Selasa, 25 September 2012

Terlantar ?



“Hidup mahasiswa, hidup rakyat indoensia. Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia. Hidup mahasiswa, hidup rakyat indoensia.”
Itulah seruan yang seringkali dilakukan oleh para mahasiswa ketika sedang melakukan demonstrasi. Dengan almameternya yang berkonstruksi, mahasiswa begitu semangat berkoar-koar dalam demonstrasinya.
Dari kolong-kolong jembatan aku sering melihat para mahasiswa berdemonstrasi untuk memperjuangkan hak rakyat. Aku memahami dan memperhatikan kenapa mereka begitu semangatnya memperjuangkan hak-hak rakyat melalui aksi demonstrasinya. Pernah suatu saat ketika aku sedang berjalan, aku mndapatkan mahasiswa sedang beramai-ramai berkumpul di jalan. Pikirku mereka hanya berkumpul saja. Ternyata tidak. Sekumpulan mahasiswa tersebut membawa sebuah spanduk besar yang bertuliskan “WAHAI PEMERINTAH TOLONG PERHATIKAN PASAL 34 AYAT 1 UNDANG-UNDANG DASAR (UUD) ’45.” Sontak aku bertanya-tanya dengan tulisan yang memang sepertinya sengaja dibuat huruf besar semua.
”Itu kok tulisan di spanduknya huruf besar semua ya? Seperti tulisan sms kamu aja kalao marah ke aku yank.” Terdengar suara  seoarang wanita terhadap laki-laki yang berada disebelahku. Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang tengah di mabuk asmara. Dan akhirnya aku paham sekarang kenapa tulisannya sengaja di buat huruf besar. Ternyata mahasiswa ini marah terhadap pemerintahan.
Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku apa isi pasal 34 ayat 1 itu. Apa maksudnya. Meski aku orangnya tak peduli terhadap demo-demo seperti ini karena menurutku berdemo hanya mengganggu aktivitas masyarakat saja. Itu pun kalau berdemo berlangsung secara anarkis. Namun tidak dengan demo yang satu ini. Hati dan pikiranku terasa penasaran sekali dengan tulisan yang tertimbun di spanduk itu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti ini. Ketika aku sedang berpikir tentang pasal 34 ayat 1, tiba-tiba saja mataku terarah ke spanduk yang lainnya. Di atas sehelai kain spanduk itu bertulis sebuah kalimat yang menggetarkan hatiku, isi kalimat itu ialah, “Pahamilah isi pasal 34 ayat 1 ini wahai pemerintah. Isinya: orang miskin dan orang-orang yang terlantar dipelihara oleh Negara ([asal 34 ayat 1).” Kali ini hurufnya ditulis dengan huruf kecil saja. Aku tak tau kenapa alasannya kalau sekarang.
Lanjutlah aku mempertanyakan isi pasal tersebut. Dalam hatiku berkata,”kalau memang benar pasal itu berisikan hal demikian, berarti selama ini aku harus meminta pertanggungjawaban kepada Negara yang dikuasai oleh pemerintah. Namun yang aku bingungkan kepada siapa pertanggungjawaban itu ditujukan. Ke pemerintahkah? Karena menurutku pemerintah punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya. Atau mungkin kepada para habib? Ah sepertinya itu tidak mungkin juga. Karena para habib di Indonesia pasti sibuk dengan dakwahnya yang kerap kali menutup jalan-jalan umum untuk melangsungkan acara dakwahnya. Pemerintahlah yang menurutku seharusnya bertanggungjawab. Sebab, kata “Negara” yang tertulis di pasal 34 ayat 1 itu maksudnya ialah untuk mereka yang mengurusi rumah tangga segala Negara. Mereka itu tentu saja pemerintah. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah bagaimana caraku agar meminta pertanggungjawaban atas keterlantaranku? Ah sudahlah makin pusing saja aku memikirkan yang belum jelas dasar-dasarnya bagiku.
Syahdan, dari sekian banyak para mahasiswa yang berdemonstrasi, ada satu mahasiswa yang membuat pandangan mataku terus terpana pada mahasisa tersebut. Terlihat di sebelah sisi kiri dadanya terukir sebuah nama Noto Nogoro. Melihat nama tersebut aku sejenak teringat akan kemistikan nama Noto Negoro.
***
Aku pernah mendengar seorang Budayawan memfilosofikan nama yang penuh dengan kemistikan itu. Disebuah acara bakti social ia pernah mengatakan,“No-To-No-Go-Ro merupakan singkatan dari para pemimpin yang sudah dan yang akan memimpin bangsa Indonesia ini. “No” itu berarti Soekarno. “To” itu berarti Soeharto. Lalu “No” yang lainnya ialah Yudhoyono. Mereka kesemua itu yang masuk dalam hitungan no-to-no-go-ro yang akan membawa dampak yang cukup besar bagi bangsa Indonesia ini. Kabarnya, jika no-to-no-go-ro sudah terisi semua maka Negara Indonesia ini akan menjadi makmur.”
Belum jelas bagiku apakah statement itu hanya guyonan saja atau mungkin serius. Aku terus memikirkan teka-teki nama yang belum terpakai, yaitu “Go” dan “Ro”. Apakah “Go” dan “Ro” ini memang benar ada atau tidak. Atau mungkin bahkan Go dan Ro ini sedang dipingit. Entahlah. Mudah-mudahan Budayawan tersebut hanya main-main saja dalam mengeluarkan statement tersebut. Karena ini sama saja mengkultuskan sesuatu yang kurang berdasar asal-usulnya. 
***
Wajahnya yang penuh dengan keheroikan serta omongannya yang paling berkoar-koar, membuat mataku terus tertegun pada sosok laki-laki itu, Noto Nogoro. Panasnya matahari tak menghalanginya. Tangannya mengepal sambil menaik-turunkan seraya mengatakan, “Hidup mahasiswa, hidup rakyat indonesia. Lakukan reformasi. Berantas semua KKN.”
“Dar..der…dor,” suara senapan tiba-tiba berdentung. Sekelompok orang berpakaian aparat melepaskan tembakan. Tidak semua tentara membawa senapan. Bagi tentara yang tidak membawa pistol, mereka hanya memukul-mukuli para demonstran.
Secepat kilat aku langsung membereskan botol-botol minuman bekas. Lalu aku langsung memasukinya ke’ keranjang kehidupanku’. Lansung saja aku berlari mencari tempat yang aman. Tanpa pikir panjang, seperti mendapat wahyu saja aku langsung berlari ke bawah jembatan kali. Pikirku di bawah jembatan itu akan aman. Berdiamlah aku sejenak dibawah jembatan itu. Gemercik air memberikan suara yang sedikit meneduhkan keteganganku. Aku letakkan ‘keranjang kehidupanku’ di tempat yang tidak terkena air.
Tidak lama berselang ada suara seperti benda jatuh ke kali.
“Jebuuuur..,” seperti suara benda yang jatuh ke air. Mataku langsung menuju kearah suara benda yang jatuh ke air tersebut. Ternyata bukanlah benda yang jatuh, melainkan seorang manusia yang mencemplungkan diri ke kali yang sama denganku. Dengan langkah yang berat karena berjalan di bawah air, orang tersebut akhirnya sampai juga di tempat bawah jembatan kali. Sekitar jarak 5 meter dia tepat di depanku. Badannya yang membelakangiku membuat aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Apakah takut, gembira, sedih, atau bahkan mungkin kecewa.
Berjongkoklah orang tersebut didalam kubangan air kali. Semakin penasaran aku dengan orang itu. Apa yang sebenarnya ia lakukan di bawah jembatan kali itu. Apakah dia bertujuan yang sama denganku, yaitu mengumpat dari kericuhan demonstrasi tersebut. Ataukah dia hanya orang gila yang ingin mencari tempat perenungan.
Dengan langkah yang perlahan aku mencoba mendekatinya. Sekitar jarak 2 meter dari tubuhku orang ini tidak bergeming sedikitpun. Orang ini terus berjongkok. Setapak demi setapak aku dekati terus orang ini. Ketika aku akan ingin menepuk punggungnya, kepala orang ini dengan cepat kilat langsung menoleh ke arahku. Wajahnya takut, pucat pasi.
“Oh Tuhan ternyata orang ini yang tadi aku perhatikan saat unjuk rasa berlangsung. Dialah Noto Nogoro,” kataku dalam hati.
Aku saling bertatap-tatap muka bagaikan dua orang yang saling mengagumi satu sama lain.
“Sedang apa kau disini?” tanyaku
“Saya sedang mengumpat.”
“Mengumpat dari apa? Dan dari siapa?”
“Saya mengumpat dari kejaran para aparat.”
“Kenapa kau harus takut pada aparat? Padahal kau ini kan mahasiswa? Presiden saja takut kepada mahasiswa. Mahasiswa itu kan pintar.” tanyaku dengan polos.
Dia pun menjawab,“para aparat itu menggunakan senjata, pak. Sedangkan aku tidak punya senjata untuk melawan. Kalau seandainya aparat itu tidak memakai senjata aku jiga berani melawannya. Saya ini mahasiswa, orang yang berpikir intelektual, tidak sepatutnya membalasnya dengan kekerasan atau anarkhis juga. Bagi aparat yang melakukan penembakan serta pemukulan kepada mahasiswa, itu tandanya aparat tidak punya rasa kemanusiaan. Dan aparat tersebut juga telah melanggar hak asasi manusia. Padahal aparat dan mahasiswa itu sama-sama warga Negara Indonesia. Yang semestinya harus bersatu. Bukan malah saling  melawan satu sama lain. Ataupun memusuhi antara sesama warga Negara Indonesia. Musuh kita semua ini saat ini adalah kemiskinan, korupsi, dan kebodohan.”
Lalu aku langsung bertanya lebih jauh lagi. “Bukankah negara kita kaya? Kenapa kita harus melawan kemiskinan?”
“Dengarlah sepenggal bait puisi dari W.S Rendra yang berjudul ‘orang-orang miskin’ ini: Jangan bilang Negara ini kaya kalau masih ada rakyatnya yang memakan bangkai. Dan jangan bilang Negara ini kaya hanya karena gedung-gedung tinggi yang ada di ibu kota. Memang benar jika dikatakan Negara kita kaya jika dilihat dari sisi alamnya. Namun kekayaan alam akan tertimbun jika hati dan moral para penguasa negeri ini masih miskin. Alhasil, kekayaan alam Negara ini tidak akan bermanfaat sama sekali. Tidah berharga!” sahut mahasiswa itu.
Aku sebagai orang yang tidak begitu luas wawasannya, merasa sangat bangga sekali bisa bertemu dengan mahasiswa yang namanya penuh dengan kemistikan ini, Notonogoro.
“Deeer…Daar….Dooor,” lagi-lagi suara tembekan terdengar. Dengan cepat aku lekas menyelamatkan diri. Saat itu pula aku terpisah dengan mahasiswa jenius itu. Aku tak tahu bagaimana nasib Notonogoro kala itu. Apakah selamat atau tidak. Yang pasti aku sangat kagum dengan pemikirannya. Begitu lugasnya ia menjelaskan tentang kemanusiaan dan hak-hak manusia. Aku merasa ingin tahu soal banyak dari pengetahuannya.
Sepanjang perjalananku pulang ke rumah aku selalu terbayang kata-kata dari mahasiswa itu. Dari hasil percakapanku dengan Notonogoro itu aku jadi berpikir kenapa Negara ini tidak berkemanusiaan yang adil dan beradab? Kenapa hidupku menjadi terlantar di negeri ini?

Harsaid Yogo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar