Jumat, 17 Agustus 2012

Jin Ada di Hati Kita Masing-masing #2



                Kulihat dari baris terbelakang bersama Ayahku yang berdiri di sampingku, berpuluh-puluh orang menyesaki masjid ini. Berbondong-bondong datang untuk sholat isya berjamaah dengan memakai baju islam yang begitu lengkap mereka beribadah. Kedengar gema “Allahhuakbar” menerobos setiap detil keramik dinding pada masjid itu. Begitu khusuk sekali mereka.
                Aku memang belum begitu mengerti tentang gerakan sholat karena aku masih kecil, hafalan-hafalan doaku belum semua yan dapat aku baca di luar kepala. Tapi Ayah sering mengajakku untuk sholat di masjid ini bersama teman-temannya, sebuah ormas yang pernah kudengar dari percekcokkan antara Ibu dan Ayah kemarin malam.
                Ibu memang kurang suka dengan pekerjaan Ayah yang satu ini, ikut ormas atau organisasi masyarakat. Ayah seakan teguh pada prinsip idealisnya yang mengatakan bahwa ormas yang ia ikuti dapat membawa keluarga kami menuju surganya Allah. Sementara Ibu merasa sebaliknya yaitu tidak suka karena Ayah sekarang hanya mementingkan pekerjaan ormas dibandingkan dengan keluarga. Tapi aku tak begitu mengerti sama sekali tentang apa yang mereka debatkan.
                Kin sholat berjamaah di masjid ini kurasa telah selesai. Begitu riuh kudengar  orang-orang di masjid ini, lafaz-lafaz keluar dari mulut mereka di ketua oleh Imam sholat begitu menggema. Ayahpun tak kalah ikutan. Aku hanya duduk bersila melihat mereka menggerakkan kepala mereka ke kanan dan kiri sembari berdzikir hebat.
                Ayah mengangkat kedua tanganku menengadah meminta kepada Tuhan, itulah saat kudengar Imam sholat membacakan doa selesai sholat. Begitu hebat orang-orang di masjid ini, kata amin dapat kudengar begitu keras menanungi telingaku. Hingga akhirnya doa pun telah selesai.
                “Ayo nak, kita pergi” ucap Ayah mengangkat tanganku.
                “Kemana?”.
                “Berjihad di jalan Allah, menumpas syaiton!”.
                Kami semua berbondong-bondong bersalaman dengan imam sholat dan berbondong-bondong keluar dari masjid menuju parkiran. Kulihat mereka beramai-ramai menyalakan sepeda motor dan menaikinya. Ada yang menancapkan sebuah bendera ormas pada bagian belakang sepeda motor mereka.
                Tubuhku diangkat oleh Ayah ke atas sepeda motor kami, ia tak lupa membaca bassmalah terlebih dahulu kudengar. Ayah menekan gas diikuti puluhan sepeda motor lainnya, kami pawai mengelilingi jalanan kota Jakarta pada malam setelah kami menunaikan sholat isya berjamaah di masjid. Kudengar mereka memekikkan takbir di sepanjang jalan, begitu keras hingga tak terdengar lagi suara bising kendaraan lain yang melintas di arah sebaliknya jalanan.
                “Apakah masih jauh, Yah?”.
                “Sebentar lagi”.
                “Di mana?”.
                “Sudah jangan bertanya terus, cukup ikut saja!”.
                “Tapi aku ngantuk Yah”.
                “Tahan saja”.
                Kulihat beberapa sepeda motor telah berhenti tak jauh dari depan kami, mereka melihat pada sebuah bangunan yang banyak dihiasi oleh lampu berkelap-kelip dan sebuah papan besar bergambar sebuah botol minuman yang aku tak tahu apa mereknya. Ayah menghentikan sepeda motornya, aku diturunkan dari atas sepeda motor.
                berpuluh-puluh orang masuk ke dalam gedung itu membawa bendera ormas serta bebearap batangan kayu yang mereka genggam di tangannya. Berteriak Allahhuakbar mereka menerobos masuk, menendang pintu. Terdengar teriakan dari dalam gedung, bercampur teriakkan antara teriakkan Allahhuakbar dengan teriak ketakutan. Terdengar pula suara wanita dan laki-laki begitu gaduh sekali.
                Aku melihat wajah Ayahku, begitu keras kurasakan bentuk wajahnya seakan menahan amarah yang begitu dahsyat. Pandangan matanya begitu jelas memaku pada gedung itu, tangannya mengepal dan keringat berlelehan dari dahinya begitu deras.
                Kudengar kembali suara-suar benda dipukul dengan begitu keras, suara-suara kaca-kaca pecah dan sebuah teriakkan yang paling menakutkan, mereka berteriak kafir dengan begitu keras.
                Ayah tak tahan kutelisik, ia melepaskan genggaman tangannya di tanganku, ia melihat ke sana kemari mencari sesuatu.
                “Ayah mencari apa?”.
                “Kayu”.
                “Di sana” aku menunjuk pada sebuah pojok di mana di sana tergeletak sebuah balok kayu yang ukurannya tak begitu besar dan tak begitu kecil pula.
                Ayah berlari ke pojok sana dan mengambil balok kayu yang tadi aku tunjukkan dan kembali lagi ke tempatku. Beberapa laki-laki dan wanita keluar dari gedung itu sembari di seret oleh beberapa orang yang kuyakin merupakan teman Ayah sembari membawa sebuah balok masing-masing.
                “Nak, kau tinggal dulu di sini Ayah harus ke dalam” Ayahku berkata menggebu.
                “Untuk apa Yah?”.
                “Membinasakan jin!”.
                “Lebih baik Ayah tetap di sini. Jika Ayah masuk ke dalam, Ayah pun akan menjadi jin”.


Ridwan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar