“Hidup
mahasiswa, hidup rakyat indoensia. Hidup mahasiswa, hidup rakyat Indonesia.
Hidup mahasiswa, hidup rakyat indoensia.”
Itulah seruan yang seringkali dilakukan
oleh para mahasiswa ketika sedang melakukan demonstrasi. Dengan almameternya yang
berkonstruksi, mahasiswa begitu semangat berkoar-koar dalam demonstrasinya.
Dari kolong-kolong jembatan aku sering
melihat para mahasiswa berdemonstrasi untuk memperjuangkan hak rakyat. Aku memahami
dan memperhatikan kenapa mereka begitu semangatnya memperjuangkan hak-hak
rakyat melalui aksi demonstrasinya. Pernah suatu saat ketika aku sedang
berjalan, aku mndapatkan mahasiswa sedang beramai-ramai berkumpul di jalan.
Pikirku mereka hanya berkumpul saja. Ternyata tidak. Sekumpulan mahasiswa
tersebut membawa sebuah spanduk besar yang bertuliskan “WAHAI PEMERINTAH TOLONG
PERHATIKAN PASAL 34 AYAT 1 UNDANG-UNDANG DASAR (UUD) ’45.” Sontak aku
bertanya-tanya dengan tulisan yang memang sepertinya sengaja dibuat huruf besar
semua.
”Itu kok tulisan di spanduknya huruf besar
semua ya? Seperti tulisan sms kamu aja kalao marah ke aku yank.” Terdengar
suara seoarang wanita terhadap laki-laki
yang berada disebelahku. Sepertinya mereka berdua adalah sepasang kekasih yang
tengah di mabuk asmara. Dan akhirnya aku paham sekarang kenapa tulisannya
sengaja di buat huruf besar. Ternyata mahasiswa ini marah terhadap
pemerintahan.
Aku terus bertanya-tanya dalam hatiku apa
isi pasal 34 ayat 1 itu. Apa maksudnya. Meski aku orangnya tak peduli terhadap
demo-demo seperti ini karena menurutku berdemo hanya mengganggu aktivitas
masyarakat saja. Itu pun kalau berdemo berlangsung secara anarkis. Namun tidak
dengan demo yang satu ini. Hati dan pikiranku terasa penasaran sekali dengan
tulisan yang tertimbun di spanduk itu. Entah apa yang membuatku menjadi seperti
ini. Ketika aku sedang berpikir tentang pasal 34 ayat 1, tiba-tiba saja mataku
terarah ke spanduk yang lainnya. Di atas sehelai kain spanduk itu bertulis
sebuah kalimat yang menggetarkan hatiku, isi kalimat itu ialah, “Pahamilah isi
pasal 34 ayat 1 ini wahai pemerintah. Isinya: orang miskin dan orang-orang yang
terlantar dipelihara oleh Negara ([asal 34 ayat 1).” Kali ini hurufnya ditulis
dengan huruf kecil saja. Aku tak tau kenapa alasannya kalau sekarang.
Lanjutlah aku mempertanyakan isi pasal
tersebut. Dalam hatiku berkata,”kalau memang benar pasal itu berisikan hal
demikian, berarti selama ini aku harus meminta pertanggungjawaban kepada Negara
yang dikuasai oleh pemerintah. Namun yang aku bingungkan kepada siapa
pertanggungjawaban itu ditujukan. Ke pemerintahkah? Karena menurutku pemerintah
punya kewajiban untuk menyejahterakan rakyatnya. Atau mungkin kepada para
habib? Ah sepertinya itu tidak mungkin juga. Karena para habib di Indonesia
pasti sibuk dengan dakwahnya yang kerap kali menutup jalan-jalan umum untuk
melangsungkan acara dakwahnya. Pemerintahlah yang menurutku seharusnya
bertanggungjawab. Sebab, kata “Negara” yang tertulis di pasal 34 ayat 1 itu
maksudnya ialah untuk mereka yang mengurusi rumah tangga segala Negara. Mereka
itu tentu saja pemerintah. Tapi yang menjadi pertanyaan selanjutnya ialah
bagaimana caraku agar meminta pertanggungjawaban atas keterlantaranku? Ah
sudahlah makin pusing saja aku memikirkan yang belum jelas dasar-dasarnya
bagiku.
Syahdan, dari sekian banyak para mahasiswa
yang berdemonstrasi, ada satu mahasiswa yang membuat pandangan mataku terus
terpana pada mahasisa tersebut. Terlihat di sebelah sisi kiri dadanya terukir
sebuah nama Noto Nogoro. Melihat nama tersebut aku sejenak teringat akan kemistikan
nama Noto Negoro.
***
Aku pernah mendengar seorang Budayawan
memfilosofikan nama yang penuh dengan kemistikan itu. Disebuah acara bakti
social ia pernah mengatakan,“No-To-No-Go-Ro merupakan singkatan dari para
pemimpin yang sudah dan yang akan memimpin bangsa Indonesia ini. “No” itu
berarti Soekarno. “To” itu berarti Soeharto. Lalu “No” yang lainnya ialah
Yudhoyono. Mereka kesemua itu yang masuk dalam hitungan no-to-no-go-ro yang
akan membawa dampak yang cukup besar bagi bangsa Indonesia ini. Kabarnya, jika
no-to-no-go-ro sudah terisi semua maka Negara Indonesia ini akan menjadi
makmur.”
Belum jelas bagiku apakah statement itu
hanya guyonan saja atau mungkin
serius. Aku terus memikirkan teka-teki nama yang belum terpakai, yaitu “Go” dan
“Ro”. Apakah “Go” dan “Ro” ini memang benar ada atau tidak. Atau mungkin bahkan
Go dan Ro ini sedang dipingit. Entahlah. Mudah-mudahan Budayawan tersebut hanya
main-main saja dalam mengeluarkan statement tersebut. Karena ini sama saja
mengkultuskan sesuatu yang kurang berdasar asal-usulnya.
***
Wajahnya
yang penuh dengan keheroikan serta omongannya yang paling berkoar-koar, membuat
mataku terus tertegun pada sosok laki-laki itu, Noto Nogoro. Panasnya matahari
tak menghalanginya. Tangannya mengepal sambil menaik-turunkan seraya
mengatakan, “Hidup mahasiswa, hidup rakyat indonesia. Lakukan reformasi.
Berantas semua KKN.”
“Dar..der…dor,” suara senapan tiba-tiba
berdentung. Sekelompok orang berpakaian aparat melepaskan tembakan. Tidak semua
tentara membawa senapan. Bagi tentara yang tidak membawa pistol, mereka hanya
memukul-mukuli para demonstran.
Secepat kilat aku langsung membereskan
botol-botol minuman bekas. Lalu aku langsung memasukinya ke’ keranjang
kehidupanku’. Lansung saja aku berlari mencari tempat yang aman. Tanpa pikir
panjang, seperti mendapat wahyu saja aku langsung berlari ke bawah jembatan
kali. Pikirku di bawah jembatan itu akan aman. Berdiamlah aku sejenak dibawah
jembatan itu. Gemercik air memberikan suara yang sedikit meneduhkan
keteganganku. Aku letakkan ‘keranjang kehidupanku’ di tempat yang tidak terkena
air.
Tidak lama berselang ada suara seperti
benda jatuh ke kali.
“Jebuuuur..,” seperti suara benda yang
jatuh ke air. Mataku langsung menuju kearah suara benda yang jatuh ke air
tersebut. Ternyata bukanlah benda yang jatuh, melainkan seorang manusia yang
mencemplungkan diri ke kali yang sama denganku. Dengan langkah yang berat
karena berjalan di bawah air, orang tersebut akhirnya sampai juga di tempat
bawah jembatan kali. Sekitar jarak 5 meter dia tepat di depanku. Badannya yang
membelakangiku membuat aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Apakah takut,
gembira, sedih, atau bahkan mungkin kecewa.
Berjongkoklah orang tersebut didalam
kubangan air kali. Semakin penasaran aku dengan orang itu. Apa yang sebenarnya
ia lakukan di bawah jembatan kali itu. Apakah dia bertujuan yang sama denganku,
yaitu mengumpat dari kericuhan demonstrasi tersebut. Ataukah dia hanya orang
gila yang ingin mencari tempat perenungan.
Dengan langkah yang perlahan aku mencoba
mendekatinya. Sekitar jarak 2 meter dari tubuhku orang ini tidak bergeming
sedikitpun. Orang ini terus berjongkok. Setapak demi setapak aku dekati terus
orang ini. Ketika aku akan ingin menepuk punggungnya, kepala orang ini dengan
cepat kilat langsung menoleh ke arahku. Wajahnya takut, pucat pasi.
“Oh Tuhan ternyata orang ini yang tadi aku
perhatikan saat unjuk rasa berlangsung. Dialah Noto Nogoro,” kataku dalam hati.
Aku saling bertatap-tatap muka bagaikan dua
orang yang saling mengagumi satu sama lain.
“Sedang apa kau disini?” tanyaku
“Saya sedang mengumpat.”
“Mengumpat dari apa? Dan dari siapa?”
“Saya mengumpat dari kejaran para aparat.”
“Kenapa kau harus takut pada aparat?
Padahal kau ini kan mahasiswa? Presiden saja takut kepada mahasiswa. Mahasiswa
itu kan pintar.” tanyaku dengan polos.
Dia pun menjawab,“para aparat itu
menggunakan senjata, pak. Sedangkan aku tidak punya senjata untuk melawan.
Kalau seandainya aparat itu tidak memakai senjata aku jiga berani melawannya.
Saya ini mahasiswa, orang yang berpikir intelektual, tidak sepatutnya
membalasnya dengan kekerasan atau anarkhis juga. Bagi aparat yang melakukan
penembakan serta pemukulan kepada mahasiswa, itu tandanya aparat tidak punya
rasa kemanusiaan. Dan aparat tersebut juga telah melanggar hak asasi manusia.
Padahal aparat dan mahasiswa itu sama-sama warga Negara Indonesia. Yang
semestinya harus bersatu. Bukan malah saling
melawan satu sama lain. Ataupun memusuhi antara sesama warga Negara
Indonesia. Musuh kita semua ini saat ini adalah kemiskinan, korupsi, dan
kebodohan.”
Lalu aku langsung bertanya lebih jauh lagi.
“Bukankah negara kita kaya? Kenapa kita harus melawan kemiskinan?”
“Dengarlah sepenggal bait puisi dari W.S
Rendra yang berjudul ‘orang-orang miskin’ ini: Jangan bilang Negara ini kaya kalau masih ada rakyatnya yang memakan
bangkai. Dan jangan bilang Negara ini kaya hanya karena gedung-gedung tinggi
yang ada di ibu kota. Memang benar jika dikatakan Negara kita kaya jika
dilihat dari sisi alamnya. Namun kekayaan alam akan tertimbun jika hati dan
moral para penguasa negeri ini masih miskin. Alhasil, kekayaan alam Negara ini
tidak akan bermanfaat sama sekali. Tidah berharga!” sahut mahasiswa itu.
Aku sebagai orang yang tidak begitu luas
wawasannya, merasa sangat bangga sekali bisa bertemu dengan mahasiswa yang
namanya penuh dengan kemistikan ini, Notonogoro.
“Deeer…Daar….Dooor,” lagi-lagi suara
tembekan terdengar. Dengan cepat aku lekas menyelamatkan diri. Saat itu pula
aku terpisah dengan mahasiswa jenius itu. Aku tak tahu bagaimana nasib
Notonogoro kala itu. Apakah selamat atau tidak. Yang pasti aku sangat kagum
dengan pemikirannya. Begitu lugasnya ia menjelaskan tentang kemanusiaan dan
hak-hak manusia. Aku merasa ingin tahu soal banyak dari pengetahuannya.
Sepanjang perjalananku pulang ke rumah aku
selalu terbayang kata-kata dari mahasiswa itu. Dari hasil percakapanku dengan
Notonogoro itu aku jadi berpikir kenapa Negara ini tidak berkemanusiaan yang
adil dan beradab? Kenapa hidupku menjadi terlantar di negeri ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar