Kulihat
dari baris terbelakang bersama Ayahku yang berdiri di sampingku, berpuluh-puluh
orang menyesaki masjid ini. Berbondong-bondong datang untuk sholat isya
berjamaah dengan memakai baju islam yang begitu lengkap mereka beribadah.
Kedengar gema “Allahhuakbar” menerobos setiap detil keramik dinding pada masjid
itu. Begitu khusuk sekali mereka.
Aku
memang belum begitu mengerti tentang gerakan sholat karena aku masih kecil,
hafalan-hafalan doaku belum semua yan dapat aku baca di luar kepala. Tapi Ayah
sering mengajakku untuk sholat di masjid ini bersama teman-temannya, sebuah ormas
yang pernah kudengar dari percekcokkan antara Ibu dan Ayah kemarin malam.
Ibu
memang kurang suka dengan pekerjaan Ayah yang satu ini, ikut ormas atau
organisasi masyarakat. Ayah seakan teguh pada prinsip idealisnya yang
mengatakan bahwa ormas yang ia ikuti dapat membawa keluarga kami menuju
surganya Allah. Sementara Ibu merasa sebaliknya yaitu tidak suka karena Ayah
sekarang hanya mementingkan pekerjaan ormas dibandingkan dengan keluarga. Tapi
aku tak begitu mengerti sama sekali tentang apa yang mereka debatkan.
Kin
sholat berjamaah di masjid ini kurasa telah selesai. Begitu riuh kudengar orang-orang di masjid ini, lafaz-lafaz keluar
dari mulut mereka di ketua oleh Imam sholat begitu menggema. Ayahpun tak kalah
ikutan. Aku hanya duduk bersila melihat mereka menggerakkan kepala mereka ke
kanan dan kiri sembari berdzikir hebat.
Ayah
mengangkat kedua tanganku menengadah meminta kepada Tuhan, itulah saat kudengar
Imam sholat membacakan doa selesai sholat. Begitu hebat orang-orang di masjid
ini, kata amin dapat kudengar begitu keras menanungi telingaku. Hingga akhirnya
doa pun telah selesai.
“Ayo
nak, kita pergi” ucap Ayah mengangkat tanganku.
“Kemana?”.
“Berjihad
di jalan Allah, menumpas syaiton!”.
Kami
semua berbondong-bondong bersalaman dengan imam sholat dan berbondong-bondong
keluar dari masjid menuju parkiran. Kulihat mereka beramai-ramai menyalakan
sepeda motor dan menaikinya. Ada yang menancapkan sebuah bendera ormas pada
bagian belakang sepeda motor mereka.
Tubuhku
diangkat oleh Ayah ke atas sepeda motor kami, ia tak lupa membaca bassmalah
terlebih dahulu kudengar. Ayah menekan gas diikuti puluhan sepeda motor
lainnya, kami pawai mengelilingi jalanan kota Jakarta pada malam setelah kami
menunaikan sholat isya berjamaah di masjid. Kudengar mereka memekikkan takbir
di sepanjang jalan, begitu keras hingga tak terdengar lagi suara bising
kendaraan lain yang melintas di arah sebaliknya jalanan.
“Apakah
masih jauh, Yah?”.
“Sebentar
lagi”.
“Di
mana?”.
“Sudah
jangan bertanya terus, cukup ikut saja!”.
“Tapi
aku ngantuk Yah”.
“Tahan
saja”.
Kulihat
beberapa sepeda motor telah berhenti tak jauh dari depan kami, mereka melihat
pada sebuah bangunan yang banyak dihiasi oleh lampu berkelap-kelip dan sebuah
papan besar bergambar sebuah botol minuman yang aku tak tahu apa mereknya. Ayah
menghentikan sepeda motornya, aku diturunkan dari atas sepeda motor.
berpuluh-puluh orang masuk ke dalam gedung itu membawa bendera ormas serta bebearap batangan kayu yang mereka genggam di tangannya. Berteriak Allahhuakbar mereka menerobos masuk, menendang pintu. Terdengar teriakan dari dalam gedung, bercampur teriakkan antara teriakkan Allahhuakbar dengan teriak ketakutan. Terdengar pula suara wanita dan laki-laki begitu gaduh sekali.
berpuluh-puluh orang masuk ke dalam gedung itu membawa bendera ormas serta bebearap batangan kayu yang mereka genggam di tangannya. Berteriak Allahhuakbar mereka menerobos masuk, menendang pintu. Terdengar teriakan dari dalam gedung, bercampur teriakkan antara teriakkan Allahhuakbar dengan teriak ketakutan. Terdengar pula suara wanita dan laki-laki begitu gaduh sekali.
Aku
melihat wajah Ayahku, begitu keras kurasakan bentuk wajahnya seakan menahan
amarah yang begitu dahsyat. Pandangan matanya begitu jelas memaku pada gedung
itu, tangannya mengepal dan keringat berlelehan dari dahinya begitu deras.
Kudengar
kembali suara-suar benda dipukul dengan begitu keras, suara-suara kaca-kaca
pecah dan sebuah teriakkan yang paling menakutkan, mereka berteriak kafir
dengan begitu keras.
Ayah
tak tahan kutelisik, ia melepaskan genggaman tangannya di tanganku, ia melihat
ke sana kemari mencari sesuatu.
“Ayah
mencari apa?”.
“Kayu”.
“Di
sana” aku menunjuk pada sebuah pojok di mana di sana tergeletak sebuah balok
kayu yang ukurannya tak begitu besar dan tak begitu kecil pula.
Ayah
berlari ke pojok sana dan mengambil balok kayu yang tadi aku tunjukkan dan
kembali lagi ke tempatku. Beberapa laki-laki dan wanita keluar dari gedung itu
sembari di seret oleh beberapa orang yang kuyakin merupakan teman Ayah sembari
membawa sebuah balok masing-masing.
“Nak,
kau tinggal dulu di sini Ayah harus ke dalam” Ayahku berkata menggebu.
“Untuk
apa Yah?”.
“Membinasakan
jin!”.
“Lebih
baik Ayah tetap di sini. Jika Ayah masuk ke dalam, Ayah pun akan menjadi jin”.
Ridwan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar