Malam itu sudah pukul 7. Aku sedang
duduk termangu memandangi layar handphone berharap ada sebuah chat. Ya, chat
dari gebetanku, Putra. Kami baru saja menonton bioskop tadi sore. Ini kencan
kami yang pertama setelah seminggu yang lalu kami berkenalan. Setelah selesai
menonton dia mengantarkan ku pulang ke rumah. Lalu dia langsung bergegas pergi
karena ada urusan katanya. Dia memang pria yang sibuk. Padahal sewaktu dijalan
tadi dia berjanji akan mengabariku, tapi apa ini? Sudah 1 jam berlalu tak
ada satu pun chat darinya. Padahal aku
sudah mengechat dan mencoba menelfon dia duluan. Tapi, tetap saja tak digubris
dan dia tak ada kabar.
3 jam berlalu sejak dia mengantarkan
ku pulang tadi, dia tetap tak ada kabar. Entah berapa ratus missed call yang
sudah aku lakukan. Deg-degan yang tak terkira, keringat dingin pun mengalir di
seluruh tubuhku. Sampai akhirnya handphone ku berdering. Dan ternyata itu dari
Putra. Ah rasanya senang sekali seperti penantianku segera usai. Lalu aku pun
buru-buru mengangkat telfon itu.
“Halooo!! Kemana saja sih put? Gila
apa ya tadi katanya mau langsung kabarin aku.” kataku dengan nada marah.
“Maaf ya nao, tadi hp aku ketinggalan
di mobil. Aku abis dari rumah temen. Sekarang aku udah mau pulang kok. Maaf ya”
katanya dengan nada seperti orang tak bersalah.
“Ya tapi lain kali kabarin aku dulu.
Jangan ngilang trus gini dong.” Ujarku dengan nada tambah marah dan penuh sedih.
“Yaudah maaf ya sekarang aku mau
pulang dulu. Kamu tidur aja. Dah!”
Hari demi hari pun berganti. Aku jadi
semakin jatuh hati kepadanya. Dia sangat baik padaku, perhatian sekali. Semakin
kesini, kami lebih sering bertemu. Tapi tetap kejadian seperti malam itu tetap
saja sering terjadi. Yang aku pikirkan hanyalah mungkin dia terlalu sibuk, dan
aku sudah menerima hal itu karna aku sudah jatuh hati sangat jauh kepadanya.
Tak apalah pikirku, yang pentying aku bias terus sama dia dan aku sangat
menyayanginya walaupun sebenarnya aku tak tahu dia punya rasa yang sama atau
tidak kepadaku.
Sampai akhirnya di suatu siang yang
terik di kantin sekolah, saat aku sedang makan dengan teman-teman sambil
bercanda dan saling mencurahkan isi hati. Vika sahabatku tiba-tiba bertanya
“Nao gimana kabar lo sama Putra? Kan
udah 2 bulan pdkt masa belom jadian juga? Cemen banget sih dia. Masa cowo gamau
nembak”
Pertanyaan yang membuat makanan di
dalam mulutu terasa pahit. Pertanyaan yang membuat hati ini seperti dicubit
oleh guru BK sekolahku. Sakit sekali rasanya. Pertanyaan yang membuat aku
berfikir dan tersadar. Bahwa aku dan dia itu apa, sudah 2 bulan kami seperti
orang pacaran tapi tak punya status. Sudah 2 bulan kami dekat, kami mesra. Tapi
rasanya aku seperti dipermainkan. Rasanya aku bodoh sekali. Atau mungkin memang
dia yang tidak berani untuk menyatakan cintanya kepadaku? Atau mungkin yang
paling menyakitkan apakah dia hanya ingin mempermainkan perasaanku saja?
Entahlah. Yang pasti sekarang aku sedih dan rasanya aku ingin segera menanyakan
hal ini kepada Putra.
Keesokan harinya di tengah kegalauan
yang sangat mendalam, aku mengajak Putra untuk bertemu. Aku sudah tak tahan
lagi menanyakan hal itu kepadanya. Akhirnya kami memutuskan untuk bertemu di
restoran cepat saji tempat kami biasa bertemu. Aku menunggu beberapa menit
disana, ditemani minuman yang esnya sudah mencair. Akhirnya Putra pun dating
dengan raut muka seperti orang habis lari-larian.
“udah lama Nao?” ujarnya sambil
ngos-ngosan
“hemm lumayan lah satu jam”
“Maaf ya telat, tadi ada rapat osis
dulu di sekolah hehe”
Kemudian ia duduk dan memesan
makanan. Melihatnya lelah aku seperti ragu untuk membicarakan hal itu. Tapi aku
harus gimana lagi, aku lelah kalau harus menungggu dan menjadi bodoh seperti
ini. Biarkanlah aku malu. Mau gimana lagi juga, Aku udah sangat saying
kepadanya. Aku ingin selalu bersamanya. Sampai ahirnya setelah beberapa menit
berbasa basi aku membuka pembicaraan seriusku.
“Put sebenernya gini…”
“Apa nao? Apa Apa?”
“hemm kita kan udh 2 bulan deket ya”
“Iyaya udh 2 bulan. Gak terasa ya
hehe”
“Tapi kok gak ada perubahan ya.
Hehehe “
“perubahan apa maksud kamu?”
“Ya kita kaya gini-gini aja. Kita
deket tapi engga pacaran, tapi kelakuan kita kayak orang pacaran. Kita apasih
sebenernya? Aku gamau kalo ternyata kamu mainin perasaan aku. Aku tuh sayang
sama kamu”
“Nao.. kamu kok ngomong gini. Aku
juga sayang sama kamu.. tapi mungkin kita gabisa jadi pacar. Aku udah nganggep
kamu seperti adek aku sendiri. Aku gamau nanti kalo pacaran kita pisah. Aku mau
hubungan kita tetep, tapi konteksnya bukan pacaran nao. Maafin aku. Tapi emang
kita gabisa pacaran.”
“Put.. ini jahat”
Lalu kemudian aku pun menangis
tersedu-sedu… sambil menunduk
dihadapannya. Ternyata, semua yang ku harapkan tak sesuai dengan kenyataan.
Mungkin ekspetasiku terlalu tinggi. Mungkin juga Putra memang jahat dan
mempermainkan perasaaanku saja. Sampai aku tak tahan lagi dan memutuskan untuk
pulang. Dia tetap mengantarku walaupun di sepanjang jalan aku terus menangis
dan dia terus meminta maaf. Aku sama sekali tak menghiraukan kata maafnya
karena perasaanku begitu kecewa terhadapnya.
Tetapi.. hari demi hari pun
berlanjut. Sejak hari itu Putra masih terus meminta maaf dan mencoba meluruskan
semuanya. Tapi aku tetap jutek dan marah kepadanya. Aku sudah terlanjur sakit
hati. Sampai akhirnya ketika aku curhat dengan seorang teman dan dia berkata
“Nao harusnya lo maafin dia. Kasih
dia kesempatan.. siapa tau ending cerita lo bias berubah. Kalo gabisa juga ya
memang cinta ga harus memiliki. Yang penting kan lo sama dia selalu ada, selalu
mengisi satu sama lain. Sama-sama sayang.”
Mendengar itu… batinku tersadar. Aku
tersadar bahwa cinta itu memang tak harus memiliki. Yang terpenting adalah 2
orang ini saling sayang, mengerti, menerima satu sama lain. Yang terpenting
adalah dia bisa bikin kita bahagia. Yang penting kita bisa sama dia terus. Ah status
itu nomor 2. Yang penting aku bahagia.
Akhirnya aku memutuskan untuk
memaafka putra. Akhirnya aku member dia kesempatan untuk tetap bersamaku
seperti kemarin-kemarin. Walaupun aku masih sangat kecewa karna akmi tidak
jadian juga. Tapi tidak apa-apa lah. Aku bahagia sama dia. Aku pengen
menghabiskan waktu selalu bersamanya. Toh hidup itu bisa berubah kok. Yang terpenting
sekarang aku sama dia dan aku sayang dia. Status memang nomor 2.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar