Sabtu, 10 November 2012

Cahaya Untuk Kubur Sang Penyair



Sebuah senja pada sebuah pekan terakhir dari jangka waktu pemberitaan yang seakan berlalu-lalang di berbagai media pemberitaan kini menjelang. Sebuah senja tentang penguburan dari seorang penyair terkenal yang mengguncangkan dunia dengan sajak-sajaknya yang indah, yang diberitakan pada seluruh dataran dan lautan Indonesia, tengah berlangsung. Sebuah acara penguburan yang dihadiri berbagai macam golongan, dari golongan rendah hingga golongan tinggi status sosialnya. Jasadnya telah rapi berbalut gaun kebesaran menghadap Tuhan, telah bermandikan wewangian dan berhembuskan nafas doa pada setiap kujur tubuh. Kini sang jasad telah siap untuk dikubur, dimasukkan ke dalam liang lahat, tanah merah basah terguyur sisa hujan tadi siang.
Isak tangis keluarga beserta derai air mata rakyat Indonesia mewarnai kepergiannya, kepergian sang penyair yang pergi tanpa pemberitahuan, yang bahkan pergi tanpa pewaris akan ilmunya yang seharusnya ilmunya terus mengalir untuk tanah Indonesia.
Prosesi penguburan telah selesai ketika hujan bintang menjembatani langit. Seluruh keluarga dan para kolega yang hadir kini tengah beringsut untuk pulang. Pulang pada kehidupannya masing-masing meninggalkan tanah kubur tempat bersemayamnya sang penyair yang penuh wewangian bunga-bunga sajak kematian.
Sebelum ketika sang malaikat datang menjemputnya, sang penyair telah tahu akan ajal yang menantinya dengan sebuah sajak ramalan kematian yang ia tuliskan. Sajak ramalan kematiannya. Sehingga ia dan seluruh keluarganya telah bersiap ketika sang malaikat pencabut nyawa mengayunkan sabitnya membelah jiwa dan raga sang penyair untuk dibawanya ke tangan Tuhan.
Kuburan itu terlihat seakan damai dikelilingi bebungaan dan taburan bintang berpemimpinkan bulan di atasnya. Doa-doa seakan menguap dari segala penjuru kuburan itu mengiringi perjalanan ruh sang penyair untuk sampai pada singgasana Tuhan. Tetapi sesuatu seakan terjadi, memutuskan rantai jembatan doa yang menghubungkannya ke jalan singgasana Tuhan.
“Gelap!!” sebuah pekikan keras menggemuruh seluruh kubur sang penyair, “malaikat, kenapa kau tidak memberitahuku bahwa tempat ini akan begitu gelap? Aku tak ingin meninggalkan tubuhku pada tempat gelap ini. Malaikat jawab aku!” ronta sang penyair menggerogoti tanah kubur.
Pertanyaan yang ia lontarkan untuk malaikat seakan tidak terdengar satupun jawab. “Jika kau tidak menjawab pertanyaanku, maka datanglah. Bawakan kuburku cahaya untuk tubuhku ini!” sebuah jawab sekan tidak terdengar kembali.
“Baiklah jika kau tidak ingin menjawab pertanyaanku dan tidak ingin membawakan tubuhku cahaya, maka akan kucari cahaya itu dengan tanganku sendiri!. Akan kubawa matahari ke kuburku!”.
Tubuh sang penyair meronta-ronta dalam gelap tanah, tanganya mengkais-kais merahnya tanah hingga lecet. Hingga gores. Hingga luka. Hingga darah. Hingga nanah. Hingga akhirnya tubuhnya tegak keluar dari kuburnya menantang langit.
“Apa ini?. Makhluk-makhluk hina, berani betul kau menggerogoti tubuhku!” sebuah kemarahan terlontar kembali dari mulut sang penyair ketika melihat beribu cacing mengigit grogot seluruh daging tubuhnya. Dihentak-hentakkan tubuhnya sehingga beribu cacing itu terjatuh dan terkapar menggeliat di atas tanah. “Rasakan itu!”.
Namun, tanpa disadari tubuhnya tiba-tiba saja menghujam tanah. “Apa ini? Kenapa tubuhku tak bisa bergerak?”. Kekagetan menjalari seluruh permukaan tubuh dan mental sang penyair. “Sialan!”.
Melihat tubuh sang penyair tergolek tak bergerak, ribuan cacing yang telah dihempaskan oleh sang penyair kembali berjalan memasuki setiap pori tubuh sang penyair, kembali menggerogoti tubuhnya. “Pergi kau makhluk hina! Jangan kau kembali menghancurkan tubuhku!”. Tanpa disadarinya ketika cacing-cacing itu memasuki setiap pori tubuhnya, tubuh sang penyair dengan seketika dapat kembali bergerak berguling-guling ke sana kemari.
“Apa ini?! Kenapa tanpa bantuan cacing-cacing ini tubuhku tak dapat bergerak? Kurang ajar!” geramnya menraung dunia. “Jika aku tetap membiarkan cacing-cacing ini tetap di tubuhku maka tubuhku niscaya akan hancur, dan aku tak akan dapat membawa matahari ke kuburku” sebuah perasaan kalut mengerubungi pikirannya, “aku harus cepat sebelum tubuhku hancur”.
Sang penyair berjalan meninggalkan tanah pekuburan di mana merupakan tempat ia disemayamkan. Dilihatnya langit bertabur bintang menghiasi seluruh jagat alam semesta raya. Di manakah matahari? Pikirannya melayang tentang keberadaan matahari. Dengan apa dia kan sampai pada matahari? Kembali waktu semakin ia tipiskan dengan berbagai macam pikiran.
“Aku adalah penyair. Aku adalah Tuhan dari kata. Dengan kata aku dapat menjadi Tuhan. Dengan kata aku dapat menciptakan dan menjadikan sesuatu. Dengan kata aku akan membuat sebuah jembatan, jembatan menuju matahari. Dengan jembatan kata itu aku kan membawa matahari” diciptakannya sebuah jembatan menuju matahari dengan beribu kata. Tidak, berjuta kata. Ahh tidak, bermiliar-miliar kata akan ia gunakan untuk sampai pada matahari. Jembatan dari bermiliar-miliar kata itu seakan begitu indah dan agung bagi yang melihatnya, keindahan dan keagungannya seakan hampir menyamai keindahan dan keagungan Nirwana. Tak ada yang dapat melukiskannya. Kecuali Tuhan.
Dia berjalan meniti tiap titian jembatan yang ia buat dengan bermiliar-miliar kata dengan sangat cepat, untuk memburu waktu. Dia tidak akan mati tercekik karena kehabisan oksigen bila ia telah mencapai angkasa luar sana karena ia adalah mayat. Mayat yang tidak memerlukan oksigen untuk hidup. Mayat yang kembali hidup karena sebuah keinginan yang ingin ia capai, sebuah keinginan yang tidak mayat lainnya inginkan karena ia adalah mayat seorang penyair. Penyair yang agung.
Telah sampailah ia pada matahari yang bara cahayanya menjilat-jilat hingga seluruh ruang hampa udara angkasa raya yang begitu luas. Bara apinya terpancar ke segala penjuru kehidupan, memanaskan setiap pori-pori tubuh sang penyair yang telah menjasad.
“Aku kan membawamu ke kuburku yang gelap dan sunyi dingin wahai matahari yang memancarkan berjuta cahaya kehidupan” dengan berjuta kata dibuatnya sebuah rantai yang ia ikatkan pada seluruh permukaan matahari. Tak akan putus rantai itu karena rantai itu terbuat dari kata, kata yang tidak kan terkelupas karena bara api cahaya yang melumerkan dan menghanguskan.
Sebelum ia tarik matahari itu keluar dari kursi jabatannya, ia melihat pada bumi. Alangkah kecilnya bumi ini bila dibandingkan matahari yang ukurannya begitu besar. “Aku akan membunuh bumi bila matahari ini sampai pada bumi. Akan hancur kubur persemayamanku” seakan niatnya menciut untuk membawa matahari. Sirna menjadi debu. “Jika tidak matahari, maka bulan akan kubawa”. Ukuran bulan memang tidaklah lebih besar dari matahari begitu pula tidak lebih besar dari bumi, maka tepat.
Ia kembali menggelar jembatan menuju peraduan bulan yang bersemai indah pada orbitnya. Perjalanan menuju bulan memang tidaklah mudah bila dibandingkan menuju matahari, begitu banyak batu ruang angkasa yang terbang melintas pada jalan menuju jalan bulan. Jika pada perjalanan menuju matahari memang lebih banyak batu angkasa yang beterbangan, namun begitu ia terbang melintas dekat dengan matahari maka ia akan lebur mendebu akibat sengatan dan pancaran lidah api yang menyentuh permukaan kulitnya.
Rintangan berat kini telah ia lalui dengan cukup mudah karena, ketika batu angkasa yang terbang menuju ke arah hamparan jembatan yang ia ciptakan, ia gunakan gada, pedang dan berbagai macam senjata lainnya dari kata-kata untuk menghancurkan batu angkasa itu dengan mudah. Hingga telah sampailah ia pada bulan itu berada.
Sebuah nyeri ia rasakan pada tubuhnya. Astaga! daging tubuhnya kini mulai lepas sedikit demi sedikit akibat cacing yang terpaksa ia biarkan hidup di tubuhnya hanya untuk sekedar dapat menggerakkan tubuhnya. Ia terus terburu akan waktu, yang seakan ia dapat rasakan bahwa apa yang ia lakukan seakan tidak berguna karena ia kembali menemukkan hal yang mustahil. Bulan tidaklah menciptakan cahaya ia hanya memantulkan cahaya yang dipancarkan oleh matahari kepadanya. Bulan tidak akan memberikkan sinar untuk kuburnya. Lalu apa? Apa lagi yang harus ia bawa untuk menyinari kuburnya? Listrikkah? Lampukah? Senterkah? Kunang-kunangkah? Manusiakah? Bidadarikah? Ya bidadari,  ia mulai berpikir bahwa bidadarilah yang dapat memancarkan sinar cahaya. Tidak ada lagi yang lain selain bidadari, selama ini ia selalu menggambarkan bidadari pada sajak-sajak ciptaannya merupakan makhluk yang bercahaya sepanjang waktu tak kunjung padam. Tapi di manakah dia? Siapakah dia?
Sang penyair kembali hanyut dalam pikirannya, merenung. Merenung dalam keindahan bulan yang selalu ia lukisan tentang keindahan cintanya terhadap sang istri, bagaimana ia selalu memberikkan tawa kepada bintang-bintang yang berdendang dalam gelapnya langit dalam sunyinya angkasa. Memberikkan mereka alas an untuk tetap mempertahankan sinarnya menerangi beribu galaksi alam semesta raya. “Tunggu dulu, istri? Ya istriku, istriku adalah bidadari yang aku cari. Aku harus membawa dia” pikirnya dalam kekalutan waktu.
Dibentangkannya kembali jembatan yang tadi ia gunakkan untuk membawa dirinya menuju matahari dan menuju bulan untuk sekarang membawanya menuju kembali ke bumi, meuju rumahnya. Dimana tempat sang bidadari berada. Tempat istrinya.
Dilihat dari balik jendela rumahnya, sang istri tengah tertidur lelap memimpikan tentang kehidupan yang akan ia lalui tanpa kehadiran sang suami yang dahulu senantiasa menghadapi problema masalah kehidupan bersama, kini telah tiada. Meski semua kecukupan yang ia perlukan dan yang anak-anak mereka perlukan tidak lagi harus dipikirkan lagi hingga akhir ia datang, bergandeng tangan menjemput hari akhir bersama sang suami yang telah mendahuluinya menhadap kuasa tangan Tuhan.
Sang penyair membuka pintu rumahnya, yang ia tahu bahwa sang istri tidak mungkin menguncinya karena ia tahu bahwa sang istri masih belum merelakan ia pergi lebih dahulu. Masih mengharapkan untuk sang suami kembali pulang padanya. Dilewatinya ruang tamu dan ruang keluarga yang penuh kenangan kehidupan bersama keluarganya, hingga pada air mata yang sekarang menetes hingga pintu kamar ia dan istrinya. Didekati tubuh istrinya yang lelap dalam tidur.
“Kau masih cantik, Elsa. Seperti dahulu kita bertemu” tangannya ia dekatkan dengan wajah sang istri yang ia cintai. “Aku baru beberapa hari amataku telah tertutup meninggalkan dirimu, tetapi kau telah merindukkan aku dengan sinar wajahmu, Elsa” diusapnya kening sang istri. “kau memang bidadariku”.
Tiba-tiba saja sang istri berteriak membuka matanya. Ia ketakutan melihat bahwa sang suaminya kini telah berdiri di hadapannya, mengusap keningnya.  Sebuah ketakutan ang amat sangat.
“Tenanglah istriku, ini aku suamimu” ucap sang penyair.
“Kau… kau apa yang kau lakukan di sini?” sebuah ketakutan memancar deras pada diri sang istri.
“Aaaa.. aku hanya ingin melihatmu”.
“Kau pasti Iblis! Kau pasti Iblis! Pergilah! Pergi!”.
“Tenang, tenanglah ini aku suamimu. Seorang penyair hebat”.
“Tidak! Tidak mungkin kau suamiku! Suamiku telah mati!”.
“Aku memang telah mati, tapi aku hidup kembali untuk bertemu denganmu, Elsa”.
Sang istri terus menjerit ketakutan melihat suaminya tengah bangkit dari kuburnya dan kini ia telah berdiri di hadapannya dengan keadaan yang begitu buruk. Daging-daging tubuhnya kini telah menghilang, menampakkan putihnya tulang-tulang tubuh khas seorang manusia. Dengan terpaksa sang penyair berlari pergi, takut akan kehadiran anak-anaknya yang hanya akan memperkeruh keadaan. Dilihat dari kejauhan anak-anaknya memeluk mencoba menenangkan kekalutan sang ibu.
“Aku tidak mungkin membawanya pula, aku lupa akan anank-anakku yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua. lagipula ia pun pasti akan mati sama seperti halnya diriku” sebuah keputus asaan melanda jiwa sang penyair yang kini seakan tidak memiliki tekad kembali.
Dilihatnya ke tanah sebuah Koran yang memberitakan tentang dirinya terserak terhampar. Diambil dan dibacanya koran tersebut. “Indonesia kini tengah berduka atas dua hal. Yang pertama adalah berita tentang kematian seorang penyair hebat Indonesia dan yang kedua adalah kematian dari penyair tersebut yang tidak meninggalkan ilmunya kepada para pewaris generasi baru Indonesia…..”.
“Sekarang aku tahu bahwa kenapa kuburku begitu gelap” sang penyair kembali berjalan menuju kuburnya dengan sebuah perasaan yang sedih, “Aku telah menerima kegelapan kuburku”.
Di berjalan kembali masuk ke dalam lubang kuburnya dan membaringkan tubuhnya kembali di atas tanah yang merah, menutup rapat lubang kuburnya rapat-rapat. Memejamkan mata.

Beribu kata kuukir dalam sebuah jembatan
Antara bumi, matahari, dan bulan
Entah kapan waktu seakan mencampakkan
Namun bidadari tetap telah pergi
Aku kini lelap dan tunggu



Ridwan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar