Selasa, 25 September 2012

Sebilah Simbol Ksatria



Jembatan bintang-bintang malam bagiku sekarang terasa lebih asing malam ini, lebih kelam dari malam yang biasanya. Meski mereka berdansa riang di atas kepalaku.
                “Bintang-bintang itu indah sekali” ucap Ibuku memandang langit di kejauhan.
                “Tidak lebih indah daripada saat kita duduk bersama Ayah” balasku lirih, “Seandainya para kompeni itu tidak menembak mati ayah di medan pertemp…”.
                “Sudah cukup! Ayahmu telah memilih jalannya untuk berjuang, tak usah kau ungkit kembali!” suara keras Ibu mengguncang seluruh tubuhku hingga terdiam. Suasana hening terasa menggelayuti kami berdua, tak ada yang berkata.
                hingga, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari kejauhan. Kulihat di atasnya duduk tubuh sesosok manusia yang diliputi kegelapan seakan menunduk, entah mungkin tengah terluka.
                “Astaga ada orang terluka!” teriakku.
                “Dimana?!”.
                “Itu!” segera kuambil langkah seribu menyambut tubuh lunglai yang akan ambruk menghujam rerumputan tanah.
“Astaga, kompeni!” kuambil sebilah golok dari sarung di pinggangku, kuarahkan di atas lehernya.
                “Apa yang kau lakukan?” terdengar suara Ibu berlari menyusulku.
                “Dia kompeni, bu!”.
                “Jangan kau bunuh dia! Kau adalah seorang ksatria, tak lebih buruk jika kau membunuhnya”.
                “Tapi bu!”.
                “Bawa dia ke dalam rumah”.
                Kutarik golok yang kuarahkan di lehernya.
                “Cepat bawa dia, apalagi yang kau tunggu!”.
                Beribu pikiran berkecamuk dalam kepalaku, amarah dan bau hawa ingin menuntut dendam terus memecut seluruh jiwa hingga saat sang surya menyelinap keluar menunjukkan wajahnya. Demi melampiaskan amarahku, kuambil sebilah golok. Bergerak mengayun membelah udara memecah setiap darah-darah yang malas untuk bergerak, hingga bercucuran keringat disertai tubuh yang mulai terasa segar karena gerakan-gerakan ilmu bela diri serta udara pagi yang berhembusan di padang ilalang.
                Sekilas kulihat dari balik pintu rumah. Dengan balutan perban luka di seluruh tubuhnya, ia melihatku, kompeni itu. Dengan segera gejolak amarahku mengalir kembali begitu deras. Ku acungkan dari kejauhan golok yang kugenggam ke arahnya. Dia berjalan tersaruk menuju ke arahku.
                “Bedebah! Berani kau!” kugemakan teriakan.
                Dengan segera dari balik rumah Ibuku berjalan dan menarik tubuh si Kompeni, membawanya kembali masuk ke dalam rumah. Ya rumahku dan Ibuku.
                “Haruskah Ibu sampai berbaik hati merawat manusia hina itu!” geram seluruh tubuhku.
                Kupalingkan tubuhku berjalan pergi, entah ke mana.  Tubuh ini seakan bergerak sendiri tanpa ada perintah yang diberikan oleh otak untuk bergerak. Terus berjalan tanpa niat untuk pergi ke mana.
                Sesaat kegaduhan menyadarkanku dari lamunan, dengan rasa penasaran yang tinggi dan hawa bertarung yang meyakinkan aku bahwa di sana sedang terjadi perkelahian semakin membuat tubuhku bergerak dengan cepat menuju kegaduhan itu. Kulihat beberapa orang pribumi berpakaian seragam tentara kompeni sedang menendang seorang Bapak-bapak tua yang di sampingnya berserakan berbagai macam sayuran dan patahan-patahan kayu yang ku tahu itu adalah kayu penyangga kaki meja yang telah rusak di sana. Empat orang dapat kuhitung jumlah para pribumi itu.
                Dengan hawa bertarung yang sangat besar kucabut golokku. Ku berlari menyerang ke arah para pribumi itu, dengan sekuat tenaga seorang pribumi berhasil kutebas dadanya hingga tewas. Melihat teman mereka mati, salah seorang pribumi dan yang lainnya menembakkan senapannya ke arahku. Tapi tak berguna, aku dapat menghindari semua muntahan-muntahan bola besi dari senapan mereka. Kuberikan serangan balasan kepada mereka, dua orang telah terbujur kaku tapi satu orang berhasil melarikan diri walau dengan luka yang amat sangat parah.
                 Kusarungkan kembali golokku. Kulihat kerumunan orang-orang yang memperhatikanku, tak ada ucapan atau sorak sorai pahlawan yang terdengar. Hanya tatap mata nanar di mata mereka.
                “Pergilah kau! Kau hanya akan menambah kekacauan di sini” Bapak tua itu berbicra padaku sembari menutupi luka di keningnya dengan tangan.
                Dengan kekalutan amarah kembali ku berjalan pulang. Hingga sore harinya kulihat Ibu tengah duduk.
                “Sudah pergi ya kompeni itu? Sialan padahal belum kunikmati ketika kutebas lehernya” kulihat tangan Ibu tengah menggenggam sesuatu, “Keris Ayah!”.
                “Tuan Pellelaer yang memberikannya padaku” ucap Ibu.
                “Dia yang membunuh Ayah!”.
                “Entah, dia datang mencari kita untuk memberikan keris ini sebagai permintaan Ayahmu sebelum dieksekusi”.
                “Bajingan! Segera ku melompat membuka pintu, keluar.
                Tiba-tiba sebuah letusan senapan menerobos merobek bahu kananku.
                “Arkkkhhh!”.
                “Cepat bunuh dia!” teriak seorang kompeni yang duduk di atas kuda sembari mengarahkan senapan pistol yang moncongnya telah diselimuti asap yang mengembang ke angkasa. Puluhan pribumi berseragam kompeni berlari menghunus pedangnya.
                Kulihat Ibuku berdiri dibelakang melihatku hingga kaget. Segera kubangkit dan kucabut golokku. Berlari menterang sembari menahan sakitnya luka tembak pada bahu kanan. Pertempuran begitu sengit, ribuan kilatan cahaya pedang beradu disertai rentetan peluru datang menghujam tapi tak satupun yang kembali berhasil melukaiku. Ibuku hanya bisa melihat sembari bersembunyi dari balik pintu rumah, seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
                Berpuluh-puluh yang telah aku bunuh, pertarungan pun tak kunjung selesai. Hingga akhirnya aku harus roboh akibat beberapa tembakkan yang bersarang di beberapa tempat di kakiku. Sekarang aku harus tak berdaya, tapi tak ada penyesalan yang aku rasakan karena aku kan mati dengan sebuah kebanggan.
                Seorang kompeni berdiri di hadapanku, mengacungkan senapan pistolnya ke arah kepalaku. Dia mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa yang terdengar asing bagiku, namun dapat kudengar dari pengucapnnya bahwa amarah meliputinya.
                “Hentikan!” sebuah teriakan dari kejauhan menggema sembari diiringi derap kuda yang terus dipacu.
“Jendral” ucap kompeni yang berada di hadapanku.
“Jangan kau bunuh dia”.
“Apa maumu?!” teriakku kencang.
“kenapa?” Tanya si Kompeni.
“Dia telah menyelamatkan hidupku”.
Dari kejauhan Ibuku berlari keluar rumah dan segera memelukku. “Apa-apa kau bajingan?!”.
“Maafkan aku?”.
“Bangsat masih berani kau meminta maaf padaku!” kalutku marah, “ Kau telah membunuh Ayahku dan sekarang kau meminta maaf. Bajingan kau!”.
“ Ayahmu telah menolongku. Dalam pertempuran seharusnya dia telah membunuhku, tapi dia malah berbicara dan menyerahkan hidupnya kepadaku”.
“Tidak mungkin!”.
“Ya, dia berbicara agar aku berhenti untuk menindas rakyatnya. Dia memohon untuk tidak ada lagi penindasan, pertumpahan darah, dan penjajahan. Dia menangis dihadapanku sembari berkata aku tidak berjuang di medan tempur, rakyat tetap menderita dan ketika aku berjuang di medan tempur, rakyat semakin menderita” Pellelaer bersujud di hadapanku, “Maafkan aku?”.
 “Jendral apa yang kau lakukan?”.
“Aku telah berteman dengan dia dan dari cerita dia, aku mengetahui keadaan rakyat” Pellelaer terus berbicara padaku, ” Sebelum dia dieksekusi dia memintaku untuk memberikan kerisnya kepada kalian. Sebilah simbol ksatria”.


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar