Jembatan bintang-bintang malam
bagiku sekarang terasa lebih asing malam ini, lebih kelam dari malam yang
biasanya. Meski mereka berdansa riang di atas kepalaku.
“Bintang-bintang
itu indah sekali” ucap Ibuku memandang langit di kejauhan.
“Tidak
lebih indah daripada saat kita duduk bersama Ayah” balasku lirih, “Seandainya
para kompeni itu tidak menembak mati ayah di medan pertemp…”.
“Sudah
cukup! Ayahmu telah memilih jalannya untuk berjuang, tak usah kau ungkit
kembali!” suara keras Ibu mengguncang seluruh tubuhku hingga terdiam. Suasana
hening terasa menggelayuti kami berdua, tak ada yang berkata.
hingga, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari kejauhan. Kulihat di atasnya duduk tubuh sesosok manusia yang diliputi kegelapan seakan menunduk, entah mungkin tengah terluka.
hingga, tiba-tiba terdengar derap kaki kuda dari kejauhan. Kulihat di atasnya duduk tubuh sesosok manusia yang diliputi kegelapan seakan menunduk, entah mungkin tengah terluka.
“Astaga
ada orang terluka!” teriakku.
“Dimana?!”.
“Itu!”
segera kuambil langkah seribu menyambut tubuh lunglai yang akan ambruk
menghujam rerumputan tanah.
“Astaga, kompeni!” kuambil sebilah
golok dari sarung di pinggangku, kuarahkan di atas lehernya.
“Apa
yang kau lakukan?” terdengar suara Ibu berlari menyusulku.
“Dia
kompeni, bu!”.
“Jangan
kau bunuh dia! Kau adalah seorang ksatria, tak lebih buruk jika kau
membunuhnya”.
“Tapi
bu!”.
“Bawa
dia ke dalam rumah”.
Kutarik
golok yang kuarahkan di lehernya.
“Cepat
bawa dia, apalagi yang kau tunggu!”.
Beribu
pikiran berkecamuk dalam kepalaku, amarah dan bau hawa ingin menuntut dendam
terus memecut seluruh jiwa hingga saat sang surya menyelinap keluar menunjukkan
wajahnya. Demi melampiaskan amarahku, kuambil sebilah golok. Bergerak mengayun
membelah udara memecah setiap darah-darah yang malas untuk bergerak, hingga
bercucuran keringat disertai tubuh yang mulai terasa segar karena
gerakan-gerakan ilmu bela diri serta udara pagi yang berhembusan di padang
ilalang.
Sekilas
kulihat dari balik pintu rumah. Dengan balutan perban luka di seluruh tubuhnya,
ia melihatku, kompeni itu. Dengan segera gejolak amarahku mengalir kembali
begitu deras. Ku acungkan dari kejauhan golok yang kugenggam ke arahnya. Dia
berjalan tersaruk menuju ke arahku.
“Bedebah!
Berani kau!” kugemakan teriakan.
Dengan
segera dari balik rumah Ibuku berjalan dan menarik tubuh si Kompeni, membawanya
kembali masuk ke dalam rumah. Ya rumahku dan Ibuku.
“Haruskah
Ibu sampai berbaik hati merawat manusia hina itu!” geram seluruh tubuhku.
Kupalingkan
tubuhku berjalan pergi, entah ke mana.
Tubuh ini seakan bergerak sendiri tanpa ada perintah yang diberikan oleh
otak untuk bergerak. Terus berjalan tanpa niat untuk pergi ke mana.
Sesaat
kegaduhan menyadarkanku dari lamunan, dengan rasa penasaran yang tinggi dan
hawa bertarung yang meyakinkan aku bahwa di sana sedang terjadi perkelahian
semakin membuat tubuhku bergerak dengan cepat menuju kegaduhan itu. Kulihat
beberapa orang pribumi berpakaian seragam tentara kompeni sedang menendang
seorang Bapak-bapak tua yang di sampingnya berserakan berbagai macam sayuran
dan patahan-patahan kayu yang ku tahu itu adalah kayu penyangga kaki meja yang
telah rusak di sana. Empat orang dapat kuhitung jumlah para pribumi itu.
Dengan
hawa bertarung yang sangat besar kucabut golokku. Ku berlari menyerang ke arah
para pribumi itu, dengan sekuat tenaga seorang pribumi berhasil kutebas dadanya
hingga tewas. Melihat teman mereka mati, salah seorang pribumi dan yang lainnya
menembakkan senapannya ke arahku. Tapi tak berguna, aku dapat menghindari semua
muntahan-muntahan bola besi dari senapan mereka. Kuberikan serangan balasan
kepada mereka, dua orang telah terbujur kaku tapi satu orang berhasil melarikan
diri walau dengan luka yang amat sangat parah.
Kusarungkan kembali golokku. Kulihat kerumunan
orang-orang yang memperhatikanku, tak ada ucapan atau sorak sorai pahlawan yang
terdengar. Hanya tatap mata nanar di mata mereka.
“Pergilah
kau! Kau hanya akan menambah kekacauan di sini” Bapak tua itu berbicra padaku
sembari menutupi luka di keningnya dengan tangan.
Dengan
kekalutan amarah kembali ku berjalan pulang. Hingga sore harinya kulihat Ibu
tengah duduk.
“Sudah
pergi ya kompeni itu? Sialan padahal belum kunikmati ketika kutebas lehernya”
kulihat tangan Ibu tengah menggenggam sesuatu, “Keris Ayah!”.
“Tuan
Pellelaer yang memberikannya padaku” ucap Ibu.
“Dia
yang membunuh Ayah!”.
“Entah,
dia datang mencari kita untuk memberikan keris ini sebagai permintaan Ayahmu
sebelum dieksekusi”.
“Bajingan!
Segera ku melompat membuka pintu, keluar.
Tiba-tiba
sebuah letusan senapan menerobos merobek bahu kananku.
“Arkkkhhh!”.
“Cepat
bunuh dia!” teriak seorang kompeni yang duduk di atas kuda sembari mengarahkan
senapan pistol yang moncongnya telah diselimuti asap yang mengembang ke
angkasa. Puluhan pribumi berseragam kompeni berlari menghunus pedangnya.
Kulihat
Ibuku berdiri dibelakang melihatku hingga kaget. Segera kubangkit dan kucabut golokku.
Berlari menterang sembari menahan sakitnya luka tembak pada bahu kanan.
Pertempuran begitu sengit, ribuan kilatan cahaya pedang beradu disertai
rentetan peluru datang menghujam tapi tak satupun yang kembali berhasil
melukaiku. Ibuku hanya bisa melihat sembari bersembunyi dari balik pintu rumah,
seakan tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya.
Berpuluh-puluh
yang telah aku bunuh, pertarungan pun tak kunjung selesai. Hingga akhirnya aku
harus roboh akibat beberapa tembakkan yang bersarang di beberapa tempat di
kakiku. Sekarang aku harus tak berdaya, tapi tak ada penyesalan yang aku rasakan
karena aku kan mati dengan sebuah kebanggan.
Seorang
kompeni berdiri di hadapanku, mengacungkan senapan pistolnya ke arah kepalaku.
Dia mengucapkan beberapa patah kata dalam bahasa yang terdengar asing bagiku,
namun dapat kudengar dari pengucapnnya bahwa amarah meliputinya.
“Hentikan!”
sebuah teriakan dari kejauhan menggema sembari diiringi derap kuda yang terus
dipacu.
“Jendral” ucap kompeni yang berada
di hadapanku.
“Jangan kau bunuh dia”.
“Apa maumu?!” teriakku kencang.
“kenapa?” Tanya si Kompeni.
“Dia telah menyelamatkan hidupku”.
Dari kejauhan Ibuku berlari keluar
rumah dan segera memelukku. “Apa-apa kau bajingan?!”.
“Maafkan aku?”.
“Bangsat masih berani kau meminta
maaf padaku!” kalutku marah, “ Kau telah membunuh Ayahku dan sekarang kau
meminta maaf. Bajingan kau!”.
“ Ayahmu telah menolongku. Dalam
pertempuran seharusnya dia telah membunuhku, tapi dia malah berbicara dan
menyerahkan hidupnya kepadaku”.
“Tidak mungkin!”.
“Ya, dia berbicara agar aku
berhenti untuk menindas rakyatnya. Dia memohon untuk tidak ada lagi penindasan,
pertumpahan darah, dan penjajahan. Dia menangis dihadapanku sembari berkata aku
tidak berjuang di medan tempur, rakyat tetap menderita dan ketika aku berjuang
di medan tempur, rakyat semakin menderita” Pellelaer bersujud di hadapanku,
“Maafkan aku?”.
“Jendral apa yang kau lakukan?”.
“Aku telah berteman dengan dia dan
dari cerita dia, aku mengetahui keadaan rakyat” Pellelaer terus berbicara
padaku, ” Sebelum dia dieksekusi dia memintaku untuk memberikan kerisnya kepada
kalian. Sebilah simbol ksatria”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar