Rabu, 09 Januari 2013

Letusan Sebuah Terompet



Cuaca malam ini tak terlalu bagus untuk sebuah malam spesial, seperti malam ini. Hujan gerimis memenuhi seluruh langit kota, tapi tak terlalu besar sehingga upacara perayaan malam tahun baru ini terus berlangsung di tengah pusat kota. Jalan-jalan besar ditutup untuk mendukung sebuah acara yang diselenggarakan oleh pemuka kota ini. Sebuah parade akbar demi menyambut datangnya tahun baru yang diselenggarakan dengan gegap gempita oleh seluruh masyarakat belahan dunia mana pun. Gubernur kota ini berharap dengan acara ini dapat mempersatukan seluruh masyarakat kota ini.
                Orang dari luar kota ini pun berbondong-bondong datang menghadiri perayaan akbar ini. Membuat seluruh jalanan menjadi macet, apalagi didukung oleh cuaca awan yang bergerimis. Tapi tak satu pun menciutkan acara ini untuk tetap berlangsung. Kembang api di mana-mana terus meledak bersahut-sahutan tiada henti, menandakan akan adanya sebuah pesta kembang api yang lebih besar menghujani langit kota yang bergerimis mendung oleh awan pekat.
                Di sisi lain kota, di sebuah pinggiran yang jauh dari keramaian. Tidak terlalu sepi di sana karena beberapa orang masyarakat seakan tidak datang ke parade besar di pusat kota sana. Mugkin karena hujan gerimis yang turun sehingga mereka hanya duduk-duduk santai, bercengkrama saja di teras-teras rumahnya.
                Tak jauh dari sana sebuah warung kopi kecil-kecilan milik Sukamto dan istrinya mencari nafkah dibuka hingga larut malam. Keduanya juga tidak ikut tergiur untuk merayakan malam spesial ini di pusat kota sana. Meski tidak ramai pembeli di sana. Usaha mereka ini baru dibuka sebulan yang lalu setelah pindah ke daerah ini. Bebreapa pembeli mungkin hanya Bapak-bapak yang tadi nongkrong bercengkrama di teras rumahnya, memesan dari balik pintu pagarnya dan menikmatinya di teras rumah mereka. Kopi, mie instan yang telah dimasak, bubur kacang hijau dan lain sebagainya seperti jualan yang dijajakan oleh warung kopi lainnya.
                Gerimis masih mengguyur kota ini, hingga datang seorang berambut panjang dengan jaket lusuhnya ke warung kopi milik Sukamto. Dia duduk dan memesan secangkir kopi hitam kepada Sukamto.  Dihidangkannya kopi itu di hadapan pria berjaket lusuh itu. Dari balik jaket lusunya pria itu mengeluarkan satu bungkus rokok dan sebuah korek kayu. Diambilnya sebatang rokok dan dinyalakannya rokoknya itu.
                “Waduh tahun baru malah hujan” Sukamto melempar senyum pada pria itu. Dibalaslah guyonan Sukamto dengan sebuah senyum kecut dari wajah pria itu sembari diteruskannya dengan menghisap rokok di tangannya.
                “Mas siapa orang itu?” bisik istri Sukamto sembari menarik tangan Sukamto masuk ke dalam rumah.
                “Huusss sembarangan kamu kalo ngomong, dia itu pelanggan. Nggak usah curiga begitu” balas Sukamto lirih sembari kembali keluar dari balik pintu rumah.
                Bunyi petasan dari tukang petasan tak jauh dari warung kopi milik Sukamto berbunyi. Entah apa yang dipikirkan tukang petasan itu, mungkin dipikirnya untuk menarik minat pembeli yang akan datang pada tempat ia berjualan. Sukamto berjalan keluar dari warungnya menghampiri tukang petasan itu dan melihat bagaimana warna petasan yang meledak di udara.
                Sementara itu istri Sukamto yang ketakutan akan pria di warung mereka masih mencuri-curi pandang ke arah pria itu dari balik pintu rumah. Ketakutan dan curiga masih menyambar-nyambar hatinya. ketika dia ingin kembali mencuri pandang pada pria itu, secara tak sengaja pria itu melihat pula wajahnya. Dengan seketika dipalingkannya wajahnya masuk ke dalam pintu rumah. Sekan ketakutan yang makin membesar membuatnya berlari keluar dari dari warung, pergi ke tempat Sukamto berada.
                “Mas aku takut sama pria itu” ucap istri Sukamto.
                “MasyaAllah Marni. Itukan hanya pembeli nggak usah ditakuti”.
                “Bukannya begitu lho mas, perasaan aku dia orang jahat”.
                “Nggak mungkin Bu Marni. Coba saya lihat” ucap tukang petasan sembari melongokkan wajahnya, melihat pria itu, “MasyaAllah mas serem banget”.
                “Huss ngawur aja nih kalian berdua. Masa manusia bener gitu ditakutin, emangnya setan?”.
                “Bukannya begitu lho mas….”.
                “Yasudahlah, daripada jadi ngomongin orang nggak jelas begini mending saya masuk saja. Nemenin orang itu” Sukamto bergegas masuk kembali ke dalam warungnya dan duduk. Sejenak kemudian istri Sukamto masuk dengan berjalan agak berlari.
                Cuaca yang tidak begitu bagus membuat perasaan seseorang kadang tak menentu. Tak usahlah terlalu curiga pada seseorang, mungkin wajahnya memang serem tapi dalamnya kan nggak ada orang yang tahu. Begitulah yang terjadi di dalam pikiran Sukamto yang terus diberondong bayangan dari ucapan teman dan istrinya tadi tentang pria berjaket lusuh di hadapannya.
                Dilihatnya pria itu oleh Sukamto dengan teliti. Pria itu membuka beberapa bungkus kacang yang kemudian ia jejalkan ke dalam mulutnya. Sekilas dari balik rambutnya yang panjang, seolah Sukamto pernah melihat wajahnya entah di mana namun ia lupa. Semakin ia menelitinya, semakin tak asing pula wajah itu. Namun tetap ia lupa akan wajah itu.
                “Mas kopinya sudah habis, mau tambah lagi?” ucap Sukamto pada pria itu menawarkan. Pria itu hanya menyodorkan gelas kopinya yang telah habis kepada Sukamto tanpa berbicara sedikit pun.
                Secara tak sengaja Sukamto melihat sebuah benda hitam dari balik jaket lusuh pria itu. Astaga, pikir Sukamto kaget. Setelah ia menghidangkan kopi hitam ke pria itu Sukamto segera masuk terburu-buru ke dalam rumahnya dan menarik tangan istrinya.
                “MasyaAllah, bu…”.
                “Kenapa pak?”.
                “Pria itu, bu…”.
                “Ya pria itu kenapa pak?”.
                “Pria itu punya beceng bu”.
                “MasyaAllah pak, dia mau merampok kita pak?”.
                “Tunggu nggak mungkin bu, dia mau merampok kita. Kitakan hanya pengusaha warung kopi kecil-kecil mana ada uangnya”.
                “Tapi pak…”.
                “Sudah Ibu tenang saja. Semoga Allah melindungi kita bu”.
                “Iya pak”.
                Sukamto kembali duduk di warungnya, keringat dingin terasa mengalir deras di dahinya. Sebuah sergapan ketakutan seakan mewarnai seluruh suasana malam di warungnya, membuat udara begitu kotor bercampur kepulan asap rokok yang mengerubungi atmosfer warung disertai semerbak kopi hitam yang mengalir di seluruh pernafasan mereka. Oksigen seakan berburu masuk ke dalam relung paru-paru Sukamto.
                “Kamto, Kamto rupa-rupanya kau sudah lupa padaku ya” pria itu berucap dengan nada agak meremehkan.       
                “Kamu siapa?”.
                “Hahaha masih juga tak ingat aku ya?” pria itu menyibakkan rambutnya, kini seluruh wajahnya terlihat dengan jelas tak tertutupi sehelai rambut pun miliknya.
                “Kardi!”.
                “Hahaha nah sekarang baru ingat kau rupanya denganku”.
                “Mas” ucap ketakutan dari istri Sukamto terdengar.
                “Masuk Ni!” perntah Sukamto. Istri Sukamto segera masuk ke dalam rumah.
                “Mau apa kau datang ke sini?”.
                “Masih lupa juga hutangmu padaku!”.
                “Hutang apa?”.
                “Kau ingat malam sembilanbelas tahun yang lalu, tepat di malam yang sama seperti malam ini?”.
                “Apa maksudmu?”.
                “Janganlah kau berpura-pura. Apakah kau ingat senapan yang kau bidik ke arah laki-laki berjas hitam malam itu”. Keringat dingin mulai mengucur begitu deras dari dahi Sukamto. “Laki-laki yang ditugasi untuk kita bunuh dan kau malah pergi…”.
                “Hentikan! Kau tahu sekarang aku sudah tak berurusan dengan pekerjaan itu lagi! Dulu kita melakukannya atas tuntutan pemerintah, tapi…” Sukmanto berdiri.
                “Gara-gara kau bertindak pengecut dan lari dari tugas. Aku harus terus melarikan diriku, diburu oleh pihak pemerintah!” pria itu mengeluarkan pistol dari balik jaketnya dan persis menodongkan pistolnya pada wajah Sukmanto, “Keluargaku mati satu persatu dibunuh oleh pihak pemerintah yang melakukan tindakkan refresif terhadap kita, orang-orang yang membunuh kecoa-kecoa kecil atas suruhan Jendral, atas nama pemerintahan yang dulu. Dan gara-gara kau identitasku terbongkar. Seandainya kau tak lari seperti pengecut!”.
                “Kau tahu bukan, aku sudah mengatakannya padamu bahwa aku akan menikah”.
                “Bangsat banyak alasan!”.
                Malam itu tepat di pusat kota, pesta kembang api begitu ramai menenggelamkan kepedihan-kepedihan luka-luka lama yang menjadi dosa-dosa kita sebagai manusia. Kegembiraan begitu melimpah ruah tak henti-henti disorak-sorakkan demi harapan-harapan baru di tahun mendatang yang akan segera datang dan mengubur harapan-harapan tahun-tahun lalu yang sebagian besar tidak tercapai oleh kita. Bunyi-bunyi teropet dan letusan-letusan kembang api tahun baru seakan menyamarkan sebuah letusan peluru yang dengan tepat melubangi dahi Sukamto.
               
                 
                Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar