“Wajahmu
indah” aku tahu apa yang telah aku ucapkan. Sebuah ucapan dari kejujuranku yang
terucap keluar begitu saja dari mulutku tanpa ada penghambat satupun yang
menjejal, ketika kulihat engkau kembali bersapa padaku, pada waktu yang sama, dan
pada tempat yang sama pula. Kau tidak pernah berkata apapun padaku, terutama
tentang aku yang selalu duduk termenung ketika kupandang wajahmu dan kau yang
selalu duduk terdiam ketika tatapku membalas tatapmu. Apakah kau tahu bahwa aku
mencintaimu? Apakah kau tahu bahwa wajahmu begitu indah? Apakah kau tahu bahwa
aku adalah bulan birumu yang selalu kau pandang pada malam-malammu?.
Aku
ingin hadir di hadapmu, memberanikan hatiku untuk menggenggam erat jemarimu
yang halus. Aku tidak ingin hanya selalu menjadi penghias malam yang kau lihat
dari kejauhan. Aku ingin kau tahu siapa aku yang selalu ingin duduk di
sampingmu. Ketika kau menengadahkan matamu yang jelita padaku, yang selalu
ingin mendekap dinginnya tubuhmu ketika malam sunyi menusukkan anginnya di
tubuhmu, memberikan kehangatan agar kau senantiasa merasa hangat ketika kau
datang pada malam padaku.
Kini
kau kembali duduk di taman itu, memandang ke arahku seperti pada setiap malam
kau datang. Setiap malam itu seakan menjadi panah yang terlepas menusuk hatiku,
menjadikan sebuah kesakitan akan sebuah sensasi keinginan yang tidak dapat aku
dapatkan. Keinginan itu sekarang kurasa kian memuncak dan aku yakin aku tidak
dapat menahannya, keinginan itu tengah meledak-ledak berkecamuk dalam hati. Keinginanku
untuk menjadi manusia. Keinginanku pada Tuhan, sebuah permohonan.
“Ooh
Tuhan, aku ingin menjadi manusia” pintaku menengadah, “agar aku dapat sekedar
menemuinya. Menemui wanita itu. Wanita yang aku cintai. Ya Tuhan, aku bersujud
padamu memohon”. Tak ada jawab yang kudengar, hanya gemintang yang berbisik di
kejauhan semesta raya yang kudengar resah.
Telah
hilanglah semua keinginan, kupendam dalam dada hingga lelap merayapi mata dan
lenyap diiringi datangnya sang raja siang.
Sebuah
sentuhan yang halus kurasakan. Sebuah sentuhan yang tak pernah aku dapatkan.
Sentuhan?!. Aku adalah bulan, benda langit yang selalu berdiri menemani bumi.
Tak pernah ada seorangpun yang dapat datang padaku, bahkan para musia yang
mencoba datang dengan pesawat-pesawat canggihnya sekalipun. Astaga!.
Dengan
kekalutan aku membuka mataku dan kulihat beberapa manusia memperhatikanku,
mengerubungi diriku.
“mas,
ini pakai handuknya” seorang manusia berkumis memberikan sebuah kain lembut
yang wangi untuk menutupi tubuhku yang tanpa penutup sekalipun. Segera kupakai
handuk itu menutupi sebagian tubuhku. Mausia yang memberikan handuk padaku
memapahku menuju sebuah kursi yang terletak dekat dengan sebuah gerobak penjual
makanan yang aromanya dapat kucium melalui udara yang mengalir melewati udara.
“Di
mana aku?”.
“Di
taman Pelangi mas”.
“Taman
Pelangi? Dimana itu taman Pelangi?”.
“Di
Jakarta mas”.
“Jakarta?
Di mana Jakarta itu?” terlihat manusia itu menatap aneh padaku.
“Sudahlah
mas tak usah terlalu dipikirkan. Mas lebih baik istirahat saja dahulu”.
“Memangnya
saya kenapa pak?”.
Manusia
itu menunjuk sebuah lubang tepat di jalan raya. Astaga, aku sekarang telah
menjadi manusia dan sekarang akibat dari aku menjadi manusia adalah sebuah
lubang di sebuah jalan raya ketika aku turun dan datang dari langit. Sungguh
dahsyat pendaratanku di Bumi ini. Terima kasih oh Tuhan, Engkau telah
mengabulkan doaku.
“Aku
di mana?” sebuah pertanyaan kulontarkan sekali lagi untuk mempertegas jawaban
tentang tempat yang manusia itu beri tahukan padaku.
“Taman
Pelangi mas”.
Ya,
aku ingat tujuanku. Wanita itu. Wanita yang kelak jika aku menjadi manusia aku
akan datang padanya. Mengatakan bahwa aku jatuh hati padanya. Ya akan aku
katakan. Ya aku harus pergi. Pergi mencarinya. Aku tahu dia ada di sini. Di
taman ini. Taman Pelangi.
“Mas
mau kemana? Sebentar lagi ambulan datang!” manusia itu berteriak melihatku
berlari menjauh.
Dimana
dia? Dimana? Aku harus menemuinya sebelum malam habis. Jika malam habis mungkin
aku akan kembali terlelap ketika cahaya mentari tak lagi menyinari wajahku.
Tapi aku telah menjadi manusia, aku tidak memerlukan lagi cahaya mentari untuk
menyinari wajahku agar aku tetap terjaga ketika malam datang dan aku tidak akan
terlelap seperti ketika aku pada wujudku dahulu. Tetap! Ya tetap aku harus
mencarinya biar waktuku panjang sekalipun, pada detik ini juga aku harus
menemuinya. Aku akan menemuinya.
Terus
aku berlari mengitari seluruh taman untuk mencarinya, menemukkan tempat ia
biasa duduk menatapku penuh kecantikan. Yang aku ingat tempat itu dipenuhi
pepohonan dan sebuah kursi yang di atasnya tidak tertutup oleh dedaunan
pepohonan, sehingga dengan leluasa setiap mata yang menengadah ke langit dapat
melihat hamparan jembatan bintang yang menjadi jalan tatapan antara mataku dan
matanya.
Sampailah
aku pada tempat itu, tempat miliknya ketika dia menatapku. Dia sedang duduk
sendirian termangu menatap langit, wajahnya kosong seakan-akan mencari sesuatu.
Aku tahu yang dia cari. Aku. Bulan biru yang selalu dia tatap kini telah
menghilang dari langit. Lenyap seakan tertelan pusaran kabut hebat, yang begitu
hebatnya hingga membuat sebuah benda langit sebesar itu dapat menghilang dengan
sesaat. Akan kuceritakan bahwa Tuhanlah yang melakukannya.
Kudekati
dia dengan perlahan. Segala keinginanku kurasakan semakin lama semakin seakan
tertelan oleh sebuah topan ketakutan yang begitu hebat. Aku telah memutuskan.
Inilah kesempatanku untuk bertemu dia untuk menjamah wajahnya yang indah dari
dekat, matanya yang jelita. Aku harus memberanikan diriku.
Sebelum
langkahku semakin mendekati dan tanganku menyentuh bahunya untuk sekedar menarik
perhatiannya padaku, yang saat ini hanya seorang manusia yang berbalut sebuah
kain untuk menutupi tubuhku, dia telah memberikan tatapannya padaku. Sebuah
ketakutan menggerayangi seluruh tubuh manusiaku. Beku seluruh jemariku
mengkisut kerdil tak berdaya.
“Siapa
kau?” tangan wanita itu bergerak-gerak.
“Aa….
aku bulan biru”.
“Bulan
biru?” dia menunjuk ke langit, menunjuk bulan yang telah lenyap tidak lagi
mengisi hamparan permadani langit.
“Ya
aku bulan biru. Siapakah namamu?”.
“Aku
rembulan”.
“Namamu
dan namaku sama. Apakah karena itu kau selalu menatapku?”.
“Menatapmu?”.
“Ma…
maksudku menatap bulan”.
Dia
kembali menatapkan matanya pada langit yang hanya dihiasi jembatan gemintang
berkelip. “Sayang, sepertinya bulan itu telah pergi”. Sebuah perkataan yang
seakan menusuk mata hingga seluruh organ tubuhku yang vital. “Kemanakah dia
pergi?”.
“Aku
tidak tahu”.
“Duduklah
di sampingku, jangan kau terus berdiri di sana”.
“Baiklah”
kududukan tubuhku pada kursi pada taman itu. Sebuah keheningan kurasakan
merayapi suasana taman tempat aku dan dia duduk. Matanya masih sama, kosong
menatap langit. “Kenapa kau menyukai menatap bulan, rembulan?” ucapku untuk
sesegera mungkin memecah segala keheningan yang membaur dalam udara malam.
“Aku
menatapnya karena aku telah jatuh cinta pada dia. Dia begitu indah dan sabar.
Indah karena dia tidak pernah menunjukkan cahayanya akan padam sama sekali dan
sabar karena dia mau menunjukkan wajahnya ketika aku tatap”.
“Kenapa bulan ? tidak adakah manusia yang bersedia kau cintai dan kau tatap”.
“Kenapa bulan ? tidak adakah manusia yang bersedia kau cintai dan kau tatap”.
“Aku
telahir dengan kekurangan. Manusia lainnya hanya bersedia untuk memberikkan
kasihannya untukku tanpa ada yang lainnya. Berbeda dengan bulan, dia menerima
aku dengan apa adanya tanpa bertanya siapa aku dan kenapa aku” matanya terlihat
indah berkaca-kaca, damai dalam sedih. Tegar.
Perasaan
aneh seakan berkecemuk dalam diriku, berbenturan kian hebat ke sana kemari
tanpa kutahu apa sebabnya dan tanpa aku tahu perasaan ini bernama apa. Aku
adalah bulan bukan seorang manusia yang terlahir dengan keadaan telah memiliki
tubuh manusia. Barulah pertama kali aku memliki tubuh ini. Wajarlah jika aku
tidak mengerti tentang tubuh ini.
“Sebenarnya siapakah dirimu? Kenapa pakaianmu
begitu aneh?” tanyanya padaku.
“Aa… aku adalah bulan biru”.
“Ya, itu telah aku ketahui. Itu adalah namamu. Maukah kau bercerita tentang dirimu padaku?”
“Aa… aku adalah bulan biru”.
“Ya, itu telah aku ketahui. Itu adalah namamu. Maukah kau bercerita tentang dirimu padaku?”
Dari
kejauhan gonggongan anjing seakan memburu bersama bunyi langkah beberapa orang.
Terdengar pula beberapa orang itu berteriak menunjuk sebuah tempat yang aku
yakin tempat inilah yang mereka cari dan aku yakin pula bahwa akulah yang
mereka cari. Penyebabnya mungkin kerana perubahan dan penurunanku dari langit
ke bumi yang membuat para manusia itu seakan merasa aneh padaku dan ingin
mencari tahu siapa sebenarnya aku ini.
“Aku.
Aku bukankalah siapa-siapa” sebuah jawaban yang terlalu sembrono untuk
kukeluarkan dari mulut ini.
“Maksudmu?”.
Gonggongan
dan derap langkah kaki terdengar semakin mendekat. Aku semakin terburu waktu.
Aku yakin keberadaanku di hadapannya tidaklah membantunya keluar dari
permasalahan dalam hatinya. Aku kini tahu peranku sebagai apa, tak ada gunanya
aku berperan sebagai peran yang lain.
“Maukah
kau menceritakan tentang dirimu?”.
Tak
ada jawab dalam diriku. Kubelai pipinya dengan tanganku, menarik garis dari
pipi ke lehernya. Tanganku kini menggenggam lehernya untuk beberapa detik
lamanya. Sembari berdiri aku berkata “Kau telah tahu tentang cerita diriku”.
Aku berjalan menuju balik pepohonan.
“Kau
ingin kemana?” terdengar sebuah suara keluar bibirnya, indah terjamah
telingaku. Kulihat sebelum aku menghilang, dia diam dan terpana. Gonggongan
anjing dan derap langkah kaki kini telah sampai pada tempat wanita itu terduduk
kaget.
“Permisi,
apakah nona melihat seorang pria berbadan tegap bermata biru yang tubuhnya
hanya diselimuti oleh kain handuk melintas?” Tanya manusia berseragam coklat
yang tangannya menggenggam sebuah tali yang terikat pada leher seekor anjing
yang tak kian henti terus mengendus jejak bau ku.
“Aku
tidak melihatnya” Rembulan masih tetunduk kaget.
“Terima
kasih nona” jawab manusia berseragam coklat itu dan dia pun pergi bersama
orang-orangnya dan anjing yang ia bawa.
Rembulan
melihat ke langit dan melihat bulan telah bersinar kembali pada tempatnya, di
jagat semesta raya bersama para benda langit lainnya. “Engkau memang BULAN
BIRU. Terima kasih”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar