Sebuah senja pada sebuah pekan
terakhir dari jangka waktu pemberitaan yang seakan berlalu-lalang di berbagai
media pemberitaan kini menjelang. Sebuah senja tentang penguburan dari seorang
penyair terkenal yang mengguncangkan dunia dengan sajak-sajaknya yang indah, yang
diberitakan pada seluruh dataran dan lautan Indonesia, tengah berlangsung.
Sebuah acara penguburan yang dihadiri berbagai macam golongan, dari golongan
rendah hingga golongan tinggi status sosialnya. Jasadnya telah rapi berbalut
gaun kebesaran menghadap Tuhan, telah bermandikan wewangian dan berhembuskan
nafas doa pada setiap kujur tubuh. Kini sang jasad telah siap untuk dikubur,
dimasukkan ke dalam liang lahat, tanah merah basah terguyur sisa hujan tadi
siang.
Isak tangis keluarga beserta derai
air mata rakyat Indonesia mewarnai kepergiannya, kepergian sang penyair yang
pergi tanpa pemberitahuan, yang bahkan pergi tanpa pewaris akan ilmunya yang
seharusnya ilmunya terus mengalir untuk tanah Indonesia.
Prosesi penguburan telah selesai
ketika hujan bintang menjembatani langit. Seluruh keluarga dan para kolega yang
hadir kini tengah beringsut untuk pulang. Pulang pada kehidupannya
masing-masing meninggalkan tanah kubur tempat bersemayamnya sang penyair yang
penuh wewangian bunga-bunga sajak kematian.
Sebelum ketika sang malaikat datang
menjemputnya, sang penyair telah tahu akan ajal yang menantinya dengan sebuah
sajak ramalan kematian yang ia tuliskan. Sajak ramalan kematiannya. Sehingga ia
dan seluruh keluarganya telah bersiap ketika sang malaikat pencabut nyawa
mengayunkan sabitnya membelah jiwa dan raga sang penyair untuk dibawanya ke
tangan Tuhan.
Kuburan itu terlihat seakan damai
dikelilingi bebungaan dan taburan bintang berpemimpinkan bulan di atasnya.
Doa-doa seakan menguap dari segala penjuru kuburan itu mengiringi perjalanan
ruh sang penyair untuk sampai pada singgasana Tuhan. Tetapi sesuatu seakan
terjadi, memutuskan rantai jembatan doa yang menghubungkannya ke jalan
singgasana Tuhan.
“Gelap!!” sebuah pekikan keras
menggemuruh seluruh kubur sang penyair, “malaikat, kenapa kau tidak
memberitahuku bahwa tempat ini akan begitu gelap? Aku tak ingin meninggalkan
tubuhku pada tempat gelap ini. Malaikat jawab aku!” ronta sang penyair
menggerogoti tanah kubur.
Pertanyaan yang ia lontarkan untuk
malaikat seakan tidak terdengar satupun jawab. “Jika kau tidak menjawab
pertanyaanku, maka datanglah. Bawakan kuburku cahaya untuk tubuhku ini!” sebuah
jawab sekan tidak terdengar kembali.
“Baiklah jika kau tidak ingin
menjawab pertanyaanku dan tidak ingin membawakan tubuhku cahaya, maka akan
kucari cahaya itu dengan tanganku sendiri!. Akan kubawa matahari ke kuburku!”.
Tubuh sang penyair meronta-ronta
dalam gelap tanah, tanganya mengkais-kais merahnya tanah hingga lecet. Hingga
gores. Hingga luka. Hingga darah. Hingga nanah. Hingga akhirnya tubuhnya tegak
keluar dari kuburnya menantang langit.
“Apa ini?. Makhluk-makhluk hina,
berani betul kau menggerogoti tubuhku!” sebuah kemarahan terlontar kembali dari
mulut sang penyair ketika melihat beribu cacing mengigit grogot seluruh daging
tubuhnya. Dihentak-hentakkan tubuhnya sehingga beribu cacing itu terjatuh dan
terkapar menggeliat di atas tanah. “Rasakan itu!”.
Namun, tanpa disadari tubuhnya
tiba-tiba saja menghujam tanah. “Apa ini? Kenapa tubuhku tak bisa bergerak?”.
Kekagetan menjalari seluruh permukaan tubuh dan mental sang penyair. “Sialan!”.
Melihat tubuh sang penyair tergolek
tak bergerak, ribuan cacing yang telah dihempaskan oleh sang penyair kembali
berjalan memasuki setiap pori tubuh sang penyair, kembali menggerogoti
tubuhnya. “Pergi kau makhluk hina! Jangan kau kembali menghancurkan tubuhku!”.
Tanpa disadarinya ketika cacing-cacing itu memasuki setiap pori tubuhnya, tubuh
sang penyair dengan seketika dapat kembali bergerak berguling-guling ke sana
kemari.
“Apa ini?! Kenapa tanpa bantuan
cacing-cacing ini tubuhku tak dapat bergerak? Kurang ajar!” geramnya menraung
dunia. “Jika aku tetap membiarkan cacing-cacing ini tetap di tubuhku maka
tubuhku niscaya akan hancur, dan aku tak akan dapat membawa matahari ke
kuburku” sebuah perasaan kalut mengerubungi pikirannya, “aku harus cepat
sebelum tubuhku hancur”.
Sang penyair berjalan meninggalkan
tanah pekuburan di mana merupakan tempat ia disemayamkan. Dilihatnya langit bertabur
bintang menghiasi seluruh jagat alam semesta raya. Di manakah matahari?
Pikirannya melayang tentang keberadaan matahari. Dengan apa dia kan sampai pada
matahari? Kembali waktu semakin ia tipiskan dengan berbagai macam pikiran.
“Aku adalah penyair. Aku adalah
Tuhan dari kata. Dengan kata aku dapat menjadi Tuhan. Dengan kata aku dapat
menciptakan dan menjadikan sesuatu. Dengan kata aku akan membuat sebuah
jembatan, jembatan menuju matahari. Dengan jembatan kata itu aku kan membawa
matahari” diciptakannya sebuah jembatan menuju matahari dengan beribu kata.
Tidak, berjuta kata. Ahh tidak, bermiliar-miliar kata akan ia gunakan untuk
sampai pada matahari. Jembatan dari bermiliar-miliar kata itu seakan begitu
indah dan agung bagi yang melihatnya, keindahan dan keagungannya seakan hampir
menyamai keindahan dan keagungan Nirwana. Tak ada yang dapat melukiskannya.
Kecuali Tuhan.
Dia berjalan meniti tiap titian
jembatan yang ia buat dengan bermiliar-miliar kata dengan sangat cepat, untuk
memburu waktu. Dia tidak akan mati tercekik karena kehabisan oksigen bila ia
telah mencapai angkasa luar sana karena ia adalah mayat. Mayat yang tidak
memerlukan oksigen untuk hidup. Mayat yang kembali hidup karena sebuah
keinginan yang ingin ia capai, sebuah keinginan yang tidak mayat lainnya
inginkan karena ia adalah mayat seorang penyair. Penyair yang agung.
Telah sampailah ia pada matahari
yang bara cahayanya menjilat-jilat hingga seluruh ruang hampa udara angkasa
raya yang begitu luas. Bara apinya terpancar ke segala penjuru kehidupan,
memanaskan setiap pori-pori tubuh sang penyair yang telah menjasad.
“Aku kan membawamu ke kuburku yang
gelap dan sunyi dingin wahai matahari yang memancarkan berjuta cahaya
kehidupan” dengan berjuta kata dibuatnya sebuah rantai yang ia ikatkan pada
seluruh permukaan matahari. Tak akan putus rantai itu karena rantai itu terbuat
dari kata, kata yang tidak kan terkelupas karena bara api cahaya yang
melumerkan dan menghanguskan.
Sebelum ia tarik matahari itu
keluar dari kursi jabatannya, ia melihat pada bumi. Alangkah kecilnya bumi ini
bila dibandingkan matahari yang ukurannya begitu besar. “Aku akan membunuh bumi
bila matahari ini sampai pada bumi. Akan hancur kubur persemayamanku” seakan
niatnya menciut untuk membawa matahari. Sirna menjadi debu. “Jika tidak
matahari, maka bulan akan kubawa”. Ukuran bulan memang tidaklah lebih besar
dari matahari begitu pula tidak lebih besar dari bumi, maka tepat.
Ia kembali menggelar jembatan
menuju peraduan bulan yang bersemai indah pada orbitnya. Perjalanan menuju
bulan memang tidaklah mudah bila dibandingkan menuju matahari, begitu banyak
batu ruang angkasa yang terbang melintas pada jalan menuju jalan bulan. Jika
pada perjalanan menuju matahari memang lebih banyak batu angkasa yang
beterbangan, namun begitu ia terbang melintas dekat dengan matahari maka ia
akan lebur mendebu akibat sengatan dan pancaran lidah api yang menyentuh
permukaan kulitnya.
Rintangan berat kini telah ia lalui
dengan cukup mudah karena, ketika batu angkasa yang terbang menuju ke arah hamparan
jembatan yang ia ciptakan, ia gunakan gada, pedang dan berbagai macam senjata
lainnya dari kata-kata untuk menghancurkan batu angkasa itu dengan mudah.
Hingga telah sampailah ia pada bulan itu berada.
Sebuah nyeri ia rasakan pada
tubuhnya. Astaga! daging tubuhnya kini mulai lepas sedikit demi sedikit akibat
cacing yang terpaksa ia biarkan hidup di tubuhnya hanya untuk sekedar dapat
menggerakkan tubuhnya. Ia terus terburu akan waktu, yang seakan ia dapat
rasakan bahwa apa yang ia lakukan seakan tidak berguna karena ia kembali
menemukkan hal yang mustahil. Bulan tidaklah menciptakan cahaya ia hanya
memantulkan cahaya yang dipancarkan oleh matahari kepadanya. Bulan tidak akan
memberikkan sinar untuk kuburnya. Lalu apa? Apa lagi yang harus ia bawa untuk menyinari
kuburnya? Listrikkah? Lampukah? Senterkah? Kunang-kunangkah? Manusiakah?
Bidadarikah? Ya bidadari, ia mulai
berpikir bahwa bidadarilah yang dapat memancarkan sinar cahaya. Tidak ada lagi
yang lain selain bidadari, selama ini ia selalu menggambarkan bidadari pada
sajak-sajak ciptaannya merupakan makhluk yang bercahaya sepanjang waktu tak
kunjung padam. Tapi di manakah dia? Siapakah dia?
Sang penyair kembali hanyut dalam
pikirannya, merenung. Merenung dalam keindahan bulan yang selalu ia lukisan
tentang keindahan cintanya terhadap sang istri, bagaimana ia selalu memberikkan
tawa kepada bintang-bintang yang berdendang dalam gelapnya langit dalam
sunyinya angkasa. Memberikkan mereka alas an untuk tetap mempertahankan
sinarnya menerangi beribu galaksi alam semesta raya. “Tunggu dulu, istri? Ya
istriku, istriku adalah bidadari yang aku cari. Aku harus membawa dia” pikirnya
dalam kekalutan waktu.
Dibentangkannya kembali jembatan
yang tadi ia gunakkan untuk membawa dirinya menuju matahari dan menuju bulan
untuk sekarang membawanya menuju kembali ke bumi, meuju rumahnya. Dimana tempat
sang bidadari berada. Tempat istrinya.
Dilihat dari balik jendela
rumahnya, sang istri tengah tertidur lelap memimpikan tentang kehidupan yang
akan ia lalui tanpa kehadiran sang suami yang dahulu senantiasa menghadapi
problema masalah kehidupan bersama, kini telah tiada. Meski semua kecukupan
yang ia perlukan dan yang anak-anak mereka perlukan tidak lagi harus dipikirkan
lagi hingga akhir ia datang, bergandeng tangan menjemput hari akhir bersama
sang suami yang telah mendahuluinya menhadap kuasa tangan Tuhan.
Sang penyair membuka pintu
rumahnya, yang ia tahu bahwa sang istri tidak mungkin menguncinya karena ia
tahu bahwa sang istri masih belum merelakan ia pergi lebih dahulu. Masih
mengharapkan untuk sang suami kembali pulang padanya. Dilewatinya ruang tamu
dan ruang keluarga yang penuh kenangan kehidupan bersama keluarganya, hingga
pada air mata yang sekarang menetes hingga pintu kamar ia dan istrinya.
Didekati tubuh istrinya yang lelap dalam tidur.
“Kau masih cantik, Elsa. Seperti
dahulu kita bertemu” tangannya ia dekatkan dengan wajah sang istri yang ia
cintai. “Aku baru beberapa hari amataku telah tertutup meninggalkan dirimu,
tetapi kau telah merindukkan aku dengan sinar wajahmu, Elsa” diusapnya kening
sang istri. “kau memang bidadariku”.
Tiba-tiba saja sang istri berteriak
membuka matanya. Ia ketakutan melihat bahwa sang suaminya kini telah berdiri di
hadapannya, mengusap keningnya. Sebuah
ketakutan ang amat sangat.
“Tenanglah istriku, ini aku
suamimu” ucap sang penyair.
“Kau… kau apa yang kau lakukan di
sini?” sebuah ketakutan memancar deras pada diri sang istri.
“Aaaa.. aku hanya ingin melihatmu”.
“Kau pasti Iblis! Kau pasti Iblis!
Pergilah! Pergi!”.
“Tenang, tenanglah ini aku suamimu.
Seorang penyair hebat”.
“Tidak! Tidak mungkin kau suamiku!
Suamiku telah mati!”.
“Aku memang telah mati, tapi aku
hidup kembali untuk bertemu denganmu, Elsa”.
Sang istri terus menjerit ketakutan
melihat suaminya tengah bangkit dari kuburnya dan kini ia telah berdiri di
hadapannya dengan keadaan yang begitu buruk. Daging-daging tubuhnya kini telah
menghilang, menampakkan putihnya tulang-tulang tubuh khas seorang manusia.
Dengan terpaksa sang penyair berlari pergi, takut akan kehadiran anak-anaknya
yang hanya akan memperkeruh keadaan. Dilihat dari kejauhan anak-anaknya memeluk
mencoba menenangkan kekalutan sang ibu.
“Aku tidak mungkin membawanya pula,
aku lupa akan anank-anakku yang masih membutuhkan kasih sayang orang tua.
lagipula ia pun pasti akan mati sama seperti halnya diriku” sebuah keputus
asaan melanda jiwa sang penyair yang kini seakan tidak memiliki tekad kembali.
Dilihatnya ke tanah sebuah Koran
yang memberitakan tentang dirinya terserak terhampar. Diambil dan dibacanya
koran tersebut. “Indonesia kini tengah berduka atas dua hal. Yang pertama
adalah berita tentang kematian seorang penyair hebat Indonesia dan yang kedua
adalah kematian dari penyair tersebut yang tidak meninggalkan ilmunya kepada
para pewaris generasi baru Indonesia…..”.
“Sekarang aku tahu bahwa kenapa
kuburku begitu gelap” sang penyair kembali berjalan menuju kuburnya dengan
sebuah perasaan yang sedih, “Aku telah menerima kegelapan kuburku”.
Di berjalan kembali masuk ke dalam
lubang kuburnya dan membaringkan tubuhnya kembali di atas tanah yang merah,
menutup rapat lubang kuburnya rapat-rapat. Memejamkan mata.
Beribu kata kuukir dalam sebuah jembatan
Antara bumi, matahari, dan bulan
Entah kapan waktu seakan mencampakkan
Namun
bidadari tetap telah pergi
Aku
kini lelap dan tunggu
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar