Bahasa,
seperti yang kita kenal, ia menunjukan sebuah identitas bangsa. Karakteristik
dari sebuah bangsa yang berarti sebuah keutuhan dengan bahasa. Dari kalimat itu
kita sudah menyimpulkan bahwa adanya kecendrungan dari suatu stuktur masyarakat tertentu yaitu
dengan mengukur atau menilai suatu kelas seseorang dari cara bertutur. Kita
bisa membedakan mana yang pantas disebut bangsawan dan mana yang bukan, mana
yang bisa disebut petinggi dan mana yang rendahan, dengan kata lain bahasa dapat
menjadi suatu patokan tinggi rendahnya martabat dan latar belakang seseorang.
Hal ini dapat terlihat jelas dalam bahasa
jawa, misalnya seorang jawa yang mengaku sebagai priyayi, tetapi tidak tahu
dimana ia harus memakai kata sare dan
dimana ia harus memakai kata tilem
(yang dua-duanya berarti “tidur”) , dan seorang betawi yang bertingkah sebagai
pejabat tinggi Negara, tetapi tidak tahu dimana ia harus memakai kata saya dan dimana ia harus memakai kata gue (yang keduanya berarti menunjukan
diri sendiri) pasti ia tidak akan diakui sebagai anggota lapisan yang baik dan
dianggap kurang tahu adat.
Memang menakjubkan bagaimana bahasa itu dapat
menjadi remote control bagi jutaan
individu banyaknya, tempat orang mengukur diri dalam berbahasa dan beradat-istiadat.
Tetapi apakah bahasa kita sudah sangat benar-benar sempurna dengan kata lain
sudah menjadi suatu centre of excellent?
Bukankan bahasa kita –Indonesia – hanya suatu perkembangan dari bahasa melayu-riau saja yang dahulu hanya menjadi sebuah pengantar untuk seluruh Nusantara.
Bukankan bahasa kita –Indonesia – hanya suatu perkembangan dari bahasa melayu-riau saja yang dahulu hanya menjadi sebuah pengantar untuk seluruh Nusantara.
Mungkin tak ada jeleknya. Bahasa ini dengan
demikian mudah diikuti dan semakin luas dikenal. Dan lahir juga ejaan baru
sebagai pembakuan bahasa kita yang diperkenalkan dan dibuat oleh para ahli
bahasa. Tetapi dewasa ini bahasa bangsa kita semakin tidak jelas, dari
munculnya bahasa asing ditempat-tempat keramaian, lalu bahasa aneh yang sering
disebut alay dan lagi mencul sebuah
pemendekan kata –akronim – yang ada
tanpa sistem yang jelas. Bukankah itu masalah?
Kini di pintu-pintu masuk setiap hotel lebih
banyak pengunaan kata welcome
daripada kata selamat datang, memang penting mencoba mengerti dan memahami
bahasa asing tetapi jika lama-kelamaan kita mulai terikat dengan bahasa luar,
apa itu bukan suatu masalah? Belum selesai masalah itu kini hadir lagi bahasa
yang aneh –alay –yang contohnya mulai
marak pada iklan-iklan di media : ciyus,
miapah, enelan.
dan yang terparah bahasa alay itu pun ada di sebuah naskah ujian nasional. Apakah para ahli bahasa tidak memikirkan hal ini sampai-sampai masalah bisa masuk kedalam naskah ujian nasional, dan terlebih manjadi konsumsi publik di iklan-iklan yang beredar bebas.
dan yang terparah bahasa alay itu pun ada di sebuah naskah ujian nasional. Apakah para ahli bahasa tidak memikirkan hal ini sampai-sampai masalah bisa masuk kedalam naskah ujian nasional, dan terlebih manjadi konsumsi publik di iklan-iklan yang beredar bebas.
Penggunaan akronim –pemendekan kata – pun
mulai menyebar di media-media Koran, contohnya ada pada sebuah berita yang menceritakan
tentang pencurian kendaraan bermotor tetapi pada judul kolom berita itu malah
akronim dari pencurian kendaraan motor itu lah yaitu curanmor yang terpajang.
Apakah akronim ini termasuk kedalam sistem bahasa kita? Apakah ada sebuah
rumusan untuk memendekan suatu kata misalnya dari suku kata depan atau suku
kata belakang saja? Bukankah dalam tata bahasa hanya dijelaskan tentang kata
dasar dan kata turunan, kata ulang atau bentuk ulang, gabungan kata, cetak
miring, cetak tebal, tanda koma, titik, titik koma dan lain-lainnya. Tentulah
ini sebuah pertanyaan yang harus dijawab oleh para ahli bahasa, apakah bangsa
kita yang telah lama merdeka ini akan terus merana dalam kebahasaan yang
semakin tidak jelas.
Lalu dimakah identitas bangsa kita bila
bahasa kita masih tidak jelas seperti sekarang ini. bahasa yang telah tersusun
rapih dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) pun serasa tidak berguna,
contoh kata abaimana, candang, dursila, ebek, kenes dan lain-lain apakah
kata-kata itu dikenal oleh banyak orang? Tentu tidak, yang mengenal kata-kata
itu hanyalah para ahli bahasa dan yang mau mempeelajari bahasa saja. Lalu
dimanakah peran badan bahasa sebagai satu-satunya wadah untuk menjaga bahasa
kita, bahasa bangsa, bahasa pemersatu, Bahasa Indonesia.
Lalu bagaimana bahasa kita bisa dikenal dunia
bila bahasa kita ini sedang dalam ketidaktidakjelasan yang menjamur, bagaimana
kita memperkenalkan bahasa Indonesia kepada dunia sebagai identitas bangsa?
Akankah bangsa kita selalu dalam ketidak
jelasan bahasanya, ketidak jelasan identitas bangsanya, terus dijajahan oleh
bahasa-bahasa asing dan alay yang
semakin menyebar luar hingga menjadi konsumsi masyarakat yang makin lama
semakin merusak bangsa yang menjunjung tinggi bahasa pemersatu , Bahasa
Indonesia.
Mungkin
ada baiknya kita kembali membaca dan merenungkan sajak dari M. Yamin yang
berjudul “Bahasa bangsa” tentang bagaimana sebuah bangsa seharusnya berbahasa
dan memegang teguh bahwasanya tanpa bahasa maka bangsapun tiada.
Bahasa bangsa
(Muhammad Yamin)
Selagi kecil berusia muda,
Tidur sianak dipangkuan bunda
Ibu bernyanyi. Lagu dan dendang,
Memuji sianak banyaknya sedang
Berbuai sayang malam dan siang,
Buaian tergantung di tanah tuan
Terakhir dibangsa berbahasa sendiri,
Diapit keluarga kanan dan kiri,
Besar budiman di tanah Melayu
Berduka suka sertakan rayu,
Perasaan serikat menjadi padu,
Dalam bahasanya permain merdu
Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya
Bernafas kita pemanjangan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Dimana sumatra, disitu bangsa
Dimana perca, disana bahasa
Andalasku sayang, jana bejana,
Sejakkan kecil muda teruna
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa tiadakan pernah
Ingat pemuda, Sumatra malang
Tiada bahasa, bangsapun hilang
(1920)
(Muhammad Yamin)
Selagi kecil berusia muda,
Tidur sianak dipangkuan bunda
Ibu bernyanyi. Lagu dan dendang,
Memuji sianak banyaknya sedang
Berbuai sayang malam dan siang,
Buaian tergantung di tanah tuan
Terakhir dibangsa berbahasa sendiri,
Diapit keluarga kanan dan kiri,
Besar budiman di tanah Melayu
Berduka suka sertakan rayu,
Perasaan serikat menjadi padu,
Dalam bahasanya permain merdu
Meratap menangis bersuka raya
Dalam bahagia bala dan baya
Bernafas kita pemanjangan nyawa
Dalam bahasa sambungan jiwa
Dimana sumatra, disitu bangsa
Dimana perca, disana bahasa
Andalasku sayang, jana bejana,
Sejakkan kecil muda teruna
Sampai mati berkalang tanah
Lupa ke bahasa tiadakan pernah
Ingat pemuda, Sumatra malang
Tiada bahasa, bangsapun hilang
(1920)
Doni Ahmadi
Jakarta, 06.04.13
Jakarta, 06.04.13
Tidak ada komentar:
Posting Komentar