagi didukung oleh cuaca awan yang
bergerimis. Tapi tak satu pun menciutkan acara ini untuk tetap berlangsung.
Kembang api di mana-mana terus meledak bersahut-sahutan tiada henti, menandakan
akan adanya sebuah pesta kembang api yang lebih besar menghujani langit kota
yang bergerimis mendung oleh awan pekat.
Di sisi
lain kota, di sebuah pinggiran yang jauh dari keramaian. Tidak terlalu sepi di
sana karena beberapa orang masyarakat seakan tidak datang ke parade besar di
pusat kota sana. Mugkin karena hujan gerimis yang turun sehingga mereka hanya
duduk-duduk santai, bercengkrama saja di teras-teras rumahnya.
Tak
jauh dari sana sebuah warung kopi kecil-kecilan milik Sukamto dan istrinya mencari
nafkah dibuka hingga larut malam. Keduanya juga tidak ikut tergiur untuk
merayakan malam spesial ini di pusat kota sana. Meski tidak ramai pembeli di
sana. Usaha mereka ini baru dibuka sebulan yang lalu setelah pindah ke daerah
ini. Bebreapa pembeli mungkin hanya Bapak-bapak yang tadi nongkrong
bercengkrama di teras rumahnya, memesan dari balik pintu pagarnya dan
menikmatinya di teras rumah mereka. Kopi, mie instan yang telah dimasak, bubur
kacang hijau dan lain sebagainya seperti jualan yang dijajakan oleh warung kopi
lainnya.
Gerimis
masih mengguyur kota ini, hingga datang seorang berambut panjang dengan jaket
lusuhnya ke warung kopi milik Sukamto. Dia duduk dan memesan secangkir kopi
hitam kepada Sukamto. Dihidangkannya
kopi itu di hadapan pria berjaket lusuh itu. Dari balik jaket lusunya pria itu
mengeluarkan satu bungkus rokok dan sebuah korek kayu. Diambilnya sebatang
rokok dan dinyalakannya rokoknya itu.
“Waduh
tahun baru malah hujan” Sukamto melempar senyum pada pria itu. Dibalaslah
guyonan Sukamto dengan sebuah senyum kecut dari wajah pria itu sembari
diteruskannya dengan menghisap rokok di tangannya.
“Mas
siapa orang itu?” bisik istri Sukamto sembari menarik tangan Sukamto masuk ke
dalam rumah.
“Huusss
sembarangan kamu kalo ngomong, dia itu pelanggan. Nggak usah curiga begitu”
balas Sukamto lirih sembari kembali keluar dari balik pintu rumah.
Bunyi
petasan dari tukang petasan tak jauh dari warung kopi milik Sukamto berbunyi.
Entah apa yang dipikirkan tukang petasan itu, mungkin dipikirnya untuk menarik
minat pembeli yang akan datang pada tempat ia berjualan. Sukamto berjalan
keluar dari warungnya menghampiri tukang petasan itu dan melihat bagaimana
warna petasan yang meledak di udara.
Sementara
itu istri Sukamto yang ketakutan akan pria di warung mereka masih mencuri-curi
pandang ke arah pria itu dari balik pintu rumah. Ketakutan dan curiga masih
menyambar-nyambar hatinya. ketika dia ingin kembali mencuri pandang pada pria
itu, secara tak sengaja pria itu melihat pula wajahnya. Dengan seketika
dipalingkannya wajahnya masuk ke dalam pintu rumah. Sekan ketakutan yang makin
membesar membuatnya berlari keluar dari dari warung, pergi ke tempat Sukamto
berada.
“Mas
aku takut sama pria itu” ucap istri Sukamto.
“MasyaAllah
Marni. Itukan hanya pembeli nggak usah ditakuti”.
“Bukannya
begitu lho mas, perasaan aku dia orang jahat”.
“Nggak
mungkin Bu Marni. Coba saya lihat” ucap tukang petasan sembari melongokkan
wajahnya, melihat pria itu, “MasyaAllah mas serem banget”.
“Huss
ngawur aja nih kalian berdua. Masa manusia bener gitu ditakutin, emangnya
setan?”.
“Bukannya
begitu lho mas….”.
“Yasudahlah,
daripada jadi ngomongin orang nggak jelas begini mending saya masuk saja.
Nemenin orang itu” Sukamto bergegas masuk kembali ke dalam warungnya dan duduk.
Sejenak kemudian istri Sukamto masuk dengan berjalan agak berlari.
Cuaca
yang tidak begitu bagus membuat perasaan seseorang kadang tak menentu. Tak
usahlah terlalu curiga pada seseorang, mungkin wajahnya memang serem tapi
dalamnya kan nggak ada orang yang tahu. Begitulah yang terjadi di dalam pikiran
Sukamto yang terus diberondong bayangan dari ucapan teman dan istrinya tadi
tentang pria berjaket lusuh di hadapannya.
Dilihatnya
pria itu oleh Sukamto dengan teliti. Pria itu membuka beberapa bungkus kacang
yang kemudian ia jejalkan ke dalam mulutnya. Sekilas dari balik rambutnya yang
panjang, seolah Sukamto pernah melihat wajahnya entah di mana namun ia lupa.
Semakin ia menelitinya, semakin tak asing pula wajah itu. Namun tetap ia lupa
akan wajah itu.
“Mas
kopinya sudah habis, mau tambah lagi?” ucap Sukamto pada pria itu menawarkan.
Pria itu hanya menyodorkan gelas kopinya yang telah habis kepada Sukamto tanpa
berbicara sedikit pun.
Secara
tak sengaja Sukamto melihat sebuah benda hitam dari balik jaket lusuh pria itu.
Astaga, pikir Sukamto kaget. Setelah ia menghidangkan kopi hitam ke pria itu
Sukamto segera masuk terburu-buru ke dalam rumahnya dan menarik tangan
istrinya.
“MasyaAllah,
bu…”.
“Kenapa
pak?”.
“Pria
itu, bu…”.
“Ya
pria itu kenapa pak?”.
“Pria
itu punya beceng bu”.
“MasyaAllah
pak, dia mau merampok kita pak?”.
“Tunggu
nggak mungkin bu, dia mau merampok kita. Kitakan hanya pengusaha warung kopi
kecil-kecil mana ada uangnya”.
“Tapi
pak…”.
“Sudah
Ibu tenang saja. Semoga Allah melindungi kita bu”.
“Iya
pak”.
Sukamto
kembali duduk di warungnya, keringat dingin terasa mengalir deras di dahinya.
Sebuah sergapan ketakutan seakan mewarnai seluruh suasana malam di warungnya,
membuat udara begitu kotor bercampur kepulan asap rokok yang mengerubungi
atmosfer warung disertai semerbak kopi hitam yang mengalir di seluruh
pernafasan mereka. Oksigen seakan berburu masuk ke dalam relung paru-paru
Sukamto.
“Kamto,
Kamto rupa-rupanya kau sudah lupa padaku ya” pria itu berucap dengan nada agak
meremehkan.
“Kamu
siapa?”.
“Hahaha
masih juga tak ingat aku ya?” pria itu menyibakkan rambutnya, kini seluruh wajahnya
terlihat dengan jelas tak tertutupi sehelai rambut pun miliknya.
“Kardi!”.
“Hahaha
nah sekarang baru ingat kau rupanya denganku”.
“Mas”
ucap ketakutan dari istri Sukamto terdengar.
“Masuk
Ni!” perntah Sukamto. Istri Sukamto segera masuk ke dalam rumah.
“Mau
apa kau datang ke sini?”.
“Masih
lupa juga hutangmu padaku!”.
“Hutang
apa?”.
“Kau
ingat malam sembilanbelas tahun yang lalu, tepat di malam yang sama seperti malam
ini?”.
“Apa
maksudmu?”.
“Janganlah
kau berpura-pura. Apakah kau ingat senapan yang kau bidik ke arah laki-laki
berjas hitam malam itu”. Keringat dingin mulai mengucur begitu deras dari dahi
Sukamto. “Laki-laki yang ditugasi untuk kita bunuh dan kau malah pergi…”.
“Hentikan!
Kau tahu sekarang aku sudah tak berurusan dengan pekerjaan itu lagi! Dulu kita
melakukannya atas tuntutan pemerintah, tapi…” Sukmanto berdiri.
“Gara-gara
kau bertindak pengecut dan lari dari tugas. Aku harus terus melarikan diriku,
diburu oleh pihak pemerintah!” pria itu mengeluarkan pistol dari balik jaketnya
dan persis menodongkan pistolnya pada wajah Sukmanto, “Keluargaku mati satu
persatu dibunuh oleh pihak pemerintah yang melakukan tindakkan refresif
terhadap kita, orang-orang yang membunuh kecoa-kecoa kecil atas suruhan
Jendral, atas nama pemerintahan yang dulu. Dan gara-gara kau identitasku
terbongkar. Seandainya kau tak lari seperti pengecut!”.
“Kau
tahu bukan, aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku akan menikah”.
“Bangsat
banyak alasan!”.
Malam
itu tepat di pusat kota, pesta kembang api begitu ramai menenggelamkan
kepedihan-kepedihan luka-luka lama yang menjadi dosa-dosa kita sebagai manusia.
Kegembiraan begitu melimpah ruah tak henti-henti disorak-sorakkan demi
harapan-harapan baru di tahun mendatang yang akan segera datang dan mengubur
harapan-harapan tahun-tahun lalu yang sebagian besar tidak tercapai oleh kita.
Bunyi-bunyi teropet dan letusan-letusan kembang api tahun baru seakan menyamarkan
sebuah letusan peluru yang dengan tepat melubangi dahi Sukamto.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar